
Di tengah ketegangan Dina dan juga Riri, kini Alan mulai menyusuri semua ruangan yang membuat dirinya sangatlah penasaran. Iya menelusuri semua ruangan yang membuat dirinya curiga akan ada orang yang disekap di sana.
Dengan berjalan perlahan tanpa salah satu orang pun yang tahu, ruangan itu terlihat begitu pengap.
“Sebenarnya ruangan apa ini?” Tanya Alan yang terus melangkah maju.
Sesaat kemudian ia melihat lelaki yang bersimpuh darah pada wajahnya tengah tertidur.
“Siapa dia?”
Kini Alan mulai mendekat ke arah lelaki yang terikat erat dengan tali, melihat wajah lelaki itu.
“Arpan?”
Betapa kagetnya Alan melihat suami Sisi yang berada di ruangan gelap tanpa penerangan, terikat tali dan juga wajah yang begitu mengenaskan.
Kini dugaan Alan terjawab sudah, di mana polisi datang mengerumuni rumah Sarah. Begitupun dengan datangnya Sisi dan Rudi.
Alan mulai menepuk kedua pipi Arpan, berharap jika Arpan sadar dari pingsannya.
“Pantas saja aku melihat para suruhan Sarah masuk ke ruangan ini, ternyata untuk memindahkan Arpan. Keterlaluan sekali Sarah.”
Kini Arpan tiba-tiba saja batuk, di mana Rudi Tengah melepaskan ikatan yang mengikat semua kaki dan tangan Arpan.
“Arpan akhirnya kamu sadar.”
Kedua mata Arpan perlahan terbuka, wajahnya begitu bengkak, hingga ia berusaha melihat Siapa yang berada di hadapannya.
“ A-lan.”
“Iya ini aku.”
“To-long.”
Dengan Sigap Alan mulai motong semua tali yang mengikat erat kaki dan tangan Arpan, ia mulai membersihkan darah yang menutupi wajah Arpan.
Alan benar-benar tak tega melihat keadaan Arpan yang benar-benar mengenaskan.
“kamu minum dulu ini.”
Alan menyodorkan air minum untuk membuat Arpan sedikit bertenaga.
__ADS_1
kini Arpan yang benar-benar tak menemukan air sedikitpun, membuat dirinya menghabiskan air yang diberikan Alan pada saat itu.
Tubuh Arpan benar-benar lemas, saat tali yang sudah terlepas dari kaki dan tangannya. Untuk berdiri pun Arpan seakan tak bisa, karena mungkin 3 hari ini Sarah memperlakukannya sangat benar-benar keterlaluan.
Memukul kedua kakinya hingga terlihat warna merah Membekas pada kulit Arpan, mau tidak mau Alan harus membawanya pergi dari ruangan pengap ini.
Alan berusaha menggendong Arpan dengan tenaga yang ia punya, dengan perlahan berjalan dan lutut kaki yang sedikit bergetar karena memakai beban berat.
“Ayo kita harus ke luar dari ruangan ini.”
Walaupun berat menggendong Arpan, namun Alan tetaplah tenang. Karena tak ada satupun suruhan Sarah yang berjaga di sana, membuat Alan leluasa membawa Arpan keluar dari rumah Sarah.
“Bertahanlah Arpan aku akan membawamu ke rumah sakit.”
Saat Alan keluar dari ruangan itu.Hening tak ada satu orang pun yang berjaga di sana, entah dimana keberadaan mereka sekarang?
Dengan sedikit bergerak cepat, Alan mulai keluar dari pintu belakang untuk menaiki mobil. Alan melihat pembantunya yang tengah masak, membuat Alan harus menyembunyikan Arpan sebentar.
Karna jika pembantu Sarah tahu, Alan dan Arpan akan dapat masalah dari Sarah.
Pada saat itulah Alan Mulai mengambil sapu tangan menyemprotkan minyak wangi yang pada sapu tangan itu, dengan perlahan ia berjalan. Tangannya mulai bergerak untuk menutup mulut dan hidung pembantu itu.
Baru saja menjalankan aksinya, pembantu itu langsung berbalik arah ke hadapan Alan.
“Oh maaf simbo, bikin apa?” tanya Alan berpura-pura. Ramah di depan pembantu itu.
“ banyak nanya, Sudah Sudah kamu pergi dari sini. Saya tak suka jika Suruhan nyonya datang ke dapur saya,” cetus pembantu itu.
Alan benar-benar kesal dengan sikap pembantu yang sombong, membuat Alan dengan sekali merobek bibir tebalnya.
“Saya pergi dulu ya Simbo.”
Pembantu itu kini membalikkan badannya ia mulai memotong-motong kembali sayuran, saat Alan mulai pergi yang membalikkan badan kembali.
Pada saat itulah Alan mulai menutup mulut dan juga hidung pembantu itu, sehingga pembantu itu jatuh pingsan.
Dan prakkk ...
Suara pisau dan juga piring berjatuhan ke atas lantai, membuat orang yang berkumpul sedikit kaget begitupun dengan Sarah.
“Simbok ini. Kerajaannya bagaimana sih.” Pekik Sarah.
__ADS_1
Riri yang awalnya mulai maju ke hadapan Sarah dan juga Dina, malah Sarah suruh untuk melihat keadaan pembantunya itu.
“Eh, kamu cungkring coba cek di dapur Simbok kenapa,” Suruh Sarah pada Riri. Yang Sarah hanya tahu Riri itu suruhannya karna berseragam sama dengan suruhannya.
Riri kini menganggukkan kepala, ia mulai berjalan ke arah dapur.
Setelah sampai di dapur Riri melihat Alan Tengah menyeret pembantu itu, menyerap pembantu itu untuk masuk ke dalam kamar mandi.
“ Alan .” Panggil Riri pelan.
“ Riri?”
Pada saat itulah Riri mulai membantu Alan menyeret pembantu itu, menguncinya di kamar mandi.
Sebelum Riri membantu Alan ia melihat di sekitar ruangan dapur. Apakah ada CCTV di sana? Pada saat itulah Riri menemukan CCTV yang tersembunyi dibalik rak piring.
Ia mulai menutup CCTV itu dengan kain, pada saat itulah dia langsung membantu Alan menyeret pembantu itu.
Setelah pembantu itu diamankan oleh Alan. Kini alam mulai berpamitan sebentar ke pada Riri, untuk menyelamatkan Arpan terlebih dahulu.
“ Ri, kamu di sini dulu. Ya. Aku akan selamatkan sahabatku ini dulu.” ucap Alan pada Riri.
“Baiklah, kamu hati- hati. Aku di sini akan berusaha untuk membawa Dina pergi dari rumah ini,” balas Riri.
Pada saat itulah Alan mulai melihat kunci mobil yang menggantung, dengan Sigap Ia memasukkan Arpan ke dalam mobil itu. Menyelamatkan Arpan untuk di bawa ke rumah sakit.
Untung saja belakang rumah Sarah begitu luas, dan terdapat beberapa mobil yang berjejer. hingga Alan dengan leluasa memakai mobil Sarah. Alan berusaha menyelamatkan Arpan.
Sarah tak menyadari kepergian Alan yang membawa Arpan pada saat itu, Iya begitu fokus melihat suruhannya satu persatu. Karena rasa curiga nya jika pada suruhannya itu, terdapat penyusup yang sengaja menyamar menjadi suruhnya.
satu persatu mengecek, Tak ada satupun suruhannya yang terlihat mencurigakan. mereka orang-orang yang biasa dilihat oleh Sarah, wajah dan nama mereka tetaplah diingat oleh Sarah.
Dina berusaha tetap tenang, berharap Riri tidak datang cepat cepat.
. saat itu, Riri mulai berjalan ia mengintip di balik tembok, Sarah Tengah mengecek suruhannya satu persatu, pada saat itulah ia hanya menatap dari kejauhan. tidak berani untuk ikut serta dalam perkumpulan suruhan nya itu.
" ini gawat, aku harus bersembunyi sebentar. sebelum Sarah menyadari bahwa aku bukanlah suruhannya."
Dengan berjalan tergesa-gesa, Riri mulai menjauh dari hadapan Sarah.
namun tiba-tiba saja Riri terjatuh,
__ADS_1
Brugg...
membuat Sarah perlahan mendekat ke arah suara itu.