
Ami sudah bersiap-siap untuk menengok Sisi yang masih berada di rumah sakit.
Namun, saat ia sudah sampai ke rumah sakit. Di ruangan yang biasa Sisi tempati sudah rapih tanpa seseorang pun.
Rasa penasaran Ami semakin besar,"apa Luky membawa Sisi?"
Wanita berwajah tirus itu langsung mengambil ponsel yang berada di tasnya. Ami langsung mencari no Hp-Rudi, menelpon bahwa Sisi sudah tidak ada di rumah sakit.
Sudah beberapa kali Ami menelpon suaminya itu, tapi tak kunjung di angkat.
Ami menanyakan ke para stap penjaga rumah sakit. Ada seorang pria bertubuh gendut datang dan mengambil Sisi dari rumah sakit ini.
"Ini pasti ulah Luky, dia yang membawa Sisi keluar dari rumah sakit ini."
Ami bergegas pergi menemui Luky ke rumahnya. Menelpon Delia dan juga Alan, mana mungkin Ami datang sendiri yang ada dia bakal mati sia-sia di tangan Luky.
Sesaat menelpon Alan dan Delia, mereka sepakat untuk bertemu di suatu tempat. Dimana tempat itu menuju arah rumah Luky.
Sesaat bertemu di sana, Ami dan Delia bergegas pergi ke rumah Luky.
Tok ... tok ... tok.
Ami mengetuk beberapa kali pintu itu, tapi tak kunjung datang seseorang.
Dari sana ia mulai pasrah dan pergi meninggalkan kediaman Luky.
Namun, beberap detik melangkah menjauhi rumah Luky. Seseorang membuka pintu.
"Siapa ya?" tanya seorang wanita yang membuka pintu rumah itu.
Benar saja Ami langsung tertohok kaget, dengan sosok seorang wanita yang tak lain adalah Sisi.
Delia dan Ami menghampiri rumah itu dan terseyum ramah pada Sisi, pastinya Sisi tidak akan ingat dengan Delia dan juga Ami.
"Maaf mba, yang punya rumahnya ada?" tanya Delia.
"Luky! Dia sudah pergi bekerja dari tadi pagi!" jawab ramah wanita berwajah bulat itu.
Ami yang mendengarnya bertanya-tanya dalam hati, "berangkat kerja. Apa Luky bekerja lagi di perusahaan."
"Kalian siapanya Luky?" tanya wanita berwajah bulat itu.
Melihat Sisi yang berbicara sopan seperti itu, mengingatkan pada Sisi yang dulu.
"Kami temannya!" jawab Delia.
"Oh. Silahkan masuk," ucap Sisi mempersilahkan Delia dan Ami masuk.
Baru saja langkah kaki masuk ke dalam rumah, Ami dan Delia di kagetkan dengan berjejernya pistol.
__ADS_1
Tangan Ami bergetar hebat, dirinya terus bertanya-tanya. Delia yang menyelidiki semuanya berpura-pura pergi ke toilet.
Sisi langsung memperbolehkan Delia saat itu juga.
Ami terus mengirim pesan pada Rudi, tapi tak kunjung dibalas.
Dari sana Ami seakan merasakan keraguan ketika berada di rumah Luky.
Hatinya cemas dan gandruh. Sisi langsung pergi ke dapur dan bergegas membuatkan air minum.
Saat Delia masuk ke kamar mandi, Delia melihat tumpukan sampah itu ada darah bercecer. Delia mengambil darah itu sedikit dan mencium baunya yang seakan sudah lama.
Delia langsung mengorak-arik sampah itu. Hingga ia menemukan satu benda tajam seperti pisau.
Semakin Delia mungorak-arik sampah itu, semakin terlihat benda itu.
Dia mengambil benda itu dengan sapu tangan karetnya.
Mengambil perlahan dan memasuki ke dalam keresek putih.
Dari sana dia seakan menemukan sobekan kain baju, yang tak lain adalah baju Faisal. Karna warnanya begitu sama saat Faisal berada di tempat dimana ia dibuang di jalanan.
Sisi yang sudah di beri tahu oleh Luky ia langsung mengunci kamar mandi.
Membuat Delia terkunci di kamar mandi itu, Delia yang baru saja menyadarinya ia mengedor-gedor pintu itu.
Ami yang dari tadi duduk menunggu kedatangan Delia tak kunjung datang."Kemana Delia?" ucap pelan Ami.
Tapi sayang jendelanya terlalu kecil, memberitahu Ami, agar tidak terjebak dengan minuman yang di berikan Sisi.
Saat itu Ami membaca pesan dari Delia.
[Jangan minum apa-apa Am, tetap tenang. Aku di sini sudah terkena jebakan Luky, Sisi mengurungku di kamar mandi]
Mendengar isi pesan itu Ami menutup mulutnya, melihat Sisi membawa minuman untuk Ami.
"Ayo di minum?" tawaran Sisi pada Ami.
Ami hanya terseyum saat Sisi menawarkan satu gelas berisi teh itu.
Ami tetap bersikap tenang dengan apa yang di hadapinya saat ini.
"Sepertinya kita pernah bertemu?"tanya wanita berwajah bulat itu terseyum kecil pada Ami.
"Ya, waktu di rumah sakit!" jawab Ami menengok kiri kanan.
"Kenapa?" tanya Sisi.
Ami hanya menggeleng-geleng kepala, menampilkan raut wajah yang tenang.
__ADS_1
"Di minum."
"Oh, enggak terimakasih."
Saat itu Delia langsung menghubungi Alan, dia menelpon Alan yang menunggu dari luar.
"Al, bantu aku. Sekarang aku terjebak di kamar mandi," ucap Delia.
"Baik."
Saat Alan masuk, tiba-tiba kunci pintu depan sudah terkunci rapat. Alan mengedor-gedor pintu depan itu. Sekuat tenanga.
Tapi tak kunjung terbuka, hingga ke dua kalinya.
"Jangan bergerak atau ku bunuh wanita ini," ucap Sisi merangkul Ami menyodorkan satu pisau keleher Ami.
Dengan sigap Alan menepis pisau itu, hingga terbanting ke sisi kiri.
Mengambil Ami dan memukul Sisi, hingga wanita berwajah bulat itu pingsan.
Alan langsung menyelamatkan Delia saat itu juga.
Sesaat Rudi yang tengah mengobrol dengan Luky. Saat itu juga Rudi melirik ponsel, banyak panggilan tak terjawab dari istrinya.
Hingga Rudi melihat satu pesan yang bertuliskan, [hati-hati dengan Luky, jangan terlalu percaya dengan Lelaki itu]
Pesan dari istriku, apa yang terjadi dengan Ami saat ini. kenapa istriku berkata seperti ini, gumam hati Rudi.
"Kenapa brow, ko kaya keget gitu lihat ponsel?" tanya Luky.
"Oh enggak apa-apa ko! Hanya pesan iseng saja datang. Bikin jantung gue sok!" jawab Rudi tanganya begitu erat menggengam ponsel..
"Oh."
Luky yang tengah menonton cctv di hp-nya melihat Alan sedang berkelahi dengan beberapa orang suruhan Luky.
"Detektif murahan itu terlalu ceroboh mengambil bukti hingga suaminya harus melawan beberapa orang suruhanku,"ucap Luky dalam hati.
Ia nampak puas dengan apa yang menimpa Ami saat ini, terkurung dalam rumah Luky.
Di sisi lain Alan nampak ke walahan melawan lima orang suruhan Luky saat itu. Wajahnya memar dan badannya lemas. Delia yang melihat itu menangis.
Mereka terlalu ceroboh hingga lupa menelpon polisi untuk berjaga-jaga.
Sisi yang pingsan langsung terbangun.
Terseyum menatap Ami yang di pegang erat oleh kedua lelaki berbadan kekar itu.
Menghampiri Ami memegang pipinya seraya berkata. Dasar pelakor kamu Ami.
__ADS_1
Ami tertohok kaget dengan ucapan yang di lontarkan Sisi saat itu, hatinya bergumam. Apa maksud dari pelakor. Apa Luky telah mencuci otak Sisi.
Apa yang akan terjadi dengan Ami?