
Dalam cekikan yang hampir saja membunuh nyawanya, Dodi sempat ingat dengan perkataan sang ibunda.
"Dodi jangan lupa berdoa. Jika kamu dalam masalah, minta pertolongan sang maha kuasa.'
Meneteskan air mata, mahluk yang mencekik lehernya tiba-tiba terlepas begitu saja. Alan mulai tersadar dari apa yang ia lakukan
Semua hilang di depan mata, yang terlihat hanyalah hutan biasa. Badan Riri seketika melemah. Membuat napas Riri bergemuru tak karuan.
" Om."
Kini Dodi berlari memeluk sang Om, dengan pelukan rasa syukur dirinya bisa selamat dari hal-hal yang tak Dodi percaya selama ini.
"Ayo cepat kita pergi dari sini."
Alan mulai membantu Riri pada saat itu, membantu Riri untuk tetap berjalan.
" Ri, kamu masih kuat berjalan kan?"
pertanyaan Alan membuat Riri hanya menganggukkan kepala.
"Tante, om. sepertinya hari mulai terlihat terang," ucap Dodi menatap langit-langit yang berada di hutan.
" Iya Dodi, Ayo cepat. Om takut jika Pak Tejo dan yang lainnya kenapa-napa."
Mereka mulai meneruskan perjalanan menuju gubug peristirahatan yang mereka bangun, rasa lapar mulai menyelimuti perut mereka. Membuat Alan Dodi dan juga Riri tak sanggup berjalan lagi.
Sedangkan Pak Tejo yang baru saja bangun dari tidurnya mencari keberadaan Alan dan juga Dodi begitupun dengan Riri.
Pak Tejo bertanya pada sang cucu yang tengah mengusap-usap kedua matanya," bangun nak, kamu lihat Dodi tidak?"
pertanyaan Pak Tejo membuat sang cucu hanya menggelengkan kepala, tidak tahu keberadaan Dodi.
"Ke mana mereka?"
Pak Tejo begitu cemas, membuat ia berteriak sekeras mungkin mencari keberadaan Alan dan juga Dodi.
"Kenapa pak teriak-teriak?" tanya Dina yang baru saja bangun.
"Dodi, Riri dan juga Alan tak ada!" jawab Pak Tejo, membuat Dina sedikit kaget.
Suara langkah kaki terdengar, ternyata itu adalah Alan, Dodi dan juga Riri. Mereka berjalan sempoyongan, merasakan rasa lelah dan juga lapar.
"Kalian ke mana saja?" tanya Pak Tejo.
"Ceritanya panjang pak, saya tak bisa ceritakan sekarang!" balas Alan. Mengerutkan dahi.
Alan duduk dengan penuh rasa lelah, menghembuskan napas. Menahan rasa lapar. Saat itu Pak Tejo dengan sigap memberikan air minum pada Alan dan juga Dodi begitu pun Riri.
__ADS_1
"Bagaimana sudah sedikit tenang?" tanya Pak Tejo.
"Sudah mendingan, pak!" jawab Alan.
" Sebenarnya kalian dari mana saja?" tanya Pak Tejo. Menyodorkan sisa makanan kemarin, bekas berburu.
"Entahlah pak, semalam Alan melihat pasar di hutan ini, banyak orang bermuka pucat saling berjalan tanpa mengobrol atau berucap!" jawab Alan.
.
"Mana mungkin lan, kamu berhalusinasi kali," ucap Pak Tejo yang tak mempercayai perkataan Alan.
Sedangkan Riri masih terlihat lesu, ia hanya bisa membaringkan badannya. Merasakan rasa lelah yang teramat lelah.
Saat itu Pak Tejo mulai menghentikan cerita yang di ucapkan Alan, hatinya tak karuan. Ia merasa ada hal yang menjagal dalam perjalanan menuju pulang, di mana ada sesorang yang membenci Alan atau Dodi.
Karna dalam perjalanan, begitu banyak hal-hal aneh terlihat. Membuat hal aneh itu seakan benar- benar menakutkan.
"Setelah kalian beristirahat, sebaiknya kita cepat lanjutkan perjalanan untuk pulang. Bapak merasa ada hal yang aneh, akhir-akhir ini."
Semua sepakat dengan ucapan Pak Tejo. Pada saat itu Alan mulai tertidur untuk sekedar beristirahat.
Namun, saat ia tertidur dalam rasa lelah. Bayangan saat di pesawat seakan terulang kembali.
Di mana ia pernah menolong sosok lelaki tua, di dalam pesawat. Memangkunya hingga masuk dalam pesawat.
"Ah, bapak bisa aja. Kita sebagai sesama manusia harus saling menolong."
Lelaki tua itu tersenyum dengan rasa bangga pada Alan.
Saat obrolan meraka terhenti, salah satu wanita datang. Wanita bermata bulat itu, tersenyum mendekat ke arah Dodi. Menawarkan sebuah minuman jus yang sangat menyegarkan.
Namun, Dodi yang tak mengenal wanita itu langsung menolak seketika, membuat wanita itu telihat sedikit kesal.
Dodi yang menatap wanita itu, seakan pernah melihat. Entah di mana. Karna sudah lama sekali.
"Dodi kamu kenapa?" tanya Alan.
"Enggak om. Hanya saja tadi ada wanita yang menawarkan Dodi jus buah. Tapi Dodi tolak!" jawab Dodi.
Alan hanya terdiam sembari menatap jendela luar. Pemandangan terasa indah, membuat ia ingin sekali tertidur.
Dodi yang tak bisa menahan lagi ingin buang air kecing, terpaksa berlari ke toilet pesawat tanpa Alan sadari.
"Hey, anak kecil kamu mau ke mana?" tanya Dina, pramugari cantik itu tersenyum pada Dodi.
Dodi hanya menampilkan wajah ketusnya, ia tak kuat menahan rasa ingin buang air kencing.
__ADS_1
Saat itulah wanita bermata bulat, mengetuk pintu kamar mandi. Di mana di sana ada Dodi yang tengah membuang hajatnya.
Tok .... tok ...
Setelah selesai, Dodi langsung membuka pintu kamar mandi. Ia melihat sosok wanita bermata bulat sudah berdiri di hadapannya.
"Tante lagi. Ada apa, tante?"
Wanita itu tersenyum, dengan wajah liciknya. Ia mendekat ke arah Dodi dan berkata," kamu sudah besar, ya. Dodi."
"Tante ini siapa sih?" tanya Dodi.
"Emh, tante siapa? Kamu tak usah tahu. Soal itu, yang terpenting tante bisa bertemu denganmu langsung saat ini!" jawab wanita bermata bulat itu.
"Aneh," ucap Dodi.
Saat Dodi mulai berjalan, mengabaikan wanita itu. Saat itulah tangan Dodi tiba-tiba di cekram. Dodi mulai meronta seraya berkata," tante ini apa-apaan sih."
Dodi mulai melawan, di dalam pesawat itu. Terdapat satu pramugari yang melihat Dodi tengah di paksa untuk ikut dengan wanita bermata bulat itu.
"Hey, nona apa ada masalah?" tanya Riri salah satu pramugari yang mendekat ke arah Dodi.
"Eh, ayo sayang ikut mama!" jawab wanita bermata bulat itu.
Dodi berusaha meronta tak ingin ikut dengan wanita yang terus memaksa dirinya.
"Tunggu, saya ingin bertanya pada anak ini dulu," ucap Riri.
Saat itu Riri mulai bertanya pada Dodi, dengan perlahan.
"Nak, boleh kakak tanya. Siapa wanita yang bersama mu?"
Saat Riri bertanya, wanita bermata bulat itu menarik tubuh Dodi dalam pelukannya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, dia itu anakku."
Dodi mulai berusaha mengatakan jika wanita yang bersamanya bukan ibunya. Tapi wanita bermata bulat itu malah menutup mulut Dodi, mencubit bahunya.
Alan yang baru saja tertidur, kini bangun. Ia melihat ke arah kiri Dodi tidak ada di sampingnya.
"Dodi, ke mana dia?"
Alan panik, seketika. Ia mulai berdiri dari tempat duduknya, namun tiba-tiba guncangan dari pesawat mendadak terasa. Membuat semua penumpang histeris ketakutan.
Para pramugari berusaha untuk menenangkan para penumpang, begitu pun dengan Alan.
"Bapak tenang dulu, ya."
__ADS_1
"Bagaimana saya bisa tenang. Dodi."