
Dimana kejadian itu bermula.
ARSYLA
Dret ... Dret ....
Panggilan telepon berbunyi dari ponsel Arsyla, ia mulai mengambil benda pipih yang tergeletak di atas kasur. Ternyata yang menelpon pada ponsel Arsyla adalah Rafa. Awalnya Arsyla mematikan panggilan telepon dari Rafa, tapi Rafa malah mengirim pesan.
[ Lu, mau mati ya.]
Arsyla mengabaikan pesan dari Rafa. Ia kesal dengan Rafa yang selalu menerornya.
[ Lu, mau bayar engga utang lu. Atau gue sekarang samperin lu ke rumah.]
Sial, Rafa ngancam gue lagi. Gimana ini, ahk. Padahal gue belum dapatin apa yang gue mau, gumam hati Arsyla.
[ Lu. Mau datang enggak. Atau lu bakal tahu akibatnya.]
Ponsel yang di pegang oleh tangan Arsyla ia lempar begitu saja pada kasur tempat tidurnya.
Kesal bukan main, acaman itu datang terus menerus, ia menyesal telah meminjam uang senilai tiga puluh juta karna memenuhi kebutuhannya sendiri.
"Aku harus apa sekarang?"
Kebingungan kian merusak pikiran Arsyla saat ini.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang. Kalau aku enggak menemui Rafa bisa-bisa aku mati di tangan dia."
Dengan sigap wanita berbulu mata lentik itu, mengganti baju dan membawa uang seadanya.
Tanpa orang di rumah tahu kepergiannya, Arsyla segera berangkat pergi dengan keadaan tergesa-gesa membawa mobil Arpan saat itu.
Untung saja Arsyla menemukan kunci mobil Arpan. Jadi ia bisa meminjam sebentar, tanpa harus meminta ijin.
"Aku harus menemui Rafa saat ini, agar Rafa tidak datang ke sini dan membuat kekacaoan. Kalau Arpan dan Sisi tahu tentang hutangku, mungkin mereka akan marah besar."
"Arsyla, kamu mau ke mana?" tanya sang Ibu pada anaknya, Ibu Ira melihat kepanikan pada raut wajah Arsyla saat itu."
Wanita berbulu mata lentik itu, sempat bingung menjawab pertanyaan sang ibu.
"Oh, ini. Bu, ada acara mendadak!"
Bu Ira tak mencurigai anaknya saat ini, dia mengizinkan Arsyla untuk pergi menemui teman-temannya dengan syarat Arsyla harus cepat pulang tepat waktu.
"Tapi, bu."
"Tidak ada kata, tapi. Arsyla. Kamu harus nurut, karna kita tinggal di rumah Arpan, Arsyla."
__ADS_1
"Ya elah, ibu bawel banget sih."
Arsyla berlalu pergi mengabaikan ibunya saat itu, ia tak mendengarkan ucapan sang ibu. Bu Ira yang kesal dengan anaknya yang seperti itu. Langsung berbisik dalam hati. " Semoga kamu sadar, Arsyla."
Dengan rasa kesal pada dirinya Arsyla. Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
"Arpan, ternyata dia kaya juga."
Gerutu Arsyla di dalam mobil. Wanita berbulu mata lentik itu, langsung menghampiri Rafa yang tak lain sahabat yang selalu memijamkan uang padanya.
"Kenapa bisa, si Rafa itu membuat acaman murahan seperti itu. Gila apa, bikin gue stres."
Arsyla sampai di tempat tujuan, dimana Arsyla bertemu dengan Rafa.
"Wah, wah. Pacarku sudah datang," ucap Rafa. Tertawa menghampiri Arsyla. Ia begitu senang saat Arsyla datang menghampiri Rafa.
Arsyla melipatkan kedua tangannya. Seraya berkata," Sekarang kamu mau apa? Aku sudah bilang satu bulan lagi.
Rafa malah mencuil dagu Arsyla seraya menjawab!" satu bulan itu terlalu lama, aku ingin hari ini."
Arsyla kesal dengan jawaban Rafa saat itu.
"Bukankah baru bulan kemarin aku meminjam uang tiga puluh juta padamu?" tanya Arsyla dengan wajah kesalnya.
"Gimana kalau gini saja, hutangmu lunas, tapi kamu harus menjadi kekasihku," ucap Rafa. Lelaki berhidung mancung itu terseyum menyeringai, ia seakan memendam rancana liciknya.
"Jangan mendekat, aku tidak suka jika tubuhmu semakin mendekat kearahku," hardik Arsyla. Mengepal kedua tanganya. .
"Bidadariku benar-benar cantik," ucap Rafa. Tanganya meraih dagu Arsyla.
"Cukup Rafa. Aku mau pergi, jadi, jangan terus menerorku," hardik Arsyla. Rahangnya mengeras.
Tangan Arsyla mulai menghepaskan tangan Rafa saat itu, berbalik arah pergi dari hadapan Rafa.
namun lelaki berbadan kekar itu malah menarik lengan tangan Arsyla yang menjauh dari dirinya.
"Kamu mau kemana, Arsyla?" tanya Rafa memegang erat tangan wanita berbulu mata lentik berhidung mancung Itu.
"Aku mau pergi,maka cepat lepaskan tanganku sekarang!" jawab Arsyla mencoba untuk melepaskan pegangan tangannya dari Rafa.
Rafa malah menarik lengan tangan Arsyla hingga tubuh Arsyla berdekatan dengan tubuh Rafa saat itu.
gadis berbulu mata lentik berhidung mancung Itu mulai meronta-ronta berharap lepas dari genggaman tangan lelaki yang menjadi sahabatnya itu.
"Aku mohon lepaskan aku, Rafa."
"Aku akan lepaskan kamu Setelah aku menikmati semua keinginanku."
__ADS_1
"Apa maksud kamu, Rafa?"
" Kenapa kamu tidak mengerti sayang. Cobalah kita menikmati hari-hari ini bersama dan setelah aku menikmati semuanya kamu bebas beserta hutang hutangmu."
" Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan tapi tolong lepaskan aku. Aku tidak mau, jika kamu seperti ini padaku."
"Seperti ini bagaimana, sayang. Aku kan sudah baik-baik ingin berpacaran denganmu, tapi, kenapa kamu menolak. Ya, karena tolakan mu itu dengan terpaksa aku harus menikmati semua yang ada pada dirimu."
"Rafa, cepat lepaskan aku. Atau aku akan berteriak meminta tolong pada orang-orang di sini."
"Teriaklah, tidak akan ada orang yang mau mendengarkan teriakan kamu Arsyla, ini wilayahku sayang."
"Kamu mau jadi pacarku, atau aku yang akan memaksamu?"
"Aku tidak sudi berpacaran dengan lelaki macam kamu, yang berani membunuh orang lain yang belum tentu mereka salah."
"Hus."
Jari tangan Rafa mulai menyentuh bibir Arsyla saat itu, ia membisikan kata-kata lembut pada telinga Arsyla." Sudah cukup menjelekan, diriku. Arsyla."
Saat itu Rafa tak segan-segan menyeret Arsyla masuk ke dalam rumahnya, wanita berbulu mata lentik itu menangis memohon kepada Rafa untuk membebaskan dirinya
" Sudahlah tak usah munafik, kita nikmati semuanya hari ini."
" Rafa please, kumohon jangan lakukan ini."
" Kenapa kamu tidak mau melakukan semuanya denganku, apa kurang aku Arsyla."
Arsyla benar-benar ketakutan saat itu, Rafa mulai melemparkan tubuhnya ke ranjang kasur tempat tidur.
Baju yang menutupi semua tubuh Arsyla kini di robek paksa oleh Rafa dengan sadisnya.
Arsyla menagis berusaha melawan, tapi kekuatannya tak cukup untuk bisa menyelamatkan diri.
"Hentikan Rafa, kumohon."
Arsyla menagis dalam sentuhan Rafa yang begitu keji, lelaki berbadan kekar itu begitu menikmati apa yang ia nikmati saat ini.
"Kamu kurang ajar, Rafa."
Dengan memakai baju, Rafa terseyum seraya berkata," hutangmu lunas, sayang."
Saat Rafa keluar, Arsyla menarik rambut Rafa membuat Rafa meringis kesakitan.
"Lelaki tidak tahu diri, kurang ajar. Kamu tidak pantas hidup."
Dengan sigapnya Rafa membalikan tubuhnya kearah Arsyla. Dan menampar Arsyla beberapakali, mendorong tubuh wanita berbulu mata lentik itu.
__ADS_1
Arsyla, hanya bisa menangis di atas lantai, meratapi hidupnya yang sudah hancur karna Rafa.
Dengan berjalan pelan, Rafa berkata," aku akan tanggung jawab."