Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 165 Season 3 Luka yang teramat Sakit


__ADS_3

Pada akhirnya Alan, terdiam mengikuti ke inginan Ane. Hatinya kini tertekan, melihat Delia terbaring lemah di rajang rumah sakit.


Delia bisa tenang dengan suntikannya obat penenang. Alan bertanya-tanya dalan hatinya, mau sampai kapan Delia terus merasakan suntikan setiap kali dirinya tak tenang.


Perasaan negatif mulai merusak akal pikirannya, Alan hanya bisa pasrah dalam setiap keadaan yang menimpa dirinya. Bagaimana pun ia harus tetap kuat menjalani semuanya.


Menarik nafas pelan, mengeluarkan secara perlahan Alan mulai mengikuti langkah sang dokter dalam keadaan bingbang.


Hah, resah kini yang kurasakan," gumam hati Alan."


Setelah keluar dari ruangan sang istri, Alan menatap pada Dodi ia tengah duduk. Pikirannya terlihat kosong, ada apa dengan Dodi? kenapa dia seperti orang yang bingung?


"Ane, aku mau menghampiri dulu, Dodi," ucap Alan saat mengikuti langkah Ane.


"Baiklah," balas Ane.


Dokter wanita itu lupa akan menasehati Dodi, ia malah terburu-buru masuk keruangannya karna melihat kondisi Delia yang sangat memburuk.


Langkah berat Alan ia paksakan untuk melangkah ke arah Dodi, hatinya terasa gundah.


Tak sabar ingin bertanya pada anak itu.


"Kamu kenapa melamun?" tanya sang om, pada Dodi.


Lamunan anak itu seketika membuyar, kepala yang menunduk kini terangkat menatap kearah Alan.


"Om."


Air mata anak itu berlinang begitu deras. Alan langsung mendekat dan bertanya," kenapa kamu menangis, Dodi?"


Dodi memeluk Alan, tiba-tiba. Begitu pun dengan Alan yang langsung merespon pelukan sang keponakan.


"Kenapa Tante Diana mengamuk seperti tadi, om? Apa semua karna adanya Dodi," ucap Dodi kedua matanya terlihat sayu, hatinya seperti tertekan. Bagaimana tidak anak sekecil Dodi sudah di beri berbagai tekanan yang bertubi-tubi.


Alan yang mendengar ucapan sang anak, hanya bisa terdiam membisu. Bingung dan bingbang yang kini ia rasakan, bagaimana bisa ia menjawab dengan kejujuran kalau itu akan merusak mental sang anak.


"Om, kenapa diam?" tanya Dodi. Yang turun dari kursi meraih tangan Alan dengan lembut.


Tatapan rasa kasihan pada anak itu terus merasuki pikiran Alan.


Apa yang harus aku lakukan, gumam hati Alan.

__ADS_1


Jika Alan berkata jujur apa Dodi akan menerima semuanya. Jika semenjak adanya Dodi, Delia seakan terobsesi ingin memilikinya.


Namun di sisi lain, Alan juga harus mengerti bahwa Dodi hanyalah keponakannya yang masih memiliki seorang ibu.


"Om, kenapa tidak jawab pertanyaan Dodi. Selama ini Dodi yang salah ya, om jujur aja Dodi pasti akan menerima, kok."


Kata-kata Dodi tak sanggup Alan, tahan apa dengan berkata jujur anak itu akan menerima semuanya. Atau sebaliknya.


Suara ponsel menyala dan bergetar pada saku celana, membuat tangan Alan meraih ponsel itu.


Saat dilihat ternyata sebuah pesan dari Rudi. Pesan yang tak mampu di jelaskan.


Pesan itu menandakan kemarahan Rudi yang begitu besar. Membuat Alan mengenggam erat tangannya, emosinya mulai tak terkendali ia ingin sekali menjatuhkan ponsel itu pada lantai.


Namun untuk apa? Tidak ada guna? Ucap hati Alan.


Dodi masih memegang tangan sang om sampai dimana Alan tak bisa menahan rasa sesaknya di dada. Ia melepaskan tangan Dodi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Dodi.


Alan bergegas pergi dari hadapan Dodi, ia tak sabar ingin menelpon orang yang sudah salah paham terhadapnya.


Langkah kaki Alan semakin cepat, hingga ia tak sadar jika Dodi mengikuti langkah kaki Alan diam-diam.


Setelah sampai di taman belakang Rumah sakit.


Alan mulai menelepon Rudi, dengan hati yang masih kesal.


Alan mulai mengetik panggilan telepon saat itu, panggilan tersambung. Rudi langsung mengangkat panggilan Alan dengan cepat.


"Aku tidak habis pikir dengan perkataanmu Rudi ?Kenapa kamu memberi kata-kata itu kepadaku. Harusnya kamu sadar diri, kamu sebagai orang tua sudah lalai membiarkan Dodi sendirian dalam keterpurukan."


Alan tak sadarkan diri ya terus mengoceh dalam sambungan telepon, sedangkan Rudi ingin berbicara pun tak ada celah sedikitpun.


"Asal kamu tahu, jika kamu tidak mengabaikan anakmu sendiri mungkin Delia, tidak akan mengurus Dodi sampai sekarang, hingga Delia ...."


Alan mengusap kasar wajahnya, menggertakan gigi, rasanya ia tak ingin mengatakan apa yang sudah terjadi pada keluarga kecilnya, Apalagi, dengan sang istri yang mengalami depresi berat.


Menghembuskan napasnya. Ia terus mendengarkan ocehan Alan, "asal kamu tahu aku tidak ada niat sedikitpun untuk memiliki anak mu itu. Karena rasa kasihan istriku maka dari itu aku menyetujui Delia untuk mengasuh Dodi."


Emosi Alan mulia terkendali, ia mulai terdiam. Memberi cela agar Rudi bisa menyadari jika semua yang ia ucapkan dalam pesan untuk Alan, adalah sebuah kesalah pahaman.


Rudi mulai angkat bicara dan berkata," Jika kamu memang mengasuh Dodi? Kenapa kamu menjauhkan Dodi dariku dan Ami. kamu tahu sendiri kan kami masih butuh Dodi."

__ADS_1


perdebatan mereka semakin menegangkan, Alan tak ingin kalah dengan Rudi yang terus membela diri.


"Rudi. Harusnya kamu sadar diri sebagai lelaki. Harusnya kamu mengerti situasi aku disini."


Teriak Alan, membuat Dodi yang mengintip dibalik tembok ketakutan.


" Rudi. Bisa tidak kamu tidak asal bicara, asal kamu tahu, sekarang aku tengah kesulitan dengan istriku sendiri, yang mengalami depresi berat karena tiba-tiba kamu menyuruh Dodi untuk pulang menemuI Ami."


Ucapan Alan mempu membuat hati Rudi seketika sakit, ia seakan merasa bersalah karna pesan yang ia kirimkan begitu melukai hati Alan yang ia tidak tahu bahwa Alan sangat kesulitan.


Alan tak henti menjelaskan semua yang terjadi pada Delia.


"Asal kamu tahu Dodi itu baru merasakan kasih sayang dari Delia merasakan kehangatan dari Delia, begitupun dengan istriku."


Alan sudah tak peduli dengan amarahnya, ia tak peduli dengan kemarahan Rudi setelah mendengar penjelasan dari dirinya.


Hening Rudi tak mampu membalas ucapan Alan, mulutnya kini keluh.


"Kemarin aku sudah berjuang membawa anak kamu, tapi anak kamu kabur. Dan Dodi hampir saja tertabrak mobil, karna ia tak ingin bertemu kalian," ucap tegas Alan.


"Aku ingin berkata damai denganmu, Rudi. Tapi kamu malah memancing emosiku, tapi jika kamu sedikit sabar saja. Mungkin aku tidak akan mengatakan kejujuran yang akan membuat bebanmu bertamba," ucap lembut Alan.


Rudi tak mampu membalas ucapan Alan, dari dulu Rudi terlalu mengandalkan emosi dari pada pikirannya.


"Rudi jika kamu ingin mengatakan kekesalanmu, katakan saja. Aku akan menerima, aku akan memaklumi semuanya, tapi satu hal yang kamu ingat. Aku bukan orang jahat yang kamu katakan, jika aku tahu bakal seperti ini jadinya. Aku tidak akan mengijinkan Delia mengenal anakmu."


Deg .....


Ucapan Alan membuat hati Dodi hancur.


"Alan, sekarang aku menyadari. Bahwa aku salah, hanya saja aku ....."


Emosi yang meluap dan tak terkontrol membuat Alan menutup sambungan telepon Rudi. Ia mematikan ponselnya tak ingin pusing dengan Rudi yang terus menyalahkannya. Bahwa dia telah mencuci otak anaknya dan mengiginkan Dodi tetap bersama Alan.


"Akan kumatikan poselku, sekarang fokus pada Delia. Setelah keadaan Delia membaik, aku akan antarkan Dodi secepat mungkin pada Rudi.


Bukan aku tak kasian pada Dodi, hanya saja aku tak ingin melihat istriku Depresi terlalu lama hingga membuat Delia menjadi gila. Hanya karna seorang anak bernama Dodi," gerutu Alan. Membuat Dodi mendengar perkataan Alan. Yang membuat hatinya semakin hancur berkeping-keping.


Saat Alan membalikan badan, ia melihat Dodi berdiri di depannya.


Apa yang akan terjadi?

__ADS_1


__ADS_2