Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 188 Tarikan kuat pada kaki Alan.


__ADS_3

“Diam di tempat. Aku tidak mau kalian kenapa-kenapa.” Tegas Alan, Dina mulai menurut apa yang di katakan Alan. Ia berdiri berpelukan dengan Riri.


 


Alan mulai mendekat ke arah mata yang menyala itu, berjalan pelan. Penampakan sosok itu mulai terlihat jelas, dengan alat seadanya Alan mulai memberanikan diri semakin mendekat ke arah sosok itu.


 


Setelah dekat dengan sosok itu, tiba- tiba.


 


Ahkkk


 


Suara jeritan terdengar begitu keras, membuat Alan menatap kearah suara itu.


 


Pak Tejo tampak panik. Yang menjerit itu ternyata Riri, saat itu Alan mulai membalikkan wajah ke arah sosok itu.


 


Namun dengan sekejap mata sosok itu hilang seketika, sosok yang tertutup dengan rimbunan rumput yang begitu menjalar ke atas.


 


“Sial, sosok itu menghilang.”


 


Menggerutu kesal Alan mulai berjalan menghampiri kelompoknya lagi, saat langkahnya mulai berjalan menghampiri Pak Tejo sesuatu menarik Kaki Alan dengan tiba-tiba.  


 


Dengan sekuat tenaga Alan meraih pepohonan yang menjulang tinggi, yang mencoba menyelamatkan diri namun tarikan itu begitu kuat. Membuat tangannya hampir lepas dari pepohonan besar yang ia peluk dengan kedua tangan yang sendiri.


 


 


Sosok yang menarik kakinya itu tak terlihat oleh kedua mata Alan, seakan sosok itu tertutup oleh kabut hutan.


 


Pak Tejo yang melihat Alan berjuang untuk menyelamatkan diri, berusaha menghampiri lelaki berbadan kekar itu dengan menggendong sang cucu.


 


“Alan Ayo tarik tangan Bapak, nak.”


 


Suasana semakin menegangkan, membuat Riri Dodi dan juga Dina berdatangan menolong Alan.


Sosok itu kini terlihat begitu jelas oleh kedua matahari, membuat Riri seakan tak untuk berucap dan berteriak.


 


Sedangkan Pak Tejo berjuang menyelamatkan Alan, dari tarikan yang begitu kuat membuat tubuh Alan lemas.


 


“Sudah lepaskan tubuh saya, pak.”


 


Alan mulai pasrah dengan keadaan, sedangkan Pak Tejo berjuang tak ingin kehilangan sosok seorang lelaki yang telah menolongnya.


 


Riri mulai menggerakkan tangannya berusaha melawan ketakutan yang saat itu, Iya mau mencari sebuah ranting besar untuk memukul sebuah sosok besar itu. Sosok yang tersenyum menyeringai bagaikan makhluk yang tak bisa Riri Jelaskan secara detail.


 


“Ahkkk, mati kamu.”

__ADS_1


 


Riri terus memukul dengan kekuatan seadanya memukul sosok itu dengan semampu yang ia bisa, agar Alan bisa terbebas dari tarikan sang makhluk itu.


 


 


Pak Tejo tak tahu apa yang dilakukan Riri, Iya hanya bisa menarik tangan Alan dan menyelamatkan.


Semua orang merasa heran mereka tidak melihat sosok yang dipukul-pukul oleh Riri saat itu.


.


“Pergi kamu jangan ganggu kami.” Teriak Riri.


 


Sedangkan sang cucu yang berada digendongan Pak Tejo terus saja menangis karena sosok itu, terus tertawa.


 


“Kamu tenang. Ini ada kakek.”


 


Dina yang tak bisa melihat sosok itu mulai mencari sebuah bambu, yang memang ia tahu dari kakek neneknya bahwa penangkal sosok yang tak kasat mata bisa pergi jika di tusuk bambu.


 


Setelah ia melihat ke sekitar dirinya, ada sebuah bambu runcing yang begitu tajam membuat iya langsung mengambil bambu itu.


 


Namun tiba-tiba sosok putih memegang tangan Dina, membuat ia seakan susah untuk meraih bambu itu. Tubuhnya begitu benar-benar kaku, Dina memejamkan mata tak sanggup melihat penampakan wanita itu wanita yang memakai baju putih, wanita yang membulatkan kedua matanya mengeluarkan darah dari bibirnya.


 


“Kalian penganggu lepaskan kami.”


 


 


Dodi yang mulai memberanikan diri, menolong Dina dengan meraih bambu tajam itu. Dodi mulai menancapkan bambu tajam itu pada sebelah mata wanita bermata Bulat itu.


 


Seketika darah dari mata wanita itu berhamburan kemana-mana, membuat bayangan wanita itu hilang seketika.


 


Sedangkan Pak Tejo tak mengerti apa yang tengah dilakukan Dina dengan Dodi, karena Pak Tejo tak bisa melihat sosok-sosok yang dilihat oleh Dina Dodi Riri dan cucunya.


 


 


Dodi mulai membantu Dina untuk berdiri, memberikan bambu itu pada Dina.


 


Sosok yang menyala itu mulai menarik tubuh Riri, membuat Dina dengan Sigap menancapkan bambu tajam yang ia pegang pas mengenai sosok itu.


 


Ketegangan mulai terasa pada hati mereka, ini Alan bisa berdiri lagi seperti semula, sosok yang mengikuti mereka hilang seketika.


 


Wajah Riri begitu pucat, sedangkan Dina bergetar hebat menahan rasa takut akan yang ia lihat pada kedua matanya.


 


“Kita harus cepat pergi dari wilayah ini.”


Ucap Riri.

__ADS_1


 


Suara tawa terdengar begitu jelas mengelilingi hutan itu, entah mereka berada di hutan apa. Tapi begitu banyak kejanggalan yang mereka hadapi saat ini.


 


Saat perjalanan mulai mereka tempuh lagi, tiba-tiba Riri terjatuh begitu saja. Ternyata ia pingsan karena kelelahan, Pak Tejo lupa mencari sebuah makanan untuk mereka makan. Membuat badan mereka begitu lemah dan tak bisa melanjutkan perjalanan lagi.


 


 


“kita menginap dulu di sini,” ucap Alan.


 


Pak Tejo setuju dengan apa yang di katakan Alan, karna ia merasakan rasa lelah yang tak biasa.


Saat itulah mereka membuat sebuah tempat yang sedikit nyaman , untuk sekedar tidur.


 


Membuat api agar merasakan rasa hangat.


Sayup-sayup angin mulai menebus kulit tubuh mereka. Membuat hawa dingin yang begitu menyakitkan, hawa yang tak biasa mereka rasakan.


“Alan, sepertinya mau hujan.”


 


“iya pak, Alan merasa begitu.”


 


 kini siang Mulai berganti menjadi malam, membuat hawa ketegangan pada mereka. Riri masih pingsan belum sadarkan diri.


 


Salah satu dari mereka harus berjaga malam ini, agar tidak ada hal-hal aneh dan juga hewan buas datang memburu mereka.


 


“Malam ini biar Alan yang berjaga.”


 


Alan mulai berjaga kesana kemari melihat bahwa semuanya aman tidak ada hewan yang mendekat ke arah mereka, Alan tak tahu jika  jam sekarang menunjukkan pukul berapa. Yang ia tahu hanyalah pergantian malam dan siang. Alan berharap cuaca selalu mendukung mereka dalam perjalanan menuju pulang, kalau takut jika hujan nanti datang perjalanan mereka semakin lama tertunda.


 


Di tengah-tengah api yang menyala menghangatkan tubuh Alan, iya mulai membayangkan wajah Delia yang amat sangat ia sayangi dan ia rindukan saat ini.


 


Hatinya benar-benar rapuh, ia tak menyangka jika nasibnya akan seperti ini.


Menyalahkan dirinya sendiri akan apa yang sudah terjadi. Alan Menangis Tanpa satu orang pun tahu, yang meluapkan kekesalannya dengan menatap bintang-bintang yang menyala di langit. Untung saja ada bintang dan bulan yang menerangi keindahan malam ini, Membuat hutan itu sedikit terang. Tidak terlalu gelap.


 


  Karena rasa lelah yang di rasakan Alan, membuat Alan tak sadarkan diri ia malah tertidur di dekat api yang menghangatkan tubuhmya.


Membuat suara-suara nyayian berdatangan. nyayian dari hutan yang terdengar oleh Riri saja.


Suara apakah itu?


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2