
Malam semakin larut, di rumah sakit Rudi masih menunggu sang pujaan hati. Dengan kedua mata yang masih tertutup begitu rapah, seakan tidak ada celah untuk terbuka sedikit pun.
Ace ruangan semakin dingin, membuat tubuh Rudi sedikit menggigil kedinginan. Tidak ada kehangatan pada tubuhnya, membuat lelaki berbadan kekar itu beranjak berdiri. Menyesuaikan suhu ruangan pada ace yang menempel di atas dinding.
Rudi kembali lagi duduk, melihat ke arah jendela luar. Angin tiba-tiba tertiup kencang. Membuat jendela rumah sakit terbuka lebar dan membuat angin dari luar masuk, melayang-layangkan gordeng rumah sakit.
Tidak biasanya angin bisa masuk begitu saja, membuat perasaan Rudi sedikit tak tenang. Lelaki berbadan kekar itu menutup jendela rumah sakit, menguncinya kembali. Rudi berpikir bahwa perawat rumah sakit mungkin lupa menutup jendela ruangan Ami di rawat.
"Ada-ada aja. Perawat di sini, masa sudah malam lupa menutup jendela setiap kamar."
Sekilas kedua mata Rudi menatap ke luar, ada benda putih melayang yang entah Rudi tidak tahu apa. Karna dia lelaki paling cuek tak percaya dengan hal-hal gaib.
Melangkah menuju ranjang rumah sakit, Rudi melihat Ami seakan sesak nafas. Dadanya naik turun, naik turun.
"Ami, ada apa?"
Rudi mulai menekan tombol, gawat darurat. Dimana dokter dan perawat berdatangan. Tapi sudah beberapa kali tombol merah itu ditekan, tidak ada tanda-tanda perawat dan dokter datang.
Hanya Rudi seorang diri di ruangan besar itu, tidak ada yang menemani. Rudi menelan semua kepanikan yang ada pada dirinya, mencoba tetap tenang. Agar situasi tidak semakin memburuk.
"Tenang, Rudi. Pikirkan sebuah cara."
Mengacak rambut dengan kedua tangan, Rudi menekan dada Ami, dengan kedua tangannya. Menekan terus menerus, tangan kekar Rudi hampir melemah. Melihat alat monitor hemodinamik, Gelombang deyut jantung itu terlihat hampir menampilkan garis panjang pada layar.
Plieas tuhan, jangan ambil nyawa istriku. Masih ada seorang anak yang membutuhkan kasih sayang ibunya. Rudi berdoa tanpa sadar dalam hati, membuat air mata ke luar begitu saja.
Bibir bergetar hebat dengan isak tangis, Rudi terus menekan-nekan dada Ami dengan sekuat tenaga yang ia punya.
"Ami sayang, bertahanlah demi Dodi, aku yakin kamu pasti kuat. Ami."
__ADS_1
Air mata menetes pelahan dari kedua mata Rizki pada wajah Ami yang sudah terlihat pucat."
Tidak ada perawat atau dokter, hanya ada dirinya sendiri. Rudi dengan keyakinan hatinya bahwa Ami bisa bertahan hidup. Dengan keinginan dan tekad kuat terus berusaha sebisa mungkin.
"Ami, bertahanlah."
Sampai akhinya gelombang pada layar monitor berubah bergelombang kembali, membuat tubuh Rudi kelelahan dan merosot ke bawah lantai. Keringat dingin keluar dari kening dan juga badan Rudi, membuat tubuhnya terasa lengket. Sudah seharian ini dia tidak mandi semenjak mendengar Ami masuk rumah sakit, seakan tidak ada jeda untuk Rudi beristirahat.
Kedua tangan kekar Rudi mulai meraih ranjang rumah sakit, ia berdiri dengan pelan. Memegang pipi putih istrinya dan berkata," terimakasih sudah bertahan."
Baru Rudi berdiri dengan memegang sisi ranjang tempat tidur Ami, beberapa perawat dan dokter datang berlarian.
"Maaf pak, kami terlambat."
Dokter yang datang mulai mengecek ke adaan Ami, tapi Rudi malah menyingkirkan alat pengecek detak jatung di tangan sang dokter dan berkata." Jadilah dokter yang sigap ketika pasien darurat. Bukan santai-santai."
Dokter wanita itu, menundukan pandangan dan menjawab," Maafkan atas kelalayan kami."
Sang Dokter pamit untuk pergi dari ruangan yang ditempati Ami saat itu. Sedangkan Rudi tak menjawab perkataan sang dokter yang meminta izin untuk pamit ke luar ruangan.
Ada rasa sakit yang mendera pada hati sang dokter yang menangani pasien Ami. Dokter yang bertugas di sana merasa menyesal karena terlambat menangani pasien yang tiba-tiba darurat di jam malam begini.
"Apa laki-laki tadi tidak keterlaluan sekali dokter, memarahi dokter bagitu terang-terangan di depan kami?" tanya sang suster yang berjalan beriringan dengan Dokter wanita itu.
Dokter cantik itu menghentikan langkah kakinya, ia membalikkan badan ke arah para perawat yang selalu bersamanya," jangan berkata seperti itu, semua memang kesalahan kita."
Para perawat menundukkan pandangan, saat sang dokter berkata seperti itu, mereka malah meminta maaf kepada dokter yang ada di hadapan mereka.
" Maafkan kami yang sudah lancang mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi dokter."
__ADS_1
" Sudah jangan dipikirkan, bagaimanapun manusia pasti selalu punya kesalahan jadi jangan selalu menganggap manusia itu dari penampilnya melainkan dari sifat baiknya."
Mereka mengecek pasien demi pasien di setiap ruangan, sehingga waktu tak terasa sudah menunjukkan jam empat pagi, di mana sang dokter sudah menjalankan semua pekejaannya.
matahari di luar sudah menampakan sinarnya di mana Rudi terbangun di sisi ranjang istrinya.
Ia mulai membuka jendela luar, udara mulai terasa menusuk pada kulit Rudi.
Rudi masih melihat pemandangan rumah sakit, dari atas lantai ruangan Ami.
Tanpa sadar Rudi tak menyadari kedatangan Dodi dan juga sang Ibu, mereka berdua datang begitu pagi sekali. Hanya ingin cepat bertemu dengan Ami yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Terlihat dari raut wajah Dodi, anak tampan itu tersenyum bahagia ia seakan tak sabar memberikan kue kesukaan ibunya sendiri. Dan berharap agar Ami sembuh.
Rudi menitipkan Ami kepada sang ibu agar menjaga istrinya, karena Rudi sudah berjanji pada Dodi untuk mengantarkannya membelikan hadiah dan juga membelikan kue kesukaan Ami.
Sebelum berangkat untuk membeli kue dan juga hadiah yang akan diberikan Dodi kepada ibunya. Saat itulah Rudi pamit dulu sebentar untuk membersihkan tubuh nya sendiri menuju pulang ke rumah.
Di dalam mobil Dodi terus menyanyi, membuat Rudi sedikit tertawa saat Dodi berjoget Ria menggoyang-goyangkan tubuh mungilnya
" Kamu ngapain Dodi? kenapa coba kamu menggoyang-goyangkan tubuhmu."
Dodi tertawa terbahak-bahak ia menjawab perkataan ayahnya masa Papa nggak tahu kalau Dodi ini lagi nyanyi sambil goyang tok tok, Papa emang nggak tahu aplikasi yang sedang viral itu namanya aplikasi tok tok
Rudi mengusap lembut raut wajahnya menggeleng-gelengkan kepala, menatap ke arah jalan untuk tetap fokus mengendarai mobilnya sendiri, lelaki berbadan kekar itu menahan tawa melihat tingkah anaknya yang begitu terlihat polos.
"Ngapai, coba kamu Dodi. Udah kamu nggak usah ikut-ikutan nonton atau bikin video di aplikasi Tok tok itu, papa nggak suka."
"Iya deh, nanti Dodi hapus."
__ADS_1
Tiba-tiba suara ponsel bergetar, satu panggilan masuk dari ponsel Rudi. Dengan sigap Rudi mengangkat panggilan telepon yang tidak ia lihat terlebih dahulu.