
Sarah mulai melangkah, saat ia mendengar suara seseorang yang seakan jatuh, karna sudah lancang mengintipnya.
"Siapa?"
Saat ia melihat ke arah dapur, simbok yang menjadi pembantu kini mengedor-gedor pintu kamar mandi. Membuat Sarah membuka kamar mandi itu.
Di balik persembunyian Riri, untung saja Riri sempat membuka kunci kamar mandi. Sampai di mana Sarah tak akan curiga.
Pembantu itu memegang kepalanya yang terasa sakit, membuat dirinya terus meringis.
“Simbok kenapa?” Tanya Sarah.
Kedua mata wanita paruh baya itu, seketika terbuka perlahan,” entahlah Simbok tiba-tiba sakit kepala.”
Wanita tua itu tak mengingat, Kenapa dirinya bisa berada di dalam kamar mandi dengan keadaan tertidur. padahal dari tadi ia tengah memasak.
Sedangkan Riri kini bersembunyi di balik gorden dapur, ia berharap Sarah tak melihatnya pada saat itu.
Hatinya benar-benar ketakutan, ia takut jika Sarah menemukannya dan menyuruh suruhannya untuk menyekap dia di dalam ruangan pengap.
tiba-tiba saja Sarah melihat gorden itu seakan bergerak, seperti ada orang yang bersembunyi di balik gorden itu.
"Nona," panggil simbok.
"Kenapa mbok?"
"Simobok hanya mengigatkan jangan buka gorden itu. karena gorden itu banyak sekali Debu, simbol takut nona kenapa-napa."
"Oh, oke kalau begitu!"
Sarah mulai menyelidiki sesuatu yang menurut dirinya ada yang aneh, dia menatap kearah sana kemari. Mencari sebuah bukti yang memang di ruangan dapur itu terjadi sesuatu yang sangat mencurigakan.
Mencari ke arah CCTV, terlihat CCTV itu tertutup oleh kain lap. Yang selalu dipakai simbok saat mengelap kaca jendela.
“Simbok, Kenapa lap jendela kaca ada disini?” tanya Sarah mengambil lap kaca itu, menunjukkan kepada pembantunya.
Simbok benar-benar lupa dengan apa yang terjadi pada dirinya, dia menggaruk-garuk belakang kepalanya yang mungkin tak terasa gatal. Mengingat Kenapa lap yang biasa ia pakai tergantung pada CCTV.
Simbok yang tak mau ditanya terus menerus, Iya kini asal berucap kepada Sarah,” Sepertinya saya asal gantung saja, sampai saya tak sadar ar menggantungnya pada CCTV.”
Pembantu itu berharap Sarah dapat mempercayainya, hingga tak ada lagi pertanyaan yang harus Iya jawab.
“ Maafkan saya Nona, Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” permohonan maaf simbok kepada Sarah.
Melihat wajah wanita paruh baya itu sedih, pada akhirnya Sarah tidak bertanya lagi dengan apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
Iya kini berjalan menuju para suruhannya, namun baru saja melangkah pada ambang pintu. Sarah menemukan sesuatu yang sangat aneh di atas lantai, di mana yang ia lihat cairan berwarna merah.
Cairan kental yang membuat dirinya mulai memegang dan mencium bau cairan itu.
“Darah, darah siapa ini?”
Hati Sarah kini mulai bertanya-tanya, ia menatap kembali pembantunya itu yang tengah berdiri menundukkan pandangan.
“Simbok?”
“Iya, non!”
“Simbok masak apa?”
“Mbok masak daging sapi yang masih segar. Pas sekali sapinya di potong.”
Mendengar jawaban dari pembantu itu, Sarah kini mulai melanjutkan langkah kakinya. Yang mengira jika darah yang berada di atas lantai adalah darah sapi segar, maka dari itu iya tak memperdulikan apa yang yang terjadi pada saat itu.
“Ya sudah, cepat sediakan semua makanannya. Aku lapar.”
“Baik nona.”
Riri yang berada di gordeng, kini bisa bernafas lega. Dia mengusap pelan dadanya, hatinya benar-benar tenang sekarang. Sarah tak mencurigai dengan apa yang sudah terjadi, Iya sangatlah cuek saat pembantunya terkena masalah dari Alan.
Saat Sarah sudah berjalan jauh dari ruangan dapur, kini Riri mulai keluar dari tempat persembunyiannya, ya lupa akan Si Mbok yang masih berada di ruangan dapur.
panggilan simbok kepada Riri, membuat pembantu tua itu memberhentikan langkah Riri.
"Kamu mau ke mana?"
pembantu itu menarik tangan Riri, agar tak pergi begitu saja. ya harus melaporkan apa yang ia lihat saat itu.
" Sepertinya kamu dalangnya yang sudah membuatnya nyoya marah kepadaku."
Riri menggelengkan kepala, berpura-pura tak mengerti dengan apa yang dikatakan pembantu di dalam rumah salah salah.
"Maksud simbok apa ya, saya tak mengerti."
pada saat itulah pembantu tua itu langsung menarik paksa Riri untuk berdiri di hadapan sang nyonya, menjelaskan apa yang sudah terjadi.
Riri yang berpura-pura tak tahu apa-apa, berusaha kabur dari cengkraman tangan simbok.
" Aku akan beri tabu Nyonya Sarah, ayo cepat ikut denganku," tegas Simbok.
Riri berusaha mencari jalan keluar agar dirinya bebas dari cengkraman pembantu itu.
__ADS_1
" Simbok, coba lihat ke sana," ucap Riri menunjuk ke arah belakang simbok. Membuat Simbok yang sudah tua itu langsung percaya bergitu saja. Padahal Riri membuat tartik kebohongan anak-anak.
Kini Riri berlari ke arah belakang pintu yang sudah terbuka, sedangkan Simbok, dengan singkat mengejar Riri pada saat.
Namun pada saat simbok ingin mengejar Riri, tiba-tiba bau asap muncul, membuat hidung simbol langsung mencium. Dari mana asal asap itu.
Saat wajahnya menatap ke arah kompor yang menyala, simbok panik. Daging yang ia rebus agar empuk. Tiba-tiba gosong, membuat dirinya mematikan kompor itu.
"Aduh, bagaimana ini, Nyonya pasti marah."
Riri yang sudah pergi menjauh dari hadapan simbok, kini berhenti sejenak, memikirkan cara agar bisa membawa Dina pergi dari rumah Sarah.
"Pengamanan di sini ketat, bagaimana cara agar aku bisa membawa Dina pergi dari rumah ini."
Dina yang masih saja berdiri menunggu kedatangan Sarah yang mengecek dapur. membuat hatinya ketakutan, ia takut jika sahabatnya yang tak lain Riri. Tertangkap oleh Sarah.
hingga beberapa menit kemudian, Sarah datang kembali ke ruangan di mana ia mengumpulkan semua suruhannya.
Dina mulai bernapas lega, bahwa Sarah tak menemukan Riri.
."Ahk, menganggu saja. Aku kira suara apa? Ternyata pembantu itu bikin ulah."
Mendengar Sarah mengerutu kesal, membuat Dina ingin tertawa terbahak-bahak.
Namun ia berusaha menahan keinginannya, takut jika Sarah mencurigai dirinya kembali.
"Dina .... Dina ...."
Suara panggilan dari balik jendela, membuat Dina. Menatap ke arah jendela itu, Siapakah itu?
@@@@@
Sebelum Alan membawa Arpan masuk kedalam rumah sakit, ya terlebih dahulu mencari keberadaan Dodi dan juga cucu Pak Tejo.
Mendekat ke arah mobil ternyata mobil yang ditempati Dodi dan cucunya Pak Tejo pintunya terbuka lebar Alan tidak menemukan keberadaan Dodi dan juga cucu Pak Tejo.
“Ke mana mereka?” tanya Alan pada dirinya sendiri.
Alan benar-benar bingung pada saat itu, entah apa yang terjadi dengan Dodi dan cucu Pak Tejo. Sampai dimana mereka tidak ada di dalam mobil.
“Alan ....,” panggilan dari Arpan. Membuat Alan menghampiri sahabatnya itu yang berada dalam mobil. Alan sangatlah sok melihat Arpan tiba-tiba saja tak sadarkan diri, jantungnya melemah.
Membuat Alan harus segera mungkin membawa Arpan ke rumah sakit, agar langsung ditindaklanjuti karena keadaannya yang sangat memungkinkan.
“Arpan kamu harus tetap hidup.”
__ADS_1
Arpan tak menjawab lagi ucapan Alan, membuat Alan membawa mobil itu dalam kecepatan yang tinggi.