Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 92 Pesan Arpan yang kocak


__ADS_3

Ahk, sungguh melelahkan aku harus memgiring kasur hingga ke kamar tidur sendiri. Gerutu Arsyla.


Wanita berhidung mancung itu merebahkan tubuhnya, perut yang sakit. Sekarang tak terasa sakit lagi, setelah meminum obat dari Bu Ira.


Ia menatap lagit-lagit dengan begitu tenang. Hingga satu cicak tengah merayap di atas dingding, mebuat Arsyla sempat berpikir.


Bagaimana kalau aku kerjain wanita itu dengan cikcak di atas sana, gumam hati Arsyla.


Tanpa rasa lelah Arsyla mengambil cikcak yang tengah merayap di atas dinding. Ia meraih cikcak itu dengan tangannya.


Tidak ada rasa takut pada hewan seperti itu. Dia mengemas cikcak itu pada pelastik.


Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan Sisi, gumam hati Arsyla saat itu.


Seyumnya memperlihatkan kelicikan. Ia seakan tak kapok dengan apa yang telah terjadi pada dirinya.


Wanita berhidung mancung itu semakin menjadi-jadi.


Di tempat lain Sisi tengah melihat pada rekaman cctv kamar Arsyla saat itu, Sisi terseyum seraya berkata," dasar anak bodoh. Mau membuat rencana murahan ya. Liat saja nanti apa yang akan aku lakukan.


Menutup leptop setelah melihat Arsyla yang tengah mengumpulkan cikcak di dingding.


Sisi kembali tidur untuk beristri rahat, ia merebahkan tubuhnya tak sabar untuk menunggu hari esok dimana Arsyla. Sudah merencanakan sesuatu, yang menurut Sisi rencana murahan.


Ia meraih selimut menutup badannya, menenangkan pikiran yang membuat dirinya sedikit stres.


Rasa kangen pada sang suami kini mulai merasuki hati Sisi, betapa rindu akan hadiri Arpan yang seminggu ini dinas di luar kota.


Hingga rasa kantuk mulai menyelimuti matanya.


Membuat Sisi menguap beberapa kali, melihat pada layar ponsel.


"Besok aku pulang." Isi pesan itu tiba-tiba muncul membuat Sisi terperanjat dari tempat tidurnya.


Rasa rindu akan terobati, setelah seminggu tak bertemu dengan sang suami.


Mata Sisi berbinar-binar, ia sampai lupa memberi tahu suaminya bahwa Arsyla sudah berada di rumah ini.


"Aku bilang sekarang, apa nanti saja. Setelah Mas Arpan pulang ya."


Ucap Sisi, ia nampak bingung. Karna belum memberitahu Arpan.

__ADS_1


"Biarlah, nanti Mas Arpan juga bakal tahu. Sebaiknya aku tidur dan menyiapkan diri, besokan sawah yang kering akan terbanjiri lagi. Ahk, gak sabar udah benar-benar kangen banget."


Tring satu pesan datang lagi.


"Sawahnya udah kering banget ya?" isi pesan itu datang dari Arpan. Sisi tertawa terbahak-bahak, ia seakan tak percaya Arpan bisa sekocak ini.


Dia hampir binggung dengan harus menjawab apa, karna tawanya yang tak henti-henti. Membuat pikirannya seakan buyar.


Sisi dengan seyumnya yang khas dia mengetik ponsel dan membalas isi pesan suaminya itu.


"Ya, udah kering pastinya kan udah seminggu gak di siram-siram. Nunggu ujan gak datang-datang, emh ...?"


Sisi benar-benar terkekeh ketawa ia, seakan bahagia. Suaminya yang sekarang begitu baik, lembut dan juga perhatian. Ia tak menyangka dirinya akan mendapatkan pendamping yang selama ini ia impikan.


Selama menikah dengan Andi hanya perlakuan tidak menyenangkan yang ia dapatkan, dari pukulan hinaan cacian dan juga tamparan akan Andi yang selalu selingkuh.


Membuat dia prustasi, Sisi masih bersyukur dia masih di beri kewarasan. Dan kata maaf dari Ami sahabatnya.


Karna obsesi dan keinginan memiliki Rudi membuat dirinya menderita, tapi seakarang dia sadar. Kalau dia sabar menunggu, suatu saat akan ada pangeran yang memperlakukannya seperti pemainsuri.


Dan benar saja, sekarang dia menemukan Arpan.


Lelaki tampan berkulit sawo matang, baik. Lembut dan perhatian.


Tring ... tring ... satu pesan datang lagi.


"Besok kita banjiri ya. Biar subur sawahnya dan berbuah."


Sisi semakin tertawa terbahak-bahak. Mengusap rambut panjangnya. Jari tangannya mulai mengetik dan membalas isi pesan itu.


"Ya, cepetan pulang makannya. Biar berbuah kaya Delia."


Menutup mulut tak tahan dengan tawa yang mengema, pada akhirnya Sisi benar-benar berisik. Membuat tidur Arsyla terganggu.


Di kamar Arsyla, ia menutup kedua telingganya dengan bantal, seraya berkata." Dasar nenek lampir, jam segini masih belum tidur, berisik sekali."


Mengulingkan badan ke kiri dan ke kanan, Arsyla benar-benar kesal saat itu, tidurnya seakan terganggu sekali.


"Sedang apa sih mak lampir itu?" Arsyla terbangun dari tempat tidurnya, menghampiri suara Sisi. Dengan langkah pelan.


Menempelkan telinga panda pintu kamar Sisi terdengar jelas sekali oleh Arsyla, Sisi seperti orang gila ketawa-ketawa sendiri.

__ADS_1


Arsyla mendengar suara Sisi yang tertawa dan berkata, Dasar kamu Mas Arpan.


"Sedang apa mak lampir itu, apa dia tengah teleponan dengan Arpan." Ucap Arsyla yang masih mendengar percakapan di pintu kamar Sisi.


Di dalam kamar Sisi terus saja tertawa, melihat isi pesan yang di balas oleh suaminya," Ya nanti kita coba sepuluh ronde."


Tawa Sisi makin mengema, ia bangung dari ranjang tidurnya segera ke luar dari kamar.


Saat itu terasa sekali di dalam tenggorokannya begitu kering seperti, butuh minum. Ia segera pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


Sesaat membuka pintu kamar, "Ahkk ...."


Arsyla tersungkur jatuh saat Sisi tengah membuka pintu kamarnya.


"Loh, Arsyla kenapa kamu ada di sini?" tanya Sisi. Ia menahan tawa, melihat jidat Arsyla yang memerah dan bengkak. Karna Sisi yang membuka keras pintu kamarnya.


"Kamu enggak kenapa-napa kan Arsyla?" tanya Sisi mencoba meraih tangan Arsyla saat itu.


Dengan segera tangan Arsyla meraih tangan Sisi, saat pertengahan Arsyla berdiri, Sisi malah melepaskan pengangan tanganya.


Karna ada satu pesan datang. Membuat Aryla terjatuh lagi.


"Ahk. Sakit," teriak Arsyla.


"Ya ampun Arsyla kamu enggak kenapa-napa kan, maaf ya. Soalnya ada pesan dari Mas Arpan jadi aku kesenangan," ucap Sisi.


Arsyla nampak kaget saat mendengar Arpan akan pulang, ia takut dirinya akan di usir.


"Oh ya kenapa coba kamu berdiri di abang pintu ini?" tanya Sisi. Melirik pada wajah Arsyla.


Arsyla menundukan pandanga ia bingung apa yang harus ia katakan pada Sisi.


"Anu, tadi aku mendengar suara. Tertawa tengah malam aku kira itu hantu!" jawabnya.


"Ya ampun maaf ya. Mba kesenangan jadinya enggak sadar tidur kamu jadi terganggu," ucap Sisi meminta maaf, sembari meraih tangan Arsyla agar berdiri lagi.


"Ya mba. Enggak papa yang salah Arsyla, harusnya Arsyla enggak ngintip kaya tadi!" jawab Arsyla. Berpamitan untuk melanjutkan tidurnya lagi.


Sisi tertawa seraya berkata," Rasain siapa suruh coba ngintip-ngitip enggak sopan banget."


Sisi berjalan menuju dapur, Arsyla yang pergi ke kamar menangis melihat jidatnya yang memar dan bengkak. Ia tak terima saat itu.

__ADS_1


Pagi hari dimana Arsyla


__ADS_2