
"Dodi, kamu menangis Nak?" tanya Alan. Terus mengusap pelan air mata Dodi yang terus berjatuhan mengenai pipinya sendiri.
"Maaf, om. Dodi ingin melihat Tante Delia bangun!" jawab Dodi.
Jangankan Dodi, Alan juga ingin melihat Delia bangun dari tidurnya. Ia ingin mengobrol dan bercerita apa yang sudah terjadi akhir-akhir ini.
"Kamu tak perlu minta maaf, kamu tak salah. Nanti jika sudah waktunya, kamu akan bertemu lagi dengan Tante Delia saat keadaannya membaik," ucap Alan. Mencoba menenangkan hati Dodi.
Alan berharap Dodi mengerti dengan situasi Delia saat ini.
"Ya sudah ayo kita pulang," ajak Alan. Meraih tangan Dodi untuk segera pulang, karna hari mulai menjelang malam.
Tak terasa Dodi dan Alan begitu lama berada di rumah sakit, sampai mereka lupa jika hari sudah mulai menjelang malam.
"Ayo, om. Kita pulang, Dodi ingin cepat tidur," balas Dodi. Sesekali mulutnya menguap menandakan bahwa dirinya kelelahan dan mengantuk.
"Ya sudah, ayo kita pulang. Nanti Dodi di mobil tidur saja, kalau memang Dodi lelah."
"Baik, om."
Baru beberapa langkah berjalan Dodi mendengar suara Delia memanggil-manggil namanya.
Namun Ane dengan sigap berpura-pura, menarik tangan Dodi untuk segera keluar. Dengan berbohong jika Alan harus segera mengisi informasi dan data diri Delia.
Ini adalah jalan satu-satunya, agar Delia bisa tenang. Ia tak memikirkan tentang Dodi lagi.
Ane berharap kepergian Dodi membawa kesembuhan untuk Delia.
Berbeda dengan Alan yang berjalan pelan, ia tahu jika istrinya memanggil-manggil nama Dodi dan juga dirinya.
Namun ia harus berpura-pura tidak mendengar teriakan itu, karena jika Alan menghampiri teriakan Delia kemungkinan besar Delia akan mengamuk lagi seperti kemarin.
suami Mana yang tega membiarkan istrinya memanggil-manggil dirinya ,sedangkan dia tak mempedulikan panggilan itu.
Sakit yang dirasakan Alan, sungguh benar-benar luar biasa, membiarkan sang istri memanggil-manggil namanya.
Sedangkan Ia terus berjalan pelan mengikuti arah dimana dirinya harus tega membiarkan Delia sendiri.
Gumaman hati Alan, menyalahkan dirinya sendiri," maafkan aku Delia ini semua demi kebaikanmu. Aku terpaksa begini karena aku ingin melihat keluarga kecil kita kembali lagi, seperti sediakala. Aku tidak ingin melihatmu menderita seperti sekarang, hanya gara-gara depresi berat kehilangan seorang anak."
Kini Alan dan Dodi mulai menaiki mobil. Sedangkan Ane hanya melambaikan tangan, Seraya berkata," Kamu jangan kuatir aku akan menjaga istrimu Alan."
Alan hanya menganggukan kepala," Terima kasih Ane aku percaya padamu."
Mobil melaju, hingga tak terlihat lagi oleh Ane.
Di dalam perjalanan menuju pulang, terdengar isak tangis Dodi oleh Alan. Membuat Alan melirik ke arah samping dan berkata pada Dodi.
"kamu masih menangis Dodi?"
Dodi menganggukkan kepala, ia menjawab dengan nada isak tangis yang masih terdengar oleh Alan.
"Sebenarnya tadi Dodi mendengar Tante Delia memanggil-manggil nama Dodi dan juga om, hanya saja Dokter Ane menarik tangan Dodi, membuat Dodi dengan terpaksa mengikuti perkataan Dokter Ane."
Deg ....
Ternyata Dodi merasakan hal yang sama seperti Alan. Dimana Alan juga terpaksa mengikuti perkataan Dokter Ane, karna ini demi kebaikan Delia.
"Sebenarnya Dodi tadi juga ingin sekali menemui Tante Delia, yang terus Memanggil nama Dodi.
Namun hati Dodi tak tega, jika Dodi berpamitan dengan Tante Delia dalam keadaan sadar. Dodi jadi takut tante Delia malah tertekan saat kehilangan Dodi, lebih baik Tante Delia tidak tahu keberangkatan Dodi."
Alan mengusap kepala Dodi, menitihkan air mata." Seraya berkata," Terima kasih Dodi kamu telah mengerti keadaan Tante Delia sekarang."
Senyum dan tangis menyatu, dalam hati Alan. Melihat perubahan Dodi yang berubah derastis dengan cepat.
"Ya, Om Dodi juga minta maaf kalau, Dodi sudah melakukan kesalah, Dodi akan berusaha menjadi anak yang lebih baik dan mengerti kondisi Tante Delia dan juga Om."
"Terima kasih Dodi, om percaya padamu."
Perjalana ditempuh Dodi dan Alan cukup lumayan jauh, mereka menatap kearah jendela luar dengan harapan semua penderitaan akan usai.
"Gimana kalau kita makan dulu, kamu pasti lapar Dodi?" tanya sang om.
__ADS_1
"Iya om, boleh juga. Bagaimana jika kita makan sate kesukaan Tante Delia!" jawab Dodi dengan semangatnya.
Alan tak menyangka jika Dodi sebegitu tahu makanan kesukaan istrinya.
"Kamu tahu makanan kesukaan Tante Delia?" tanya Alan tersenyum senang.
"Aku tahu semuanya om, dari hobi dan kebiasaan Tante Delia. Karna setiap malam sebelum tidur kita sering bercerita!" jawab Dodi.
Alan semakin merasa kehilangan Dodi, jika hari besok Dodi sudah tidak ada di sisinya.
"Oh, ya. Setiap malam Tante Delia selalu bilang pada Dodi, jangan pernah bersedih. Karna rasa sedih itu akan membuat kamu tertekan dan tak bersemangat."
Alan tak menyangka jika ke dekatan Dodi dengan Delia sampai sebegitunya.
"Ya sudah kita sudah nyampe di tempat, dimana tempat ini kesukaan Tante Delia."
"Ayo om."
Dengan semangatnya Dodi turun, untuk segera makan di tempat Delia suka.
Alan menatap wajah Dodi dengan kesedihan yang sangat teramat dalam, membuat luka pada hatinya bertambah.
"Jika Dodi pergi, aku akan sendiri di rumah selama Delia berada di rumah sakit. Tidak ada orang yang akan membutku tersenyum seperti sekarang, membuat aku merasa tak sendiri. Dodi maafkan Om, mungkin ini terakhir kali kita bertemu. Karna setelah Delia sembuh aku akan pergi jauh." gumam hati Alan.
Alan bertekad tidak akan menemui Dodi dan juga kedua orang tuannya, begitu pun semua keluarga, Alan akan fokus mengurus sang istri hingga sembuh. Alan tidak mau ikut campur masalah Ami lagi.
Setelah mereka selesai menikmati makan malam, mereka pun bergegas untuk pulang dan beristirahat.
Tak terasa perjalanan pun sudah sampai di depan rumah Dodi dan Alan segera merebahkan tubuh mereka di atas kasur.
Dodi dan Alan berencana untuk tidur di kamar Sebelah, dimana kamar itu adalah tempat Delia berkerja.
"Om, terima kasih udah izini Dodi tidur di tempat ini," ucap Dodi.
"Iya, sama'sama. " balas Alan.
Mereka terlelap tidur, melupakan setiap masalah hari ini.
@@@@@
Rudi memegang erat tangan Ami yang masih tertidur dalam keadaan kritis, ia mencium beberapa kali tangan sang istri." Jika Dodi tidak datang ke sini. Mungkin aku tidak akan memaafkan diriku sendiri Ami. Semua salahku."
Rudi terus berucap, ia tak menyadari jika Ami meneteskan air mata.
Entah kenapa bisa Ami dalam keadaan keritis bisa menangis. Apa Ami sudah sadar, hanya raganya yang tak bisa bergerak.
"Ami, tolong bertahanlah demi aku yang selalu menunggu kamu di sini. Aku masih ingin membahagiakan kamu dan menebus kesalahanku saat ini."
Tidak ada respon sama sekali, Ami tetap saja tidak bergerak.
"Ami, setelah kamu sadar nanti. Aku pasti akan membawa Dodi kepangkuanmu, aku akan berusaha membujuk anak kita, agar anak kita bersama kita kembali seperti dulu."
Rudi mulai melepaskan tangannya sendiri, ia mengusap kasar air mata yang terus keluar dari kedua matanya.
"Ami, aku tak pernah sesakit ini. Air mataku keluar terus menerus. Ayolah sadar sayangku."
Rudi tak tahu, harus bagaimana lagi, karna jika Ami terus begini apa dia bisa bangkit dalam keterpurukan.
Di tengah ke sedihan Rudi.
Pak Gunandi dan Bu Sumyati kini datang Menengok Rudi dan juga Ami, mereka menatap kearah jendela luar. Seraya berkata," apa aku salah menikah di saat Ami tertidur seperti itu?"
Ucapan itu terdengar oleh Pak Gunandi, membuat lelaki tua itu menenangkan sang istri dengan jawaban." kamu tidak salah, ini sudah menjadi takdir. jangan kaikan pernikahan kita dengan Ami yang masih sakit. Nanti jika Ami sembuh kita beritahu pernikahan kita."
Bu Sumyati mulai mengerti apa yang di katakan sang suami, ia berusaha mengubur semua keluhan yang ada pada hatinya.
"Ya sudah ayo cepat kita masuk, jangan sampai Rudi terus terpuruk dalam kesendirian. Kita beri dukungan semangat untuk anak kita."
Perkataan Pak Gunandi membuat senyuman terukir kembali dari wajah Bu Sumyati.
Lelaki paruh baya itu memegang tangan sang istri untuk segera masuk ke dalam ruangan Ami di rawat.
Membuka pintu perlahan, menghampiri sang anak yang tengah duduk membungkuk kan kepala.
__ADS_1
" Rudi."
Panggilan sang ibu, membuat Rudi dengan tergesa-gesa mengusap air matanya yang basah mengenai pipi.
" Ibu kalian kesini?" tanya Rudi dengan penampilan kedua mata yang sembab.
"Ibu rindu dengan kalian berdua, jadi ibu ingin sekali melihat keadaan Ami dan juga kamu Rudi," ucap Bu sumyati. Mendekat pada anaknya.
Rudi hanya terdiam, ia malu dengan penampiln wajahnya yang acak-acakan tak karuan.
"sudah tiga hari ini. kamu belum pulang pulang ke rumah. kamu terus menjaga Ami," ucap Bu Sumyati dengan rasa kuatir.
"Biarkan saja Bu, ini sudah menjadi kewajiban ku. Ibu tenang saja ya." balas Rudi, berusaha untuk membuat sang ibu tidak terlalu kuatir.
" Ibu takut kamu jatuh sakit, jadi biar besok yang menjaga Ami di sini ibu saja," ucap Bu Sumyati.
Rudi tersenyum seraya membalas kebaikan sang ibunda." Tak usah Bu, biarkan Rudi yang mengurus Ami di sini sampai Ami sadar dan bertemu Dodi. Dan ibu tak perlu kuatir. Aku sudah meminta semua pegawaiku yang mengurus kantor,"
"Apa itu tidak akan merepotkan kamu nanti, berlama-lama di rumah sakit, kantor juga butuh kamu Rudi?" tanya Bu Sumyati.
"Ibu jangan mencemaskan aku lagi, jika kantor butuh Rudi, nanti asisten Rudi akan datang ke rumah sakit membawa berkas-berkas penting yang memang berkas itu sangat butuh tanda tangan Rudi. Sekarang Rudi ingin fokus mengurus Ami."
Bu Suamyati tak bisa membantah, jika keinginan Rudi seperti itu dia tidak bisa apa-apa. Karna watak Rudi yang keras kepala dan tak mau di nasehati.
"Tapi jika kamu lelah, beritahu ibu ya, nak. Ibu pasti akan menjaga istrimu di rumah sakit ini," tawaran sang ibu pada Rudi.
"Baiklah Bu, oh ya gimana pernikahan kalian? lancar?"
Pak Gunandi dan juga Bu Sumyati saling menatap satu sama lain, rasa sedih menghantui pikiran mereka," maafkan kami, kami menikah secara sederhana tanpa kehadiran kalian berdua."
" Ibu ngomong apa sih, yang terpenting sekarang ibu bahagia dengan Pak Gunandi. urusan Ami biar Rudi yang urus. Setelah Ami sadar dan ingatannya kembali. Ami pasti akan menerima kalian berdua dan Ami pasti akan senang mendengar bahwa kalian sudah menikah."
Ucapan Rudi mampu membuat kedua insan itu tenang, dan tak merasa bersalah.
"Terima kasih Rudi, kamu sudah mengerti kami," ucap Pak Gunandi.
" Rudi, Ibu berharap seperti itu, sangat berharap sekali, Ibu berharap istrimu ingatannya kembali lagi. Ibu ingin kita bersama kembali seperti dulu."
Bu Sumiati menggenggam erat tangan Rudi menyemangati sang anak untuk tetap kuat.
Menjalani kehidupan yang ia rasakan.
"Ibu bangga padamu. Kamu masih berada di sisi Ami, kamu masih setia sampai saat ini. Ibu sangat senang melihat kamu yang terus berjuang mempertahankan istrimu."
Tak terasa Air mata Bu Sumyati menetes begitu saja. Membuat Rudi, berdiri memeluk sang ibu.
" Bu aku sangat mencintai Ami, walau nyawaku jadi taruhannya. Aku siap. Bagaimana pun yang terjadi."
Bu sumyati mengusap pelan punggung kekar sang anak, ia tahu beban yang di tanggung Rudi begitulah sangat berat.
"Ibu percaya padamu, kamu tidak akan pernah berhianat pada istrimu," ucap Bu Sumyati pada Rudi.
Karna kesetian Sang suami paling utama di saat istri mengalami kesusahan.
Bu Sumyati sampai lupa menanyakan, bagaimana keadaan sang cucu yang dibawa pergi oleh Delia dan Alan.
Hati Bu sumyati rindu berat pada Dodi, cucu satu-satunya.
Setelah kepegian Dodi, Bu Sumyati tak pernah mendengar kabar sang cucu. Tak ada telepon yang bisa dihubungi oleh Bu Sumyati.
Karna beberapa kali menelpon Alan dan Delia mereka tak pernah aktip.
Bu Sumyati tak tahu harus meminta nomor Alan dan Delia pada Siapa. karna Rudipun jika rindu dengan Dodi tak pernah tahu keadaan anaknya sendiri.
"Bagaimana dengan Dodi Apakah anak itu akan kembali menemui ibunya, yang terbaring kritis saat ini?" tanya sang ibu dalam pelukan anaknya.
Kini Rudi langsung melepaskan pelukan sang ibu, saat pertanyaan tentang Dodi terlontar dari mulut Bu Sumyati.
Bu Sumyati ketakutan jika Dodi tak datang menemui Ami, bagaimana tidak Ami sudah kehilangan anak dalam kandungannya sekarang harus kehilangan Dodi anak satu-satunya. Rasa kuatir sang ibu sangatlah berlebihan.
"Rudi, ibu berharap, Dodi datang ke sini, menemui ibunya sendiri. karna ibu sedikit curiga pada Alan dan Delia. Semenjak membawa pergi Dodi, tidak pernah ada kabar dari Delia dan Alan tentang Dodi. Ibu takut mereka malah ingin memiliki Dodi."
Ucap Bu Sumyati, Rudi masih saja diam tak berkata satu patah kata pun. Membuat Pak Gunandi dan Bu Sumyati heran.
__ADS_1
"Rudi, apa ada yang kamu sembunyikan dari, ibu. Ayo katakan pada ibu. kenapa dengan Dodi yang tak kunjung datang dan memberi kabar pada kita?" tanya Bu Sumyati dengan nada lembut berharap sang anak jujur.