Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 119


__ADS_3

"Arsyla, apa yang kamu lakukan," teriak Rudi. Urat leher lelaki itu tampak terlihat. Membuat Arsyla sedikit merungkut ketakutan.


Sisi berlari menghampiri Arsyla, yang tengah memeluk lutut kaki, ia menangis.


Tangan lembut Sisi mulai membelai pipi kemerahan Arsyla, membut isak tangis sedikit mereda. Semua mata melihat ke arah cermin.


Mereka mengira Arsyla bunuh diri, tapi ternyata. Arsyla hanya melempar gelas pada kaca.


"Kenapa kamu melakukan semua ini?" hardik Rudi, mendekat,.air mata Arsyla mulai keluar perlahan.


Kepala yang menunduk kini berani mengangkat, menatap ke arah Rudi. Tangan kekar Rudi mulai meraih tangan lembut Arsyla.


"Kamu kenapa?"


Perkataan Rudi membuat Arsyla, menghempaskan tangan kekar Rudi." Jangan mendekat, kalian pergi."


Sisi yang mulai berkata lembut, menahan rasa kesal yang mendera, Arsyla gadis yang terlalu egois dan agresip ketika menghadapi setiap masalah. Tingkahnya yang terlihat dewasa, tapi tidak dengan pikiran dan hatinya.


Sisi mulai menenagkan pikiran Arsyla dan membuat Rudi terdiam dari kemarahannya.


"Kenapa, kamu lakukan semua ini. Arsyla."


Jari tangan mulai mengusap pelan air mata yang menetes. Perlahan demi perlahan.


"Stop, Kalian cepat pergi dari sini."


Kemarahan Arsyla terlihat kian memuncak, dadanya bergemuruh hebat. Hati dan pikirannya kian di rasuki rasa kesal.


"Kami tahu jika kamu tidak ingin menikah dengan Rafa, kami sangat mengerti sekali perasaan kamu saat ini. Arsyla."


Perkataan Sisi membuat Arsyla, mengeramkan giginya.


"Sudah cukup, kalian semua munafik."


Bukan kesadaran yang kini dirasakan Arsyla, hanya rasa benci dan kesal kepada mereka yang berada di hadapannya.


"Arsyla, kami melakukan semua ini. Demi kamu juga, demi diri kamu dan demi kebaikan kamu."


Perkataan Sisi seakan menjadi angin yang berlalu, Arsyla seakan tuli ketika mendengar nasehat yang baik untuk dirinya.


"Sudah, tenangi dirimu. Jangan sampai amarah merusak kesehatan kamu Arsyla."


Sisi terus menenangkan gadis berhidung mancung itu, dengan mengusap pelan rambut lurusnya.


"Apa peduli kalian. Semua sama saja."


Arsyla semakin marah. Dia mengepal kedua tangan, berdiri dan hampir memukul Rudi.


Namun, dengan tenaganya Rudi mampu menahan hantaman tangan Arsyla.


Tangan yang di tahan Rudi, kini ia tempelkan pada pipinya.


"Silahkan pukul."

__ADS_1


Kedua mata Arsyla tak berhenti menatap ke arah Rudi.


Sedangkan Sisi mulai meraih pundak Arsyla, menyuruh gadis manis itu duduk di atas ranjang tempat tidur.


"Kamu mau membuat aku menderita, kan?"


Pertanyaan yang aneh bagi Rudi. Karna Arsyla yang berkata seakan Rudi adalah musuhnya.


Rudi sempat berpikir jika Arsyla marah, karna dirinya yang menyuruh menaiki mobil Rafa.


"Pokonya kalian keluar dari kamar tidurku."


Sisi menyerah dengan acaman yang di lontarkan Arsyla saat itu.


"Kamu harus sadar, Arsyla. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri."


Arsyla tertawa terbahak-bahak, ketika Sisi berkata tentang pernikahan yang sebentar lagi akan segera di gelar.


"Jangan bahas soal pernikahanku, aku tidak ingin menikah. Kalian tahu."


Begitu menderitanya Arsyla sampai ia berkata seperti itu.


"Tapi, ini demi kebaikan kamu, Arsyla. Kamu harus terima." Ucap Rudi.


Arsyla masih saja dengan tekadnya. Tidak mau menikah dengan Rafa.


Padahal Rudi begitu senang dan yakin, karna Rafa adalah anak yang baik dan mau bertanggung jawab. Tapi Arsyla malah tidak menyukai Rafa sama sekali.


Kelakson mobil terdengar, dimana Sisi sangat senang. Ia berdiri menuju pintu depan rumah.


Rudi mendudukan lututnya, memegang kedua tangan Arsyla yang bergetar karna rasa cemas. Rudi terus menyemangati Arsyla, supaya gadis yang berada di hadapannya itu tidak larut dalam kesedihan.


"Hey, Arsyla. Liat wajah, Mas?"


Arsyla menggeleng-gelengkan kepalanya dia tidak mau menuruti perkataan Rudi, pada saat itu.


" Arsyla Kenapa kamu tidak mau melihat wajah Mas."


belum ucapan yang terlontar dari mulut Arsyla. Bu Ira datang dengan rasa cemas yang kian menggebu, memeluk anak gadisnya.


"Nak, ada apa ini."


Tangan kanan yang berlumuran darah, menetes ke atas lantai, tetesan kecil itu mampu mendarat pada punggung tangan sang ibu.


"Lepaskan kaca itu pada tanganmu. Ayo Arsyal." Ucap Bu Ira.


Rudi baru menyadari tangan yang mengepal itu ternyata ada pecahan beling yang membuat telapak tangan Arsyla mengeluarkan darah.


"Ayo, Nak. Lepaskan, cepat buka. Tangan yang mengepal ini."


Bu Ira terus saja membujuk anak gadisnya. Agar melepaskan potongan kaca yang begitu tajam.


"Setelah ini, apa ibu akan berjanji. Tidak akan menikahkan aku dengan Rafa?"

__ADS_1


Deg ..., Bu Ira seakan bingung, apa yang harus ia jawab pada anak gadis satu-satunya ini.


"Tapi, Arsyla. Bagaimana pun, kamu harus menikah dengan Rafa, karna dia yang sudah membuat kamu kehilangan kehormatanmu."


"Tapi bu, aku tidak mencintai dia!"


Arsyla. Malah menghardik ibunya sendiri, mendorong pelukan sang ibu.


"Cinta akan tubuh dengan sendirinya. Arsyla, walau tidak mudah. Tapi ibu yakin kamu dan Rafa akan saling mencintai."


Kedua mata yang merah, bekas tangisan itu, kini menatap pada wajah sang ibu. Arsyla mulai berani berkata," apa jaminanya bu."


"Cinta itu tidak ada jaminan sayang. Cinta itu adalah kebahagiaan, jika kamu dengan ikhlas menerima Rafa. Hati dan pikiran kamu akan bahagia."


"Baik, aku akan menikah. Jika aku tidak bahagia, jangan salahkan aku bila aku meninggalkan Rafa."


Rudi bisa benafas lega, saat kata-kata ingin menikah dengan Rafa, terlontar dari mulut Arsyla.


Sisi yang mendengarnya pun ikut bahagia.


Tapi saat, Rudi mengusap pelan air mata kesedihanya menjadi air mata kebahagian. Tiba-tiba seseorang menelpon.


"Hallo, ini Pak Rudi?"


Tanya seseorang dalam sambungan telepon dari ponsel Rudi.


Nomor yang Rudi angkat ialah, nomor Ami. Kenapa bisa ponsel Ami berada di tangan orang lain.


"Iya, saya sendiri. Ini siapa ya?"


Hati Rudi kian merasakan kegelisahan saat ponsel istrinya di tangan orang lain. Apakah terjadi apa-apa dengan Ami?


"Istri bapak, masuk ke rumah sakit."


Deg, bagai tersambar petir di siang bolong, ketika mendengar Ami masuk ke rumah sakit, sedangkan dia berada di bali.


Sisi yang melihat kepanikan Rudi mulai berjalan mendekat dan bertanya?" Kenapa Rud?"


Tubuh Rudi merosot ke atas lantai, air mata yang bahagia kini, mengalir menjadi air mata kesedihan lagi.


Sisi memegang pundak Rudi dan bertanya," kamu kenapa Rud?"


"Ami masuk ke rumah sakit."


"Kenapa bisa."


"Entahlah, panggilanpun tiba-tiba tak aktip. Aku harus pergi menemui istriku. Aku takut dia kenapa-napa."


"Pergilah, urusan di sini semua sudah beres. Terima kasih."


Menatap ke arah orang-orang yang berada di ruangan kamar Arsyla, Rudi berlari menuju hotel.


Untuk segera menemui sang istri?

__ADS_1


Apa yang terjadi dengan Ami.


__ADS_2