Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 326 Debatan


__ADS_3

Ane yang tadinya hanya berdiri di ambang pintu melihat perdebatan Deni dan juga Alan, membuat Ane langsung menghampiri Deni yang terkulai di atas lantai.


"Ane, kamu," ucap Alan.


Ane menatap ke arah Alan dan berkata," Alan sebenarnya ...."


"Cukup Ane, sudah jangan lagi mengelak. Kamu tidak mau mengakui semuanya. Aku tahu kamu dan Deni bersekongkol."


Deg ....


ucapan Alan membuat Ane terdiam, yang di mana Alan menuduh Ane terus menerus. bahwa dirinya sudah bekerja sama dengan Deni.


Saat itu, Ane mencoba membantu Deni untuk duduk di kursi roda.


"Alan, semua tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku datang ke sini untuk membawa Deni pergi. agar Deni tidak bertemu lagi dengan Delia dan membuat kerusuhan pada kalian," ucap Ane menjelaskan semuanya.


Namun Deni malah menimpall semua perkataan Ane dia dan berucap," Bohong, semua itu bohong."


Ane menatap ke arah, Deni." Apa maksud kamu, Deni."


Deni seakan membuat keributan, membuat Alan agar membenci Ane. dan juga Alan menyangka bahwa Deni dan Ane bekerja sama.


"Sudahlah Ane, akui semuanya. Kita ini memang sama sama ...."


"Sama sama apa, Deni. Sudah cukup aku datang ke sini, hanya berniat melihat anak, Delia." Tegas Ane.


Alan yang melihat perdebatan itu langsung berucap," Sudah cukup. Aku tidak ingin melihat wajah kalian berdua lagi. ada di hadapanku."


Ane menjelaskan semuanya. Namun Alan sudah tak maun mendengar penjelasan dari dokter wanita itu.


"Sudahlah Ane, tidak ada yang harus kamu jelaskan lagi." cetus Alan.


Delia hanya terdiam, tak mau mendengar lagi perdebatan mereka berdua. Dengan erat memeluk anaknya dalam dekapan. Agar tetap tenag, dari keributan di dalam ruangan.


Ane mulai mendekat ke arah Delia untuk sekedar berucap," Delia, tolong jelaskan pada suamimu aku tidak ada niat jahat, apalagi harus bersekongkol dengan Deni.


"sudah cukup Ane jangan membela diri lagi, hardik Alan pada Ane, tak adq belaan dari Delia sedikitpun untuk Ane, Delia benar benar terdiam seribu kata.


sedangkan Deni hanya tersenyum kecil, karena senang dengan apa yang terjadi di depan matanya.


Ane pergi begitu saja, ia membiarkan Deni berada di dalam ruangan Delia.


" Ane. . .Ane. . . kamu mau kemana sayang, "teriak Deni memanggil nama Ane, yang ternyata ia sudah jauh pergi.


" Deni, kenapa kamu tidak pergi menyusul Ane?. tanya Rudi sambil melihat ke arah Deni.

__ADS_1


"hey, tujuanku bukan Ane, tujuanku untuk melihat anak Delia, kamu tahu itu, "jawab Deni.


Delia memeluk erat putra kecilnya itu dan berkata pada Deni.


" sebaiknya kamu pergi dari sini Deni. aku tak mau melihat wajah kamu.


anak Delia tak perlu Ayah semacam kamu." pekik Delia.


"Waw, hebat sekali. Memisahkan ayah kandung dari anak kamu Delia," ucap Deni.


Alan sudah tak sanggup lagi, mendengar ucapan yang terus terlontar dari mulut Deni dan berucap." Sudah cukup omong kosong yang kamu katakan. Deni."


Deni tertawa saat cengkraman tangan Alan begitu kuat mencengkeram kerah baju Deni.


Dengan lancangnya Deni membalas." tidak ada omong kosong. Semua adalah kenyataan."


"Hentikan ucapanmu itu, jika kamu terus berucap. Aku bisa saja merobek mulutmu itu," ancam Alan


"Alan, seharusnya kamu berhutang budi padaku. Bukan malah mengancamku," balas Deni.


"Berhutang budi, berhutang budi apa maksud kamu?" tanya Alan.


Perlahan Alan mulai melepaskan kerah baju Deni, yang sengaja ia cekram. Karna salah satu suster datang. untuk memindahkan Delia dan anaknya ke ruangan ibu dan anak. membuat keributan dan perdebatan itu berhenti sejenak.


"Permisi. Saya mau mengalihkan Ibu Delia beserta bayinya keruangan ibu dan anak." ucap suster.


saat melihat Delia pergi di bawa oleh suster, Deni menatap begitu tajam ke arah Delia dan anaknya. ia berucap dalam hati," kesempatanku untuk mengambil anak itu."


Alan yang melihat Deni terus menatap kearah Delia saat Delia pergi dibawa suster membuat Alan berucap." Deni. Awas saja jika kamu macam macam terhadap anak yang di lahirkan Delia. Aku tak segan segan akan membunuhmu."


Deni hanya diam dalam senyuman liciknya.


saat itu Alan mulai menyusul sang istri yang akan dipindahkan ke ruangan ibu dan anak. dan Saat itu pula Deni berucap dengan sangat keras," Alan, ingat dia adalah Anakku Bukan anakmu."


Teriakan Deni membuat amarah Alan semakin memuncak.


"Aku tahu itu, tapi. Kamu tidak ada hak karna kamu bukan suaminya." Alan seakan enggan menatap wajah Deni, ia berucap dengan membelakangi tubuh Deni.


"Alan, walau aku bukan suaminya. Tapi tetap saja ada darahku mengalir dari anak Delia." Tegas Deni.


Alan tak ingin lagi berdebat dengan Deni, ia memutuskan pergi dan menjauh dari hadapan Deni. tapi Deni yang tak puas malah dengan lancangnya berkata." Ingat kata kataku Alan, jika aku tidak menggauli istrimu. Kemungkinan besar Kamu tidak akan mempunyai anak selamanya."


Deg ....


Jantung Alan Serasa di sambar petir di siang bolong, membuat rasa kesal pada hati Alan tak tertahankan.

__ADS_1


" aku tak peduli dengan apa yang kamu katakan."


Alan pergi begitu saja, sedangkan Deni yang duduk di kursi roda. Sendiri tanpa seorang pun yang menemani.


Hingga di mana suara ponsel berbunyi, membuat Deni dengan Sigap mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo."


suara yang tak asing dari panggilan telepon itu ternyata adalah Papah Ane.


Yang di mana papah Ane sudah membebaskan Deni dari dalam penjara.


"Halo, ada apa menelpon saya."


"Apa kamu lupa dengan rencana kini!"


"Astaga, karna saya sibuk melihat anak saya di rumah sakit. Saya akan segera pergi ke sana."


"Baiklah. Aku tunggu kamu sekarang, Deni!"


"Baiklah, pak."


panggilan telepon pun terputus, sebelah pihak yang di mana Ane datang secara tiba tiba. Begitu cepatnya Ane datang. ke rumah ayahnya.


Begitu cepatnya Ane datang. Padahal baru tadi Ane berada di rumah sakit Menengok anak Delia.


Dan ternyata Ane menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi tanpa ia sadari, Ane benar benar marah besar.


"Papah."


Sang papah menatap kearah Ane dan bertanya," Ada apa Ane?"


"Apa benar papah yang membebaskan Deni dari dalam penjara?"


tanya Ane yang penuh dengan amarah.


Sang papah mendekat," memangnya kenapa? kamu keberatan Ane?" Sang papah bukanya menjawab, malah bertanya balik.


" Papa seharusnya tak membebaskan lelaki ba*ngan itu!" Ucap Ane dengan sengaja menyebut Deni sebagai lelaki ba**gan.


Membuat sang papah tiba tiba murka, dan dengan sengaja.


Plakkk .....


satu tamparan di layangankan sang papah untuk anaknya, yang tak lain ialah Ane.

__ADS_1


Membuat Ane seketika diam, dan memegang pipi kirinya. menahan rasa sakit akibat tamparan dari tangan sangat papa.


__ADS_2