Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 100


__ADS_3

flashback Bu Ira


Malam hari, dimana aku memikirkan Roby yang tiba-tiba mengatakan cinta. Membuat pikiranku seakan pusing dan hati yang serasa tertekan.


Apa yang harus aku katakan pada Roby? Lelaki yang tidak aku cintai. Merapatkan tangan melihat ke arah cermin, raut wajahku menampakan ketidak senangan saat ini.


Tiba-tiba ponselku berdering, tanda pesan masuk. Aku melihat Ardan mengirim pesan kepadaku pesan yang membuat hati ini terasa sakit.


[Maafkan aku Ira, aku lupa ke rumah kamu. Karna Naira ingin ke rumahku menemui orang tuaku.]


Naira sampai sejauh itukah, sampai dia ingin dibawa ke rumah orang tua Arpan.


Setelah melihat isi pesan itu Naira menelponku.


"Hallo, Ira. kamu lagi apa?" tanya Naira padaku. Nada bicaranya terdengar begitu bahagia, ada rasa kesal dalam hati ini. Mencoba untuk bersikap tenang agar Naira tak berpikir yang tidak-tidak kepadaku.


"Hallo Ira, ko kamu diam?"


Panggilan Naira membuat diri ini kaget. Dengan terpaksa aku menjawab ucapanya.


"Iya, Naira kenapa?" tanyaku. Dalam sambungan telepon.


"Kamu kan temanan sama Ardan udah lama nih, pasti kamu tahu lah kesukaan Ardan itu apa?" tanya Naira, membuat aku sedikit kesal. Kenapa dia harus bertanya kepada diri ini. Padahal tanya saja sama orangnya, ahk. Rasanya aku ingin sekali mengacak rambutnya, tapi. Mana mungkin yang ada Ardan akan benci padaku.


Dengan terpaksa aku memberitahu, makanan kesukaan Ardan saat itu. Tapi sedikit mengerjai Naira, suruh siapa pacaran sama orang yang aku suka, buat hatiku sakit saja.


"Naira. Makanan kesukaan Ardan itu udang, lobster dan kepiting, coba kamu kasih pasti dia suka!" jawabku. Dengan sengaja aku berbohong, padahal makanan kesukaan Ardan hanyalah, sup ayam saja. Kalau Ardan sampe makan-makanan laut. Otomatis dia bakal alergi. Rasain kamu Naira, langsung deh di putusin.


"Oh, gitu ya makasih!" jawabnya. Langsung mematikan telepon sebelah pihak.


Geram rasanya, dia begitu tidak sopan mematikan telepon begitu saja. Liat saja besok baru tahu rasa kamu Naira.


Aku tersenyum ketir bagaimana besok jika Ardan benar-benar memakan makanan yang dibawa oleh Naira, pastinya Naira akan dimarahi oleh Ardan habis-habisan, dan di sanalah aku akan melihat mereka putus. Dari sanalah aku bisa berdekatan lagi dengan Ardan, mengatakan isi hatiku bahwa aku mencintai dia.


Hah, rasanya aku puas malam ini dan Tak sabar menunggu hari besok. Saat itulah aku menutup kedua mataku untuk segera tertidur, dan bermimpi indah.


Pagi hari aku terbangun untuk segera bersiap-siap, mandi mengganti baju sekolahku. Saat langkah kakiku menuju ke luar rumah, Roby sudah ada di depan mata menjemputku untuk pergi bersama-sama ke sekolah.


"Roby. Sejak kapan kamu sudah ada di depan rumahku?" tanyaku yang tiba-tiba tercengang kaget, melihat penampakan lelaki berbadan kekar tersenyum menatapku.


" Sudah dari tadi pagi, memangnya kenapa? Kamu kaget?" dia bertanya balik kepadaku, membuat aku sedikit jengkel. rasanya ingin ku tendang dia jauh-jauh dari depan mataku.

__ADS_1


Aku hanya bisa melipatkan kedua tanganku, membuat bibirku mengkerut.


" Loh, kok ekspresinya gitu. Tidak senang melihat aku ada disini?" dia terus bertanya kepadaku membuat kepalaku sedikit pusing, pertanyaan yang malas aku jawab. Saat itulah aku berlalu pergi melewati Roby yang tengah berdiri dihadapanku.


"Ira," panggilan Roby kepadaku. kedua telinga ku mengabaikan panggilannya, kakiku terus saja berjalan.


Robi terus saja mengejarku dengan mengendarai motor sportnya. Ia seakan marah, hingga tuas gas motornya ia geberkan, hingga suara motor itu terdengar berisik.


Aku hanya melirik kebelakang sebentar, kedua pipinya nampak memerah, seakan kesal dengan tingkahku yang mengabaikan panggilannya.


Hingga satu tetangga keluar rumah, melemparkan satu sendal jepitnya pada Roby.


Brug ... Roby kesakitan.


"Heh, anak muda. Tidak sopan ya, berisik."


Saat itulah Roby, pergi dengan menderuhkan motornya melewatiku dengan raut wajah yang kesal.


"Makanya jadi orang jangan pemarah, jadi kena batunya kan." Teriakku pada Roby yang sudah jauh mengendarai motor sportnya.


Aku terus berjalan, hingga melihat Naira dan Ardan berbocengan. Mereka seakan bahagia terseyum, hingga lupa menyapaku yang tengah berjalan pelan.


"Ayo naik," ucap Roby. Menyuruhku untuk segera naik pada motornya.


Aku sungguh heran, kenapa Roby tiba-tiba sudah ada di samping kiriku dengan motornya.


"Naik, tidak?" tanyanya. Aku menganggukan kepala, langsung menaiki motor sportnya.


Dengan sengaja Roby, menancabkan gas. Entah setan apa yang merasuki Roby. Ia membawaku dengan kecepatan maksimun, hingga melewati dua insan yang tengah memadu kasih. Roby begitu sengaja menyenggol dua insan itu, membuat Naira dan Ardan terjatuh.


Aku benar-benar kaget dibuat Roby saat itu, dia begitu berani membuat Naira dan Ardan terjatuh.


"Kamu gila Roby, kalau Ardan dan Naira kenapa-napa. bisa-bisa kita yang tersalahkan."


Roby tertawa seakan senang dengan apa yang dilakukannya.


"Kamu tenang aja mereka tidak akan kenapa-napa kok hanya tersenggol sedikit juga. Lebay!"


Roby benar-benar gila, dia begitu santai dengan apa yang telah ia lakukan terhadap Ardan dan Naira.


" Kalau terjadi apa-apa dengan mereka bagaimana?"

__ADS_1


" Yaelah kamu jadi cewek ribet amat sih Ra!"


Baru saja mulut ini menjawab, Roby menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi.


" Robi apa kamu gila, ingin buat aku mati?"


"Makanya peluk pinggangku kalau kamu enggak mau mati!"


"Enggak sudi aku."


"Terserah kalau kamu ingin mati."


Roby benar-benar membuat aku gila. Saat itulah dengan terpaksa aku memeluk pinggang Roby.


Ia berkata kepadaku," lupakan rasa sakit hatimu. Mari kita bersenang-senang, rasakan udara yang menyentuh wajahmu. Dan rasakan angin yang membuat rambutmu bertebaran. Kamu akan merasakan beban pikiran hilang seketika."


Aku menuruti apa perkataan Roby saat itu, saat itulah. Kedua mataku mencoba menutup dan merasakan perkataan Roby.


Benar saja, beban pikiran seketika hilang begitu saja.


Hatiku yang sakit mendadak tenang.


"Gimana?" tanya Roby.


Aku terseyum bahagia, dengan merasakan angin yang menyentuh tubuhku. Membuat pikiran yang pusing menjadi tenang kembali.


Roby tenyata kamu baik.


Setelah sampai di sekolah, aku melihat wajah Ardan yang merah-merah. Naira saat itu begitu panik, ia segera membawa Ardan ke kelinik sekolah.


Semua orang berkumpul kana menyaksikan Ardan yang histeris kesakitan. Naira saat itu melewati tubuhku dan menatap tajam kearah wajahku.


Sepertinya Naira begitu marah, karna aku telah mengerjainya.


Roby merangkul pundaku, mengiring aku ke dalam kelas.


"Gimana dengan jawabanya, apa kamu menerimaku Ira."


Aku sempat lupa, hari ini harus memberi jawaban pada Roby. Apa aku menerima dia atau tidak.


Bagaimana ini?

__ADS_1


__ADS_2