
Riri memegang jidatnya, ia berteriak sekeras mungkin. Merasakan rasa sakit pada kepalanya. Pada saat itulah Riri mulai mengadu kepada Alan .dengan nada manjanya. Seperti seorang wanita pada kekasihnya..
“Al, liat Dina. Dia mentertawakan aku,” ucap Riri. Meringis kesakitan, padahal dirinya hanya ingin mendapatkan rasa si.mpati Alan.
Dina memajukan bibir bawahnya seraya berucap kepada Riri,” Lebai banget sih. Begitu aja sudah ngadu.”
Alan mulai kesal dengan tingkah mereka berdua yang seperti anak-anak, pada saat itulah Alan berteriak,” DIAM.”
Sontak mereka yang ada di sana terdiam, saat mendengar Alan berteriak. Tak ada yang berani berucap pada saat itu, mereka hanya menundukkan kepala.
“ Sebenarnya ada apa dengan kalian? Kenapa akhir-akhir ini kalian sering berdebat, Aku heran dengan kalian berdua. Di situasi seperti ini kalian harusnya sadar.” Ucap Alan tegas.
kepala Alan serasa ingin pecah seketika. Ia sudah kesal dengan kelakuan Dina dan juga Riri, yang semakin hari semakin menyusahkan.
padahal awal bertemu dengan mereka berdua, Alan seakan menganggap mereka seperti adik sendiri. Alan tak pernah lepas memperhatikan mereka berdua, walau hanya sebatas memperhatikan lewat ucapan.
Tapi ternyata lama kelamaan mereka yang di anggap Alan seperti adik, seakan berubah derastis . Mereka seakan menganggap perhatian Alan seperti seorang kekasih bagi mereka.
Padahal, Alan pernah menjelaskan bahwa dirinya bukanlah seorang perjaka, iYa sudah memberitahu bahwa dirinya sudah mempunyai istri.Tapi kenyataannya mereka tak menganggap Alan seperti lelaki yang sudah beristri, melainkan mereka menganggap Alan adalah seorang lelaki singel.
Dina kini mulai berucap,” Alan. Sudah jangan marah, aku yang salah.”
Riri yang mendengar ucapan Dina, seakan ingin muntah di hadapannya sekarang juga. Dina mencari muka di hadapan Alan, agar dirinya di bela.
“ Bukan kamu saja yang salah Dina, Riri juga sama salah,” Tegas Alan.
Alan tak ingin membela siapa yang salah, bagi dirinya semua salah. di matanya.
Dina mulai memegang lengan Alan, memeluknya secara perlahan.” Kami tidak akan mengulanginya lagi.”
Alan dengan Sigap melepaskan tangan Dina yang terus memeluk lengannya.” Dina, bisa tidak kamu jaga jarak denganku.”
Ucapan Alan membuat kedua tangan Dina sedikit gemetar, ia tak menyangka jika Alan membentak dirinya.
Riri hanya melipatkan kedua tangannya, dalam hati dia berucap,” memang nya enak.”
Kedua mata Dina mulai berkaca-kaca, ia ingin sekali berlari menjauh. Tapi hati kecilnya merasa malu, karna dirinya bukan siapa-siapa di hati Alan.
“Aku tidak mau jika di antara kalian ada perdebatan lagi. Jika ada aku tak akan segan-segan meninggalkan kalian di hutan ini,” Tegas Alan.
Semua mulai menganggukan kepala, mengerti apa yang dikatakan Alan dan sebisa mungkin mereka akan menurut.
@@@@@
Alan kini mulai memadu perjalanan, jejak bekas mobil masih terlihat membekas membuat hati mereka senang.
__ADS_1
Dina yang masih merasa sedih, kini berjalan perlahan hatinya rapuh.
Riri yang berada di belakang bersama Dina, mulai berucap,” makanya jangan kecentilan kalau jadi cewek.”
Kesal yang di rasakan Dina, mulai terasa. Tangannya ingin sekali menjambak rambut panjang Riri.
“Oh ya, jalannya yang cepat dong. Kamu mau di tinggal.” Ucap Riri berjalan lebih cepat dari Dina.
Dina mengepalkan kedua tangannya, menggigit bibir bawahnya seraya berkata dalam hati,” awas saja Nanti. Apa yang akan aku lakukan padamu.”
Dina mulai meneruskan perjalanan dengan wajah kesal.
Namun saat di dalam perjalanan suara mobil terdengar dari kejauhan. Alan mencoba memberi kode kepada Pak Tejo dan yang lainnya, untuk bersembunyi.
Sedangkan dengan Dina yang melamun, ia tetap saja berjalan. Sampai di mana Alan menarik tangan gadis itu, membuat mereka berdekatan.
Deg .... Deg ....
Jantung Dina seakan berdetak tak karuan, hingga di mana Dina mendorong tubuh Alan dan berlari ke arah depan jalan.
“Dina kamu mau ke mana.”
Alan bingung dengan larinya Dina, ia takut jika Dina di tangkap oleh para penjahat dan di kurung kembali ke gubuk tua.
Mobil itu semakin terdengar mendekat, membuat Alan mendorong tubuh Dina ke semak- semak.
Membuat mereka berpelukan.
“Jangan bodoh Dina, kamu mau di tangkap oleh mereka.”
Dina terdiam menatap kedua mata Alan.
“Alan.”
“Jangan berisik.”
Suara mobil itu kini terdengar semakin dekat, membuat Alan dengan terpaksa menutup mulut Dina dengan erat.
Suara mobil, kini sudah tak terdengar lagi. Sepertinya mobil sudah menjauh.
Alan dan yang lainnya ke luar dari persembunyian.
Saat itulah Alan mulai memegang kedua bahu Dina dan berkata,” jika kamu nekat melakukan semua itu. Kamu akan di bawa oleh mereka lagi dan imbasnya kita semua juga kena. Tolonglah Dina, jangan seperti anak kecil.”
Dina mulai melepaskan kedua tangan Alan yang memegang bahu nya, pada saat itu Dina menangis seraya berucap,” apa kamu tidak pernah mengerti perasaan seorang wanita.”
__ADS_1
Air mata Dina mengalir, menetes pada pipi. Membuat Alan terdiam.
Kini Dina berlari, membuat Alan hanya berdiri tak ingin mengejar wanita yang bukan siapa-siapanya.
@@@@
Mobil, kini berhenti di gubuk tua.
Mereka melihat bahwa semua tahanan tidak ada di gubuk tua itu.
“Ke mana para tahanan yang kalian bilang, sudah kalian tahan?” Tanya sosok wanita berkaca mata hitam. Sedikit membentak para suruhannya.
“Kami sudah tahan mereka di sini!” balas para suruhan lelaki.
“Kalau mereka sudah kalian tahan, sekarang merek ada di mana?” tanya sang nyonya melepaskan kaca mata hitam, dengan bibir merah merona.
Mereka menundukkan pandangan, seraya berkata,” Maafkan kami nyonya.”
“Kalian ini tidak becus,” ucap sang nyonya sedikit bernada tinggi.
Langkah sepatu sang nyonya begitu terdengar, membuat para pengawas ketakutan.
“Nona, kami ....”
“Husss, mereka mungkin belum jauh dari sini. Cepat tangkap mereka berdua.”
"Baik nyonya."
@@@@
Pada saat itulah sang nyonya menaiki mobil untuk segera mencari keberadaan Alan dan juga yang lain.
Sial, kenapa mereka malah lolos, dasar suruhan bodoh. Gumam hati sang nyonya.
wanita itu tersenyum penuh dengan siasat kelicikan pada dirinya, tangannya kini mengepal erat.
" awas aja kalian akan ku tangkap saat ini juga, kalian tidak bisa lolos dari genggamanku. "
sang nyoya mulai berucap di dalam mobil kepada suruhannya," jika kalian sudah menangkap mereka semua. buang saja mereka semua dan sisakan satu orang anak yang bernama dodi untukku."
"Tapi kenapa Nyonya. Bukanya mereka juga ..."
belum ucapan suruhan sang nyonya terlontar semuanya, pada saat itulah sang nyonya langsung membentak suruh hanya dengan membulat kan kedua matanya," jangan pernah membantah apa yang aku katakan, lakukanlah apa yang aku katakan. aku tidak suka jika ada orang yang membantah ucapanku. Kamu mengerti?"
"Baik nona."
__ADS_1