
Ane ke luar dari dalam gudang, dengan rambut yang terlihat berantakan. Sedangkan Deni segera mungkin mengancingkan celana.
“Ita kamu?”
Deni yang melihat sang suster yang baru ia tahu namanya, membuat ia sedikit kesal. Ita sudah menganggalkan aksinya.
“Maaf tadi saya dengar orang yang berteriak minta tolong, makannya itu saya dengan sigap datang ke sini.”
Ucapan Ita membuat Ane berterima kasih sekali padanya, kalau saja Ita datang terlambat entah apa yang akan terjadi dengan Ane.
Deni mulai menatap tajam pada Ita, ia berjalan melewati tubuh, Ita dengan wajah kesalnya. Tatapan matanya mengisyaratkan sebuah kebencian pada Ita.
“Awas saja kamu, akan aku beri perhitungan,” gumam hati Deni.
Ane mulai masuk ke dalam ruangan, dirinya harus mencari cara agar bisa mengeluarkan Deni dari rumah sakitnya. Karena terlihat ini semakin menjadi-jadi, dia tak segan-segan membuat Ane ketakutan.
@@@@@@
Waktu semakin cepat berlalu, di mana Deni sudah tak membuat kekacauan di rumah sakit atau pun memaksa Ane melakukan hal yang tak pantas.
Sebulan ini ada perubahan dari Deni, lelaki itu sedikit terlihat diam. Tak seperti biasanya.
“Syukurlah sekarang ada perubahan pada Deni.”
Ane sedikit bernapas lega, Namun.
Tiba-tiba salah satu suster datang membawa kabar sedikit mengejutkan pada Ane, kabar yang tak bisa di percaya oleh Ane.
“Dok, lelaki yang dokter tangani kemarin sekarang sudah siuman.”
“Bagus kalau begitu, aku ingin menemui dia sekarang.”
Ane dengan berjalan sedikit cepat, kini mulai masuk ke ruangan lelaki yang terluka parah.
Bertanya pada lelaki itu,” Bagaimana pak keadaan bapak yang sekarang, setelah menjalani operasi?”
“Terasa sedikit baik, dok.”
Ane ingin sekali menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan lelaki yang ia tangani, sehingga lelaki itu begitu banyak luka yang tak bisa Ane tebak.
Saat Ane mulai bertanya.
Lelaki itu malah menangis histeris, seakan membayangkan sesuatu yang membuat dirinya sulit bercerita.
“Bapak kenapa?” tanya Ane panik.
Lelaki itu menggenggam kepalanya sendiri, ia membayangkan kejadian yang menimpa dirinya.
Teriakan terdengar nyaring, membuat Ane dengan sigap menenangkan lelaki itu.
__ADS_1
“Bapak harus tenang dulu, bapak kenapa?”
Lelaki itu terus saja menampilkan wajah ketakutannya, ia menggeleng- gelengkan kepala seakan bayangan itu sungguh merusak kepalanya.
“Sus, pasien apa memang seperti ini. Akhir-akhir ini?” Tanya Ane. Memegang kedua tangan pasien itu.
“Entahlah dok, hanya saat ini saja!” balas sang suster membantu memegang kedua kaki pasien, agar tidak meronta-ronta ke mana-mana.
“Pesawat itu, sudah menghancurkan keluargaku.”
Baru saja ingin menyuntikkan obat penenang, pasien itu mengatakan tentang pesawat. Membuat Ane terdiam, dan bertanya.
“Pesawat maksud bapak?”
Suster terlihat kewalahan memegang kedua kaki pasien, sedangkan anak dengan santainya menanyakan ucapan yang terlontar dari mulut pasien.
“Pesawat itu jatuh, membuat tubuhku luka. Dan keluargaku hilang seketika.”
Ucapan Pasien itu begitu jelas, membuat Ane. mengurungkan niatnya untuk tidak menyuntikkan obat penenang pada pasien itu.
“Lepaskan saya.” Teriak lelaki itu.
Ane menyuruh sang suster untuk melepaskan kaki pasien, “Lepaskan kakinya sus.”
“Sudah lepaskan saja, ayo.”
“Baik.”
Lelaki itu kini terlihat tenang, tatapan matanya seakan kosong. Pikirannya memikirkan kejadian yang menimpa dirinya sebulan lalu.
“Bapak, bisa ceritakan apa yang menimpa bapak sampai bapak terluka parah seperti ini.”
Lelaki itu dengan perlahan menceritakan semua yang menimpa dirinya, membuat Ane membulatkan kedua matanya.
Ane tak percaya, bapak ini bisa selamat. Sedangkan yang lain entah berada di mana. Belum di temukan sama sekali.
Ane terus bertanya membuat kepala bapak itu terasa sakit, pada saat itulah ia mengurungkan niatnya lagi untuk bertanya. Karna kondisi sang bapak yang tak memungkin kan.
“Bapak istirahat dulu, nanti saya akan mendengar cerita bapak. Jika kepala bapak sudah sedikit membaik.”
Ane berjalan pelan, menuju ke arah luar ruangan. Ia mulai menatap pada ruangan Delia.
“Apa ada kesempatan Alan dan Dodi hidup dalam pesawat itu.”
__ADS_1
Kini Ane masuk ke dalam ruangannya, duduk menatap layar ponsel. Ia melihat info berita bahwa pesawat sudah di temukan.
Dan betapa sedihnya, dalam pesawat itu tidak ada nama Dodi dan juga Alan.
“Dodi dan Alan dinyatakan hilang dan belum di temukan.”
Ane melihat mayat-mayat korban dari pesawat itu, sudah terlihat membusuk. Membuat Ane sedikit bergidik ngeri.
“Alan, Dodi. Kenapa kalian bisa hilang.”
Ane terdiam terteguh, ia belum juga mengatakan pada Delia tentang keadaan Dodi dan Alan.
Satu berita kini datang dengan tiba-tiba, membuat hati Ane senang.
“Dodi dan Alan di temukan di sebuah desa terpencil, yang tak jauh dari hutan itu.”
Alan dan Dodi ternyata masih hidup, Ane mulai menitikkan air mata. Air mata kebahagiaan terpancar dari dirinya.
“Terima kasih tuhan, sudah menyelamatkan Dodi dan Alan.”
Pada saat itulah Ane mulai mengatakan apa yang terjadi pada Alan dan Dodi.
Namun, saat Ane bergegas masuk ke ruangan Delia, Deni sudah berada di dekat Delia, menunjukkan layar ponsel Deni pada Delia.
Delia yang melihat kedatangan Ane, langsung menatap tajam ke arah Ane. Sedangkan Deni tersenyum kecut tak berucap apa-apa saat Ane datang.
"Delia, Deni."
Delia mengepalkan kedua tangannya, ia seakan sudah bersiap-siap membuat Ane terluka.
saat itu Ane datang mendekati Delia, dan Deni sedikit menyingkirkan dirinya dari hadapan Ane.
Ane mulai berucap dengan pelan ke pada Delia," Delia."
Entah kenapa Delia tiba-tiba mencekik leher Ane, Deni yang melihat semua itu membiarkan Ane di cekik oleh Delia.
"Delia, lepaskan aku."
"Aku tidak akan melepaskan kamu wanita jahat, kamu sudah membuat Alan dan Dodi. Meninggal."
"Aku bisa jelaskan."
"Tidak ada yang perlu di jelaskan. Aku sudah melihat semuanya dari ponsel Deni."
Deni lelaki itu malah berdiri mematung, melihat Ane yang mulai kehabisan napas. Dirinya seakan tak peduli jika Ane kenapa-napa.
Ane berusaha keras melepaskan cekikan itu.
"Kamu pantas mati, kamu sudah menghan curkan keluargaku, aku tidak sudi melihat kamu di dunia ini."
Dengan tenanga yang Ane punya, pada saat itulah Ane berhasil mendorong tubuh Delia. Melepaskan tangan yang sudah mencekik lehernya.
"Asal kamu tahu Delia, Alan dan Dodi masih hidup." Teriak Ane.
Deni hanya tersenyum kecil, ia berlalu pergi meninggalkan perdebatan itu.
"Mau ke mana kamu Deni."
Langkah kaki Deni seketika mendadak berhenti, ia menatap ke arah Ane dan Delia.
"Aku tidak ingin menganggu perdebatan kalian. Maka silahkan lajutkan."
Ane heran dengan Deni, ia sudah membuat kekacauan. Mengatakan tentang berita Alan dan Dodi pada Delia. Sekarang malah dengan bangganya pergi begitu saja .
"Deni, aku belum selesai bicara sama kamu."
Teriakan Ane tak di jawab Denii sama sekali, ia pergi dengan wajah tak bersalahnya.
__ADS_1