
Melihat wanita yang berjalan lengak lengok seakan dia tak punya malu, masuk tanpa ijin tuan rumah. Bu Sumyati yang melihatnya langsung menghampiri wanita itu, ternyata wanita yang datang tanpa permisi menghampiri Bu Nunik mereka yang tengah asik mengobrol. Membuat Bu Sumyati mengintip dari balik pintu dapur. Entah apa yang mereka bicarakan, Bu Sumyati tak mendengar dengan jelas obrolan mereka berdua.
Saat itu Bu Nunik memanggil Bu sumyati dengan lantang, wanita tua yang menjadi mertua Ami itu. Seakan memerintah Bu Sumyati sebagai pembantunya.
Bu Sumyati langsung menghampiri mereka. Dan bertanya." Ada apa?"
"Ambilkan tamu saya ini minuman!"
Saat itu juga Bu Sumyati membuatkan minuman untuk wanita yang menjadi tamu sepesial Bu Nunik.
"Biar tak kerjain, gak sopan sih. Datang tanpa permisi, seenaknya ajah nyelonong."
Dengan sengaja Bu Nunik memberikan minuman bercampur dengan obat sakit perut.
"Hihi, emang enak."
Dari sana Ami dengan sigap menelpon Pak Hendra tak lain adalah pamannya sendiri.
"Hallo om, musuh ada di rumah."
"Oke, om kesana."
Minuman sudah di antarkan kepada tamu yang bernama Sisi, wanita berwajah bulat itu sedikit melirik pada wajah wanita yang bernama Bu Sumyati , Bu Sumyati langsung mendelik kesal. Tatapan yang mengisaratkan ketidak sukaanya pada Sisi.
Di tengah obrolan itu. Ternyata Bu Nunik dan Sisi tengah membicarakan tentang berkas yang harus di tanda tangani Ami.
Sisi pernah memberikan satu lembar berkas itu tapi Rudi menghiraukan tidak menuruti permintaanya, dan akhirnya Sisi meminta bantuan pada ibu mertua Ami. Agar menyuruh Ami menandatangani berkas itu.
"Sini biar ibu yang menyuruh Ami menandatangani surat itu," ucap Bu Nunik mengambil berkas yang ada pada tangan Sisi.
"Oke,"
Sisi begitu menikmati minuman yang di hidangkan untuk dirinya, tanpa curiga dari minuman itu terdapat apa.
"Tu liat, wanita itu ketagihan kayanya minum bikinan ibu," ucap Bu Sumyati dari kejauhan. Ami yang mendengarnya tergelitik ingin tertawa.
"Bibi pintar." Dua jari Ami sodorkan pada Bu Nunik.
"Dua wanita itu harus di musnakan."
"Maksud bibi."
"Sebenarnya bibi kesal pada mertuamu Am, dia dulu yang merebut suami bibi. Dan menculik anak bibi."
Ami mendengar semua itu langsung tertohok kaget, Bu Sumyati tanpa sadar mengucapkan kekesalannya.
"Maksud ibu bagaimana?"
Ami semakin penasaran dengan sosok Bu Sumyati.
"Ah, maaf ibu ngelantur ngomongnya."
__ADS_1
Bu Sumyati menunduk pandangan tak kuasa menceritakan masa pahitnya dulu.
"Ceritakan saja pada saya bi, saya akan menyimpan semuanya."
"Tak usah, tak penting."
"Ayolah bi." Ami merajuk, merayu Bu Sumyati agar memberitahu semua masa lalunya.
Karna melihat Ami yang memelas, Bu Sumyati tak tega. langsung menceritakan semuanya.
"Dulu suami ibu adalah orang kaya dan terpandang. Ia lelaki setia, tapi kesetiannya berubah saat mertua kamu datang merampas segalanya. Ia mengoda suami ibu dengan segala cara, hingga akhirnya masuk dalam jebakannya. Menuangkan serbuk perangsang dan mebuat suami ibu terpaksa menikahi dia, karna berpura-pura hamil. Kamu tau apa yang paling menyakitkan itu. Ibu tengah mengandung 1 bulan, hati ibu remuk hancur. Kesal. Percuma ibu harus menyesali semuanya. Saat itulah. Dimana ibu sudah melahirkan seorang anak. Tidak dengan mertuamu, kebohongannya terungkap ternyata dia hanya berpura-pura hamil. Sampai akhirnya Mas Tono menceraikan dia.
Dia seakan prustasi, lalu menculik anak ibu, dan membawanya pergi. Dari sana lah ibu menjadi gila karna memikirkan anak ibu yang hilang. Mas Tono sudah berusaha membujuk Metuamu,
tapi tetap saja mertuamu keras kepala.
Ia akan membawa anak ibu kalau Mas Tono membatalkan perceraian itu.
Ibu menjadi semakin depresi hingga akhirnya ibu di lempar ke rumah sakit jiwa. Karna fitnahan mertua mu.
Dari sana Bu Nunik seakan bahagia dengan penderitaan yang ibu alami.
Memiliki anak dan suami ibu.
Tapi ibu pernah mendengar Mas Tono jatuh sakit membuat semua hartanya teekuras habis.
Ami mengelus punggung Bu Sumyati dengan pelan penuh kehangatan.
Saat setelah mengobrol, suara pintu depan rumah di ketuka, menandakan seseorang datang. Dan benar saja itu adalah Pak Hendra.
Dimana Sisi panik, dan berusaha bersembunyi. Ami yang menatapnya terkekeh tertawa begitu pun. dengan Bu Sumyati yang merasa puas.
"Bu aku harus sembunyi," ucap Sisi dengan wajah panik, wanita berwajah bulat itu takut Pak Hendra akan macam-macam padanya.
"Emang kenapa? Ada masalah kamu dengan Pak Hendra!?"
"Pokonya, sekarang aku harus sembunyi. Nanti bisa Sisi jelaskan."
Wanita berwajah bulat itu bersembunyi di kamar mertua Ami, sesaat setelah Bu Sumyati ke luar dari kamar Bu Nunik dan mengunci kemar mandi yang ada di dalam kamar itu.
"Rasain, berak ... berak tu di celana."
"Gimana bi?" tanya Ami menepak pundak Bu Sumyati.
"Beres!" satu jempol di acungkan di depan Ami. Bi Sumyati yang lupa bahwa Ami buta ia langsung menurunkan jempolnya itu.
Ami terseyum di kala Bu Sumyati selalu mengerti tentang keadaannya, walau pun berbohong. Demi ke baikan.
Saat pintu depan di buka.
"Pak Hendra, apa kabar?" tanya Bu Nunik dengan ke adaan sedikit gelisa.
__ADS_1
"Baik, Apa Ami ada?" Tanya Pak Hendra.
"Ada, mari masuk."
Saat itu lah mereka masuk kedalam rumah, melihat pemandangan di meja terdapat dua gelas teh yang tersedia.
Pak Hendra terseyum sinis.
"Apa ada tamu?" tanya Pak Hendra pada Bu Nunik.
"Tidak ada!" jawab Bu Nunik dengan tingkah yang serba salah.
"Om sudah datang?" Ami menghampiri pamannya yang berdiri di ruang tamu.
Mereka asik mengobrol, menceritakan tentang perusahaan yang di pimpin oleh Rudi begitu bagus dan berpesat maju.
Sudah lama mereka mengobrol, Sisi yang tak tahu kenapa tiba-tiba ada reaksi aneh dalam perutnya.
"Sakit sekali ini kenapa ya? Gak biasanya aku sakit perut kaya gini. Perasaan gak makan yang aneh-aneh sih."
Mulas dalam perut Sisi semakin menjadi-jadi sampai ia tak bisa menahannya lagi, saat itu pun dia berlari ke kamar mandi di kamar Bu Nunik.
Saat di buka, "sial kenapa terkunci?! Gawat ini bisa-bisa aku berak di sini."
Dia mencari akal mencokel pintu itu, tapi naas tetap tidak bisa di buka. Ia berusaha ke luar kamar itu." Ya Ampun terkunci lagi."
Ia langsung mengambil ponselnya menelpon Bu Nunik. Untung saja saat itu Hp Bu Nunik di pegang oleh Ami.
Ia berusaha, ke luar lewat jendela, karna gak tahan dengan perutnya yang sudah mulas.
"Bisa gawat aku kalau berak di sini."
Terpaksa Sisi menggedor pintu kamar Bu Nunik.
Tidak ada sahutan, ternyata mereka sedang ada di luar mengobrol bersama. Ibu mertua dan juga Ami.
Bu Sumyati yang mendengar gedoran pintu kamar Bu Nunik, hanya bisa menahan tawa.
"Rasain emang enak, di kerjain."
Setengah jam lebih Sisi menahan rasa mulas itu hingga akhirnya.
"Alama, gimana ini udah gak tahan."
Dengan sekuat tenaga, ia membuka pintu dan akhirnya terbuka juga.
"Untung saja, siapa yang mengerjaiku dengan cara murahan seperti ini. Awas ya, ku balas kau."
Sisi mengepal kedua tangannya, ia begitu sangat marah.
Saat Sisi mendengar suara pintu kamar di buka, "siapa itu bisa gawat, kalau itu Pak Hendra."
__ADS_1