
Kini Alan mulai bersiap-siap untuk pergi dari rumah sakit Ane, dengan membawa Delia pergi.
Delia yang duduk di ranjang rumah sakit, mulai bertanya pada Alan,” kita mau ke mana? Kenapa kamu membereskan barang-barangku Alan?”
Alan mulai mendekat ke arah Delia, memegang kedua pipi istrinya dan berkata,” Ayo kita pergi dari sini, Aku akan merawatmu di rumah nanti.”
“Baiklah.” Balas Delia. Menurut apa perkataan sang suami.
Setelah Alan selesai membereskan pakaian dan barang-barang Delia. Pada saat itulah ia mulai membantu sang istri untuk segera duduk di atas kursi roda.
“ pelan-pelan,” ucap Alan. Membopong tubuh Delia meletakkan pada kursi roda.
Saat Alan dan Delia keluar dari ruangan, tiba-tiba saja Ane muncul dengan wajah yang basah penuh air mata. Ane melangkah menghampiri Alan dan Delia.
“ Alan, Delia. Kalian mau kemana?” tanya Ane, mendekat kearah mereka berdua.
“Itu bukan urusanmu!” jawab Alan cetus.
“ Alan kamu tidak bisa membawa Delia begitu saja,” ucap Ane. Mencoba menahan mereka agar tidak pergi dari rumah sakit.
“ jangan halangi aku dan istriku Ane, aku dan istriku akan pergi dari rumah sakit ini. Saat ini juga,” balas Alan menatap penuh kebencian pada Ane.
“Tapi .... keadaan Delia belum sembuh total, iya harus dirawat dulu selama sebulan di sini,” ucap Ane. Mencoba membujuk Alan.
Alan yang tidak suka dengan cara kerja Ane lagi, sebagai seorang dokter. Alan membentak tanpa ia sadari,” omong kosong Ane. Sudah Cukup tak usah banyak bicara lagi, apalagi mencoba menahan ku untuk membawa istriku pergi dari rumah sakit ini.”
Ane berusaha bersikap tenang, Iya menerima bentakan Alan pada saat itu,” Alan semua tidak seperti ...,”
Belum perkataan Ane terlontar semuanya, kini Alan mulai membentak Ane kembali,” Ane sudah cukup, jangan kamu memperlihatkan lagi kebaikan dan keluguan mu itu di depan mataku. Karena sekarang Aku tahu semua hanya omong kosong belakang, dan semua hanya sandiwaramu saja.”
Deg .... hati Ane merasa sangat sakit saat Alan berkata seperti itu. Padahal dari dulu Alan tak pernah membentak ataupun menyakiti hati Ane, ucapannya selalu lembut tidak seperti sekarang. Sanggatlah berbeda.
Alan dan Delia mulai pergi melewati Ane begitu saja, Tak ada kata pamit lagi pada mulut Alan untuk Ane.
Langkah Alan semakin menjauh, Ane yang menyesali semuanya kini seketika menghentikan lutut kakinya ke atas lantai. Air matanya tak henti ke luar, membuat kedua pipinya basah.
Ane tak mau menyia-nyiakan kesempatan nya untuk meminta maaf pada Alan, saat itulah dia mulai Berlari mengejar Alan yang sudah berada di pinggir jalan menunggu taksi.
__ADS_1
“Alan .... Tunggu ....” Teriak Ane.
Alan mendengar teriakan Ane begitupun dengan Delia.
“ Alan sepertinya Ane memanggil kita,” ucap Delia yang masih duduk di kursi roda.
“Sudah abaikan saja,” balas Alan.
Delia hanya menuruti. Apa perkataan suaminya, sampai tiba di mana taksi pun berhenti di hadapan mereka berdua. Alan dan Delia mulai menaiki taksi itu segera mungkin.
Sedangkan Ane terus mengejar hingga dirinya tersungkur jatuh, ke atas lantai.
“Alan begitu semarah itu padaku, ia sudah mengabaikan teriakanku. Bagaimana ini, aku tidak mau persahabatanku dengan Alan hancur begitu saja,” gumam hati Ane.
@@@@@
Di dalam mobil Delia mulai berucap pada sang suami.
“ Apa kita tidak keterlaluan, Alan. Terhadap Delia?” tanya sang istri.
Alan mengusap pelan belakang rambut istrinya dan menjawab,” kenapa kamu harus berkata seperti itu Delia? Jelas saja yang keterlaluan adalah Ane sendiri. Ane egosi. Ia terlalu mementingkan dirinya sendiri, tak peduli dengan penderitaan orang lain.”
“Persahabatan macam apa? Jika Ane malah membuat kebohongan dan menyuruh kamu juga berbohong. Dia tak jauh seperti ular berbisa, yang menghancurkan kebahagiaan orang lain,” balas Alan.
Delia yang semakin penasaran, dengan persahabatan mereka yang sanggatlah terbilang lama, memberanikan diri bertanya kepada sang suami,” selama kalian bersahabat, apa tidak ada rasa suka satu sama lain di hati kalian?”
Ucapan Delia membuat Alan tertawa pelan, Alan mendengus kesal. Menjawab pertanyaan sang istrinya,” Tidak ada sama sekali. Sudah jangan bahas wanita itu lagi, aku muak jika membahas dia lagi.”
pada saat itulah Delia Tak berani membahas tentang Ane lagi, di depan sang suami. Ia akan berusaha fokus mengurus bayi dalam kandungannya, walau sebenarnya bayi dalam kandungan Delia bukanlah anak kandung Alan.
Delia mulai berusaha menerima takdir, dan membuka lembaran cerita baru dengan sang suami.
Delia menyandarkan kepalanya pada bahu Alan, terasa sangat nyaman. Sudah lama Delia tak merasakan kenyamanan berada di dekapan sang suami.
Alan mulai meraih tangan sang istri, mencium punggung tangan Delia dan berkata," aku akan selalu menjagamu dan anak dalam kandungannya, aku akan anggap sebagai darah dagingku sendiri. Kamu jangan kuatir Delia aku sangat mencintaimu."
"Terima kasih, Alan."
__ADS_1
Mobil pun melaju, hingga setengah jam berlalu dan tak terasa sampai lah di tempat yang sudah lama tak di tempati. Rumah kebahagian Alan dan Delia.
Kini Delia mulai membuka pintu rumahnya, suasana masih sama seperti dulu, tak ada yang berubah. barang-barang masih berjejer rapi tak ada satu pun yang hilang.
Satpam di luar mengerjakan tugasnya dengan baik, menjaga rumah sang majikan.
Alan mengusap perut sang istri dan berkata," kita sudah sampai. Dede. baik-baik di dalam perut mamah ya."
Betapa senangnya saat Alan berkata seperti itu pada anak yang di kandung Delia, air mata Delia kini menetes perlahan tak menyangka Alan benar-benar menerima anak yang bukan darah dagingnya sendiri.
@@@@@@
Ane yang berusaha berdiri, kini mulai melangkahkan kaki menuju ruangannya. tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan suara ponsel yang berbunyi. dengan Sigap ia mengambil ponselnya yang berada di atas meja. mengangkat panggilan telepon itu.
suara sang Papah yang terdengar seakan sedang marah kepada dirinya.
membuat Ane sedikit ketakutan. karena tidak biasanya sang Papah menelepon dirinya.
"Halo. pah apa kabar?"
tanya Ane berusaha bersikap ramah kepada sang papah.
"Ane cepat temuin papah di rumah, malam ini!" tegas sang papah.
"Memangnya ada apa pah?" tanya Ane dengan hati bingbang dan banyak keraguan terpendam.
bukannya menjawab sang papa malah mematikan panggilan teleponnya.
"Halo pah."
"Halo pah."
ane memegang erat ponselnya, Iya kesal dengan sang Papah yang tiba-tiba mematikan ponselnya begitu saja.
Mengusap kasar wajah dan berkata," apa papah sudah mendengar berita tentang rumah sakit ini. kalau benar gawat. Bisa-bisa."
Tok .... tok ...
__ADS_1
Di tengah keresahan Ane seseorang mengetuk pintu membuat Ane seketika kaget.
"Masuk."