Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 160 season 3 Keadaan Dodi


__ADS_3

Alan mulai mengedor pintu kamar Dodi, hatinya tak karuan. Ia takut terjadi apa-apa dengan Dodi.


 


“Nak, buka. Kenapa kamu kunci kamar ini,” teriak Alan. Mengedor pintu kamar Dodi dengan begitu keras.


 


Dokter Ane mulai panik, ia menghampiri Alan dan bertanya,” ada apa?”


 


“Kamar Dodi terkunci!”


 


Alan dengan sekuat tenaga mendobrak pintu kamar Dodi, tubuhnya yang lemas. Membuat ia tak tahan lagi.


“Kondisi kamu belum setabil, jangan dobrak pintu lagi,” ucap Ane.


 


“Tapi bagaimana dengan Dodi, aku takut terjadi apa-apa dengan dia,” teriak Alan tanpa sadar membentak Ane.


 


Ane mencari cara lain, untuk membuka Pintu kamar Dodi. Ia mencari benda tajam.


“Pakai ini,” ucap Ane. Menyodorkan benda tajam pada Alan.


Dengan sigap Alan mengambil benda itu, ia mulai membuka pintu kamar Dodi.


Pada akhirnya, pintu terbuka. Dodi tengah berdiri di jendela kamarnya, ia memegang batu yang entah dari mana ia dapatkan batu itu.


 


“Dodi. Nak kamu tidak apa-apa,” ucap Alan.


Dodi mulai membalikan badan menatap pada wajah Alan,  Alan yang tak tega melihat Dodi langsung memeluk anak itu.


Hampir saja Dodi hilang kendali, dan mulai berjalan ke arah jendela. Alan takut jika ia akan melompat.


 


“Kamu kenapa?” tanya Alan lembut.


 


Ane hanya bisa melihat pemandangan itu dari kejauhan, dia bukan siapa-siapa dari mereka.


Kini Ane mulai membalikan badan segera menjauh dari hadapan Dodi dan Alan.


“Om, Dodi takut. Mamah datang ke sini, dia ada di luar jendela, meminta tolong pada Dodi,” ucap Dodi menjelaskan apa yang sudah terjadi.


 


Alan memeluk erat tubuh anak itu, ia menangis sejadi-jadinya. Ia tahu apa yang di rasakan Dodi sangat berat sampai dirinya berhalusinasi bayangan sang ibu.


 


“Terus Dodi kenapa lempar kaca jendela dengan batu?” tanya Alan.


 


“Dodi ingin menyelamatkan mama, hanya dengan batu ini mama bisa selamat!” jawab Dodi. Ucapannya semakin ngelantur kemana- mana membuat Alan benar-benar ketakutan.


 


“Besok kita pergi temui mamah kamu, ya,” ucap Dodi.


 


Dodi mulai melepaskan pelukan Alan, dan berkata,” Dodi tidak mau bertemu mama. Dodi takut jika mama bertemu Dodi, mama akan terluka.”


 


Deg ....


 


“Tidak mungkin Dodi, mama Ami sayang sekali sama Dodi, enggak mungkin dia terluka saat liat Dodi,” bantah Alan dengan nada lembut. Ia takut menyakiti hati Dodi.


 


Air mata anak itu kini keluar secara perlahan, membuat hati Alan terasa sakit.


“Kamu itu laki-laki Dodi, jadi kamu harus kuat. Tegar, semangat,” ucap Alan. Mengusap lembut kepala Dodi.


 


 Dodi hanya terdiam, biasanya dia selalu semangat jika kata-kata semangat ke luar dari mulut Alan.


 


Ada apa dengan Dodi?


“Sekarang kamu tidur bareng sama Om Alan, ya,” ucap Alan.


 


“Tante Diana ke mana?” tanya Dodi.


 


Alan tak mungkin berkata kejujuran, bahwa Diana tengah di rawat di rumah sakit karna mental yang terganggu.


“Tante Diana ada urusan mendadak, jadi tidak ada di rumah!” jawab Alan berbohong.


Dodi mulai bertanya tentang kejadian yang tadi ia lihat,” yang tadi kalian kenapa? Kenapa Tante Diana menjerit dan pingsan. Terus tangan Om berdarah.”

__ADS_1


 


Deg ...


Alan hampir kewalahan menjawab semua pertanyaan Dodi. Ia bingung harus menjawab apa.


 


Untung saja Ane datang, membawa dua gelas air teh hangat. Dimana teh hangat itu adalah teh yang membuat orang tenang dan rileks.


 


“Dodi, mending kamu istirahat dulu. Nih dokter Ane buatkan kamu teh hangat, biar kamu tenang. Nah setelah kamu tenang nanti Om Alan pasti cerita,” ucap Ane. Dengan menampilkan senyum kecilnya. 


 


Dodi akhirnya menurut ia meminum teh hangat itu.


“Tehnya enak dokter.”


 


“Wah, Dodi suka. Nanti dokter bikinin lagi yang lebih enak dari ini.”


 


 Kini Dodi kembali menampilkan senyumannya yang sudah lama di rindukan Alan, semua berkat Ane. Jika Ane tidak datang ke rumah, entah bagaimana nanti keadaan keluarga Alan.


 


“Oh, ya Alan aku enggak bisa lama nemenin kamu di rumah ini. Maaf banget, oh ya. Untuk kamu Dodi semangat,” ucap Ane.


“Ya sudah, terima kasih kamu sudah berkenan datang ke sini,” balas Alan.


 


Ane merasa senang dengan ucapan Alan, hatinya masih saja berdebar. Saat Alan menatap wajahnya.


 


“Ya sudah aku pergi dulu,” pamit Ane.


 


Ia bergegas kembali ke rumah sakit melihat keadaan  Diana.


 


 


 


Diana sudah dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri, akibat obat bius yang di berikan Ane.


 


Wanita bermata sipit itu bangun, menatap pada ruangan yang begitu terang.


“Dimana aku?”


Ia meronta-ronta seakan hilang kendali.


“lepaskan aku.”


 


Dokter Ane belum juga kembali, tapi para perawat hampir saja kewalahan mengurus Diana yang mengamuk.


 


“Bagaimana ini sus, Dokter Ane belum kembali.”


Ucap salah satu perawat yang berjaga di ruangan itu. Diana terus meronta-ronta, ia ingin bebas dari jeratan tali yang melingkar erat pada tangan dan kakinya.


 


“Kalian kenapa mengikatku.”


Teriak Delia semakin menjadi-jadi.


 


“Ibu tenang dulu, ya.”


 Balas lembut salah satu perawat.


 


“Siapa kalian, lepaskan aku. Aku ingin bertemu dengan anakku Dodi, pasti dia menungguku di rumah,” teriak Delia.


 


“Bagaimana ini sus?”


“Ya sudah kita suntikan saja obat bius untuk wanita ini!”


 


“Baik.”


 


Kedua mata Delia kini menutup, ia mulai tertidur kembali, karna suntikan obat yang diberikan suster.


 


Pagi hari, Alan terbangun begitu pun dengan Dodi. Mereka segera bersiap-siap menemui Ami.


 

__ADS_1


Dodi masih saja duduk termenung ia memikirkan perkataan Diana yang selalu menasihatinya.


Dimana perkataan itu sudah menyatu dengan pikiran Dodi.


 


Alan yang sudah bersiap-siap, melihat Dodi masih saja duduk termenung. Ia menghampiri Dodi dan bertanya.” Kamu kenapa belum siap-siap Dodi?”


 


Tatapan Dodi seakan kosong menatap Alan, anak kecil itu seakan tak ingin bertemu sang ibunda.


 


“Ayo kita berangkat.”


 


“Aku tidak mau pergi om, aku ingin di sini bersama Om dan tante.”


 


“Hey, Dodi kamu kok gitu. Emang enggak kangen


Sama mama?”


 


Dodi menggelengkan kepala, Alan yang melihat Dodi seperti itu membuat dirinya mengusap kasar wajah.


 


Alan sempat berpikir jika Dodi, sudah sakit hati dengan Ami.


“Dodi, Mamah Ami nunggu kamu loh. Yuk kita temui Mamah Ami.”


 


Dodi masih saja menggelengkan kepala, ia menundukkan pandangan tak ingin hatinya bertemu sang ibu.


 


@@@@


 


Saat itu Rudi, bangun dari tidur yang membuat dirinya terasa segar. Ia lupa jika sang istri tengah di operasi tapi dirinya malah tertidur begitu pulas.


Melihat jam sudah menujukan pukul 7 pagi, ia segera berlari menghampiri ruangan operasi Ami.


 


Suster belum juga terlihat, Rudi hanya bisa menunggu. Ia sampai lupa ponselnya.


Saat menatap ponselnya, banyak panggilan telepon yang tidak ia jawab.


 


“Alan menelepon. Begitu lelahnya aku sampai orang yang menelepon tidak terdengar oleh telingaku. Bodoh.”


 


Rudi mulai menelepon balik Alan, ia Rindu sekali dengan suara  Dodi. Anak semata wayangnya.


 


“Ayo angkat Alan, aku butuh sekali kehadiran Dodi untuk Ami.”


 


Panggilan pun terhubung, Alan mengangkat panggilan telepon dari Rudi. Membuat Rudi begitu senang.


“Halo, Rud.”


 


“Lan, akhirnya aku bisa menghubungi kamu. Mana Dodi, aku rindu sekali dengan anakku.”


 


Apakah Dodi akan bertemu Ami?


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2