
Setelah pulang dari rumah sakit, Bu Sumyati mulai membersihkan tubuhnya. Ada rasa malu yang menyelimuti hati dan pikirannya, Ia sangat malu saat berada di rumah sakit, apalagi rasa malu itu masih ada sampai sekarang. di mana Pak Gunandi meminta nomor ponselnya dirinya seperti anak muda yang baru saja merasakan jatuh cinta.
Bu Sumyati tersenyum-senyum sendiri memikirkan raut wajah Pak Gunandi, rasanya seperti mimpi bertemu dengan lelaki tua tampan yang mendekati dirinya.
Tring ....
Satu pesan datang dari ponsel Bu Sumyati, di mana ia membuka layar ponsel dan terlihat nama yang terpampang dari ponsel miliknya. Yang tak lain ialah Pak gunandi.
[ Hai.]
"Pak Gunandi."
Wanita tua itu meloncat-loncat seakan kegirangan setelah mendapat pesan dari Pak Gunandi, walau hanya pesan kata sapaan Bu Sumyati begitu senang bagaikan mendapat hadiah undian berhadiah.
Dengan tangan yang bergetar senyuman yang lebar, ia mulai mengetik untuk membalas pesan dari Pak Gunandi.
Bu Sumyati nampak bingung harus membalas pesan bagaimana, dirinya yang sudah terlanjur senang. Membuat jari tangan yang mengetik beberapa kali layat keyboardnya, ia hapus kembali. Sampai saat Pak Gunandi menelepon Ibu Sumyati.
"Ya, ampun Pak Gunandi menelpon, bagaimana ini."
Bu Sumyati tertohok kaget, melihat panggilan dari Pak Gunandi. Dengan memberanikan diri, mengatur nafas secara perlahan, ia mulai mengangkat panggilan telepon dari dokter tua itu.
"Ha-lo," jawab Bu Sumyati tanpak gugup, keringat dingin mulai nampak pada keningnya, tak biasanya ia ditelepon oleh seorang lelaki.
"Heh," dibalik layar ponsel Pak Gunandi juga nampak gugup, ia ditemani beberapa perawat yang tersenyum cengengesan di belakang punggung lelaki tua itu. Mereka mengajarkan kata-kata gombalan untuk Bu Sumyati.
Bisikan satu perawat laki-laki kepada telinga Pak Gunandi. Sampai saat Pak Gunandi menuruti bisikan dari perawat itu.
"Hallo, ada apa ya pak?" tanya Bu Sumyati. Pada sambungan telepon Pak Gunandi yang masih gugup disenggol oleh satu perawat dibelakangnya, untuk mengatakan apa yang seharusnya dikatakan.
"Ayo jawab pak," ucap Tata. Membuat Pak Gunandi meneruskan obrolan dalam telepon.
"Apa ibu sudah sampai ke rumah?" tanya Pak Gunandi, jelas bu Sumyati yang mendengar ucapan Pak Gunandi membuat dirinya membalas dengan perkataan." Sudah Pak, saya sudah ada di rumah!"
laki-laki tua itu sangat bingung, apa yang harus dikatakannya lagi, karena bagi dirinya, lelaki tua itu tak suka berbasa-basi.
Tata langsung menyenggol lagi tumit tangan Pak Dokter, dengan membisikkan kata-kata," ayo pak, bilang aja pada Bu Sumyati, nanti malam ke restoran."
Dengan rasa gugup, Pak Gunandi mengatakan apa yang di bisikan oleh Tata.
__ADS_1
"Apa nanti malam, ibu ada acara? Saya ingin mengajak ibu untuk makan malam di restoran bintang," tanya Pak Gunandi di pada sambungan telepon yang terhubung.
Bu Sumyati yang mendengar perkataan Pak Gunandi benar-benar dibuat gugup dan bingung, antara harus berkata iya atau tidak.
Namun jika Bu Sumyati menolak, rasanya tidak enak pasti Pak Gunandi akan merasa kecewa, pada saat itulah ia menjawab dengan kata-kata lembut seorang wanita." tentu saja pak."
Pak Gunandi langsung bersorak,"Yes."
Membuat para perawat langsung tertawa terbahak-bahak, membuat Bu Sumyati heran." Apakah Bapak bersama orang lain?" tanya Bu Sumiati di balik sambungan telepon yang terhubung.
Pak Gunandi membulatkan kedua matanya, menatap kearah para perawat yang tengah mendengar percakapannya, tangan tua itu mulai menepuk kepala belakang para perawat.
"Aw, sakit Dok."
Pak Dokter menempelkan satu jari tangannya pada bibir yang terlihat mengkerut.
Para perawat itu menundukkan pandangan, mereka malu akan kelakuan mereka yang membuat pak dokter marah.
Pak Dokter menjawab dengan sedikit berbohong," maaf sebenarnya tidak ada orang disini, hanya saja di luar lagi rame!"
"Oh begitu ya pak, saya kira perawat di rumah sakit mendengar percakapan kita," ucap Bu Sumyati dalam panggilan telepon.
"Ya sudah, saya matikan dulu ya pak!" jawab Pak Gunandi.
"Oh ya, sudah baiklah," ucap Bu Sumyati.
Saat itu panggilanpun di matikan sebelah pihak, dimana Bu Sumyati. Bergegas pergi melihat wajahnya ke dalam kamar, memilih-milih baju yang ia akan persiapkan untuk nanti malam.
Beberapa baju sudah di pilih oleh Bu Sumyati, tapi tak ada yang cocok, perasaannya mulai kacao. Bajunya semua sudah tidak terlihat bagus karna mengikuti jaman dulu, jaman jadul.
Bu Sumyati duduk di ujung kasur tempat tidur.
"Apa aku harus membatalkan acara nanti malam, tapi sudah terlanjur mengatakan kata iya."
Bu Sumyati, bingung sampai ia mengigat tentang baju pemberian Ami. Dimana dulu Ami selalu memberikan baju model masa kini yang belum membuat dirinya pede.
Wanita tua itu langsung mencari baju pemberian dari menantunya, ia mecari ke sana kemari dan ketemu.
"Baju yang sangat indah."
__ADS_1
Bu Sumyati mulai memakaikan pada tubuhnya, sembari menatap pada cermin, ia mulai memberanikan diri mengoles wajah seadaanya. Dengan alat make-up pemberian Ami.
Saat mengoles make-up, ada rasa rindu berkabut pada hati Bu Sumyati, wanita tua itu ingat dimana dirinya, selalu bercanda bersama Ami.
Saat belajar memakai make-up atau memilih-milih baju, banyangan itu tiba-tiba muncul membuat rasa pada hati kian sakit.
"Am. Cepatlah sembuh, ibu rindu kamu. Begitupun dengan Dodi."
Bedak yang sudah menempel kini luntur kembali, karna air mata yang terus keluar dari pelipis mata wanita tua itu.
Mengusap dengan tisu, Bu Sumyati mulai menenangkan hati dan pikirannya.
Tampilan Bu Sumyati kini sudah terlihat sempurna, dirinya bagai wanita tua yang telihat begitu anggun.
"Segini sudah lumayan."
Begitupun dengan Pak Gunandi di rumahnya yang mewah, ia sudah berpenampilan rapih dengan jas hitam dan juga rambung gaya anak muda.
Mengusap sedikit rambut dengan olesan minyak, Pak Gunandi sudah terlihat begitu tampan dan mempesona.
Dirinya mulai siap untuk bertemu dengan Bu Sumyati.
Pak Gunandi terus melihat jam tangannya, ia melihat lihat. Ternyata waktu mulai tak terasa, sebentar lagi menujukan pukul tujuh malam.
Ia mulai menaiki mobil hatinya kian berdebar-debar tak karuan, ini adalah kencan pertama lelaki tua itu.
Pertama-tama Pak Gunandi menjemput dulu Bu Sumyati memakai mobil miliknya.
Dengan mengirim pesan terlebih dahulu.
[ Bu, saya akan kesana sekarang.]
Pesan pun terkirim pada Bu Sumyati, dimana wanita tua itu merasa gemetar.
"Pak Gunandi akan menjemput." Ucap Bu Sumyati. Wanita tua itu, mulai berusaha tenang menunggu di depan rumah.
[ Baik, saya tunggu bapak menjemput saya.]
Pesan terkirim.
__ADS_1