Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 189 Nyayian di hutan.


__ADS_3

Nyanyian yang diiringi dengan suara suara wanita, khas wanita jaman dulu. Membuat tidur Alan semakin terlelap, ia tak menyadari akan Riri yang bangun tiba-tiba.


Riri bangun dengan kedua mata yang melotot, ia terbangun dan berjalan mendekati suara nyayian itu.


Dodi bangun ia menyadari kepergianmu Riri, membuat Dodi mengikuti langkah Riri.


Awal Dodi mengikuti langkah Riri, Dodi sudah berusaha membangunkan orang-orang yang tertidur lelap di sana.


namun naas orang-orang di sana begitu susah untuk dibangunkan, Entah kenapa dengan mereka.


"Tante Riri. Mau kemana?"


Dodi terus memanggil-manggil nama Riri, namun Riri tak juga mendengarkan teriakan Dodi.


Dodi menggaruk-garuk lakang kepalanya merasa aneh dengan tingkah Riri yang tiba-tiba saja mengabaikan teriakan Dodi.


Kenapa dengan Tante Riri, gumam hati Dodi.


Riri mulai berjalan ke arah semak belingkar yang menutup, membuat pondasi lingkaran yang terlihat jelas oleh Dodi.


terdengar suara ramai orang berada di sana, saling menyanyi mengobrol, membuat Dodi begitu penasaran ingin melihat. Ada apa di balik semak yang melingkar itu.


Dodi mengusap kedua matanya tak percaya dengan penampakan yang ia lihat, iya tersenyum seakan menemukan kebahagiaan.


Ramai sekali orang yang berada di sana, banyak orang-orang yang berdagang dengan tampilan seperti zaman dulu. Mereka ramai saling mengobrol, berbelanja. Sampai ada yang berjoged, Dodi masih tak percaya dengan semua ini. Dia terus mengusap beberapa kali kedua matanya dengan punggung tangan.


"Ini nyata, kah?"


Beberapa kali mengusap kedua matanya, orang-orang itu tetap ada begitu ramai. Membuat hawa sesak pada tubuh Dodi.


"Tante Riri kemana?"


Dodi teringat dengan Riri, ia menelusuri pasar yang terlihat jelas oleh kedua matanya. Wajah orang-orang di sana begitu terlihat pucat, senyuman pada bibir mereka seakan hilang sirna. Badan mereka begitu kaku. Membuat suasana pada bulu kuduk Dodi seketika merinding.


Nyayian khas jawa Zaman dulu tak hilang dari pendengaran Dodi, membuat ia tak bisa mengontrol diri membuat ia hilang kendali ingin terus berada di sana.


Wangi makanan menusuk hidung Dodi, membuat perut anak itu berbunyi seketika.

__ADS_1


Berbagai menu makanan berada di sana.


Namun, makanan itu berbeda dengan makanan yang biasa Dodi makan. "Kenapa makanan itu berbeda sekali."


Makanan yang benar-benar tak bisa Dodi tebak membuat ia kebingungan. karna berjalan sembari melirik ke sana ke mari Dodi tak sadar jika di depannya ada batu besar, yang tanpa sengaja ia tendang membuat rasa sakit terasa pada kakinya.


Dodi terjatuh dengan menyebut istigfar beberapa kali.


Saat itulah keadaan berubah. Di mana pasar yang tadinya ramai dengan orang-orang berubah menjadi menyeramkan, hawa dingin menusuk pada tubuh Dodi, membuat ia sedikit merinding ketakutan.


Makanan yang tadinya tercium wangi, tiba-tiba berubah menjadi bau ayir dan bangkai.


Dodi berusa menutup hidung agar wangi itu tak tercium oleh hidungnya, saat ia mulai terbangun. Banyak belatung berserakan di bawah tanah. Membuat anak itu bergidik ngeri.


Saat Dodi berdiri, sosok lelaki berlumuran darah tiba-tiba berada di depannya. Membuat Dodi bergetar ketakutan, ia menahan jeritanya takut jika mengganggu penghuni di sana.


.


untuk berjalan pun rasanya Dodi Tak Sanggup, karena kedua kaki begitu bergetar hebat menahan rasa takut akan sosok-sosok yang berjalan dengan wajah yang begitu menyeramkan.


Dodi menahan rasa takutnya, memberanikan diri untuk terus berjalan melewati orang-orang dengan wajah yang tak bisa do dikatakan, wajah mereka begitu buruk rupa tak ada yang sempurna. banyak bekas tusukan pisau dan juga luka yang digerumuti belatung.


saat Dodi meneruskan perjalanannya mencari keberadaan Riri, salah satu tangan dengan kuku panjang memegang bahu Dodi. Dodi mulai menatap kearah belakang melihat sosok yang sudah membuat dirinya berhenti berjalan.


menelan ludah, sosok itu sungguh tak karuan. sosok seorang nenek-nenek tua yang menawarkan bungkusan daun pisang yang berisi belatung ulat dan darah.


Dodi berusaha untuk tetap tenang, membayangkan bahwa sosok nenek tua itu. tak menyeramkan.


" Mau ke mana kamu, ini nenek bawakan makanan." saat ucapan nenek itu terlontar dari mulutnya, Darah segar mengucur tak henti-henti. membuat bau tak sedap menusuk pada hidung Dodi, rasanya Dodi ingin sekali muntah namun ia berusaha tahan.


Takut jika nenek tua itu menyadari jika Dodi melihat penampilannya yang sangat menyeramkan.


"Dodi, sudah kenyang nek. Terima kasih atas tawarannya."


Nenek itu tertawa dengan nada yang sangat menyeramkan, bertanya pada Dodi dengan nada yang menakutkan. nada yang sah kan berat diucapkan oleh sang nenek." Kenapa kamu ada di sini? daerah ini tidak cocok untuk kamu, kamu harus segera pergi dari sini. atau kamu akan menjadi bagian dari kami disini."


Tawa nenek itu begitu menusuk pada kedua telinga Dodi membuat Dodi tak sanggup lagi menahan rasa takutnya.

__ADS_1


"Aku akan pergi dari sini nek, tapi ...."


"Tapi kenpa cucuku sayang."


"Tanteku ada di sini."


"Kamu mencari tantemu, ayo ikut denganku."


Langkah sang nenek kini berada di depan, Dodi yang percaya begitu saja langsung mengikuti langkah kaki nenek tua itu.


Dodi merasa heran suara langkah kaki nenek itu terdengar, namun penampakan kakinya tak terlihat jelas, entah karena hutan itu begitu gelap membuat penglihatan Dodi begitu sama.


orang-orang di sana saling menatap Dodi membuat ketegangan pada hati Dodi, menyeramkan memang, tapi harus bagaimana lagi. Demi menyelamatkan Riri.


Seketika nenek itu berhenti berjalan, membuat Dodi sedikit terkejut.


Sang nenek langsung menunjuk di mana Riri berada.


Dodi langsung tak percaya, nenek menyeramkan itu dapat di percaya. Riri ternyata tengah menari di kelilingi, mahluk-mahluk yang begitu menyeramkan.


Dodi melihat kedua mata Riri melotot, seakan Riri tak sadarkan diri dari apa yang tengah ia lakukan.


"Cepat bawa pergi tantemu sekarang, sebelum subuh menjelang. Jika tidak ia akan berada di sini selamaya."


setelah mendengar perkataan nenek tua itu jadi langsung menghampiri Riri, tapi sosok sang nenek tiba-tiba menghilang begitu saja.


Berlari menghampiri Riri, Dodi berusaha menarik tangan Riri dengan sekuat tenaga menyadarkan Riri dari apa yang tengah ia lakukan.


"Tante Riri, ayo sadar. Ayo cepat kita pulang."


Riri yang mendengar ucapan Dodi berulang-ulang, membuat ia menatap dengan Tatapan yang sangat menyeramkan. kedua matanya melotot kearah Dodi, membuat Dodi mengerti bahwa sang tante Tengah dirasuki sosok wanita. Yang ingin membuat mereka mati dari dunia.


Kedua tangan Riri mulai mencekik leher Dodi, membuat anak itu susah untuk bernafas.


"Tante, Istigfar."


Apa yang akan terjadi dengan Riri dan Dodi?

__ADS_1


__ADS_2