
Pak Hendra pulang dengan membawa pesanan istrinya, tak sabar sekali rasanya bertemu sang istri tercinta. Ingin memadu kasih lama tak bertemu.
Mengetuk pintu, dan ternyata Bu Sarah tidak mengunci pintu rumahnya. Membuka perlahan, berharap ada sambutan istimewa. Tapi nihil tidak ada.
"Papah pulang," teriak Pak Hendra. Menaruh pisau pada meja ruang tengah.
Tidak ada sambutan hangat, entah kemana sang istri tercinta berada. Mencari-cari kesetiap kamar dan ruangan tidak ada. Membuat Pak Hendra kebingungan.
Kemana istriku ini? gumam hati Pak Hendra.
Sreettttt ....
Pak Hendra nampak kaget ketika mendengar suara seperti pisau yang tengah menyayat sesuatu.
"Mah, papah pulang," teriak Pak Hendra. Tidak ada sahutan dari ruangan yang besar itu.
Perasaan lelaki tua itu nampak gelisa, hawa ruangan terasa panas. Bagai ace yang mati tak menyala. Mengibas-ngibaskan tangan pada pundaknya.
Mendudukan badan ke atas sofa, merebahkan tubuh seketika. Lelah penat yang di rasakan Pak Hendra saat itu.
Tuk ... tuk ...
Suara pisau terdengar lagi, seperti tengah memotong sesuatu. Membuat ketakutan pada diri Pak Hendra semakin menjadi-jadi.
"Mah, jangan bercanda deh," teriak Pak Hendra.
Suara itu semakin terdengar menyeramkan dari sudut ruangan. Ketakutan Pak Hendra kian memuncak, rasa dalam hati benar-benar tak karuan.
Saat itu ....
Bu Sarah muncul tiba-tiba, membawa satu golok panjang. Sedikit menganyun-ngayunkan di depan suaminya, membuat Pak Hendra ketakutan sesekali menelan luda. Kedua bola mata sang istri begitu menyeramkan menatap tajam, tanpa mengedip.
"Emh," suara batuk Pak Hendra. Membuat Bu Sarah terseyum.
"Papah, sudah datang. Mana pesanan mama?" tanya Bu Sarah. Terseyum sinis.
"Ada di atas meja, buat apa sih. Mah, memasan pisau sebanyak itu. Bukanya sudah banyak pisau di dapur sana," ucap Pak Hendra. Membuat Bu Sarah menjatuhkan golok yang ia pengang.
Membuat Pak Hendra kaget dan langsung berdiri.
"Papah kaget, mah," ucap Pak Hendra.
"Maaf pah, tadi mama pengen golok orang. Yang suka bohong!" jawab Bu Sarah, membuat hati Pak Hendra tak karuan. Rasa takutnya kian menggebu, ingin segera pergi dari hadapan sang istri.
"Maksud mama?" tanya Pak Hendra. Raut wajahnya sudah basah dengan keringat dingin.
"Eh, mama salah ngomong ya. Itu mau golok ayam tetangga, soalnya dia bikin kesel di rumah ini!" jawab Bu Sarah. Mendekat kearah sang suami.
Lelaki tua itu semakin menyingkir di hadapan sang istri. Mengelus dada bidanganya.
"Mama, ko berasa beda hari ini," ucap Pak Hendra. Berniat ngegombal sang istri.
"Bedanya apa pah?" tanya Bu Sarah. Mengedipkan kedua matanya.
"Cantik sekali," rayu Pak Hendra.
__ADS_1
Bu Sarah menampilkan seyuman manis pada suaminya itu," makasih pa. Rasanya mama ingin memotog mulut papa yang manis itu, dan juga mensayap setiap tubuh papa ini."
Lelaki tua itu, bergidig ngeri dengan perkataan istrinya itu. Menyeramkan.
"Oh, ya papa. Mandi dulu ya ma," ucap Pak Hendra sedikit menyingkir di hadapan istrinya.
"Mau, mama mandiin sekalian sayang?" tawaran sang istri.
"Engga perlu ko mah."
Berlari terburu-buru mengambil handuk yang menggantung. Bu Sarah terseyum kecut seraya berkata." Biar tahu rasa aku kerjain, sudah tua banyak tingkah."
Nafas Pak Hendra seakan tak beraturan, mengelap keringat yang bercucuran.
"Ada apa dengan istriku hari ini?" pertanyaan itu muncul di benak Pak Hendra.
Mengusap kasar wajahnya dengan haduk segera memasuki kamar mandi. Baru saja ingin menyalahkan air, ternyata air mati mendadak.
Membuka ember yang entah sejak kapan ada di kamar mandi. Membuka perlahan.
Dan Ahk ....
Di luar sana Bu Sarah tertawa. Seraya berkata." Rasain emang enak."
Pak Hendra langsung berlari tergopoh-gopoh menghampiri sang istri dengan nafas teregah-engah.
"Mama, liat di ember. Ada darah," ucap Pak Hendra. Menahan nafas di dada.
"Ah, masa si pa," jawab Bu Sarah. Berpura-pura polis.
"Beneran mah," Pak Hendra menyakini sang istri. Tangannya bergetar hebat.
"Liat pak, cuman air doang juga," ucap Bu Sarah.
Pak Hendra heran, jelas-jelas yang ia tadi lihat itu darah bukan air. Apa matanya rabun.
Bu Sarah Terseyum. Bahagia, berbisik dalam hati." wkwkw untuk pembantu di sini mau di ajak kerja sama."
Manggaruk kepala belakannya, Pak Hendra benar-benar syok berat.
"Ya, sudah cepet mandi nanti kita makan."
Pak Hendra mengeluh pada Sang istri. Karna air tak keluar dari shower.
"Masa sih, pa."
Bu Sarah langsung memutar kran bulat di bawahnya dan air mengalir lancar.
"Papah ini, liat jelas-jelas air mengalir gini. Sudah mama mau masak dulu. Nemenin si Marni."
Bu Sarah beralu pergi begitu saja. Ia menahan rasa ingin tertawa melihat suaminya setengah mati ketakutan.
Pak Hendra masih bingung dengan semua kejadian yang menimpa dirinya. Ia berucap pelan." Dosa apa yang aku lakukan, sehingga pulang ke rumah seperti di teror setan."
Setelah selesai mandi, Pak Hendra menuju meja makan. Rasanya terlihat segar, ingin segera menyantap hidangan di atas meja.
__ADS_1
Bu Sarah membuatkan menu sepesial. Sop iga.
"Gimana enak pa."
"Enak ma."
Bu Sarah terseyum. Menatap sang suami, ia bertanya pada Pak Hendra.
"Papa, tahu tidak. Wanita dalam poto ini?" tanya Bu Sarah menunjuk poto wanita bergaun pengantin.
Pak Hendra tiba-tiba tersedak kaget. Langsung meminum air putih di depannya.
"Kenapa papa, kaget gitu. Kenal enggak, mama nanya loe?"
Hati Pak Hendra sudah benar-benar tak karuan saat itu.
"Kenapa?"
Pertanyaan Bu Sarah membuat nyali lelaki tua itu menciut.
"Papa engga kenal ma," ucap Pak Hendra.
"Oh, kiraain papa tahu. Rasanya mama pengen cincang wanita ini dengan pisau yang di belikan oleh papa."
Deg .... Hati Pak Hendra benar-benar tak karuan saat itu.
"Kalau saja papa. Tahu mama, bakal bikin perhitunga. sama dia dan juga lakinya."
"Emang lakinya siapa?"
"Loh, papa emang enggak tahu laki-lakinya siapa. Apa papa pura-pura engga tahu, atau pura-pura bego."
"Maksud mama?"
"Iya, lakinya bukannya yang berhadapan sama mama saat ini?"
Menelan luda, rahasia Pak Hendra kini terbongkar sudah.
"Kenapa papa, diam?"
Benar-benar membuat Pak Hendra stres hari ini.
"Mama, dengerin pembicaraan papa dulu ya?"
Bu Sarah tertawa. Mengelus dada bidang sang suami.
"Papa, takut."
Mengelengkan kepala.
"Engga papa engga, takut papa engga salah ko."
Bu Sarah meraih pisau di hadapannya, mengedor-gedor meja makan.
"Yakin."
__ADS_1
"Yakin, ma."
Pak Hendra benar-benar ketakutan setengah mati dalam keadaan seperti ini. Rasanya ia ingin kabur di hadapan sang istri.