
Setelah Delia selesai memakai baju, Alan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh badannya yang penuh dengan keringat dan juga memar bekas pukulan.
Setelah selesai mandi, Delia nampak melihat Alan yang hanya memakai handuk saja. Tanpa memakai baju.
"Apa-apaan kamu?" tanya Delia. Wajahnya memalingkan ke arah sisi kiri.
Alan hanya, mengangkat kedua bahunya. Tak perduli dengan Delia. dia mencari dalaman celananya, karna semenjak menikah. Yang merapihkan semuanya hanya Delia.
"Apa kamu melihat celana dalamku? "Tanya Alan pada wanita bermata sipit itu.
"Ada di rak lemari paling bawah!" jawab Delia. Wajahnya masih menatap ke kiri, seraya menunjuk yang di maksud Alan.
Alan mencari ke sana kemari tak ketemu," gak ada Delia."
"Alan, kamu ini ya," gerutu wanita berwajah sipit itu. Sembari menutup kedua matanya.
Berjalan melewati suaminya.
Matanya terbuka saat sampai di depan lemari. Ia mencari dan menemukan dalaman yang Alan maksud, menjiwir ke arah wajah suaminya. Tak lupa menutup matanya lagi.
"Ni, cari itu pake mata. Jangan pake mulut,"sidir Delia. Sembari bergidig ngeri melihat dalaman supermen.
"Ya, elah ... cari gini ajah harus merem. liat tuh, supermen juga dalemannya di luar," gerutu Alan mengambil ****** ***** dari tangan Delia.
"Ihk, itu mah beda Alan,"ucap Delia. Bibirnya mengkerut. Menyesatkan kekesalan pada suaminya.
"Sama aja bentuknya juga sama aja!" jawab Alan. Yang tak mau kalah dengan ucapan istrinya.
Rahang Delia mengeras, ia mecibik kesal bibirnya. Berniat memukul badan suaminya itu dengan mata menutup.
Alan yang berbalik badan langsung melangkahkan kakinya. Saat Delia hendak memungkul, tiba-tiba kakinya tergelincir.
Ia menahan pada handuk Alan yang melingkar.
Saat tiba haduk itu lepas. Membuat Delia sepontan membuka matanya.
Dan ... Akh ...
Alan berbalik arah, " Apa sih ...?"
Menghebuskan nafas, ternyata Alan sudah memakai boxer. Pikiran Delia hampir kemana-mana.
Memengang dada, sembari mengelusnya dan membuang nafas secara bergantian.
Alan langsung panik, ia menghampiri istrinya dan berkata," kenapa kamu Delia. Kamu asma?"
Pertanyaan Alan membuat Delia salah tingkah. Ia berbisik dalam hati, ihk. Untung saja Alan pake boxer kalau engga, mataku ini sudah tak perawan lagi.
Delia berusaha berdiri, Alan yang membantunya perlahan. Namun saat Delia sudah tegak berdiri. Kakinya tergelincir lagi, karna rintikan air pada rambut Alan membuat lantai jadi basah dan sedikir licik.
Hingga akhirnya tubuhnya menempel pada suaminya itu, dan satu kecupan mendarat pada bibir mereka berdua.
Secara sepontan Delia menghempaskan tubuh suaminya itu berlari berjingkat-jingkat.
Alan yang melihat kelakuan istrinya hanya menggelengkan kepala, ia terseyum dapat ciuman pertama dari sang istri.
__ADS_1
"Lumayan, masih permulaan," ucap Alan meraba bibirnya yang tercium oleh istrinya.
*********
Brug ....
"Aduh," Delia terjatuh. Meringis kesakitan.
"Delia kamu ngapain lari-lari?" tanya lelaki tua yang tak lain adalah ayah Delia.
"Itu ... Al-an ... lan!" jawab Delia bibirnya seakan kaku.
"Maklum pak penganten baru. Jadi mau bicara juga ngedadak kaku," ucap wanita tua. Yang tak lain ibu Delia.
Kedua orang tua Delia terkekeh ketawa, melihat Delia yang sedikit basah bajunya. Karna bersentuhan dengan tubuh Alan.
"Udah lanjutin lagi gih, kasian suami kamu," ucap wanita tua itu. Membantu anaknya untuk berdiri.
Delia yang salah tingkah bingung dengan apa yang harus di lakukan, karna ada rasa malu pada Alan.
"Bu," ucap Delia. Berharap sang ibu mengerti.
"Udah balik lagi sana, suamimu pasti nunggu!" jawab wanita tua di sebelah Delia.
Saat itu ... Alan tiba-tiba muncul.
"Eh, ibu bapak," ujar Alan. Menggaruk kepalanya, padahal tidak ada yang gatal.
"tuh, suamimu nyusul," mata ibu Delia berkedip-kedip sebelah.
Sebagai suami Alan meraih tangan putih Delia seraya mengajak." Ayo sayang."
Wajah Delia tampak kebinggungan, ia melambai-lambai tangannya pada ibu dan bapaknya.
Tentu saja sang ibu membalas dengan menujuk satu jempolnya.
"Pelan-pelan ajah dulu."
Orang tua Delia terkekeh tertawa.
"Anak jaman sekarang ya, Pak. Ada ajah tingkahnya."
"Ya, Mah. Sok malu-malu padahal mau."
*************
"Ngapain kamu ketawa Alan?" tanya Delia. Kedua pipinya membulat. Alan yang melihatnya langsung mencubit kedua pipi itu.
"Aw sakit," tawa Alan. Membuat Delia kesal.
"Apa tadi kata ibu dan ayah mu," bisik Alan pada telinga Delia.
Wanita bermata sipit itu menjawab." teruskan."
"Nah, benar. Yuk kita teruskan?"
__ADS_1
Delia menatap mata sang suami, mencubit perutnya.
"Aw, sakit Delia."
"Makanya jangan macam-macam."
"Ya, ya ...."
Saat malam tiba dimana Alan sudah tertidur, Delia yang masih resah hatinya memikirkan kejadian tadi siang, ia mengusap-ngusap bibirnya itu. Meraskan gejolak di dadanya. Ada getaran yang berbeda.
Pertama kali bibirnya bersentuhan dengan lelaki, karna dia tak pernah merasakan apa arti cinta. Kalau bukan getaran pertama kali bersentuhan tangan dengan Rudi.
Dia segera menepis pikiran tentang Rudi saat itu, Kepalanya terbayang lagi akan ciuman itu. Dia berbalik arah menghadap Alan yang sudah tertidur pulas.
Tangannya mulai meraba pipi sang suami, begitu halus putih bersih dan mulus. Apa mungkin karna dia sang dokter karna bisa menjaga kulitnya, gumam hati Delia.
Pipinya memerah saat melihat wajah tampan Alan, dia baru sadar ternyata Alan begitu tampan. Terseyum sendiri, karna Alan begitu lucu ketika tertidur.
Tiba-tiba tangan Alan merai tangan istrinya itu, ia berucap." Jangan pergi ... Kumohon jangan pergi."
"Apa katanya jangan pergi, apa di mengigau." Delia nampak terseyum ketika Alan memegang tanganya dan berkata jangan pergi.
"Kepada siapa dia berkata seperti itu."
Alan mengigau lagi, ia menyebut nama seseorang. Yang kurang jelas terdengar oleh telinga Delia.
"Tadi Alan menyebut nama, kurang jelas aku mendengar Alan menyebut nama seseorang yang ia maksud."
Delia tak menghiraukan Alan lagi, dia lanjut untuk tidur sembari pengangan tangan Alan yang begitu erat pada tangan Delia.
Baru mata mulai menutup satu pesan datang tengah malam.
[ Bahagianya,] Satu pesan datang dengan emojik tertawa dan satu pisau.
"Apa maksud orang ini, mengirim pesan tengah malam."
[Siapa kamu?]
"Tidak ada balasan lagi, nomor siapa ini?"
Delia menghiraukan siapa orang yang iseng mengirim pesan padanya. Ia melanjutkan tidurnya.
Pelukan datang secara tiba-tiba pada Delia, membuat wanita bermata sipit itu, mengibaskan pelukan itu.
"Alan ini kenapa? Tidurnya banyak tingkah," gerutu Delia.
Dret ... dret ..
"Ada nomor baru menelpon, siapa sih!"
Delia mengangkat telepon itu, saat telepon itu terangkat. Hanya ada suara wanita tertawa terbahak-bahak.
"Halo ..."
Tut ... telepon pun mati secara tiba-tiba ....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya.