
Delia yang terbangun di tegah malam, kini teringat akan kejadian di mana dirinya dilecehkan oleh Deni.
Suster yang berjaga ke luar sebentar hanya untuk ke toilet, membuat Delia kini mencari kesempatan untuk menemui Deni.
Ia berjalan tergopoh-gopoh, infusan yang menempel pada tangannya ia cabut begitu saja.
“Di mana lelaki itu, aku tahu pasti dia belum meninggal.”
Delia mengetahui semuanya, bahwa anak yang ia kandung bukan anak Alan. Melainkan anak dari Deni, lelaki yang sudah membuat semena-mena pada tubuhnya.
“Jika tadi siang aku tidak berpura-pura tidur, mungkin aku tidak akan mendengar percakapan Ane dengan lelaki yang entah aku tidak tahu dia siapa.”
Delia mencari sebuah pisau tajam, untuk melakukan aksinya. Entah apa yang ia pikirkan saat ini, hatinya benar-benar di selimuti rasa dendam.
“Akan aku buat kamu menderita, Deni.”
Menelusuri setiap ruangan, Delia belum juga menemukan Deni. Suster kian berjalan menelusuri setiap ruangan, Delia yang tak mau ketahuan. Ia memukul suster itu. Menyeret sang suster membawanya ke kamar toilet, saat itu Delia membuka baju suster itu untuk ia pakai.
Jika Delia tak melakukan ini, mungkin akan ada suster yang menangkapnya. Rencananya akan gagal begitu saja. Mau tidak mau Delia harus melakukan semua ini untuk bisa memuaskan rasa kesalnya terhadap Deni.
Kini Delia sudah memakai baju suster dengan begitu rapi, dia memaksakan diri untuk berjalan tegak walau sebenarnya tubuhnya begitu lemas.
Menatap ke arah cermin, penampilannya kini sama persis seperti suster, tidak akan ada orang yang curiga melihat diri nya.
“Sempurna.”
Pisau yang ia pegang, kini ia selipkan ke dalam buku yang dibawa suster yang ia pukul hingga pingsan.
Saat itu Delia mulai mengurung dan mengunci Suster itu di dalam kamar mandi.
Setelah penyamarannya berhasil ia memaksakan diri berjalan tegak menelusuri setiap ruangan, mencari keberadaan Deni.
Saat ia berjalan, salah satu suster datang menyapa dirinya. Delia mulai takut jika penyamarannya akan terbongkar, ia berusaha untuk mencoba tetap tenang menghadapi suster yang bertanya pada diri nya.
“Ainun, kamu kenapa masih ada di sini?” tanya salah satu suster yang mendekat ke arah dirinya.
“Eh, ini saya lagi mengecek setiap ruangan pasien!” jawab Delia dengan berpura-pura menjadi suster Ainun yang ia kurung di dalam kamar mandi.
“Loh, kenapa mengecek semua ruangan pasien, saya kan menyuruh kamu untuk mengecek kamar Dokter Deni,” ucap Suster Tasya. Mengerutkan kedua dahinya.
__ADS_1
“Iya, saya lupa ruangannya. Mungkin karena epek kurang tidur tadi siang,” balas Delia dengan berpura-pura menjadi suster Ainun.
“Ya sudah, kamu lurus saja. Nanti belok kiri sedikit, di sana ada ruangan nomor 43, ruangan Dokter Deni,” ucap suster Tasya yang ia kira ada dihadapannya adalah suster Ainun.
“Baik sus, terima kasih.”
Delia tersenyum senang karna ternyata penyamarannya kini tidak di ketahui suster lain, ia tersenyum penuh kemenangan.
Berjalan dengan memaksakan diri, hatinya kini bisa bernapas lega, ia sudah tak sabar ingin melihat lelaki baji*ngan yang sudah membuat dirinya menderita.
“Bersiap- siaplah, Deni.”
Pintu kini ia buka secara perlahan, terlihat Deni dengan berbagai selang menempel pada tubuhnya.
Delia mulai mendekat penuh dengan kebencian, pisau yang ia bawa kini mulai ia arahkan pada kaki Deni. Ia mulai membelek betis Deni. Tanpa rasa takut atau pun jijik.
Darah mulai mengenai wajah Delia, dirinya seakan puas saat itu.
@@@@@
Di dalam ruangan suster yang begitu lama pergi ke toilet. Menyadari jika Delia tidak ada, dia tampak panik. Jika Delia hilang apa yang harus ia katakan pada dokter Ane.
“Suster Liana, apa kamu melihat pasien Delia?”
Liana tampak heran, ia dari tadi berjaga di ruangan. Tapi tak melihat sama sekali pasien yang lewat.
“Tidak, dari tadi sepi. Tak ada yang lewat!”
Jawaban suster Liana, membuat sang suster yang bertugas menjaga Delia kini nampak kebingungan.
“Ya sudah, terima kasih suster.”
Suster Liana yang melihat tingkah suster Ina membuat ia heran.
Suster Ina yang berjaga, di ruangan Delia tampak kebingungan sekali, Iya ketakutan. Kalau dilihat tidak ditemukan otomatis dirinya akan dipecat di rumah sakit itu.
“Delia ke mana kamu.”
Sudah beberapa jam ia tempuh dan ia lalui, hanya untuk sekedar mencari keberadaan Delia.
__ADS_1
Sampai di mana Delia yang sudah berlumuran darah, melihat suster yang berjaga di ruangannya, Tengah mencari-cari keberadaannya.
“Suster itu.”
Delia dengan Sigap membersihkan dirinya dari bekas darah yang berceceran, mengenai wajah dan juga tangannya. Dengan keahlian yang ia punya ia mampu menyapu bersih bagian-bagian darah yang berceceran pada wajah dan juga tangannya.
Delia tersenyum di depan cermin dengan penuh kepuasan, saat itulah ia mulai mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa ia pakai.
Ia menaruh baju yang berceceran darah dengan bertuliskan suster Ainun, di dalam tong sampah.
Saat itulah Delia tersenyum penuh kemenangan, ia Mencoba menyelinap berjalan masuk ke dalam ruangannya.
Dengan harapan Delia tidak bertemu lagi dengan suster yang menjaga dirinya di pertemuan jalan menuju ke ruangannya.
Sepertinya rencana dilihat benar-benar berhasil pada saat itu, Iya bisa melewati setiap Jalan tanpa suster yang curiga kepada dirinya.
Saat itulah ia mulai naik ke ranjang tempat tidur, berpura-pura untuk tidur.
Sedangkan suster Ina masih kewalahan mencari-cari keberadaan pasien Delia, ia mencoba meminta bantuan kepada para satpam yang tengah berjaga di luar.
Saat suster Ina bertanya kepada para satpam yang berjaga di area luar, “Pak lihat pasien kabur ke luar engga.”
Para satpam yang tengah berjaga di luar itu nampak kebingungan, karena sejak tadi malam tidak ada orang yang izin keluar ataupun orang yang mencurigakan seperti orang yang tengah kabur.
Saat itulah suster Ina mulai pasrah, ia tak sanggup lagi mencari keberadaan Delia.
Dengan berjalan tergopoh- gopoh, merasakan rasa lelah karena dari tadi terus mencari keberadaan Delia.
Pada saat itulah suster Ina, berniat masuk ke dalam ruangan Delia. Ya pasrah jika dirinya akan dipecat oleh dokter Ane.
Namun betapa mengejutkannya sekali, suster enak menemukan Delia Tengah tertidur begitu pulas. Membuat dirinya sungguh heran.
“Delia, sejak kapan?”
Suster Ina mengelus dadanya merasakan rasa lega, Jika ternyata Delia Tengah tertidur begitu pulas, di ranjang tempat tidur.
Mungkin dirinya terlalu panik dan memikirkan keadaan Delia sehingga ia tak mengecek lagi ke ruangan Delia pada saat itu.
“Ya ampun ternyata Delia berada di kamarnya. Aku benar-benar teledor.”
__ADS_1