Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 158 sesor 3. Apakah Ami masih hidup.


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, Alan sadar dari pingsannya. Keringat dingin membasahi wajah Alan, Kepalanya masih terasa sakit.


 


Ia melihat di sekelilingnya, bukan lagi sebuah kamar melainkan gudang.


“Ya tuhan, kenapa aku ada di sini. Ke mana Delia?”


 


Tangan Alan susah sekali digerakkan ternyata, kedua tangan Alan terikat begitu kuat. Hatinya mulai di renungi rasa kesal mengingat kejadian yang menimpanya tadi.


 


“Delia, kenapa istriku tega berbuat seperti ini?”


Hati Alan terus bergemuruh hebat, dadanya sesak. Ia tak menyangka hati istrinya berubah menjadi seorang wanita yang egois.


 


“Delia, buka.” Teriakan Alan terus bergeming, hening tidak ada jawaban.


“Delia, apa kamu gila. Kalau kamu begini Ami bisa mati ....” Teriakan Alan semakin keras, tapi Delia tak menjawab teriakan itu.


 


Bagaimana ini? Gumam hati Alan.


Dengan sekuat tenaga Alan, mencari sesuatu benda yang bisa membuka tali yang mengikat tangan dan tubuhnya.


Ia melirik ke arah pintu, sebuah cahaya tampak bersinar, ternyata itu adalah sebuah pintu yang terbuka sedikit.


“Delia apa itu kamu?”


 


Tawa kecil terdengar nyaring, kini pintu itu mulai terbuka lebar, sosok wanita bertubuh ramping itu datang.


 


“Delia?”


 


 


Dokter begitu kewalahan, dengan kondisi Ami yang tak memungkinkan. Tangan mereka mulai mengangkat ke atas, mereka tak sanggup jika menangani pasien yang memang kondisi tak stabil.


 


Rudi yang di izinkan masuk oleh suster kini mulai berjalan, menghampiri Ami.


“Maafkan kami, pasien sudah tak bisa di tangani lagi.”


 


Deg ....


Jantung Rudi seakan hancur berkeping-keping. Dokter dengan sekuat tenaga kini menyerah,


Rudi yang kian kesal dan sedih, menggenggam baju sang dokter di ruang operasi.


“Kenapa kalian menyerah? Ayolah sadarkan istriku, kumohon.”


 


Rudi seakan hilang kendali, wajahnya yang muram kini terlihat begitu pucat. Air mata sudah mulai mengering.


 


“Maaf, hanya ini yang bisa kita bantu. Selebihnya tuhan yang menentukan. Umur manusia.”


Ucapan Dokter membuat, nafas Rudi bergemuruh hebat. Sesak yang ia rasakan, sampai ia hilang kendali.


 


Brug ...


 


Satu pukulan mengenai wajah sang dokter, hingga ia tersungkur jatuh. Perawat dan rekan lainnya mengamankan Rudi mengeluarkan Rudi dari ruangan operasi.

__ADS_1


 


“Kenapa kalian membawaku pergi keluar, aku harus memberi perhitungan pada dokter sialan itu?”


 


Kedua tangan di pegang erat oleh perawat, mereka menenangkan Rudi, berharap dia bisa sadar dari amarahnya yang semakin menggebu.


“Bapak tenang dulu, ya. Bapak harus menerima semuanya.”


 


Perawat yang dari tadi terus mengucapkan kata tenang kepada Rudi. Malah Rudi acuhkan, dirinya benar-benar dikuasai amarah.


 


Lutut kaki Rudi, kembali jatuh ke atas lantai. Ia mengusap kasar wajahnya. Memohon kepada sang dokter untuk bisa menyelamatkan istrinya. Agar bisa sembuh kembali.


 


“Bapak tenang, ya. Semua sudah takdir.”


 


Teriakan kembali terdengar dari ruang operasi, satu  perawat datang dengan senyum bahagia.


“kondisi pasien tiba-tiba setabil.”


 Rudi mulai beranjak berdiri, bertanya pada sang suster.


“Apa benar.”


 


“Ia pak, jadi bapak tenang dulu.”


 


Rudi kembali menampilkan wajah leganya, apa ini sebuah keajaiban.


 


Para suster, kini kembali ke ruang operasi. Sedangkan Rudi. Tidak boleh ikut masuk.


 


 


Belum perkataan suster terucap semuanya, Rudi langsung menerobos masuk menemui Ami.


 


Ternyata dokter dengan tergesa-gesa mulai menyiapkan alat operasi, di mana Operasi akan segera di mulai. Walau sebenarnya tak memungkinkan.


 


Rudi yang berdiri jauh dari sang istri kini berucap penuh semangat.


“Aku tahu kamu pasti bisa, Ami. Ayolah berjuang, demi Dodi.”


 


Dokter yang terkena pukulan oleh Rudi, membukukan wajah dengan keyakinan dirinya bisa menyembuhkan Ami.


Air matanya menetes, ia amat kagum dengan keyakinan suaminya jika istrinya akan sembuh kembali, walau itu tak memungkinkan.


“Dokter saya percaya padamu, kamu bisa menyelamatkan istriku. Karna jasamu begitu berharga untuk keluarga kami.”


 


Teriakan Rudi membuat, tekad sang dokter semakin kuat.


Rudi yang berteriak, kini di tarik paksa oleh kedua perawat.


 


“Ayo pak, kita keluar.”


 


“Baik, saya akan keluar sendiri.”

__ADS_1


 


+++++


 sementara itu di ruang operasi.


 


“Apa ini tidak akan berisiko?”


Tanya salah satu perawat di ruang operasi.


“Sudah lakukan saja perintah saya!” jawaban sang dokter, membuat hati mereka tegang.  Bagaimana bisa mereka melakukan operasi yang berisiko sangat patal bagi pasien.


Tangan mereka seakan ketakutan, hati mereka ragu.


“Kenapa kalian tegang?” tanya sang dokter.


 


“Kami takut, jika pasien ini tidak terselamatkan!” jawab Sang perawat. Yang tengah memegang pisau.


 


“Jangan pernah takut, tanamkan keyakinan kalian. Pasien ini bisa terselamatkan,” ucap sang dokter.


 


Mereka menelan ludah, hanya bisa menganggukkan kepala menurut perintah sang dokter.


 


“Jika pasien ini tak selamat, saya akan bertanggung jawab pada operasi ini. Jadi kalian jangan takut, yakin saja.”


 


“Baik dok.”


 


Jika dibandingkan hati para perawat, hati dokterlah yang paling tegang. Bagaimana tidak ia menangani pasien yang mungkin nyawanya sudah tak mungkin tertolong. Hanya keberanian dan rasa kasihan menyelimuti hati sang dokter.


 


 Beberapa pisau dan alat lainnya sudah di pegang oleh sang dokter.


kini tinggal sayapan yang akan dokter layangkan.


Apakah Ami akan selamat atau sebaliknya.


bagaimana keadaan Dodi dan Alan. Apakah ada kesedaran dari hati Delia.


*********


Rudi terus berdoa sebisa mungkin, berharap akan keajaiban datang pada sang istri yang kini menjalani operasi.


"Semoga ada keajaiban datang, aku percaya rencana tuhan lebih indah."


Rudi mulai menutup kedua matanya, entah kenapa rasa lelah menusuk kesadarannya.


ia kini tertidur di kursi tanpa ia sadari.


Badannya terasa lemas, karna kurangnya istrirahat membuat dia harus bulak balik ke sana kemari.


ponsel bergetar, Rudi masih saja tidur dengan lelapnya.


siapa yang menelpon?


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2