
Saat Ane mulai mengejar Deni, tiba-tiba saja Delia turun dari ranjang tempat tidur.
Delia seakan memuntahkan isi dalam perutnya tiba-tiba, Ane langsung menghampiri Delia. Membantu dirinya untuk berjalan ke kamar mandi.
“Ayo Delia, biar aku bantu.” Ucap Ane memegang bahu Delia.
Namun, tiba-tiba saja Delia menyingkirkan tangan Ane,” Tak usah, aku bisa sendiri.”
Ane hanya bisa pasrah dengan perlakuan Delia, padahal dirinya berniat baik. Gara-gara Deni yang memperlihatkan berita Alan dan Dodi, Delia semakin benci pada Ane.
Delia malah tersungkur jatuh, membuat Ane sangat menghawatirkan keadaannya.
“Delia.”
Wanita bermata sipit itu malah, berteriak pada Ane.
“Jangan mendekat.”
Dengan refleks Ane berjalan mundur, saat Delia menolak bantuannya. Tapi Delia begitu terlihat kesulitan berjalan, membuat Ane tak tega.
“Delia, kamu jangan egois sini aku bantu kamu ke kamar mandi.”
“Cukup, jangan sok baik di depanku.”
“Aku bukan sok baik, aku ini punya kewajiban sebagai dokter mengurus pasien.”
Delia malah tertawa, dengan berjalan tergontai-gontai.
“Dokter macam apa, yang menyembunyikan kebohongan begitu lama.”
Deg ....
Ane menundukkan kepala, ia menyadari kesalahannya sendiri.
“Dari dulu aku ingin membicarakan semua ini, tapi kamu tak pernah meresponsku. Kamu sering emosi saat aku ajak bicara.”
“karna kamu telah menghancurkan hidupku.”
“Aku tidak ada niat menghancurkan hidupmu, tapi aku berniat membantumu.”
“Cukup, Dokter Ane. Di mataku kamu tetap wanita jahat.”
Ane sudah tak mau lagi berdebat dengan Delia, ia berusaha pergi dari ruangan Delia. Menyuruh Suster untuk mengurus Delia.
“Sus, kamu tangani dulu pasien Delia. Kamu cek kenapa dia tiba-tiba muntah seperti itu.”
__ADS_1
“Baik, dok.”
Dreet ....
Ponsel Ane tiba-tiba bergetar, Ane mulai mengangkat ponsel yang berada pada saku celananya.
“Halo, siapa ini?”
“Halo, Ane. Akhirnya kamu mengangkat panggilan teleponku. Ane ini aku Alan.”
Suara Alan terdengar benar-benar membuat Ane senang, semua seakan mimpi. Baru kemarin Ane bersedih akan berita tentang Alan dan Dodi.
“Alan, bagaimana keadaan kamu.”
“Kami di sini baik-baik saja, aku ingin mendengar suara istriku.”
“Jangan dulu, ya. Keadaan Delia belum normal benar.”
Alan yang mendengar ucapan Ane, kini hanya bisa menurut.
“Baik lah kalau begitu.”
@@@@@
“Bagaimana om?” tanya Dodi. Yang sudah tak merasakan rasa nyaman tinggal di kampung itu.
Dodi sudah rindu berat dengan ibunya, ia ingin menelepon sang ibu. Namun bantuan belum datang sepenuhnya.
“Kalian harus tinggal dulu di sini, ibu sudah memberitahu sosial media tentang keadaan kalian di sini.”
Wanita tua yang menyelamatkan Alan dan yang lainnya tetap memperlakukan mereka dengan baik.
“Istirahat yang cukup, ya. Jangan dulu pulang, di luar masih rawan.”
Wanita tua itu langsung pergi begitu saja, saat ia berucap untuk tidak dulu pergi dari rumahnya.
Entah kenapa, membuat Alan dan yang lain heran. Mereka hanya bisa menurut dengan apa yang di ucapkan wanita tua itu.
padahal hati mereka sudah tak sabar ingin segera pulang menemui keluarga masing-masing, Alan masih heran dengan obrolan kemarin. saat wanita itu mengatakan bahwa Alan dengan yang lainnya terjebak sudah lama.
Rasa penasarannya tak ingin Ia pendam sendiri, pada saat itulah Alan mendekati wanita tua itu yang tengah duduk. Menonton layar tv.
"Maaf bu, mengganggu. Saya ingin bertanya dengan maksud perkataan ibu yang kemarin."
Wanita tua itu kini tiba-tiba saja batuk, membuat Alan sedikit kaget.
__ADS_1
Alan menyodorkan air minum di atas meja.
"Terima kasih, nak."
"Iya, bu."
"Sebenarnya ibu juga masih tak percaya jika dalam kecalakaaan pesawat kalian masih hidup."
"Berarti ini ke ajaiban dong bu, cuman kenapa ya. Kami merasa terjebak di hutan ini berasa tiga hati, tapi ibu bilang kita sudah mau sebulan."
"Menurut kepercayaan warga di sini, kalian itu seakan di sembunyikan oleh penunggu hutan."
Deg .....
Alan mulai bingung dengan ucapan Wanita tua yang berada di hadapnnya.
"Maksud ibu, di sembunyikan bagaimana ya."
"Mungkin kalian tidak akan mengerti dan percaya, tapi di kampung kami semua orang percaya dengan adanya kampung gaib di hutan."
"Kampung gaib?"
"Apa kamu pernah, melihat lelaki tua yang berselimut darah di wajahnya. Jika kamu bertemu dengan lelaki tua itu, dia akan menyembunyikan kalian dan juga membuat kalian masuk ke dalam kampungnya."
Alan mulai ingat dengan apa yang di katakan wanita tua yang di hadapannya, lelaki tua yang pernah ia tolong, dan saat ia tolong berubah jadi ranting.
"Apa nak Alan, pernah melihat ke janggalan di hutan itu?"
Tanya wanita tua itu.
"Sebenarnya kejanggalan itu sering terjadi, saat di dalam perjalanan. Kita melihat pasar tradisional jaman dulu."
Wanita tua itu membulatkan kedua matanya," kamu tenang saja. Kampung gaib itu tidak berbahaya. Hanya saja jika kalian terus terjebak di sana. Kalian tidak akan bisa ke luar sampai kapan pun."
Deg ....
Alan mengusap lembut dadanya. Pikirannya seakan tenang, hanya saja ia masih bertanya-tanya pada hatinya.
Wanita yang selalu menganggu Dodi di dalam hutan itu siapa?
Karna dalam perjalanan wanita itu selalu menguntil.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak Alan."
"Sebenarnya, saya masih bingung dengan apa yang saya lihat. Antara percaya dan tidak percaya. Hanya saja kenapa di setiap perjalanan kami menuju pulang, selalu ada sosok wanita yang mengikuti kami."
"Sosok wanita? Apa kalian mengenal sosok wanita itu."
"Wanita itu, pernah ada dalam pesawat."
Belum wanita tua itu menjawab pertanyaan Dodi, kini salah satu warga berteriak.
Membuat Alan dan wanita tua itu kaget.
"Ada apa?"
Warga yang berada di depan saling menggulung, seakan menemukan sesuatu.
Sedangkan Alan yang penasaran langsung menerobos masuk dalam kumpulan orang-orang.
Saat Alan lihat, ternyata seorang mayat.
Dodi langsung menutup ke dua matanya, sosok itu tak asing baginya.
Pada saat itulah Alan bertanya pada warga.
"Dari mana mayat wanita ini."
"Ini adalah korban dari pesawat, kami menemukan wanita ini hampir saja di.makan oleh harimau hutan."
Riri yang melihat wajah wanita itu, kini terdiam pilu. Wanita yang mengaku sebagai ibu Dodi.
"Ri, kamu kenapa?"
Tanya Alan dengan raut wajah heran melihat Riri terdiam, menatap tanpa berkedip pada mayat itu.
"Apa kalian mengenal wanita ini?" tanya warga yang menemukan keberadaan mayat wanita itu.
"Sepertinya wanita ini, menyelamatkan diri. Tapi hidupnya sungguh sial. Malah bertemu dengan hewan buas di hutan, jadinya dia mati dalam terkaman harimau."
__ADS_1