Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 335 Delia yang tak percaya akan bayinya yang hilang


__ADS_3

Ternyata sosok orang yang datang adalah suster Ayuni.


Lita dan Ida kaget saat Suster Ayuni bertanya kepada mereka berdua.


menundukkan pandangan dan menjawab," Kami sedang mengobrolkan tentang rencana mencari anak pasien Delia dan Pak Alan."


"Mm, Apa benar itu?" tanya Suster Ayuni. Masih tak percaya dengan perkataan Lita dan Ida.


"Be-na-r. Masa kita bohong!" balas Ida.


suster Ayuni melipatkan kedua tangannya, berjalan mendekat ke arah mereka berdua." Awas saja jika kalian bohong, aku berharap dengan cepat kamu menemukan bayi Delia dan pak Alan."


"Iya."


Suster Ayuni berencana untuk pulang, karna jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


sedangkan Lita dan Ida masih berada di rumah, mereka harus bertanggung jawab akan hilangnya. Bayi Delia.


"Ida gimana nih, kita harus nemukan bayi Delia dan Pak Alan. Sedangkan kita tidak tahu di mana keberadaan bayi itu," ucap Lita.


"Sudah, jangan pikirin itu dulu. Kita susun saja rencana kita untuk Pak Deni," balas Ida.


"Terus bayi Delia?" tanya Lita dengan raut wajah bingung.


"Itu urusan gampang, kita tak perlu cari bayi Delia. Karna sebentar lagi kita ke luar dari rumah sakit ini. Untuk mengurus bayi yang di pinta pak Deni," ucap Ida.


"Kamu benar juga, kalau kita ke luar dari rumah sakit ini. tak ada tekanan lagi dari suster Ayuni," balas Lita.


"Nah, itu kamu tahu," ucap Ida.


@@@@@


Delia terbangun dari tidurnya, melihat Alan yang berada di sisi ranjang tempat tidurnya. membuat Delia langsung membangunkan suaminya itu. dengan mengusap pelan kepala rambut suaminya.


saat itulah Alan mulai terbangun, melihat kearah sang istri. dengan kedua mata yang terlihat merah.


"Mata kamu merah."


"Masa sih, tadi ke lilipan."


"Oh, ya. Bayi kita?"


Apa yang harus dikatakan Alan pada Delia, jika bayinya belum di temukan sampai sekarang. Alan juga belum mendengar kabar dari suster Ayuni, jika bayi Delia sudah di temukan.


"Bagaimana ini? Apa aku harus jujur pada istriku." Gumam hati Alan.


Delia langsung menggoyang-goyangkan bahu suami, membuat Lamunan Alan seketika membuyar.


"Iya, sayang kenapa?"

__ADS_1


"Aku tanya pada kamu dari tadi. Kenapa malah diam terus," cetus Delia. Sedikit kesal. Dengan tingkah suaminya yang terus saja diam saat di tanya.


"Maaf Delia!" jawab Alan.


"Maaf untuk apa?" tanya Delia.


"Sebenarnya. Bayi kita ...."


"Bayi kita kenapa?" tanya Delia. Yang berlum berucap sepenuhnya.


"Bayi kita hilang!" jawab Alan.


Mendengar Alan berkata seperti itu, Delia begitu syok berat. " Kamu bercandakan?" tanya Delia. kepada sang suami.


"Aku tidak bercanda Delia, ini serius!" jawab Alan.


Delia langsung memegang kerah baju Alan, menangis histeris tanpa sadar." Kenapa kamu begitu lalai menjaga anakku."


"Delia, kamu harus tenang. Aku juga tak tahu jika akan seperti ini," ucap Alan.


"Pokoknya saat ini, kamu harus menemukan anakku," hardik Delia.


Wajahnya terlihat begitu menyeramkan, amarahnya yang menggebu terlihat jelas di depan Alan..


"Kamu harus sadar Delia, tahan amarahmu itu," ucap Alan.


"Aku tidak peduli Alan, aku ingin anakku," balas Delia.


"Kumohon Delia sadarlah, sayang." Kata kata halus terus Alan lontarkan, berharap Delia sadar akan amarahnya dan juga rasa sedihnya akan kehilangan bayinya.


tangan Alan mengusap pelan kepala rambut Delia, memegang kedua pipi Delia dengan begitu lembut. kedua mata Alan berkaca-kaca.


"Kamu lihat aku."


kedua mata Delia seakan enggan menatap kedua mata Alan.


"Delia." Teriak Alan.


Saat itulah Delia terdiam, dengan isak tangisnya. Air matanya terus mengalir. Membuat Alan tak tega melihat kesedihan sang istri.


"Kamu lihat Aku." Tekan Alan dengan tegas.


Kedua mata Delia menunduk, seakan enggan menatap sang suami.


"Kemana bayiku. Alan." Tangisan mulai mereda, terdengar suara sayu Delia yang begitu menyakitkan.


Alan yang tak tega melihat kesedihan Delia, memeluk tubuh sang istri dan berkata," aku minta maaf. Aku akan usahakan untuk mencari bayi kita."


" Kenapa, baru ke marin, aku menemukan kebahagian hadirnya seorang anak. Kenapa malah anakku hilang dalam sekejap mata. Apa salahku." Teriak Delia yang benar benar merasa bersalah.

__ADS_1


"Kamu harus tenang, pasti ada orang yang sengaja menculik anak kita," balas Alan.


Lelaki bermata sipit itu, begitu erat memeluk sang istri. menenangkan segala kesedihan yang di rasakan istrinya itu.


" Apa yang menculik anakku adalah, Deni." Gumam hati Alan.


di tengah kesedihan Delia dan juga Alan, Beni datang mengintip di balik jendela. Dia terlihat senang dengan kesedihan yang dirasakan Alan dan juga Delia.


"Mm, aku puas dengan kesedihan wanita itu."


Alan merasa akan kehadiran Deni di luar, membuat ia berjalan untuk melihat ke luar ruangan.


Deni tengah mengintip dengan santainya, tanpa ia sadari jika Alan menyadari kehadirannya.


"Kamu sedang apa di sini."


Deg ....


Seketika Deni menatap ke arah Alan yang sudah ada di hadapannya. Bukanya merasa malu, Deni malah tersenyum dan berucap," hey. Alan. Apa kabar."


Terlihat Alan begitu marah akan Deni yang sengaja mengintip di balik jendela ruangan Delia.


"Aku tanya sama kamu, Sedang apa kamu di sini?" Teriak Alan.


Deni malah tertawa," memangnya setelah aku menjawab pertanyaanmu itu. kamu akan menyuruhku masuk ke ruangan Delia."


Kesal bukan main yang di rasakan Alan, bagaimana tidak Deni seakan sengaja berkata seperti itu.


Alan dengan sigap, mendekat ke arah Deni. Mencekram kerah baju Deni.


"mulai lagi." Ucap Deni.


"Aku tahu, pasti semua ulah kamu. Deni," ucap Alan tiba-tiba saja menyalahkan Deni. membuat Deni mengerutkan dahinya dan membalas," hey. maksud kamu apa."


Cekraman tangan Alan yang mencekram kerah baju Deni, semakin kuat. membuat leher Deni sedikit terasa sesak.


"Jangan pura pura bodoh Deni. Aku tahu semua ulahmu, kamu tak ingin melihat Keluarga ku bahagia." Cetus Alan.


"Bisa tidak kamu lepaskan tanganmu yang kotor itu," ucap Deni.


Beberapa suster dan juga perawat melihat perdebatan Deni, apalagi Alan yang mencekram kerah baju Deni. Membuat mereka panik. Takut jika terjadi apa apa.


" Sudahlah kamu jangan banyak basa-basi Deni, akui saja semuanya. pasti kamu orang yang sudah menculik bayi Delia," balas Alan.


"Hey, kenapa kamu menyalahkanku. bagaimana bisa aku menculik bayi Delia. sedangkan keadaanku seperti ini. itu tak mungkin, Alan," ucap Deni.


" memang keadaanmu seperti ini, tapi bisa saja kamu menyuruh orang untuk menculik bayi Delia," balas Alan yang tetap saja menuding Deni bahwa Denilah yang sudah menculik bayi Delia.


para perawat berdatangan untuk memisahkan Deni dan juga Alan.

__ADS_1


"Pak sebaiknya kalian jangan bertengkar di sini. Ini rumah sakit." Ucap perawat yang mencoba memisahkan Deni dan Alan.


__ADS_2