Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 99


__ADS_3

flashback Bu Ira


Dulu Sewaktu aku masih SMA, aku mengenal seorang lelaki bernama Ardan ialah ayah dari Arpan, lelaki yang baik hati yang selalu berkawan dengan siapa saja yang berdekatan dengannya. Ketampanannya tidak jauh berbeda dengan anaknya, Arfan memiliki sifat seperti ayahnya yang baik hati lembut dan selalu menjaga sikapnya terhadap wanita. Lelaki Baik Hati pujaan semua wanita di kelas.


Aku dan Ardan begitu dekat kami selalu bercanda bermain bersama, saat ada masalah Ardan selalu ada dan membuat aku tenang.


Aku mulai menyukai Ardan saat itu. Dengan berani aku menyuruh Ardan untuk bertemu denganku di pinggir Taman sekolah, ternyata kenyataan itu datang begitu saja. Ardan menemuiku dengan mengandeng wanita yang tak lain wanita itu adalah yang menjadi ibu Arfan, Naira.


" Ira Ada apa Kamu memanggilku ke sini?" tanya Ardan, membuat hatiku seketika rapuh. Bagaimana aku bisa mengungkapkan cintaku kepada Ardan, sedangkan dia sedang mengandeng seorang wanita yang menjadi saudaraku yaitu Naira.


" Loh kok diem, kenapa? oh ya Kebetulan sekali aku kesini datang bersama Naira ingin memberitahu bahwa kami sudah resmi berpacaran!" jawab Ardan. Aku hanya tersenyum tipis melihat kedekatan mereka apalagi dan mengungkapkan bahwa Naira adalah kekasihnya.


rasanya dunia ini seketika hancur, remuk, redam. Sayap yang sudah bersiap untuk terbang kini telah patah sebelah.


" Oh Selamat ya. aku nggak nyangka kamu bisa berpacaran dengan saudaraku," ucapku gugup. rasanya aku ingin menangis melihat mereka yang tengah bergandengan tangan, kalau bisa aku ingin menggantikan Naira. Menjadi Aku yang ada diposisinya. Aku ingin sekali bersama Ardan lelaki yang selalu membuat bibir ini tersenyum bahagia dan selalu membuat hati ini nyaman.


" Oh ya, ngomong-ngomong kamu mau bertemu Ardan mau ngapain emang?" tanya Naira. membuat lamunanku seketika membuyar.


" Aku hanya ingin Ardan membantuku dalam mengerjakan soal, yang menurutku agak susah!" jawabku berbohong.


Aku melihat mereka saling berbisik, entah apa yang mereka katakan, membuat hatiku merasa tidak enak. Mereka berdua bercanda di depanku, Jujur saja itu membuat hatiku terasa tertusuk oleh beberapa jarum tajam.


"Nanti aku datang ke rumah kamu Ira. Untuk membantu menyelesaikan soal yang menurut kamu susah. Soalnya sekarang kami berdua mau pergi dulu untuk makan bersama. Apa kamu mau ikut bersama kami Ira?'' ajak Ardan kepadaku. Kalau saja tidak ada Naira Aku ingin sekali makan bersama Ardan seperti biasa saat tidak ada hadirnya Naira.


" Loh Kok kamu diam lagi, mau ikut kita nggak?" tanya Ardan kepadaku.


" Oh iya, maaf. Sepertinya kalian berdua saja makan aku sudah kenyang kok, tadi udah makan," ucapku berbohong.

__ADS_1


"Beneran nih nggak mau ikut, biar seru nih," ajak Naira kepadaku. Dia adalah wanita yang begitu baik.


" Beneran aku enggak ikut. Kalian saja berdua!" jawab ku menolak ajakan mereka.


" Ya sudah kami berdua pergi dulu ya."


Aku hanya mengangguk kepala, mengiyakan kepergian mereka.


Naira dan Ardan terlihat semakin menjauh dari hadapanku. Kedua mata ini hanya melihat punggung kekar lelaki yang aku cintai kini bergandengan tangan dengan saudaraku sendiri. seketika air mata ini perlahan jatuh mengenai pipi, mencoba menahan Tapi tetap saja ini begitu terasa sakit.


air mataku semakin mengalir deras membuat buku yang aku pegang terkena air mata yang jatuh tak tertahakan hingga basah. Ya ampun Kenapa kedua mataku harus mengeluarkan air mata. Jadi buku yang harus aku isi, malah basah terkena air mata yang terus keluar dari pelipis mata ini. Hati ini harus kuat, aku tak boleh cengeng Ardan memang bukan milikku. harusnya aku bahagia melihat dia bersama wanita yang dia cintai.


Tepukan tangan datang dari arah belakang menghampiriku, dengan sigap telapak tangan ini segera mengusap air mata yang terus keluar. Melihat ke arah belakang ternyata dia adalah Roby lelaki yang tidak menyukai Ardan, entah kenapa dia selalu membenci Ardan, padahal Ardan itu adalah orang baik.


" Roby, sedang apa kamu di sini?" tanya aku menatap raut wajahnya yang tersenyum.


mendengar jawaban Roby, membuat aku sedikit kesal, mulut ini tidak suka berdebat dengan lelaki semacam dia. saat itulah aku putuskan melangkah untuk segera pergi menjauhi dia.


" Mau ke mana kamu cantik." Roby menarik tanganku membuat tubuhku berhadapan dengan dia.


" Aku mau pergi, apa urusan kamu!" Roby menatapku begitu tajam, dia mencabik bibirnya seakan kesal dengan ucapanku. Mengeluarkan napas kasarnya Robby memegang daguku Seraya berkata," Jangan sombong sayang. Kita kan teman!"


Aku melepaskan tangan Roby yang memegang daguku seraya menjawab." Aku mau pergi ke mana itu bukan urusan kamu, sekarang lepaskan tanganku Robyy."


"Aku akan lepaskan tanganmu setelah kamu menerima cintaku. Bagaimana?"


perkataan Roby membuat aku sedikit muak. Mana mungkin aku berpacaran dengan lelaki seperti Robyy yang terkenal di sekolah adalah preman bengis.

__ADS_1


" Aku tidak Sudi mempunyai pacar seperti kamu, jadi cepat lepaskan aku, Kalau tidak aku akan berteriak meminta tolong kepada teman-temanku di sekolah ini."


" Teriak saja, ayo teriak. Orang-orang tidak akan menolong kamu, apalagi Ardan yang sudah mempunyai pacar. Pastinya dia tidak akan peduli padamu lagi Ira."


Roby membuat hatiku tak berkutik lagi, iya tahu apa yang tengah aku rasakan saat ini. Aku terdiam Mulutku seakan keluh, aku menatap Roby saat itu membuat Roby menatap balik wajahku.


"Tolong lepaskan aku Roby aku mohon," ucapku dengan linangan air mata yang tak tertahankan. Rasanya aku ingin menangis meratapi nasibku saat ini, meratapi hatiku yang terluka ini.


" Sudah, lupakan Ardan. Aku akan membahagiakan kamu Ira," ucap Roby seketika wajahku menunduk seakan menolak perkataannya.


" Mana mungkin aku bisa bersamamu Roby. Sedangkan aku tidak mencintaimu!" jawabanku yang mungkin membuat hati Roby seketika sakit.


" Urusan cinta bisa belakangan, setelah kamu terbiasa dengan ku. Kamu pasti bisa mencintaiku Ira," ucap Roby meyakinkanku, ia tersenyum padaku memegang kedua tanganku.


" Apa kamu yakin dengan perkataanmu itu, kalau ternyata aku tidak mencintaimu bagaimana?" Tanyaku yang membuat Roby tersenyum.


" Aku akan berusaha agar kamu mencintaiku Ira!"


Sebenarnya aku tidak yakin dengan perkataan Roby, yang terkenal sebagai lelaki yang tidak tahu diri dan selalu memarahi semua orang yang ada di sekolah.


" Bagaimana?"


Roby terus saja bertanya apakah aku mau menjadi pacarnya. Sedangkan aku belum terbiasa bersama Robi lelaki yang baru aku kenal, rasanya aku sedikit takut dengan dia.


" Biarkan aku berpikir dulu, besok aku akan memberi jawaban kepada kamu Roby."


Lelaki berbadan tinggi itu, begitu senang dengan perkataanku. Iya tersenyum Seraya meninggalkanku begitu saja, wajahnya terlihat sekali begitu bahagia.

__ADS_1


__ADS_2