Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 210 Marahnya Delia


__ADS_3

Ahkkkkk


Kini Deni seakan puas dengan apa yang ia lakukan pada Delia, tubuh Delia terlihat lemas. Delia jatuh pingsan, Sedangkan Deni turun dari ranjang tempat tidur Delia, sembari memasangkan bajunya.


"Bajingan kamu Deni."


Deni tertawa dengan mengelap badannya yang penuh keringat berhamburan.


"Hahha, kamu mau mengangetkanku Ane. Heh itu tidak mungkin."


Ane menujuk wajah Deni dengan jari tangannya. Seraya berucap," aku akan melaporkan kamu ke kantor polisi."


"Silahkan saja jika kamu mempunyai bukti."


Ane tersenyum kecut dengan penuh rasa kesal, ia menujukan bukti yang kuat pada Deni.


"Kamu lihat ini."


Kedua mata Deni membulat setelah ia melihat vidio dirinya.


Saat itulah Deni mulai meraih gunting yang tergeletak di atas lantai, ia mulai mengancam Ane tanpa segan -segan menyodorkan gunting itu ke wajah Ane.


Entah setan apa yang merasuki pikiran Deni, ia begitu arogan. Tak segan-segan. Mengancam Ane tanpa berpikir panjang.


"Jika kamu melaporkan aku ke polisi, kamu tahu apa yang akan aku lakukan dengan gunting ini."


kedua mata Ane menatap kearah gunting yang hampir dekat dengan wajahnya, tatapan mata Deni mengisyaratkan kebencian.


"Ane, asal kamu tahu. Jika kamu menepati janjimu, aku tidak akan berbuat semauku."


Jantung Ane berdebar tak karuan, ia merasakan rasa takut akan gunting yang sewaktu-waktu merusak wajahnya. Tapi di sisi lain ia menatap ke arah samping, di mana Delia membuka mata dengan wajah yang terlihat begitu pucat.


Terlihat kedua mata yang sayu, membuat Ane tak tahan lagi. Ia tak bisa melihat Delia harus menanggung semuanya.


"Aku tidak akan takut dengan ancaman murahanmu, Deni?"


Deni tertawa begitu keras, tatapan matanya begitu menusuk. Membuat Ane dengan sigap meniju perut Deni.


Brugg .....


Satu pukulan Ane mampu membuat gunting itu melayang ke atas lantai, membuat Deni tersungkur jatuh.


Ane tak tahu harus bagaimana lagi, ia benar- benar tak sadarkan diri, hingga gunting yang tergeletak Ane ambil dan .....


Satu tusukan melayang pada perut Deni, Delia yang melihat adegan penusukan itu. Kini menjulurkan tangan, ia berusaha berdiri dan datang ke hadapan Ane.


Ane yang tiba-tiba sadar, kini menjatuhkan gunting yang berlumuran darah itu. Deni berucap dengan meringis kesakitan.


"Ane, kamu ....."


Tangan yang memagang perut, kini berlumuran darah. Membuat Deni sangatlah marah, sedangkan Ane mengeserkan tubuhnya menjauh dari hadapan Deni.


Delia yang kesal, kini berusaha berjalan. Mendekat ke arah Deni

__ADS_1


"Dasar bajingan."


Delia dengan beraninya mengambil gunting yang tergeletak di dekat Ane. Ia menusukan beberapa kali ke tubuh Deni, sampai di mana Ane menahan tangan Delia.


"Jangan Delia, dia bisa mati." Teriak Ane.


"Apa kamu ingin memberi bajingan ini kesempatan?" tanya Delia dengan tubuh yang sudah tak kuat ia kendalikan.


"Kita tidak berhak membunuh dia, karna dia masi ...."


Delia yang tak suka mendengar ucapan Ane, kini melayangkan tusukan demi tusukan pada badan Deni.


"Bajingan, keparat. kamu pantas mati."


Saat itulah, para pengawas datang. Mereka mengamanikan Delia, menarik tubuh Delia untuk menyingkir dari tubuh Deni yang sudah berselimut darah.


"Lepaskan aku, bajingan itu pantas mati."


Teriakan demi teriakan Delia layangkan, membuat Ane jatuh pingsan.


Saat itu para suster saling datang berbodong, membawa Ane.


Deni yang dalam masa kritis, kini di rawat.


Sedangkan Delia masih dalam pikiran tak tenang.


@@@@


Jam sudah menujukan pukul sepuluh pagi, di mana Ana bangun dari pingsan, dia menatap ke arah ruangan seraya berucap," di mana aku."


"Dok, kondisi anda belum setabil."


Ane bangun mencabut infusan yang melekat pada tangannya, ia melemparkan pada wajah para suster dengan penuh emosi.


"Kalian ini bisa kerja tidak ...."


Teriak Ane, membuat para suster menundukan wajah, mereka seakan menyesali apa yang sudah mereka perbuat. Mereka lalay akan tanggung jawab mereka.


Mereka terlalu menyepelekan pekerjaan, sampai Delia di perlakukan tidak baik mereka begitu acuh.


para pengawas CCTV datang menghampiri Ane, mereka meminta maaf untuk yang ke sekian kali. Tak akan mengulangi perbuatan mereka lagi.


Namun, Ane dengan sigap dan tegas. Memaafkan mereka, tapi dengan syarat tak akan mempekerjakan mereka lagi.


"Saya akan pecat kalian, dan membawa kalian ke jalur hukum. Mengerti."


Deg .....


Mereka memohon ampun, tidak mau di bawa ke jalur hukum. Tubuh mereka bergetar hebat ketakutan.


"Ampun bu dok. Kami menerima jika di pecat, tapi jangan bawa kami ke jalur hukum."


Tekad Ane sudah bulat, ia akan melaporkan kelalayan para pegawainya dan juga Deni.

__ADS_1


"Untuk para suster kalian ini niat tidak bekerja di sini, jika tidak niat silahkan angkat kaki dari sini."


Ane begitu tegas, ia tak suka dengan para suster yang kerjaannya hanya mengobrol dan berdandan. Walau bagaimana pun seorang pekerja harus bisa melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik, bukan malah mengabaikan begitu saja.


Ane yang terlihat lesu, kini berjalan melewati para suster yang merasa bersalah. Mereka mencoba membantu Ane untuk berjalan, tapi di tepis oleh Ane.


Rasa kesal Ane belum terobati saat ini.


Ane berjalan dengan tergopoh-gopoh menuju ke luar ruangan, ia yang lemah karna kejadian tadi terjatuh seketika.


"Dokter."


"Ahkkkk."


Teriakan terdengar begitu saja, membuat Ane syok dan ingin melihat Siapa yang berteriak..


"Siapa itu?"


"Anu itu pasien Delia."


"Kenapa dengan dia?"..


Dengan sekuat tenaga Ane mulai berlari menghampiri teriakan Delia, walau keadaannya begitu telihat lemah.


" Dokter."


Ane dengan tergopoh-gopoh, melihat Delia kini di ikat kembali. Rasa depresinya bukan sembuh malah menjadi-jadi.


Padahal dalam kandungannya terdapat janin dari Deni.


"Dok."


Sang suster mendekat, tapi Ane kini membuka pintu ruangan Delia


"Delia?"


Suster yang menangani Delia kini melangkahkan kakinya, ke arah dokter Ane.


Saat itulah Ane tak segan- segan menampar wajah sang suster yang sudah berdiri di hadapannya.


"Plakkk ...."


sang Suster itu menundukkan kepala, Iya mengerti apa kesalahannya saat itu.


"Maafkan saya Dok."


Ane dengan Sigap melepaskan semua ikatan tali yang melingkar pada tangan dan juga kaki Delia.


sang suster mulai menahan sang dokter agar tidak melepaskan ikatan yang melingkar pada kaki dan juga tangan Delia, Mereka takut jika nanti Delia mengamuk dan berbuat semena-mena kepada sang suster yang berada di sana.


"Dok jangan nanti pasien Delia akan mengamuk."


"Diam ...."

__ADS_1


Teriakan Ane mampu membuat para suster di ruangan itu terdiam pilu, mereka tak mampu membantah, amarah Dokter Ane.


"Biar aku lepaskan semuanya, kamu bisa bebas Delia. Maafkan aku."


__ADS_2