
“Ahkkk ....”
Ita menjerit sekeras mungkin, Iya begitu kaget dengan orang yang tiba-tiba sudah berada di depan. Membuat Ita menutup wajah dan terus saja menjerit.
“Ita sadar, kamu kenapa?” tanya suster Claudia yang baru saja ke luar dari ruangan Pak Deni. Kini yang bertugas menjaga ruangan Pak Deni adalah Suster Claudia.
“Suster Claudia!” jawab Ita mengusap pelan dadanya.
Suster Claudia langsung memegang bahu Ita dan bertanya,” Kamu kenapa?”
“E ..e ... aku enggak kenapa-napa sus!” Jawab Ita.
“Jangan bohong, wajahmu terlihat pucat sekali,” ucap Suster Claudia. Tangannya mulai memegang jidat yang tak terasa panas.
“Aku tidak kenapa-napa,” balas Ita.
Suster Claudia sedikit penasaran dengan tangan Ita yang bergetar hebat.
“Ita, apa benar kamu tidak kenapa-kenapa?” tanya suster Claudia.
“Tidak Sus. Saya permisi mau pergi ke dapur ya!” jawab Ita. Ia melewati suster Claudia begitu saja, membuat suster Claudia heran.
Ah, mungkin perasaanku saja. Gumam hati Suster Claudia.
Setelah sampai di dapur, Ita melihat para koki yang tengah memasak. Dengan begitu santainya, membuat hatinya sedikit tenang kembali.
“Suster Ita, tumben ke sini?”
“Mau ambil makanan untuk pasien saya!”
“Baiklah saya akan siapkan. Tunggu sebentar ya, sus.”
Kini beberapa hidangan makanan sudah berada di nampan, tinggal suster Ita memberikan pada Delia.
Melihat Delia tengah duduk bersantai, membuat Ita dengan sigap memberikan makan siang untuk Delia.
“Segera makan Delia.”
“Wah, terima kasih suster Ita.”
Delia memakan makanan itu dengan lahap, sedangkan suster Ita duduk. Dengan wajah yang memikirkan sesuatu.
@@@@@
Sedangkan di dalam ruangan Ane.
“Alan, ayo duduk,” ucap Ane mempersilahkan Alan untuk duduk.
“Terima kasih sebelumnya,” balas Alan ia mulai duduk di kursi yang tak jauh dari meja Ane.
__ADS_1
“Aku tak menyangka akhirnya kamu kembali dalam keadaan selamat,” ucap Ane.
Alan tak mau banyak basa basi lagi, ia langsung bertanya pada Ane,” aku ingin bertemu istriku. Di mana ruangannya?”
Ane menelan ludah, air liurnya seakan kering. Membuat ia bingung harus menjawab apa?
“Ane, aku bertanya padamu. Kenapa kamu diam?” tanya Alan terus menerus.
“Delia ada hanya saja, dia sedang beristirahat!” jawab Ane membuat Alasan.
“Ane, memangnya selama di sini istriku belum sembuh juga. Kenapa kamu selalu memberi jawaban seperti itu?” tanya Alan.
Deg ....
Hati Ane seakan tak karuan, dia bingung dan juga tak tahu harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Bagaimana ini, apa yang harus aku katakan pada Alan.” Gumam hati Ane.
Bruk ....
Alan kesal, pada saat itulah ia memukul meja Ane, membuat lamunan Ane seketika membuyar.
“Ane, aku ingin menemui istriku. Jadi di mana ruangannya sekarang.”
“Aku mau jelaskan sesuatu.”
Alan yang kesal, karna mendengar Ane beralasan terus menerus membuat Alan pergi dari ruangan Ane. Mencari keberadaan sang istri saat itu juga.
Lelaki mana yang tak emosi, jika seorang dokter terus menekan untuk tidak bertemu sang istri terus menerus. Begitu pun dengan Alan, lelah yang ia rasakan. Berjuang antara hidup dan mati di dalam hutan, dirinya juga ingin kembali merasakan kebahagiaan seperti halnya Dodi bertemu dengan ayah ibunya.
Air mata mengalir, ia terus menelusuri setiap ruangan. Dimana Ane bergegas menyuruh para satpam menahan Alan.
“Satpam tolong, tangkap lelaki itu.”
“Baik, dok.”
Para satpam berlari mengejar Alan, hingga di mana Alan tertangkap. Delia yang menyadari teriakan itu, kini ke luar dari ruangannya.
Sesaat ia melihat suara itu, Alan tengah di pegang paksa oleh kedua satpam. Membuat Delia terdiam memegang perutnya yang sudah membuncit,” Alan, suamiku telah kembali?”
Delia berdiri mematung, kedua matanya berkaca-kaca. Antara ingin menghampiri atau hanya melihatnya saja dari kejauhan.
Delia malu pada dirinya sendiri, saat itu Ane menghampiri Alan dan berkata,” lepaskan dia.”
Para satpam melepaskan Alan, membuat Alan memarahi Ane.” Ane cepat katakan ada apa sebenarnya yang terjadi.”
“Kamu tenang dulu, aku akan jelaskan semuanya. Kita bicarakan dulu di ruanganku,” ucap Ane. Mengalihkan pandangan Alan agar tidak melihat Delia.
Alan mulai menenangkan diri, ia kini menuruti perkataan Ane.
__ADS_1
Sampai di mana.
“Alan.”
Kedua tangan Delia di pegang erat oleh suster agar tak bertemu dulu dengan sang suami.
“Lepaskan aku.”
“Alan.” Teriak Delia.
Air mata itu sudah membasahi pipi, hingga di mana Delia mendorong tubuh para suster dan berlari.
Membuat Alan seakan menyadari teriakan Delia yang memanggil, namanya. Kini Alan mulai membalikkan wajah ke arah belakang.
Dan benar saja Delia berlari ke arahnya, membuat Alan begitu rindu akan sang istri tercinta.
“Istriku, akhirnya kita bertemu.”
Tangis yang tiada henti di rasakan Alan dan Delia, membuat Alan menatap sang istri dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Namun, ada yang mengejutkan hati. Kenapa perut Delia terlihat buncit? Alan bertanya-tanya pada hatinya. Ia menatap kearah Ane yang memalingkan wajah, seakan ada sesuatu yang terjadi.
Delia tak henti menangis, ia langsung memeluk pujaan hati dengan begitu erat.
“Kamu ke mana saja, Alan?” tanya Delia. Menangis terisak-isak.
Alan mengusap pelan rambut Delia yang sudah panjang, mencium kepala Delia penuh dengan rasa cinta.
“kenapa kamu meninggalkanku di neraka ini, apa kamu tidak menyayangiku lagi,” gerutu Delia masih dalam pelukan.
“Kamu ngomong apa Delia, buktinya aku sudah kembali menemuimu lagi!” jawab Alan. Berusaha menenangkan isak tangis sang istri.
Ane terdiam, ia menggigit jari kukku nya, bingung jika Alan sudah bertemu dengan Delia dalam keadaan fisik Delia yang tengah hamil. Apa yang harus Ane jelaskan nanti jika Alan bertanya?
Alan mulai melepaskan pelukan sang istri, melihat ke arah Ane dan berkata,” aku akan menemuimu setelah mengantarkan istriku untuk beristirahat.”
Deg ....
Tatapan Alan begitu menyeramkan, membuat Delia sedikit ketakutan. Ia hanya tersenyum kecil dan berkata,” baiklah.”
Tiba-tiba saja salah satu Suster berlarian menghampiri Dokter Ane yang masih berdiri bersama Alan dan Delia.
Dengan keadaan sedikit senang, suster itu mengatakan bahwa Deni selamat dari masa kritisnya.
Delia yang mendengar semua itu kesal, kedua tangannya memegang erat. Ia tak ingin melihat orang yang sudah membuat dirinya menderita hidup begitu saja.
“Maaf dok, pasien Pak Deni sudah sadar dari masa kritisnya,” ucap Suster Claudia yang menjaga pasien Pak Deni.
Ane sedikit merasa tak tenang, hatinya seakan tak karuan. Saat Alan datang saat itu pula Deni siuman dari masa komanya, membuat kepala Ane sedikit pusing.
__ADS_1
“Dok, ayo,” ucap Suster Claudia, membuat lamunan Dokter Ane membuyar.
“Iya, sus. Ayo,” balas Dokter Ane. Pada saat itulah mereka berlari menuju ruangan Deni.