
Sebelum mencari keberadaan bayi Delia, Ane mulai mengigat akan kedua anaknya yang tak terlihat.
"Kedua anakku."
Ane mulai berjalan, melangkah ke arah kamar. Sedang Putra dan yang lainnya tengah mencari keberadaan bayi Delia.
Setelah sampai di kamar kedua anaknya, Ane masuk ke dalam kamar itu. Dan betapa kagetnya. Kedua anaknya tidak ada di dalam kamar.
"Ade, kakak. Ke mana kalian?"
Ane sedikit curiga kepada kedua anaknya, ia mulai mengecek CCTV di rumah segera mungkin. Dengan langkah tergesa gesa. Ia melihat kedua anaknya membawa bayi Delia, saat pembantunya itu sibuk memasak.
"Jadi, yang membawa bayi itu adalah kedua anakku. Tapi kenapa, kedua anakku melakukan hal seperti ini." Gumam hati Ane.
Ane mulai mencari ponselnya, di ruang tengah ia menelepon Putra yang tengah mencari keberadaan bayi Delia.
Tut ....
Sambungan telepon pun terhubung, Di mana Putra menganggkat panggil telepon dari istrinya.
"Halo. Mah."
"Papah, ada di mana sekarang?" tanya Ane.
"Papah sekarang lagi di jalan raya, mencari orang yang sudah berani membawa bayi Delia!" jawab Putra.
"Pah, sebaiknya papah cari kedua anak kita saja," ucap Ane membuat Putra kebingungan.
"Kenapa? Bukanya mereka aman aman saja," balas Putra yang belum paham dengan perkataan Ane.
"Sebenarnya, yang membawa bayi Delia itu kedua anak kita, pah!" jawab Ane. Yang di mana Putra syok dengan penjelasan istrinya.
"Tapi kenapa mereka membawa bayi Delia? Apa tujuan kedua anak kita?" tanya Putra. Membuat Ane bingung.
"Entahlah, sebaiknya sekarang juga papah. Harus mencari keberadaan adik dan kakak. Mamah takut mereka malah melukai bayi Delia!" jawab Ane.
"Baik, mah."
Panggilan telepon pun di matikan sebelah pihak, yang di mana Ane. Mulai bergegas mencari keberadaan kedua anaknya di taman bermain.
"Aku harus cepat mencari keberadaan kedua anakku. Kalau tidak bayi Delia akan celaka." Ucap Ane.
Putra memutar balikan mobilnya, membuat Delia dan Alan bertanya?" kita mau ke mana lagi?" tanya Delia.
"Kita harus mencari kedua anakku!" jawab Putra.
__ADS_1
"Untuk apa?" tanya Alan.
"Kedua Anakku yang membawa bayi kalian berdua. Entah maksud dan tujuan apa sehingga kedua anak anakku berani membawa bayi kalian berdua," ucap Putra.
Delia benar benar ketakutan, pikirannya mulai ke mana mana. Apalagi kedua anak Putra membawa bayinya." Semoga kedua anak Putra tak mencelakai bayiku."
Gumam hati Delia.
@@@@@
Ane sudah sampai di taman bermain, yang di mana kedua anak anaknya selalu bermain di taman itu.
"Ke mana mereka berdua."
Mencari ke sana ke mari, Ane tak menemukan kedua anaknya. Hingga ia curiga dengan salah satu tempat bermain yang jarang anak anak lain datangi.
Ane berjalan pelan berharap kedua anaknya, ada di tempat itu.
Sampai di mana ia mengintip.
Kedua mata Ane membulat, kaget dengan kedua anak anaknya yang tengah menggali lubang pada tanah.
"Adek, kakak. Mereka."
saat bayi itu, mulai di angkat oleh sang kakak, Ane dengan terburu buru datang di hadapan mereka berdua. Tangis bayi mungil itu terdengar pilu, Ane mengambil bayi itu dari pangkuan anaknya.
"Kalian berdua, apa yang kalian lakukan. Sudah cukup, kenapa kalian tega berencana mengubur bayi ini." Hardik sang mamah kepada kedua anaknya.
Mereka hanya menundukkan pandangan tak berani menatap ke marahan sang mamah.
"Coba jelaskan, apa maksud kalian. Kenapa kalian tega menggubur bayi yang tak berdosa ini, mamah tidak pernag mengajarkan kalian untuk berbuat jahat seperti ini," pekik Ane. Yang terus memarahi kedua anaknya.
Mereka berdua terdiam, perlahan menitihkan air mata. Sakit rasanya hati mereka berdua saat bentakan itu terlontar terus menerus dari mulut Ane pada kedua anaknya.
"Kenapa kalian diam, mamah akan beri kalian perlajaran."
Saat Ane berani menarik tangan anak keduanya, saat itulah Delia dan yang lainnya datang.
"Ane, hentikan." Bentak Putra. Melepaskan tangan Ane yang mencekram tangan anak keduanya yang terus menangis.
Delia yang melihat Ane membopong bayinya, dengan sigap mengambil bayi itu.
"Pah, mereka berdua mau mengebur bayi Delia hidup hidup." Ungkap Ane. Bukan membela kedua anaknya, ia malah terang terangan mengatakan kesalahan kedua anaknya.
Putra mengusap kasar wajahnya dan berkata," apa mamah tidak sadar dengan ucapan mamah barusan."
__ADS_1
kedua mata Ane berkaca kaca dan berkata," maksud papah."
"Mereka berdua begitu karna ulah kamu sendiri Ane. Kamu lihat kedua wajah anakmu yang ingi merasakan kasih sayang dari ibunya, ingin di perhatikan ibunya sendiri. Tapi kamu sebagai seorang ibu egois. Mementingkan rencanamu yang akan menghancurkan keluarga kecil kita yang sudah lama di bangun," jelas Putra. Ane terdiam ia merenungi kesalahan yang selama ini dirinya perbuat.
Terlalu fokus dengan rencana hingga mengabaikan anak dan suami, Ane mulai melihat wajah kedua anak anaknya yang ketakutan.
"Ade, kakak."
Memeluk erat, ia lupa akan dirinya yang juga jahat sudah membuat hidup orang lain menderita.
"Maafkan mamah sayang."
Tangis terdengar dari Ane dan kedua anaknya," mamah. Janji akan selalu sayang sama kita."
"Mamah, janji. Maafkan mamah ya."
Pelukan erat di layangkan Ane, kedua anak anak itu mulai luluh. Mereka memaafkan Ane dengan penuh cinta.
Sedangkan Alan dan Delia, merasa bahagia dengan bayi mereka yang telah kembali lagi pada pangkuan mereka berdua.
Alan dan Delia mulai berpamitan pada Ane dan Putra.
"Ane, Putra. Kami pamit untuk pulang." Ucap Delia.
Ane yang masih penuh dengan air mata, kini mendekat perlahan pada Delia. Ia tiba tiba saja membukukan badannya yang di mana Delia mulai menahan tubuh Ane.
Tersenyum tanpa dendam.
"Maafkan aku Delia, caraku sangatlah salah."
Delia tersenyum menepuk bahu Ane dan berkata," jangan lakukan itu lagi. Jika kamu lakukan kamu yang akan merasa rugi. Ane. Untuk rumah sakit, kamu jangan kuatir Alan dan aku akan memperbaiki isu yang beredar luas. Agar rumah sakit itu tak jatuh pada orang yang salah. Hanya saja aku minta pada kamu, tolong jaga rumah sakit kamu sendiri, jangan sampai. kamu melakukan kesalahan yang kedua kalinya."
Nasehat yang menyejukan pikiran Ane saat itu.
"Kamu memang baik Delia, terima kasih."
Ane memeluk tubuh Delia, merasa senang dengan apa yang dikatakan Delia.
Alan dan Delia mulai berpamitan, untuk segera pulang. Karna ada hal yang harus di bicarakan di rumah. Di mana Rudi meminta bantuan saat itu juga.
"Ayo Delia, kita harus menemui Rudi sekarang juga."
"Baik Alan."
Rudi terpaksa menghubungi Delia dan Alan lagi, mereka sudah bingung. Bagaimana cara melepaskan Tama dan Sarah dari kekejaman Pak Andre?
__ADS_1