
Malam hari.
Ahkkk .....
Teriakan terdengar dari kamar Delia, yang di mana Alan berlari menghampiri kamar.
"Delia, ada apa?" tanya Alan.
Wajah Delia terlihat begitu ketakutan, keringat dingin bercucuran. Membuat Alan terus mengusap perlahan keringat itu, tiba - tiba Delia menangis histeris.
Alan dengan Sigap langsung memeluk sang istri," aku di sini Delia. Kamu tenang jangan menangis."
"Bayiku. Bayiku."
Hanya itu yang terus terucap dari mulut Delia, membuat Alan yang mendengarnya merasa tak tega.
"Kamu harus tenang."
"Bayiku di mana, Alan."
Alan mencium rambut kepala Delia, menenangkan semua keresahan yang dirasakan istrinya."Kamu tidur lagi ya. Masih malam."
"Aku mau bayiku." Teriak Delia dengan isak tangis yang membuat Alan tak tega.
Alan melepaskan pelukan istrinya, mengambilkan Delia minum dan obat penenang.
"Kamu minum ini dulu. Nanti aku akan berusaha membawa bayi kita kepadamu."
Kedua mata Delia berkaca-kaca, menatap ke arah sang suami.
"Ayo, biar hati kamu tenang."
Delia langsung mengambil air minum dan obat penenang yang di sodorkan Alan.
Ia perlahan meminum air putih bersamaan dengan obat penenang.
Beberapa menit kemudian, pikiran Delia terlihat sedikit tenang, membuat Alan mendekat, duduk di samping sang istri.
Delia menyenderkan kepalanya pada bahu kekar Alan, tangan kekar Alan memegang tangan lembut Delia dan berkata," kamu harus tenang. Delia, jika kamu seperti ini, bagaimana nanti kita mencari bayi kita."
Alan terus mengusap perlahan rambut sang istri, menenangkan segala keresahan yang terasa pada istrinya itu. Seketika reaksi obat membuat Delia tertidur.
@@@@@
Sedangkan di dalam rumah Ane. Putra terus bulak balik ke sana ke mari, ia menatap layar ponselnya, hatinya ingin sekali memberi tahu tentang bayi Delia yang berada di rumahnya.
"Apa aku bilang saja pada Alan?"
Ane yang sudah terlelap tidur, kini terbangun meraba ke samping kiri ranjang tempat tidur dengan kedua mata yang masih menutup. Kosong, Ane mulai membuka kedua matanya terbangun, Putra sudah tak ada di samping tempat tidurnya.
"Papah ke mana?"
Ane bangun dari tempat tidurnya, mencari keberadaan Putra sang suami.
Berjalan perlahan, Ane kini melihat sang suami yang berada di ruang tamu. Tengah bulak balik ke sana ke mari, dengan menatap layar ponsel.
"Sedang apa. Mas Putra di ruang tamu?"
Putra yang dari tadi bulak balik ke sana ke mari tak menyadari adanya Ane yang mengintip memperhatikan gerak geriknya.
Ia menatap layar ponsel, dan mulai menelepon Alan.
"Aku harus mengatakan semuanya, sebelum semua menjadi ribet."
Ane sedikit curiga dengan tingkah sang suami, " Mas Putra mau menelepon siapa?"
__ADS_1
Putra langsung menelepon Alan," Halo Alan."
Deg ....
Delia yang mendengar Putra menyebut nama Alan, membuat ia tercengang kaget. Dan menghampiri Sang suami.
"Halo, Alan. Aku ...."
Belum perkataan Putra terlontar semuanya, Ane sudah ada di depan muka. Membuat Putra syok." Mamah."
"Halo."
"Halo."
Putra langsung melepaskan ponselnya yang ia tempelkan pada telinga, Ane saat itu mulai mendekat ke arah Putra dan bertanya." Kamu malam begini, sedang menelepon siapa?"
"Mamah, mamah belum tidur!" jawab Putra mengalihkan pertanyaan Ane.
"Pah, jangan mengalihkan perkataan. Jawab dengan jujur, kamu pasti menelepon Alankan," ucap Ane. Sedikit bernada tinggi.
Ane mulai merebut ponsel Putra. Mematikan panggilan yang masih terhubung dengan Alan.
"Mah, kenapa mamah rebut ponsel Papah."
Ane diam, menahan amarah. Ia membawa ponsel Putra, dan kembali untuk tidur.
"Ane, Ane. Kembalikan ponselku."
Putra mengejar Ane, hingga masuk ke dalam kamar.
Saat itulah Ane mulai membalikkan badanya menatap kearah sang suami," mamah tak menyangka jika Papah akan menggagalkan rencana mamah."
Putra mengusap kasar rambut kepalanya dan berkata," bukan maksud papah seperti itu. Mamah."
"Papah, hanya tak mau jika nanti urusan bayi Delia mejadi berbelit."
Ane melipatkan kedua tangannya, menatap ke arah lantai.
"Mamah, ayolah sadar.*
" Papah, sudahlah. Mamah cape mendengar nasehat papah, sekarang mamah mau tidur."
Ane benar benar keras kepala, jika Putra menasehatinya.
Ane mulai menutup pintu kamarnya dengan begitu keras, membiarkan Putra masih berada di luar kamar.
saat itulah Putra mulai berjalan ke ruangan tamu, untuk tidur di sofa.
@@@@
Jam 2 malam.
"Kenapa Putra menelepon jam segini?"
Alan mulai menelepon kembali Putra, tapi panggilan telepon malah di rijek oleh Putra.
"Aneh, kenapa dia malah merijek panggilan teleponku."
Alan merasa heran dengan Putra yang tumben sekali menelepon dirinya jam malam.
Saat itulah Alan mulai tidur di samping sang istri. Menatap wajah sang istri," Delia aku pasti akan menemukan bayi kita."
Pagi menjelang, Alan sudah bersiap-siap mengemasi baju ke dalam koper, untuk segera pergi dari rumah yang ia tempati menuju ke rumah Ami dan juga Rudi.
Delia masih tertidur pulas, saat itulah Alan mulai membangunkan istrinya.
__ADS_1
"Sayang, bangun."
Saat itulah Delia mulai bangun dari tidurnya, " Alan. ada apa?"
"Ayo, kamu harus bergegas mandi. Kita kan mau pergi ke rumah Ami dan Rudi!" jawab Alan.
"Tapi aku tak mau, kenapa kamu tetap memaksa," ucap Delia.
"Sayang, ini jalan satu satunya agar kamu tak terlalu memikirkan bayi kita. Biar pikiran kamu tenang. Biar polisi yang menyelidiki semuanya," balas Alan.
Delia terdiam sejenak.
"Bagaimana, kamu di sana bisa bertemu dengan Dodi."
Delia menatap ke arah Alan," tapi aku mau bayiku."
"Iya, aku mengerti. Tapi kamu harus sabarnya, sekarang kita ke rumah Ami dulu."
Dengan bujuk rayu yang terus terlontar dari mulut Alan. pada saat itulah Delia mau menuruti perkataannya, walaupun dengan hati ragu.
Delia mulai bersiap siap bergegas mandi dan memakai pakaian.
Hingga setengah jam berlalu.
"Kamu sudah siap?"
Delia menganggukkan kepala dan berkata," ya."
Baru beberapa langkah melangkah ke arah pintu.
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan pintu, membuat Alan langsung membuka pintu itu.
Saat membuka pintu rumahnya.
"Kamu lagi, ada apa. Deni?" tanya Alan.
Deni tersenyum, saat Alan membuka pintu rumahnya.
"Aku hanya ingin menjenguk Delia, bagaimana dengan ke adaanya?" tanya Deni.
Kedua matanya menatap ke arah koper besar yang di bawa Alan.
"Kamu bukan siapa- siapa istriku. Untuk apa kamu menanyakan kabar istriku!" jawab Alan bernada cetus.
"Emh, sepertinya kalian mau pergi dari rumah ini?" tanya Deni.
"Bukan urusanmu!" jawab Alan.
Deni tersenyum kecut, kesal dengan jawaban Alan yang begitu ketus.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini," usir Alan.
"Emh, padahal aku ke sini hanya ingin memberi tahu kamu," ucap Deni.
"Memberi tahu apa?" tanya Alan.
Deni malah pergi dengan kursi rodanya, ia tak menjawab pertanyaan Alan.
"Deni tunggu."
Deni kini menghentikan kursi rodanya.
"Apa maksud dari perkataan kamu?" tanya Alan.
__ADS_1