Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 18


__ADS_3

lelaki tua itu mendekat dan berkata.


"Ku bayar kamu untuk semalam."


Aku nampak terkejut mendengar sosok seorang lelaki tua mengiginkan tubuhku.


Rasanya ingin sekali menolak permintaannya namun apa daya, aku juga membutuhkan uang untuk, menutupi semua hutang suamiku.


Bos Hendra yang aku pikir baik, nyatanya sama seperti lelaki di luaran sana.


"Baik, bapak berani bayar saya berapa?" tanyaku sedikit terpaksa merangkul tubuh lelaki tua itu.


"Maunya berapa?" Dia membisikan ketelinga membuat aku bergidik ngeri dn jijik.


"50 juta cukup." aku melempar tawaran harga sembari terseyum ketir.


"Oh, sungguh harga pantastik untuk seorang janda sepertimu." ucapnya sembari mencui daguku.


"Gimana mau tidak?" Tanyaku kepada lelaki yang semakin mendekat.


Dia menghelap nafas sembari terseyum menatap wajaku, "Baiklah."


Dan saat itu dia berlalu pergi meninggalkan aku yang masih meninggalkan sesak di dalam dada, apa serendah ini menjadi janda.


Dan kau Aldi sudah mati juga masih merepotkan.


Ah, kenapa aku bodoh, harus menerima tawaran si tua bangka itu, harusnya aku tahan, tapi karna butuh duit jadilah begini akhirnya.


Masih ada cara untuk membuat dia tidak menjamahiku, oke tenang sekarang berpikir ayolah berpikir, Sisi.


Aku punya ide berlian..


Tunggu aku malam nanti Bos Hendra.


Semua lelaki sama ajah, tidak punya hati, melihat janda baru, kaya aku, maunya icip-icip emang aku apaan hah.


Malam hari.


Waktu yang kunanti, ialah mengerjai seorang lelaki tua bangka.


Aku segera berdandan memakai dres berwarna merah, menunggu di depan jalan raya, baru beberapa detik mobil itu sudah datang.


Tanpa basa basi, aku langsung menaiki mobil itu, ternyata Bos Hendra membawaku ke sebuah Hotel bintang lima.


Sungguh lelaki tua bangka yang tidak tahu malu, segera kami masuk ke dalam Hotel bintang lima itu dan memesan kamar.


Sesaat Bos Hendra akan mencubu leherku, aku berkata.


"Tunggu, emh, bagaimana kalau kita minum dulu aku haus soalnya, pemanasan buat jaga-jaga, biar berkeringat sehat.


Bos Hendra langsung mengangguk tanda setuju, segera ku ambil gelas berisikan air itu dan memasuki obat tidur yang sudah aku tumbuki.


Baru tau rasa kau, bisikku sembari mengaduk air putih itu.


Segera langkah kaki ini bergegas menghampiri Bos Hendra yang sudah duduk membuka baju seakan bersiap, menikmati tubuhku.


Oh, sungguh menjijikan, mudah-mudahan, dia meminum air yang aku bawa.


Ku sodorkan gelas berisikan air itu, tapi malah di tepis oleh tangannya, hingga gelas yang aku bawa menjadi pecahan beberapa bagian.


Dia menarik tubuhku keatas kasur, aku berusaha melawan tenaganya, tapi terlalu lemah, dia seperti singa yang tengah kelaparan, langsung menerkam mangsanya begitu saja.


Hingga dia mampu menjamahi tubuhku dengan keji, aku menangis, menyesal.


Hanya karna uang aku menjadi korban.


"Ternyata kamu begitu menikmatinya, Sisi," ucap Bos Hendra sembari memakai baju yang tergeletak tidak jauh dari tubuhku.


Aku hanya menutup tubuhku dengan selimut yang tebal, seketika Bos Hendra melemparkan uang  sekitaran 10 juta ke wajahku, dan berkata." Sebagian aku transper, oke sayang."


Rasanya aku seperti wanita murahan.


Seketika Ibu dari Pak Rudi menelpon, entah apa yang ingin dia bicarakan.

__ADS_1


Dia mengajakku untuk bertemu.


Dan kebetulan sekali, aku bisa menelaktir dia dengan uang yang Bos Hendra kasih kepadaku.


Cukup senang melihat sang mertua bahagia, Oop salah, calon mertua. Itulah caraku untuk mendekati ibunya agar bisa mendapatkan anaknya.


Di tengah obrolan kami di cafe, ibu   memberiku sebuah obat serbuk, untuk menuangkan ke dalam minuman Mas Rudi agar dia terangsang.


Yah serbuk kecil itu adalah obat perangsang.


Itulah yang di rencanakan ibunya pada anaknya, agar bisa dengan leluasa menikahkan aku dengan anaknya.


Dan benar saja malam itu Mas Rudi pulang ke rumah membawa sebagian baju untuk ganti, ku lihat dia begitu kelelahan hingga saatnya.


Rencana dimulai, aku membuatkan sebuah kopi untuk dia, dan tidak lupa menuangkan serbuk kedalamnya.


Aku memakai baju tidur yang teramat seksi biar gampang di buka.


Saat ku hampiri Mas Rudi, segera ku tawarkan sebuah kopi yang sudah aku buat.


Dia mengambil gelas kopi yang aku sodorkan.


Apakah Rudi akan terjebak dengan rencana buruk ibunya dan juga Sisi si gadis penggoda.


**********


Akhirnya rencanaku berjalan mulus, Rudi masuk jebakanku, sebentar lagi obat itu akan mengalir ke darah dan memuncak ke otak.


Segera kurebahkan tubuh ini pada ranjang, dimana ranjang tidur ini, tempat tidurnya kedua insan yang terpisah, Ami dan Rudi. Menunggu sang pujaan hati yang akan datang.


Saat itu.


Tok ... Tok ..


"Yah, masuk."


Benar saja, Rudi membuka pintu menghampiriku tanpa aba-aba.


Karna obat perangsang itu dia mencubu semua tubuhku, rasanya seperti mimpi.


Begitu pun dengan dia, Rudi seperti kehausan akan kenikmatan, ia begitu bergairah seakan baru menemukan ke inginan hasratnya.


"Apa kau menikmatinya."


Wajahnya tidak terpancar seyuman sedikitpun, tapi aku yakin dia menikamatinya.


Aku tertawa kecil, puas dengan apa yang sekarang aku rasakan.


Akhirnya kamu jatuh kepelukanku Rudi.


Pagi itu ...


"Hai, sayang, bagaimana kamu menikmatinya kan?" ucapku seketika ia memenjamkan mata dari mimpi indahnya.


"Sisi? kamu, semalam? Dan aku." mulut yang ia lontarkan terlihat sekali gugup.


"Akhh ..." 


Dia berdiri,  bangun dari tempat tidurnya, menuju kearahku.


"Kamu, kurang ajar, kamu menjebakku Sisi?" 


Aku hanya tetawa kecil dan menjawab." menjebak Pak Rudi, apa bapak tidak ingat waktu  tadi malam, bapak begitu menikmati tubuh saya."


"Kurang ajar," tangannya mulai melayang ke pipi kiriku, namun segera ia tepis kembali.


"Kenapa? Tampar  saja." ucapku membuka selimut dari balutan tubuhku.


"Kamu, kenapa kamu tidak memakai baju?" Rudi memalingkan tubuh dan wajahnya ke belakang, seakan tidak sudi melihat tubuhku yang telanjang bulat.


"Bapak, gimana sih, sudah menikmati, malah seperti itu."


Ku lihat dia mengepalkan kedua tangannya seakan, kesal dengan perkataanku.

__ADS_1


"Teman macam apa kamu, tega membuat Ami kecewa, apa kamu tidak berpikir, istri saya sekarang sedang bertaruh nyawa, dan kamu malah menjebakku." 


Aku mendengar setiap perkataannya.


"Siapa yang mengecewakan Ami, harusnya bapak sadar sebagai suaminya, istri sampai bisa penyakitan gitu."


Dia membalikan badan, dan ...


Dret .. Dret ...


Suara Hp Mas Rudi menyala.


"Halo ..."


"Iyah .."


"Apa. Ami sadar."


"Saya akan ke sana sekarang."


Sepertinya pihak rumah sakit menelpon Mas Rudi.


Mas Rudi pergi begitu saja meninggalkan, aku dengan seribu kenangan semalam.


Ami terimakasih, telah memberikan kesempatan untuk bersama suamimu.


Ami jangan bangun, plis biarkan aku bahagia bersama suamimu, walaupun hanya sebentar saja.


Aku mencintai suamimu Ami, apa ada sedikit rasa iba, agar kamu mau berbagi suami denganku.


Ibu menelponku.


Dia berkata." gimana lancar."


"Lancar bu,"


"Bagus."


Mulutku mengagah, tertawa bebas, memang dunia adil untukku.


Aku bergegas mandi dan menemui Rudi di rumah sakit, karna mendengar Ami sudah sadar.


****


Sampainya  di rumah sakit, kudapati Ami terbangun dari tempat tidurnya, karna memang dari semalam Ami sudah sadarkan diri.


Setelah menjalani oprasi, Ami sempat tak sadarkan diri, hingga beberapa hari.


Aku mendengar  bahwa Ami sahabatku mengalami penyakit tumor otak.


Karna ke ingin tahuanku, aku ingin bertanya pada Alan. ialah sepupu Ami.


Namun, bagiku, ada sebuah kejanggalan di antara mereka berdua, seperti bukan saudara layaknya pasangan muda, memang di umurnya yang ke 28 taun Ami masih terlihat seperti gadis layaknya Abg.


Dengan tubunya yang kecil dan muka yang teramat imut, membuat dia seperti boneka berbie.


Akh segera ku tepis prasangka itu semua.


Pas sekali, aku menarik tangan Alan saat ia tengah berjalan.


"Kamu, Sisi kan yang waktu itu?" Tanya Alan sembari melihatku ketakutan.


"Ih, dokter tau ajah!" Aku sedikit menggoda dan menepuk pundak sebelah kanannya.


Semakin ku dekati, ia semakin menyingkir, seperti tak suka kalau aku berdekatan dengan dia.


"Apa kabar dok.?" seyumku mengambang di kala melihat kaca mata yang ia lepas.


"Baik," ucapnya ketus.


"Ih, Dokter Alan cetus amet sih."


"Ada apa kamu menarik saya." ucapnya tanpa basa basi.

__ADS_1


Aku menghelap nafas panjang seraya berkata.


__ADS_2