Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 84 Sisi memakai hijab


__ADS_3

Bagaimana tidak terfanahnya Arpan melihat penampilan Sisi yang memakai hijab berwarna biru bermotif bunga-bunga dengan busana muslim yang sederhana membuat penampilannya sungguh berbeda. Hatinya kembali berdetak kencang, ia merasa dirinya tak bisa mengendalikan rasa cinta yang luar biasa pada Sisi wanita yang menjadi istrinya saat itu.


Wanita berwajah bulat itu berjalan memutar balikan badannya membuat Arpan kagum, Sisi terseyum seraya bertanya?" Bagaimana penampilanku."


Mata Arpan seakan tak bisa berkedip lagi, ia benar-benar terpesona di kala itu. Tampilan Sisi yang benar-benar memukau bila mata lelaki ketika melihat padanya.


Wanita berwajah bulat itu benar-benar cantik, dari segi fisik. Hidung yang mancung dan juga bibir yang tipis kulit putih membuat lelaki pasti terkesan melihatnya.


"Kenapa?" tanya Sisi melambai-lambaikan tangan. Di depan wajah suaminya yang seakan kagum dengan tampilannya.


"Astaga, sayang maaf. Kamu benar-benar berbeda dari biasanya. Cantik sekali!" jawaban Arpan. Membuat wanita berwajah bulat itu menundukan pandangan.


Arpan merai dagu istrinya, terseyum seraya berkata," aku suka kamu yang sekarang."


Sisi hanya bisa menggit bibir bawahnya, merasa benar-benar malu dengan perkataan suaminya yang memuji dirinya berlebihan.


Arpan menganti semua pakaian istrinya saat itu, ia membelikan baju yang tertutup pada istrinya. Sisi masih berasa tak terima, tapi bagaimana pun dia harus menuruti permintaan sang suami.


Dalam pikirannya masih terbayang baju-baju sexsi yang ia lihat di dalam mall. Baju berwarna merah mencolok dan juga berwarna biru.


"Pasti lagi mikirin si merah sama si biru ya," ucap Arpan membuyarkan lamunan Sisi seketika, mata Sisi melirik kearah suaminya itu.


"Ah, enggak ko," jawab Sisi. Sedikit berbohong, dalam hatinya merasa sedih.


"Kenapa kamu enggak beli, kalau mau beli saja, mas enggak bakal larang kamu ko," ucap Arpan meraih tangan kanan istrinya.


"Emang boleh?" tanya Sisi matanya terpanjat bahagia mendengar kata-kata Arpan seperti itu. Seyumnya mengambang, tangan genitnya mulai mengusap pipi lelaki di sampingnya.


Lelaki berkulit sawo matang itu, menganggukan kepala, tanda ia memperbolehkan Sisi membeli baju yang ia suka.


"Boleh saja, asal di pakenya pas di rumah aja, kalau ada tamu usahakan ganti dengan baju tertutup," ucap Arpan. Tangan yang mengusap pipi suaminya itu kembali Sisi turunkan ke bawah.


Padahal dalam hati Sisi ingin sekali memamerkan bentuk tubuhnya yang bagus itu pada orang-orang. Karna dia begitu suka dengan kepamerannya. Dari dulu ia selalu mebangga-banggakan tubuhnya pada orang lain.


"Ya, kiraain bisa di pake pas jalan-jalan," ucap Sisi. Wajahnya tampak murung seketika.


"Emh, enggak boleh. Mas enggak suka kalau tubuh kamu itu jadi totonan orang-orang di luar sana. Rugi dong mas," ucap Arpan mengelus rambut panjang Sisi. Memberi pengertian pada dirinya. Arpan berharap Sisi dapat mengerti perkataan suaminya, karna ucapan Arpan semata-mata untuk kebaikannya sendiri.


"Ya, deh," wanita berwajah bulat itu sedikit memoyongkan bibirnya. Hatinya kesal karna jawaban Arpan yang kurang ia suka.

__ADS_1


Dengan kejailannya, Arpan mencubit bibir istrinya itu. Membuat Sisi kaget.


"Ih, apa-apaan Mas ini," ucap Sisi. Memukul pundak suaminya.


Arpan tertawa melihat tingkah Sisi yang seperti kanak-kanak itu.


Sebagai seorang suami Arpan ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya.


Setelah sampai di depan rumah, Sisi dan Arpan di kagetkan dengan sambutan Delia dan juga Alan.


Belum lagi Ami dan juga Rudi.


"Ya, elah. Kalian lagi," ucap Arpan. Mengeleng-gelengkan kepala.


"Aduh, pengantin baru ko cemberut gitu?" tanya Rudi dan Alan.


Kapan si, aku dan istriku menikmati pernikahanku, tanpa di ganggu sama curut-curut ini, gumam hati Arpan.


"Jangan cemberut gitu dong, kita ke sini enggak bakal ganggu ko, yakin deh," ucap Ami. Merangkul Sisi saat itu.


"Terus kalian mau apa?" tanya Sisi. Yang masih bingung dengan kehadiran mereka semua


Alan langsung memberikan dua lembar tiket secara cuma-cuman. Saat itulah Arpan meraih lembar tiket itu dan berkata.


Rudi menepak-nepak pundak Arpan saat itu dia berkata." Nikmatin brow sampe melendung."


Alan yang mendengar perkataan Rudi tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Begitu pun dengan Ami dan Delia.


***********


Di tengah-tengah kebahagian Arpan. Arsyla mengintip di balik pohon dari kejauahan, Kedua tangannya mengepal seakan tidak suka dengan kebahagiaan saudaranya. Yang tertawa bersama orang-orang yang peduli padanya.


"Bahagiannya dirimu Arpan," ucap pelan Arsyla. Mendengkus kesal, matanya menatap tajam ka arah Sisi yang tengah terseyum tertawa bersaman orang- orang di sekelilingnya.


Ia berencana untuk menghancurkan rumah tangga Arpan dan Sisi saat itu juga, karna dia tidak suka melihat saudara nya bahagia.


"Kalian boleh tertawa tapi liat saja nanti," ucap pelan Arsyla.


Dia bergegas pergi saat itu juga. Dengan emosi yang mengebu-gebu perasaan yang sangat kesal, tidak suka dengan kebahagian Arpan, berencana melakukan sesuatu agar Arpan tersiksa dan menderita. Dendamnya seakan tak bisa sirna begitu saja. Arsyla begitu membenci saundaranya itu.

__ADS_1


Menghampiri sang ibu dan berakata," Kenapa sih si Arpan itu bisa bahagia."


"Loh, ko kamu gitu Arsyla," ucap Ibu dengan raut wajah muramnya. Melihat anaknya yang baru saja datang dengan keadaan marah-marah.


Wanita berhidung mancung itu melirik pada raut wajah ibunya, mendelik kesal. Karna sang ibu selalu membela Arpan.


"Arsyla. Kamu mau kemana nak," panggil ibu.


"Pergi jauh."


Arsyla berlalu pergi dengan amarah mengebu-gebu ia merasa dirinya seakan kesal dengan tingkah ibu yang seperti itu.


"Ada apa dengan Arsyla."


Membanting pintu merebahkan tubuhnya, ia benar-benar marah saat itu.


Ibu mengetuk pintu kamar anaknya.


"Arsyla kita makan yuk nak," teriak sang ibu sembari mengedor-gedor pintu kamar anaknya.


"Arsyla. Kamu kenapa nak, dari tadi marah marah terus."


Tidak ada jawaban dari Arsyla saat itu, entah kenapa dengan anak itu.


Saat itu Arsyla menelpon sahabatnya. Ainun.


"Halo, ada apa Ar?" tanya Ainun dalam sambungan telepon.


"Aku ada kerjaan buat kamu, apa kamu mau," tawaran Arsyla pada Ainun.


"Kerjaan apa?" tanya Ainun.


"Kerjaannya gampang, kamu tinggal menggoda Arpan jatuh ke pelukanmu," ucap Arsyla.


"Kayanya aku enggak bisa deh, Arpan lelaki baik-baik," jawab Ainun menolak tawaran Arsyla saat itu.


"Masa kamu enggak mau, asal kamu tahu. Mantan kamu itu sekarang jadi pengusaha sukses," ucap Arsyla dalam sambungan telepon.


"Masa, bukanya dia hanya pereman kampung," Ainun tak menyangka setelah mendengar perkataan Arsyla saat itu.

__ADS_1


"Lebih baik kamu sekarang datang kerumah aku, nanti aku jelasin rencannya. Mau gak?"


Ainun tiba-tiba diam ia seakan ragu, karna tawaran Arsyla.


__ADS_2