Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 336 Jubah merah itu.


__ADS_3

pada malam hari, dimana hujan begitu lebat. tiba-tiba Putra terbangun dari tidurnya. Iya meraba pinggir ranjang tempat tidur.


"Ane. Ke mana dia. Kenapa jam segini dia tak ada? Bukanya dia sudah pulang dalam pekerjaanya?"


kini Putra mulai bangun dari tidurnya, Iya mencari keberadaan sang istri. melihat ke kamar anak anaknya, tak menemukan keberadaan Ane pada saat itu.


saat itulah Putra mulai berjalan ke arah ruang tamu, yang di mana Lampunya tak segaja tak dinyalakan.


setelah sampai di ruang tamu, tiba-tiba pintu terdengar dibuka. membuat Putra langsung menyalakan lampu ruang tamu.


Putra melihat seseorang memakai jubah berwarna merah yang di mana jubah itu menutupi kepala orang itu. dia mengerutkan dahinya. mencoba untuk meraih sapu yang tak jauh dari hadapannya.


melangkah perlahan kearah orang itu, tiba-tiba saja.


"Papah."


setelah mendengar suara yang begitu jelas seperti suara Ane. Putra mulai menurunkan sapu yang ia sengaja pegang ke atas lantai.


" Siapa kamu?" tanya Putra dengan nada sedikit meninggi.


Ane mulai membuka jubah merahnya, menghentikan Putra agar tidak memukulnya.


"Papah, ini aku istrimu."


"Ane."


Putra mendekat ke arah Ane, dan berkata." Kamu kenapa malam malam begini ke luar, memakai jubah merah seperti ini."


Ane seakan gugup dengan pertanyaan yant terlontar dari suaminya, membuat Putra menatap ke arah kain yang di bopong Ane.


"Apa ini?"


Membuka perlahan kain itu," Bayi."


Ane semakin gugup dengan pertanyaan yang terus terlontar dari mulut Putra.


"Coba kamu jelaskan kepadaku Ane, bayi siapa ini?" tanya Putra menekan Ane. yang masih terlihat gugup.


"Sebenarnya," ucap Ane. Belum perkataannya terlontar semuanya, bayi yang ia gendong tiba tiba menangis, dengan wajah ke kanan ke kiri.


"Pah, cepat tolong bikinin susu," pinta Ane pada sang suami.


Putra langsung berucap," susu. Susu apa. Di dapur tidak ada susu bayi. Ane."


Ane dengan sigap menyodorkan keresek berwarna putih ke pada Putra," ini. Di keresek putih ini ada susu bayi."


Tanpa basa basi, saat itulah Putra mulai bergegas mengambil plastik berwarna putih. ya berjalan kearah dapur untuk segera membuat susu.

__ADS_1


Saat sibuk membuat Susu, hati Putra sempat berucap," kenapa istriku membawa bayi. Bayi siapa yang ia bawa?"


"Pah, susunya sudah belum." Teriak Ane. Membuat lamunan Putra membuyar, pada saat itu Putra dengan sigap menuangkan susu sesuai takarannya.


"Iya, mah. Ini udah selesai. Kok." Balas Putra. Tak kalah berteriak seperti Ane.


"Buruan bayinya nangis terus, dia lapar." Ucap Ane.


Putra berjalan tergesa gesa, untuk memberikan susu yang baru saja ia buat.


"Ini mah."


dengan Sigap Ane langsung mengambil susu itu memberikan kepada bayi yang ia gendong. bayi itu terlihat begitu kehausan. menyedot susu yang baru saja dibuat oleh Putra sampai habis.


"Aduh sayang, haus ya." Ucap Ane.


Putra ingin sekali bertanya kepada sang istri, namun Ane terlihat begitu sibuk sekali. mengayun Ayun anak itu pada tangannya.


bayi itu terdiam, setelah Ane memberikan susu padanya.


"Ane, aku ingi ....."


belum perkataan Putra terlontar semuanya, ada langsung menempelkan Jari tangan pada bibirnya. menahan sang suami agar tidak berbicara dulu.


mau tidak mau Putra harus mengalah pada saat itu, iya mulai membalikkan badan berjalan kearah kamar untuk segera tidur kembali. biar ia tanyakan besok nanti kepada istrinya.


Putra menjawab dengan nada sedikit kesal!" tidur."


"Mm, dasar."


Ane, melihat ke arah bayi mungil itu. bayi itu Sudah terlelap tidur di pangkuan Ane.


"Maaf kan aku ya sayang, terpaksa aku bawa kamu ke rumah. Agar aman." gumam hati Ane.


setelah bayi itu terlelap dalam pangkuan Ane. pada saat itulah ia mulai berjalan ke arah kamarnya. untuk segera menidurkan bayi mungil itu di atas ranjang tempat tidurnya. yang di mana Putra sudah tertidur.


"Papah, papah."


Ane terpaksa membangunkan sang suami yang baru saja terlelap tidur," ada apa mah?"


"Mamah, cuman nitip dulu bayi ini. Tolong jaga!" jawab Ane.


" Emang mama mau kemana sih?" tanya Putra. menggosok-gosok kedua matanya yang terasa perih.


" Mamah mau ke toilet dulu sebentar!" jawab Ane.


"Ta ...."

__ADS_1


dengan tergesa-gesa, Ane mulai berlari ke arah kamar mandi. yang mengabaikan ucapan sang suami.


"Mulai lagi deh. Sebenarnya anak siapa ini?" tanya Putra pada hati kecilnya.


Putra, menyelidiki raut wajah bayi yang berada di sampingnya.


"Bayi ini belum terlihat, percis siapa. Mungkin karna baru dilahirkan."


Ane ke luar dari kamar mandi, dan berucap." kamu kenapa pah, memandagi bayi itu sampai sebegitunya?" tanya Ane.


Putra mulai menatap ke arah sang istri dan berkata apa yang ada di hati kecilnya." Bayi siapa ini?"


Ane perlahan berjalan mendekat ke arah sang suami, dengan tubuh yang sudah terasa bugar kembali. Sehabis mandi.


"Sebenarnya ini bayi Delia dan Alan."


mendengar ucapan sang istri, membuat Putra sok berat dan berkata," apa bayi Alan dan Delia. Terus kenapa bayi ini ada di tanganmu?"


pertanyaan Putra membuat Ane malas menerangkan apa yang sudah ia lakukan, karena tubuhnya benar-benar terasa lemas pada saat itu.


"Biar besok mamah jelaskan, ya. pah."


"Tapi mah, kita tidak berhak ...."


"Udah, sebaiknya papah jangan banyak bicara, mamah mau tidur cape. biar besok mama yang menjelaskan semuanya."


Putra mengusap kasar wajahnya, tak mengerti dengan apa yang yang dilakukan istrinya. Kenapa juga istrinya harus mengambil anak Delia dan juga Alan. padahal Ane sudah diberikan kebahagiaannya benar-benar luar biasa. di mana dirinya juga memiliki seorang anak yang cantik jelita.


Ane, begitu terlihat kelelahan sekali. membuat Putra hanya bisa menuruti apa perkataannya.


Putra langsung membaringkan kembali tubuhnya. Ya mulai menutup kedua matanya, untuk segera tidur dan beristirahat.


@@@@@


Namun di dalam rumah sakit, perdebatan Deni dan juga Alan masih berlanjut. suster dan perawat hampir saja kewalahan menahan mereka berdua agar tidak berdebat dan mengganggu orang-orang yang tengah berobat di rumah sakit itu.


"Bapak sebaiknya pergi dari sini."


para perawat dan juga suster dengan terpaksa mengusir Deni. perawat itu mulai mendorong kursi Deni agar menjauh dari hadapan Alan.


Tapi Deni seakan tak menerima dengan perlakuan perawat, Iya begitu marah besar kepada perawat yang sudah berani mendorong kursi rodanya.


" lepaskan kedua tanganmu yang memegang kursi rodaku." Ucap Deni.


"Tapi pak, saya terpaksa melakukan semua ini. agar bapak tidak kenapa-napa oleh lelaki itu." Balas Perawat yang terus mendorong kursi roda Deni. sehingga perawat itu membawa Deni keluar rumah sakit.


"Jadi kamu menganggap aku lemah, karna keadaanku yang seperti ini?" Bentak Deni.

__ADS_1


__ADS_2