
#ISTRIKU KUMEL
Rahasia di balik istriku yang kumel
Sial ... Mobil yang aku ikuti kini hilang jejak, kemana mobil itu. Harus cari kemana lagi, bodoh kenapa aku tidak bisa mengejar mobil itu.
Tring ... Tring ...
Nada Hp-ku berbunyi lagi, sudah lima panggilan tak ku jawab.
Siapa sih, ganggu saja, emh, ternyata si Luky.
"Hallo ..."
"Loe dimana?"
"Gue di rumah! ada apa sih?"
"Kenapa loe gak masuk kerja bego?"
"Gue udah minta izin sama Bos Hendra, sekarang gue gak masuk kerja."
"Ya elah loe."
"Emang kenapa?"
"Yah gue sepi tampa loe."
"Ih lebay loe, jijay."
Segera ku matikan panggilan telepon dari Luky, harus cari kemana Ami, dia pergi dengan siapa? Dan kenapa tidak membawa Dodi?
Aku semakin penasaran. Dibuat istriku ini.
Kalau aku pulang Ami akan curiga kepadaku, karna mengamati kepergianya.
Ku urungkan niat untuk pulang ke rumah.
Namun, kutunggu di tempat biasa ke pulangan Ami istriku.
Dua jam lebih tidak ada tanda-tanda Ami pulang, Aku terus saja menunggu di dalam mobil.
Hingga perut yang keroncongan sengaja aku tahan, agar mata ini menunggu kedatangan mobil yang membawa Ami Istriku.
Setelah jam menunjukan pukul 02:00 siang, akhirnya mobil itu datang, mobil yang membawa istriku entah kemana.
Setelah Ami ke luar dari dalam mobil, begitu pun ke luarnya bersamaan, dengan seorang laki-laki tinggi berkulit putih dan berjas putih, istriku tengah mengobrol dengan serius bersama dia.
Siapa dia? Hatiku semakin penasaran dibuatnya, apa dia selingkuh dengan laki-laki itu? kenapa tidak terpikirkan oleh ku.
Akh, aku tidak boleh gegabah, ta-pi kenapa Ami tidak pernah jujur kepada diri ini.
Apa dia sudah tak menganggap aku lagi?
Oh Tuhan, masa iah wanita yang aku cintai melakukan perselingkuhan, kurang apa aku ini.
__ADS_1
Padahal Diriku tidak pernah bermain di belakang dengan wanita lain, sesak sungguh sesak hati ini, seketika air mata mengalir perlahan dari pelipih mata tanpa aku sadari.
Akh ... Kenapa aku menagis?
Harusnya tak usah menangisi wanita seperti dia.
Aku tak boleh gegabah, harus punya bukti yang kuat, apa benar wanita yang selama ini mendampingi hidupku tega berselingkuh.
Sebenarnya aku ingin melabrak kedua insan yang tengah serius menggobrol itu, tapi hati berkata lain, biar ku selidiki kebenarannya.
Kalau aku gegabah bisa menjadi Fitnah dan aku yang akan menyesal. Bila perkiraanku salah, bahwa Ami tengah berselingkuh dengan lelaki yang ada di hadapanya saat ini.
Jam sudah menunjukan pukul 03:23, bosan sekali menunggu di dalam mobil. Sampai tidur di dalam mobil.
Lalu terbangun lagi, karna rasa kurang nyaman.
Ku lihat ibu datang, sejak kapan ibu datang ke rumah, biasanya wanita tua itu tak pernah ingin datang ke rumahku untuk menemui Ami.
Ku Amati dulu dari kejauhan, maksud apa ibu datang ke rumah.
Dan terlihat jelas cuman setengah jam ibu ada di rumahku, dan balik lagi.
Ada apa? Aku semakin bingung.
Selama ini istriku tak pernah membicarakan kedatangan ibu, dia hanya diam, apa ibu menggancam Ami?
Banyak pertanyaan dalam lubuk hatiku, tentang berubahnya istriku selama ini.
Segeraku telepon ibu.
Akhirnya ibu mengangkat teleponku
"Yah, aku kangen,bu , ibu lagi dimana? Seperti lagi di jalan raya!" Tanyaku sembari melirik ibu yang tengah menunggu taksi di depan rumah.
"Oh, ibu habis dari toko nunggu taksi,"
Emh, ternyata ibu berbohong, ada sesuatu yang ibu sebunyikan.
"Oh ya sudah bu, hati-hati." kuakhiri pembicaraan lewat telepon dengan ibu.
"Iyah Nak."
Bu kenapa kamu berbohong, ada apa sebenarnya.
*********
Akhirnya jam sudah menujukan pukul 05:20 sore ku tancapkan gas mobil segera ingin pulang menemui istriku, menayakan hal yang selama ini menumpuk dipikiran ku.
"Pa-ph pu-yang mahhh." ucapan Dodi ketika hendak melangkah menghampriku.
Segera ku gendong jagoan kecilku.
Terlihat sosok seorang wanita berjalan memakai hijab berwarna hitam, dia menghampiriku dan mencium punggung tanganku.
Sejak kapan istriku memakai hijab, bukankah dari tadi pagi dia masih memakai baju daster.
__ADS_1
"Mah, loh, pakai hijab sekarang?" Tanyaku keheranan.
"Yah pah, mamah pengen memakai baju yang tertutup!" jawabnya sedikit menunduk, ku lihat sekilas wajahnya begitu pucat tanpa polesan make-up, masih sama seperti kemarin-kemarin tak berubah.
"Oh, tadi ibu kesini?" tanyaku sembari membuka jas.
"Emh, ibu ... Gak ada, pah." jawabnya sedikit gugup. Bibirnya terlihat sekali mengatakan kebohongan.
"Jangan bohong," ucapku lagi sembari memegang kedua pundaknya. Menatap raut wajahnya yang menunduk.
"Be-ner ko pah, mamah ke dapur dulu yah, mau siapkan makanan buat papah."
Istriku mengibaskan kedua tanganku, dan berlalu pergi meninggalkan diri ini yang penuh dengan seribu pertanyaan.
Aku memeluk erat, tubuhnya, seketika dia malah menyingkirkan pelukanku.
Tubuhnya berbalik arah ke hadapanku.
Tidak ada seyuman yang terpancar kini di wajahnya, hanya tundukan kepala yang selalu berhadapan denganku.
"Mamah, kenapa? Apa yang salah dari papah?" Teriakku membuat kaget Dodi hingga menangis.
Wanita yang memakai hijab itu langsung memeluk Dodi, dan menenangkan di pangkuanya.
Kuusap kasar wajahku geram dengan diamnya wanita yang sekarang berada dihadapanku, tidak ada sedikitpun penjelasan yang ia lontarkan.
Apa benar dugaan papah selama ini, mamah selingkuh?" Cecarku menujuk tajam wanita yang langsung saja menatapku.
"Maksud papah apa?" ucapnya sembari mengigit bibir bawahnya, terlihat sekali wajah yang begitu kesal, menatapku.
"Alah, jangan sok suci, kamu sekarang memakai hijab, hanya untuk menutupi ke bohonganmu iya kan." Hardikku membuat tangisan Dodi semakin kencang.
"Diam ... " teriak istriku sembari menahan air mata yang sebentar lagi akan mengalir.
Tatapan mata yah terlihat sekali begitu menusuk akan kebencian kepadaku.
Istriku segera membawa pergi Dodi, meninggalkan aku yang sedang di landa emosi, tanpa sadar bibir ini berkata sedemikian.
Dulu dia selalu terbuka kepadaku, tapi kenapa dia menyimpan kebohongan.
Kelah keluh yang ia rasakan, selalu ia lontarkan kepadaku.
Termasuk, ketika ia mengeluhkan tentang ibu, aku tak pernah merespon. Sampai sekarang.
Apa karna itu dia begitu.
Akhh, semua membuat diri ini bingung.
Langkah kakiku gontai menelusuri setiap ruangan.
Hingga aku terduduk di kursi, dimana kursi itu ada di depan pintu rumah.
Kepalaku pusing, pening. Memikirkan tingkah Ami seperti itu.
Ami apa kamu tau diri ini sangat peduli padamu, hingga aku mengorek semua yang kau simpan.
__ADS_1
Tak senang hati ini melihat Ami yang sekarang menjadi wanita yang pendiam tanpa terseyum sedikitpun.
Membuat wajah cantiknya semakin memudar.