Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 13 pov Ami


__ADS_3

Istriku kumel


Di balik rahasia istriku yang kumel


*****


Sisi memakai pakaian tidur yang minim dan seksi membuat tubuhnya telihat apalagi dengan buah dada yang terlihat menonjol tanpa memakai BH.


Memang Sisi ini agak keterlaluan pakaiannya.


Kalau saja Mas Rudi tau bisa ngamuk dia.


Ahk, Sisi bikin repot ajah.


"Sisi sedang apa kamu?" Tanyaku meraih tangan wanita itu. Menatap penampilanya yang tak enak di pandang, apalagi ini di rumahku.


"Eh, Am, aku haus mau minum!" Jawabnya mengeliat manja. Bibirnya yang seksi basah karna bekas minum.


"Bisa gak sih, pakaian kamu sedikit tertutup, terlalu minim," ucapku sembari menarik baju dalam belahan dadanya.


"Aduh, gimana Am, bajuku begini semua." jawabnya memelas.


"Ya sudah, pakai baju aku saja dulu."


"Oke."


Baru beberapa langkah berjalan.


"Sedang apa kalian tengah malam di dapur." ucap Mas Alan sembari menyalahkan lampu.


Terlihat terang, begitupun dengan penampilan Sisi.


Suamiku malah, memarahiku dan berkata "kalau wanita ini masih ada di rumah ini, aku aka pergi dari sini."


Segera ku kejar Mas Rudi, meraih tangganya. Meminta maaf atas penampilan Sisi.


"Maafin mamah yah, pah." ku tatap raut wajahnya. Yang tengah dilanda emosi.


Namun suamiku memalingkan pandanganya seakan enggan memaafkan aku, dan berucap.


"Mah, sudah papah bilang, papah gak suka liat dia ada di rumah ini, liat penampilannya, mebuat risih."


Jujur saja aku juga sependapat dengan perkataan suamiku, tapi karna kasian harus bagaimana lagi.


Aku terus saja memelas, semenjak kejadian di rumah sakit, membuat aku tak tega melihat dia sendirian.


"Kasih waktu Sisi tinggal di sini satu minggu saja."


Ku dengar suara geritan dari gigi suamiku sembari menahan amarah.


"kalau enggak, ya enggak, papah gak suka, titik."


Aku terus saja membujuk Mas Rudi. Agar mau menampung Sisi sebentar di rumah ini.


"Mamah mohon, pah, kasian Sisi. Dia habis di tinggal suaminya. Apa papah gak kasian.


Sembari belutut dan bersujud, suamiku pun menuruti perkataanku.


"Ya sudah, cuman satu minggu ini kan." seyuman terpancar dari bibi suamiku.


Suamiku langsung menggiring aku ke tempat tidur, menghiraukan Sisi yang berdiri mematung di dapur.

__ADS_1


"Sisi pah," ucapku saat Mas Rudi menarik lenganku menyuruh aku agar tidur bersamanya.


"Biarin dia udah gede ini," Mas Rudi terus menggiringku, memaksa untuk tidur bersamanya.


Ya sudah bagaimana pun Mas Rudi adalah suamiku, harus menuruti apa katanya. Dia lelaki setia dan baik.


Pagi hari ...


"Selamat pagi semua," ucap Sisi membuat sarapan di atas meja. Dia begitu rajin, sahabatku memang yang terbaik.


"Wah Si, kamu hebat." pujiku kepada Sisi, melihat ia sedikit bahagia, mungkin lambat laun pikiranya bisa melupakan suaminya.


"Makasi Am." jawabnya dengan lengok kekiri kekanan.


Sisi bergegas mengambilkan, makanan untuk suamiku, betapa bahagianya ketika Sisi memberikan nasi kepiring Mas Rudi, seperti pasangan suami istri, berbeda dengan aku yang penyakitan ini.


"Am, aku ambilka nasi sama lauknyah yah," ucapnya sembari mengambilkan nasi, dan beberapa lauk pauk.


"Oh ya, makasih."


Ku lihat Mas Rudi begitu menikmati masakan Sisi, tapi tetap saja raut wajahnya terlihat tidak menyenangkan.


"Masakan kamu enak." ucap suamiku saat menyuapkan makanan kemulutnya.


"Iya Sih, enak sekali." aku pun berucap sembari memuji Sisi. Terlihat raut wajahnya yang nemancar penuh kebahagian.


"Terim ..."


"Tapi, masih jauh berbeda dengan masakan istriku Ami," ucap suamiku sembari menatap seyum kearahku.


Aku tersipu malu, pipiku memerah. Suamiku ini memang pandai memuji.


Berbeda dengan Sisi dia malah menunduk, mendengar apa yang di katakan Mas Rudi di kala memuji istrinya ini.


"Permisi sembentarnya, aku mau ketoilet."


"Ada apa dengan Sisi Mas?" tanyaku pada Mas Rudi yang tengah menikmati sarapan.


Dia hanya mengangkat ke dua bahunya seakan tak perduli dengan Sisi yang tampak murung itu.


Aku bergegas menemui Sisi ke kamar mandi takut dia kenapa-napa.


Untung saja baru melangkah dia sudah ke luar dari kamar mandi.


Saat ku tanya dia teringat waktu bersama almarhum suaminya, kasian sekali nasib teman ku Sisi ini.


Setelah, selesai sarapan, aku mengijinkan Sisi berangkat bersama  Mas Rudi ke kantor.


Sesampai di kantor.


********************************


*Pov Rudi saat di kantor*


"Hey, brow, solmet gue Rudi." sapa Luky yang dari tadi duduk di kursi tempat gue bekerja


"Apa sih loe, ky, gj." jawabku sembari menyingkirkan tubuh gendut itu.


"Sejak kapan loe bareng sama si janda baru, Sisi?" Tanyanya mengedipkan kedua mata.


"Dia nginep di rumah gue!" Jawabku mengusap kasar wajah.

__ADS_1


"Loh ko bisa." Luky Kaget dengan jawabanku.


Aku menahan dagu sembari berucap lemas.


"Istri gue kasian sama dia, setelah di tinggal suami dia ketakutan sendirian." 


Luky menepuk-nempuk pundakku, sembari tertawa riang.


"Waw pucuk dicinta ulam pun tiba."


Bola mataku berputar menatap wajah sang teman.


"Maksud loe."


"Kesempatan loe lah, buat punya bini dua." ucapnya membuat buluk kuduk ini merinding.


"Gak tertarik." Aku langsung mengambil berkas dan menandatangani, serta mengecek semua isi dari berkas proyek itu.


"Eh brow, apa salahnya loe icip-icip tubuh si Sisi itu, loe pasti bakal ngerasain sensasi berbeda." ucapnya sembari  memutar lidah, menutup mata. seakan membayangkan sesuatu.


"Emang Dia makanan bisa di cicipi, ngaur loe." Aku berdiri dan mensentil kepalanya, agar dia bangun dari pikiran ngeresnya.


"Loe kalau gue bilangin, " Terlihat dia berkacak pinggang layaknya, bos yang memberitahu anak buahnya.


"Sudahlah, setiap ada loe, pikiran gue jadi runyem, " usirku membuat Luky bergudeg heran.


"Tra, sini coba." 


Terdengar Luky memanggil seseorang.


"Apa?" ucap lelaki bertubuh kurus berwajah tirus berjalan halus menghapiri Luky.


"Is, is , loe makin imut ajah." jawab Luky sembari mencuil dagu Putra.


"Aduh, makasih beb." tangan Putra menepuk pipi Luky.


Aku hanya menepuk jidad  dengan kedua tangan di atas meja.


"Gak lucu, ajim." timpalku.


"Kenapa sih marah-marah ajah, beb." ucap Putra membuat aku bergidig ngeri.


Luky hanya tertawa terbahak-bahak, seakan semua adegan yang di perankan Putra lucu.


"Sejak kapan loe jadi wanita jadi-jadian, Putra." ucapku menatap raut wajahnya yang semakin menyingkir.


"Sejak semalam, jangan dekat-dekat deh gak lucu." ucapnya ketakutan.


Aku merangkul pundaknya dan berkata." Entar malam kan nama loe rubah jadi putri, gimana kalau nanti malam kita adu lontong."


Putra berlari terbirit-birit mendengar perkataanku. Aku tertawa terbahak-bahak, melihat dia yang histeris ketakutan.


"Eh, baru tau rasa, loe, loe juga Ky, main-main sama gue."


"Yah habisnya, loe keliatan kusut banget akhir-akhir ini, kenapa?"


Obrolan pun terhenti ketika Bos Hendra memanggil namaku untuk, segera datang ke kantor.


Ada apa tumben Bos Hendra memanggilku.


Jangan lupa like dan komen siap bab.

__ADS_1


ikuti terus ceritanya.


__ADS_2