Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 268 Ane yang menyuruh Delia berbohong


__ADS_3

“Kenapa dengan istriku, Ane?” tanya Alan.


Ane mulai memegang bahu Alan dan berkata,” Istrimu baik-baik saja. Hanya pendarahan kecil, karna Kurangnya istirahat.”


Alan mulai bernafas lega, ternyata Delia tidak kenapa-napa. “ Syukurlah kalau begitu.”


Iya mengusap kasar wajahnya, seraya berkata lagi,” Apa boleh aku melihat istriku.”


“Silakan.”


Pada saat itu Alan mulai masuk ke ruangan Delia, di mana Delia tengah duduk. Kedua matanya menatap kearah jendela, entah apa yang tengah dipikirkan Delia.


Membuat Alan mendekat dan bertanya,” apa yang tengah kamu pikirkan, Delia?”


Tangan kanan Delia tak henti mengusap perutnya yang semakin membuncit, ia menatap ke arah Alan suaminya.


“Alan, apa kamu mencintaiku?” tanya Delia.


Alan tersenyum manis seraya menjawab,” tentu saja aku sangat mencintaimu!”


Kini pelukan hangat terasa oleh Delia, walau sebenarnya hatinya ragu akan ucapan Alan. Ingin sekali berkata jujur, tapi mulut tak kuasa.


Delia mengingat perkataan Dokter Ane, di mana sang dokter berkata.


“Delia, apa kamu ingin bersama Alan?” tanya Ane dalam bayangan Delia.


“Tentu, memangnya kenapa!?” Delia menjawab dengan sebuah pertanyaan pada Ane.


“Jika kamu menutupi kehamilanmu pada Alan, aku yakin Alan akan tetap percaya dan tak akan meninggalkanmu,” ucap Dokter Ane. Delia mengerutkan kedua alisnya Seraya berkata,” jadi aku harus berbohong tentang kehamilanku ini.”


Delia terus Memegang perutnya yang semakin membesar, ia berbisik dalam hati,” Mana mungkin aku tega membohongi Alan, bagaimana pun aku harus berkata jujur bahwa anak dalam kandungan ini bukanlah anak Alan. Melainkan anak bajingan itu.”


“ Delia tolong dengarkan dulu perkataanku,” balas Ane.


Delia membentak Ane,” Mana mungkin aku berbohong kepada suamiku sendiri, itu tidak mungkin Ane. Dan anak dalam kandunganku jika nanti lahir, dia harus tahu bapak kandungnya sendiri.”


“Delia, kumohon kamu mengerti. Jika kamu mengakui semuanya yang ada Alan akan meninggalkanmu dan akan memusuhiku,” balas Ane. Dengan meyakini Delia untuk berkata bohong.


Delia menghempaskan tangan Ane yang memegang kedua bahunya, membuat Delia menatap tajam ke arah Ane.


“Ane, jika Alan meninggalkanku itu adalah kesalahanmu, yang mempercayai bajingan itu mengobatiku,” pekik Delia.


Ane kini duduk dengan kepala menunduk,” ya aku salah. Harusnya aku tidak terlalu mempercayai Deni untuk mengobatimu,” ucap Ane dengan wajah penyesalannya.


“Jika aku tidak jujur, apakah Alan tidak akan curiga?” tanya Delia.


“Kamu jangan kuatir, aku akan membantumu!” jawab Ane.


“Tapi jika, Alan mengetahui kebohonganku, kamu harus bertanggung jawab,” acam Delia.


“Pastinya aku akan bertanggung jawab Delia,” balas Ane.


Dalam pelukan Alan terus saja bercerita, sedangkan Delia masih membayangkan ucapan Ane.


“Delia.”


Kini pelukan itu terlepas saat Alan terus menatap ke arah Delia yang tengah melamun.

__ADS_1


“Kamu kenapa?”


Delia tak menjawab, tatapannya kosong.


“Delia.”


Saat itulah lamunan Delia seketika membuyar, Delia menatap ke arah wajah Alan.


“Ya, kenapa?”


Alan tersenyum dan mengangkat kedua alisnya Seraya bertanya balik kepada istrinya,” dari tadi kamu melamun terus Delia, Sebenarnya apa yang tengah kamu pikirkan?”


“Iya, tidak ada!”


“Ya sudah kamu istirahat dulu.”


“Iya.”


Kini Alan mulai menyelimuti tubuh sang istri, mencium keningnya dan menyuruhnya untuk segera tidur.


Saat Alan mulai duduk di atas kursi.


Panggilan telepon pun datang.


Dreet ....


ia menatap ke arah layar ponsel, ternyata yang meneleponnya itu adalah Rudi.


"Halo, rud."


"Om, apa kabar. Sudah sampaikah?" tanya Dodi dalam kekuatiran.


" Om kira siapa ternyata kamu Dodi, Alhamdulillah sekarang Om sudah sampai di rumah sakit. Om Tengah menunggu tantemu!" jawab Alan sekilas menatap ke arah Delia yang sudah tertidur pulas.


"Bagaimana ke adaan tante, om?" tanya Dodi.


. ingin sekali Alan menceritakan semua yang terjadi pada Delia, bahwa dia belum sembuh total.


Namun, itu tak mungkin. Alan takut membuat jika Dodi kuatit dan bersedih.


"Keadaan Tante Delia sekarang baik-baik saja!"


"Syukur kalau begitu, Dodi ikut senang mendengarnya."


saat itulah Dodi mulai memberikan ponsel kepada sang ayah, setelah ia mengetahui kabar Delia baik-baik saja.


"Halo, Rudi. Bagaimana tentang kabar Dina dan juga Riri. apa mereka sudah ditemukan kembali?" tanya Alan yang sangat kuatir tentang keadaan Dina dan Riri.


" aku sudah melaporkan semuanya ke polisi, jadi kamu jangan kuatir." balas Rudi.


"Aku berharap Dina dan Riri kembali ketemu," ucap Alan.


"Iya, kamu jangan kuatir. Kamu fokus saja mengurus istrimu di sana," balas Rudi.


kini panggilan ponsel dimatikan sebelah pihak, Alan mulai kembali mengusap pelan rambut istrinya.


Namun saat Alan mengusap tangan Delia.

__ADS_1


tiba-tiba saja keringat dingin bercucuran dari kening sang istri, Delia mengigau. kepalanya ke sana ke mari. Ia berucap dengan nada kesal dan ketakutan.


" Dasar bajing*n pergi kamu. Seharunya kamu mati."


Deg ....


Alan semakin tak mengerti dengan ucapan Delia, di mana Delia bermimpi dan mengigau. Memarahi seseorang.


"Kamu penyebab semuanya." Hardik Delia dengan kedua mata yang masih menutup.


Alan dengan Sigap membangunkan Delia pada saat itu.


"Sayang bangun."


Delian langsung bangun dan duduk, ia memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Kamu kenapa?" tanya Alan.


"Alan."


Delia menangis memeluk sang suami.


"Kamu kenapa? Kamu bermimpi apa?" tanya Alan.


Delia bermimpi kejadian di mana dirinya di perkosa oleh Deni.


"Coba kamu ceritakan, kamu bermimpi apa?" tanya Alan.


mana mungkin Delia menceritakan semuanya, Jika ia menceritakan semuanya ya takut perkataan Ane menjadi kenyataan. Dimana Alan akan meninggalkannya.


"Aku hanya bermimpi ada orang jahat yang menyakitiku, aku takut Alan." Delia hanya bisa berbohong.


"Kamu jangan kuatir, di sini ada aku yang akan menjagamu." Alan terus menenangkan sang istri.


@@@@@


Ane ternyata tidak pergi begitu saja, ia berdiam diri menatap ke arah jendela ruangan Delia, melihat Delia yang menangis dalam pelukan Alan.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Afdal.


Kini Ane mulai membalikan badan ke arah Afdal.


"Aku hanya ....,"


belum jawaban Ane terlontar semuanya, Afdal langsung menarik tangan Ane membawanya ke dalam ruangan kosong.


" Kenapa kamu menarik tanganku Afdal?" tanya Ane. kedua matanya terlihat sayu.


"Kenapa kamu malah menyuruh Delia berbohong, bahwa anak dalam kandungannya itu adalah anak Alan. Harusnya kamu berkata jujur!" jawab Afdal.


Ane melipatkan kedua tangannya seraya berkata," ini ke ini untuk kebaikan mereka bersama."


"Apa kamu yakin?" tanya Afdal.


"Aku sangat yakin sekali, jadi kamu jangan ikut campur tentang urusan ini." cetus Ane.


" Sebenarnya aku tidak mau ikut campur tentang masalah ini, hanya saja Aku sarankan kepada kamu. Biarkan Delia berkata jujur, karna aku melihat Alan akan menerima semuanya," balas Afdal.

__ADS_1


__ADS_2