Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 133


__ADS_3

"Loh, ko enggak jawab pertanyaan tante?"


apa yang harus dikatakan Dodi pada saat itu,di mana mamanya sendiri menanyakan dimana kedua orang tua Dodi?


Dodi hanyalah anak kecil biasa yang tak mengerti apa-apa, tiba-tiba Rudi mendekat ke arah Dodi ia menjawab perkataan sang istri," kedua orang tua Dodi sudah meninggal Ami."


Deg .... jawaban sang Papah membuat Dodi membulatkan kedua matanya.


Ami yang merasa kasihan terhadap Dodi, mengusap pelan rambut anak kecil itu. Saat telapak tangan Ami menyentuh rambut Dodi, seketika ada rasa yang berbeda pada hati dan perasaan Ami.


Ami merasakan ketenangan jiwa ia mulai memeluk dan mencium kening anak kecil itu dan berkata," kamu yang sabar ya doakan kedua orang tuamu tenang di alam sana."


Sedangkan Dodi merasakan pelukan sang mama yang sebenarnya, merasa senang dan bahagia. membuat dirinya menteskan air mata.


Beberapa menit pelukan itu, membuat pikiran Ami seketika mengingat sesuatu bayangan, dimana dirinya. Tengah menggendong seorang bayi.


Ami menghempaskan pelukannya pada Dodi, karena ada rasa sakit menusuk pada kepalanya sendiri.


Dodi langsung tersungkur jatuh membuat Rudi dengan terburu-buru mengangkat anaknya sendiri untuk berdiri.


"Kamu tidak kenapa-napa. Dodi?"


Tanya sang papah, kepada anaknya. Dodi hanya menggeleng-gelengkan kepala.


Setelah membantu Dodi untuk berdiri, Rudi berjalan menuju ranjang tempat tidur, ia melihat Ami mencengkram kepala dengan kedua tangannya sendiri.


"Aduh, Mas Kenapa Kepalaku pusing sekali."


Ami menutup kedua mata, menahan rasa sakit pada kepalanya. Bayangan itu terus datang menghantui pikirannya sendiri.


" Kamu harus tenang Ami, jangan pikirkan hal-hal yang membuat kepalamu sakit, ayo cepat lupakan, lupakan pikiran itu," ucap Rudi, menenangkan Ami. Menahan kedua tanganya agar tidak melukai dirinya sendiri.


Rudi berteriak kepada sang ibu untuk memanggilkan beberapa perawat dan juga dokter, Bu Sumyati yang mendengar teriakan anaknya langsung bergegas pergi mencari bantuan perawat ataupun dokter.


Dodi melangkahkan kakinya, Ke belakang ia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Tak percaya melihat sama mamah seperti itu lagi, karena ulahnya sendiri.


Anak kecil itu mulai berlari menuju taman rumah sakit, ia duduk melihat kolam yang terdapat ikan-ikan kecil tengah berkerumun, seakan semua ikan itu menatap dirinya yang tengah bersedih sendirian.


Dodi yang masih tidak tahu apa-apa, muraih batu kecil yang berada di samping kirinya. Dodi melemparkan batu kecil itu ke arah ikan-ikan yang berkerumunan di dalam air.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba seseorang meraih lengan tangan Dodi, membuat Dodi tak bisa melemparkan batu kerikil pada kolam ikan didepan matanya.


"Jangan lakukan itu?"


Dodi yang mendengar perkataan orang yang berada di belakangnya, memberanikan diri untuk menatap kearah orang itu.


Orang itu tersenyum mengajak Dodi untuk pergi, dengan kepolosan Dodi, Dodi langsung mau diajak oleh orang yang belum ia kenal.


*********


Rudi dan Bu Sumyati tidak menyadari bahwa Dodi, pergi entah kemana? Mereka hanya memperhatikan Ami yang tengah meringis kesakitan.


Setelah memanggil dokter dan para perawat untuk segera mengecek Ami. Bu Sumuati sempat ingat dengan cucunya sendiri.


Ia melihat kearah sofa ruangan rumah sakit, dimana Dodi yang selalu duduk di sofa itu, kita tidak ada.


"Dodi."


Bu Sumyati yang melihat Rudi, tengah sibuk dengan dokter dan juga para perawat. Membuat Bu Sumiati tidak mengatakan bahwa Dodi tiba-tiba tidak ada diruangan Ami.


Wanita tua itu berlari ke luar ruangan untuk mencari cucunya.


Setiap orang yang melintas dihadapannya, membuat Bu Sumyati terus bertanya."


Mereka menggeleng-gelengkan kepala, tak melihat anak seperti yang diceritakan Bu Sumyati, wanita tua itu, tak putus asa. Ia mulai merogoh tas mengambil sebuah ponsel memperlihatkan poto Dodi pada pengujung rumah sakit.


"Maaf, bu. Kami tidak melihat anak ini, lewat di hadapan kami."


Wanita tua itu terus berjalan mengelilingi Rumah Sakit hanya untuk mencari cucunya.


"Dodi, kamu dimana. Nak."


Air mata kini mulai keluar dari pelipis kedua mata Bu Sumyati, ia tidak menemukan keberadaan Dodi dari tadi.


Satu satpam mendekat ke arah, Bu Sumyati dan bertanya," ibu, kenapa?"


Bu Sumyati masih dengan isak tangisnya, ia perlahan mulai menceritakan ada apa dengan dirinya.


"Cucu saya, hilang. Pak, bapak bisa mencari keberadaan cucu saya?"

__ADS_1


"Bagaimana ciri-ciri cucu ibu, dan apa ibu mempunyai potonya?"


Pak Satpam yang bertanya pada Bu Sumyati, membuat wania tua itu menujukan poto cucunya.


"Ini poto cucu saya, pak. Dia pergi sepuluh menit yang lalu, ketika saya sedang sibuk mencari bantuan para perawat dan juga dokter."


"Ya, sudah. Ayo kita cari, lewat rekamanan cctv. "


Bu Sumyati di bawa oleh pak satpam rumah sakit menuju ruangan pengecekan cctv, dimana banyak sekali rekaman cctv di ruangan itu.


"Bisa ibu katakan, dimana kejadian hilangnya cucu ibu?"


Bu Sumyati menujukan arah tempat di mana ruangan dirinya berada, sampai satpam penjaga itu memperlihatkan rekaman yang mengarah pada ruangan Ami. Memutarkan waktu ke arah jam sebelum kejadian Dodi hilang.


Raut wajah Bu Sumyati begitu ketakutan, hatinya cemas sekali.


"Ibu, tenang dulu, ya. Kami akan menemukan cucu ibu segera mungkin."


Layar cctv terlihat, dimana Dodi yang berdiri. Melihat kepanikan sang papa. Menangis berlari sendiri, menuju taman.


Bu Sumyati tak menyangka dengan Dodi yang menangis seperti itu, seakan rasa bersalah menghantui pikiran Bu Sumyati.


"Maafkan nenek, Dodi."


Hingga di Mana Dodi diajak pergi oleh seorang lelaki yang entah Bu Sumyati tidak kenal, lelaki itu memakai baju berwarna putih seperti dokter pada umumnya.


"Cucu Ibu dibawa oleh seseorang yang berseragam seperti dokter, saya kok baru melihat ya seragam putih yang lecek seperti itu." Ucap Pak Satpam sedikit bergidik geri.


Bu Sumyati bertanya?" Apa tidak ada daptar nama dokter di rumah sakit ini?"


Pak Satpam menjelaskan bahwa dokter yang bertugas di rumah sakit ini, ia hapal semua nama-namanya. Hanya saja dokter yang berpakaian lecek dan kotor seperti itu Pak Satpam tidak pernah tahu.


Apalagi dengan gaya rambut yang memperlihatkan, gaya rambut jaman dulu. Pak Satpam mengusap bulu kunduk dengan tangan kanannya, dan berkata," apa orang itu hantu ya?"


Satu tepukan datang dari pak satpam lainnya." Hantu-hantu emang ini tanah kuburan apa, mana ada hantu di siang bolong kaya gini."


Bu Sumyati, menyuruh pak satpam untuk memutar rekaman cctv lagi. Tapi bukan untuk melihat Dodi, melainkan lelaki yang mengajak Dodi saat berada di taman.


"Coba liat, lelaki itu awal peratama mengajak cucu, ibu. Dia habis keluar dari ruang mayat."

__ADS_1


Pak Satpam nampak ketakutan dengan apa yang ia lihat.


Sedangkan Bu sumyati terus menyelidiki siapa lelaki yang membawa cucunya.


__ADS_2