
Kini Rudi mulai membuka sebuah rekaman yang di mana dirinya tengah mengobrol dengan Sarah. Ami terdiam saat mendengarkan rekaman itu, membuat kedua pipinya memerah menahan rasa malu.
Ternyata Rudi sudah membuktikan semuanya, bahwa dirinya memang tak bersalah. Ami menatap ke arah wajah sang suami, membuat mereka saling memandang satu sama lain.
Yang ternyata sebuah ciuman di layangkan Ami pada Rudi. Tangan Rudi memegang kepala Ami menekan membuat rasa cinta mereka semakin tumbuh.
Sarah yang memaksakan diri untuk menemui Rudi, kini berjalan secara perlahan. Ia menanyakan ruangan Rudi ada di mana ke pada para suster.
“Sus, ruangan pak Rudi ada di mana?” tanya Sarah dengan berjalan. Menahan rasa sakit pada perutnya.
“Embak lurus saja, belok ke sebelah kanan di sana ruangan pak Rudi!” jawab Suster.
“Terima kasih, sus.”
Sarah berjalan dengan tangan yang meraba-raba dinding rumah sakit, dirinya sedikit terlihat meringis kesakitan. Wanita itu berusaha keras berjalan menuju ruangan Rudi.
Namun, setelah perjuangannya yang sangat melelahkan untuk berjalan mencari ruangan Rudi. Sarah melihat sebuah adegan yang sangat menyakitkan hatinya, di mana Rudi dan Ami tengah berciuman mesra.
Sarah memegang dadanya dengan tangan kanan, hatinya begitu sakit. Air matanya mengalir, rasa cinta pada Rudi sanggatlah besar.
Membuat ia mengepal kedua tangannya,” Kalian begitu bahagia. Aku iri dengan kebahagiaan kalian.” Gumam hati Sarah.
Wanita itu mulai melangkahkan kaki kembali menuju ruangannya, tapi saat ia membalikkan badan ke arah belakang, kakinya tersandung kursi hingga ia terjatuh seketika ke atas lantai.
Bruk ....
Suara itu mengagetkan Rudi dan Ami, membuat Ami melepaskan pelukan sang suami yang begitu erat. Ami mengelap bibirnya dengan punggung tangan, ada sisa sisa air liur Rudi saat itu.
“Sepertinya ada yang datang ke sini,” ucap Ami tampak kaget.
“Kenapa kaget dan ketakutan begitu, kita kan suami istri,” balas Rudi.
“papah, ini kan tempat umum. Malu lah,” cetus Ami dengan pipi memerah.
Rudi tersenyum senang, melihat pipi putih bersih sang istri memerah.
Ami yang penasaran. Langsung berjalan melihat keluar ruangan, sedangkan Rudi berusaha meraih tangan sang istri agar tidak pergi.
“Mau ke mana?” tanya Rudi. Berucap lembut, seakan meminta sesuatu pada sang istri.
“Mau ke luar! Lihat ....”
__ADS_1
Belum perkataan Ami terucap sepenuhnya, Rudi langsung menarik tangan Ami, membuat Ami semakin dekat dengan dada bidang sang istri.
“Biarkan saja, nanti juga orang itu pergi.” Bisik Rudi pada telinga Ami.
Sang istri langsung mencubit pinggang Rudi sedikit keras, membuat lelaki itu meringis kesakitan.
Ami mendekat ke arah telinga Rudi dan berkata,” jangan di sini tidak asyik.”
Tawa Rudi terdengar nyaring, membuat Ami tersenyum kecut. “Ternyata istriku ini ada manis- manis nya juga, ya.”
Rudi mencubit kedua pipi Ami, membuat Ami berucap,” aduh.”
Ami melepaskan tangan Rudi yang mencubit pipinya, Ami segera bergegas pergi keluar untuk melihat Siapa orang yang mengintip mereka pada saat itu.
Di luar, Sarah bersusah payah untuk bangun. Dari atas lantai. Perutnya begitu kesakitan karna terjatuh tiba-tiba.
Meraih kursi.
Namun ternyata satu tangan menjulur di depan wajah Sarah, membuat Sarah meraih tangan itu.
Dirinya langsung bangkit dari atas lantai, kedua matanya yang menunduk langsung menatap ke arah orang yang menolongnya.
“Teri ....”
“Hai, Sarah apa kabar?” tanya Ami yang berdiri sembari melipatkan kedua tangannya.
Sarah menundukkan wajah, giginya ia gigitkan pada bibir bawah, menahan rasa kesal dan juga malu.
“Sarah, loh. Kenapa kamu diam saja?” tanya Ami.
Sarah mulai memberanikan diri menatap pada Ami saat itu juga.
“Nah, gitu dong.” Ucap Ami tersenyum.
Kedua tangan Sarah mengepal, napas wanita itu terengah- engah kesal dengan Ami yang berada di hadapannya.
“Sudah lama kita tidak bertemu, Sarah.” Ucap Ami.
Entah kenapa Sarah diam tak menjawab perkataan Ami.
“Sarah, kenapa?” Tanya Ami semakin mendekat ke arahnya.
Rudi yang duduk, di atas ranjang rumah sakit, menunggu sang istri kunjung datang juga.
__ADS_1
“Ke mana Ami, kenapa dia lama sekali?”
Rudi yang menguatirkan Ami, kini mulai turun dari ranjang Rumah Sakit menghampiri Ami yang sedang berada di luar.
Perlahan Rudi melangkah, tubuhnya masih terasa lemas.
saat berada di ambang pintu, betapa kagetnya Rudi saat itu melihat, Ami tengah mengobrol dengan Sarah.
"Sarah, dia datang ke sini," ucap Rudi.
Rudi menghampiri Ami dan juga Sarah yang berada di luar ruangan.
"Sayang, kenapa kamu di sini. Ayo kita masuk ke dalam." ajak Rudi pada sang istri.
"Kebetulan sekali, Mama bertemu dengan sahabat Mama yang sudah lama tidak pernah bertemu," balas Ami melipatkan kedua tangannya.
"Oh jadi ketemu kangen," sindir Rudi.
Sarah tetap saja diam ia tidak mendengarkan apa yang dikatakan Rudi dan juga Ami, menahan rasa kesal dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Sarah, kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak mau menyapa teman lama mu ini," ucap Rudi memancing emosi Sarah pada saat itu.
" Dari tadi Mama tanya dia diam terus, pah. Sepertinya dia kesal sama mama," Timpal Ami.
"Oh begitu, ya," balas Rudi.
Rudi langsung menarik tangan Ami, untuk segera masuk ke dalam ruangan. mengabaikan Sarah yang berdiri tanpa berucap satu patah kata pun.
saat Rudi dan Ami mulai masuk ke dalam ruangan, Sarah mulai berucap. " Tunggu."
Ami dan Rudi langsung terdiam. menghentikan langkah mereka berdua membalikan badan ke arah sarah.
" ada apa sarah?" tanya Ami.
" Aku berharap kalian tidak akan bahagia," sumpah serapah itu terucap pada bibir Sarah untuk Rudi dan juga Ami.
Ami mulai mendekat ke arah Sarah dan berkata," Kenapa kamu menyumpahi kita berdua, Harusnya kamu yang sadar diri."
" Karna kalian sudah menyakiti hatiku," ucap Sarah. Membuat Rudi dan Ami saling menatap satu sama lain.
"Sarah, apa kamu lupa dengan perkataanku kemarin," ucap Rudi.
Sarah memalingkan wajah seakan dirinya tak menyadari. Apa kesalahannya saat itu?
" kamu itu seharusnya sadar akan kesalahan yang kamu buat, bukan malah menyumpahi orang lain. Apa kamu tidak takut dengan perkataanmu itu? menyumpahi orang yang tidak pernah bersalah, atau pun menyakiti hatimu."
ucapan Rudi membuat Sarah malah membalikan wajah ia berjalan seakan tak punya malu..
Rudi tak tahu, bagaimana lagi menangapi orang seperti Sarah. Dia keras kepala tak punya malu.
hatinya Sekeras Batu.
Ami menatap wanita itu dalam-dalam dan berucap dalam hati," aku berharap Sarah sadar dan mau berubah."
Rudi merangkul sang istri dan berkata," ayo kita ke dalam."
Apa kabar Delia?
Apa kabar Alan?
Apa kehidupan mereka sudah membaik?"
Ami dan Rudi begitu cepat menyelesaikan masalah tapi dengan Alan dan Delia?
__ADS_1