Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 109


__ADS_3

Arsyla menangis dalam pelukan sang ibu, dalam pikirannya masih terbayang, raut wajah Rafa yang tengah membawa pisau tajam kehadapannya.


"Kamu harus tenang, sayang."


Bu Ira terus mengusap pelan kepala anaknya dengan lembut. menenangkan setiap keresahan pada hati Arsyla saat ini.


" Kamu harus tenang, sayang, Rafa tidak akan membunuhmu. Tetap tenang," kata-kata lembut sang ibu terlontar, pada anaknya agar sang anak tetap tenang dengan keadaan apapun.


"Arsyla benar-benar takut, bu. Jika mimpi itu terjadi. Bagaimana?"


Bu Ira begitu kuatir dengan keadaan Arsyla, Rasa trauma pada anaknya terus membuat Arsyla ketakutan.


"Sekarang kamu tidur, ya."


Arsyla menganggukan kepala seraya berkata," ibu. Temanin Arsyla di sini ya."


"Iya, ibu bakal temeni kamu di sini."


Pelukan sang ibu begitu erat memeluk anaknya, membuat ketenangan pada jiwa Arsyla saat itu.


"Ibu ... Maafin Arsyla ya, bu."


Air mata keluar dari pelipis mata Arsyla. Kata maaf kembali terucap dengan rasa bersalah yang teramat begitu dalam. Arsyla menangis tiada henti, ia ingat dengan kesalahan yang sudah banyak ia perbuat pada sang ibu.


"Apa ibu maafin, Arsyla."


Bibir Arsyla bergetar hebat dengan isak tangis yang membuat reluk hati sang ibu merasa sedih. Bu Ira tak tega melihat anaknya terus ketakutan dihantui dengan pikiran dan bayangan dimana Ia mendapatkan hal tak senonoh dari lelaki bejad.


"Sudah, jangan bicara lagi Arsyla. Ibu, sudah maafin kamu dari dulu."


"Benar begitu, bu."


"Iya, nak."


Hawa malam terasa begitu mencekram, Arsyla masih dalam pelukan sang ibu. Hingga kedua mata wanita berhidung mancung itu menutup, hingga terlelap dan tidur.


Bu Ira menahan tangisan yang terus ia pendam. Tak ingin membangunkan sang anak yang sudah tertidur pulas.


Bisikan hati Bu Ira," kenapa saat anakku mengalami pelecehan. Ia baru sadar dari kesalahannya, kenapa harus dengan jalan seperti ini. Maafkan ibu. Nak."


"Ibu menangis?"


Tangan Arsyla mulai mengusap pelan air mata yang keluar dari pelipis mata sang ibu.


"Sudah, kamu cepat tidur."


"Ibu jangan nangis."


"Iya, ibu enggak bakal nangis."


"Ibu, janji."


Senyuman terpancar dari bibir wanita tua yang menjadi ibu Arsyla.

__ADS_1


Arsyla mulai tertidur di samping Bu Ira. Pikiran yang menekan pada hati dan pikirannya kini perlahan menghilang menjadi ketenangan.


************


Rudi telah sampai di bandara, dimana kamar hotel sudah disewa oleh Arpan.


Tring ... tring ...


Satu pesan dari Ami datang dari ponsel rudi.


[ Sayang, kamu sudah sampai.]


Rudi langsung menekan tombol untuk memanggil istrinya itu.


Sambungan telepon pun tersambung.


"Papa, sudah sampaikan?" tanya Ami dalam percakapan vidio call.


"Sudah sayang!" jawab Rudi. Melabaikan tangannya, memperlihatkan tempat hotel yang akan ia tempati.


"Syukurlah, mamah kuatir, pah," ucap Ami. Dengan raut wajah yang sangat sedih.


"Papah baik-baik saja. Kamu di sana baik-baik. ya,"


Sambungan telepon dalam vidio call pun dimatikan sebelah pihak.


Rudi berjalan, membuka pintu kamar hotel.


**********


Pagi hari.


Arpan bangun pagi-pagi sekali, ia bergegas untuk, pergi menemui Rudi tanpa sepengetahuan Bu Ira dan juga Sisi.


Sisi yang masih dalam balutan selimut tak menyadari suaminya telah pergi tanpa pamit.


Arpan langsung menghampiri Rudi. Menaiki mobil dengan kecepatan tinggi. Dengan harapan rudi bisa menolong dirinya saat ini.


Sesampai di pintu hotel. Rudi dengan sigap membuka pintu hotel.


Arpan masuk ke dalam hotel.


"Ada apa, loe nyuruh gue ke sini?" tanya Rudi. Lelaki berkulit sawo matang berbadan kekar itu duduk dengan menyenderkan punggung pada sofa.


Arpan duduk dengan membungkukan badan, menahan kepalanya dengan kedua tangan seraya berkata," gue bingung dengan Bu Ira."


"Maksud loe?" tanya Rudi. Ia bingung pada Arpan saat mengatakan tentang Bu Ira, tubuhnya yang tadinya menyender kini menyondong ke depan.


"Bu Ira, seakan menyimpan suatu rahasia!" jawab Arpan. Memijat-mijat kepalanya. Kepalanya seakan terasa berdeyut bagai ditusuk-tusuk jarum. Pusing dengan semua masalah yang menimpa keluarganya.


"Ko, bisa?" tanya Rudi.


"Justru itu. Istri gue liat Bu Ira tengah memegang benda tajam. Sisi selalu melihat gerak gerik Bu Ira!" jawab Arpan. Menghelapkan nafas panjangnya dan mengeluarkan secara perlahan.

__ADS_1


" Apa Sisi tidak salah lihat," ucap Rudi. Yang masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Arpan.


Saat itu Arpan langsung menujukan vidio dimana Bu Ira tengah memegang pisau.


"Loe dapat vidio ini dari mana."


"Dari cctv dan istri gue melihat sendiri dengan mata kepalanya, bahwa Bu Ira tengah memegang pisau dan menyimpan pisau itu di laci kamar tidurnya."


"Apa tidak ada yang mencurigakan lagi?"


Arpan yang mendengar pertanyaan Rudi hanya mengeleng-gelengkan kepala. Karna kasus dan rahasia Bu Ira belum terbongkar, Arsyla mendapat musibah.


"Loe kenapa melamun?" tanya Rudi. Membuat lamunan Arpan seketika membunyar.


"Arsyla mendapat musibah!" jawab Arpan.


"Maksud loe, musibah. Memang Arsyla kenapa?" tanya Rudi.


"Arsyla diperkosa!" jawab Arpan.


Rudi yang mendengar perkataan Arpan langsung tersentak kaget, setelah ia tahu bahwa Arsyla diperkosa.


Mengusap kasar wajahnya, Rudi hanya bisa menenangkan Arpan saat ini.


"Aku tidak menyangka bahwa Arsyla bisa mengalami musibah seperti itu, Siapa sebenarnya yang telah memperkosa Arsyla."


" Orang itu adalah Rafa. Dia teman Arsyla."


Rudi mengepal kedua tangannya, kesal dengan orang yang telah melecehkan Arsyla.


"Sekarang bagaimana keadaan, Arsyla?" tanya Rudi. Dengan kedua tangan yang merogok saku celana.


"Dia begitu depresi, sampai tidak mau mengaku. Sampai istri gue membuat Arsyla tenang. Baru Arsyla mau mengaku semuanya!" jawab Arpan. Menyenderkan punggungnya pada sopa.


"Kenapa bisa sahabatnya itu berbuat tak senono?" tanya Rudi.


"Kata istri gue. Saat bertanya pada Arsyla, lelaki itu kesal karna Arsyla tidak bisa membayar hutang-hutang yang telah ia pinjam!"


Jawaban Arpan membuat Rudi semakin kesal ia ingin mencari tahu keberadaan orang yang telah berbuat keji kepada Arsyla, rasanya Rudi geram dengan lelaki bernama Rafa itu. Aplagi masalah yang dihadapi Arpan semakin hari semakin berat, ia tak tega dengan musibah yang menimpa keluarga saat ini.


"Terus kita akan mencari pelaku yang memperkosa Arsyla dan juga membongkar rahasia Bu Ira."


"Iya. Makanya gue minta bantuan loe saat ini. Gue berharap loe bisa memecahkan masalah ini."


" Sebenarnya yang bisa memecahkan masalah ini adalah Dinda."


" Tadinya, gue begitu, ingin sekali menemui Dinda dan memberitahu semua masalah ini. Tapi loe tau sendiri kan Dinda sebentar lagi mau lahiran. Apa loe tega nyuruh orang hamil."


"Iya juga sih."


" Nah makanya itu, gue minta bantuan sama loe. Berharap loe bisa bantu gue saat ini."


"Oke, gue bakal bantu loe."

__ADS_1


__ADS_2