Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 302 Ami datang


__ADS_3

Sarah hanya terdiam saat Rudi mengatakan perkataan yang membuatnya kesal.


 


Suster mulai berucap,” Pasien ibu Sarah. Sudah mulai tahap penyembuhan.”


 


Setelah sembuh total Sarah akan di bawa lagi ke kantor polisi.


 


Sarah hanya mengepalkan kedua tangannya, ia tak bisa apa-apa. Hanya bisa menjalani nasibnya di dalam penjara, tapi dirinya puas sudah membuat rumah tangga Rudi hancur.


 


“ Ke mana Si Mbok dan Pak Tio?” tanya Sarah.


Orang-orang di sana saling menatap satu sama lain dan berkata,” Mereka sudah masuk ke dalam penjara.”


 


Deg ....


Sarah yang mendengar perkataan itu langsung berucap dengan lantang,” kenapa?”


 


Pak Polisi langsung menerangkan semuanya, Sarah yang mendengar semua itu terkejut. Apalagi saat mendengar bahwa selama ini Sarah kehilangan anaknya karna ulah Pak Tio.


 


Rudi yang mendengar semua penjelasan pak polisi hanya bisa berucap,” Sarah. Sadari akan kesalahanmu sendiri.”


 


Rudi kini keluar dari ruangannya, waktu sudah menujukan pukul 8 pagi di mana Rudi harus segera pulang ke rumah.


 


Ia merasakan rasa lemas tak tertahan, membuat  kepalanya terasa sangat pusing. Kedua kaki bergetar hebat.


 


Suster yang melihat Rudi berjalan sempoyongan, kini mulai membantu lelaki itu.


 


“Bapak, tidak kenapa- kenapa?” Tanya sang suster yang membantu Rudi untuk berdiri tegak.


 


Tangan kanan Rudi memegang kepala dan berkata,” sa- ya.”


 


Tubuh lemas Rudi tak mampu bertahan kembali ia langsung terduduk lesu.


“Pak, sebaiknya kita ....”


 


Belum perkataan suster terlontar semuanya, Rudi langsung jatuh pingsan. Membuat suster langsung panik berteriak-teriak meminta pertolongan.


 


Para suster dan perawat di sana langsung menolong Rudi,  membawa Rudi masuk ke ruangan.


 


Ada apa dengan Rudi?


 


@@@@@@


 


Setelah menerima pesan dari sang suami tadi malam,  kini Ami mulai  gelisah. Karna jika Rudi berkata pagi, pasti dia akan pulang pada saat itu juga. Tapi kenyataannya Rudi belum juga pulang.


 


Waktu sudah menujukan pukul 9 pagi. Rudi belum juga pulang  membuat rasa kuatir pada diri Ami.


Saat itulah Ami mulai mencari keberadaan Rudi.

__ADS_1


Dirinya sangat penasaran di mana Rudi, kenapa dia belum kembali juga?


 


“Mama, mau ke mana?” tanya Dodi.


 


“Mamah buru-buru, ada urusan kamu sama nenek dulu ya!” jawab Ami.


 


Tanpa basa basi Ami ke luar dari rumahnya untuk segera mencari keberadaan Rudi.


 


Mengendarai mobil sendiri, Ami dengan terburu-buru pergi.


Di dalam mobil.


 


Ponsel Ami bergetar, saat itulah ia mulai mengangkat panggilan telepon yang di mana bertuliskan nama Rudi.


 


Dengan mengendarai mobil Ami langsung, mengangkat panggilan dari suaminya itu.


“Halo, pah.”


“Maaf bu, saya suster Amelia dari rumah sakit. Hanya ingin memberitahu jika suami ibu sedang di rawat.”


 


Deg .....


 


Hati Ami terasa tak karuan saat ia mendengar jika sang suami tengah di rawat, air matanya mengalir deras.  Membuat ia ingin terburu-buru menghampiri Rudi di rumah sakit.


 


“Halo.”


 


 


“Halo, ya. Saya akan ke sana sekarang.”


 Setelah sampai di rumah sakit. Ami berlari menanyakan dimana ruangan sang suami saat itu juga, kepada para suster yang berjaga di rumah sakit.


 


Dengan air mata  yang terus mengalir mengenai pipi, Ami tak sadar akan wajahnya yang sudah basah dengan air mata.


 


Setelah mendapatkan info dari sang suster, saat itu juga Ami mulai berjalan ke ruangan Rudi.


Melihat pada kaca, selang infusan menempel pada tangan Rudi. Lelaki yang menjadi suaminya itu terbaring lemah dengan wajah pucat dan juga badan yang begitu kurus.


 


Kakinya kini melangkah masuk ke dalam ruangan, mendekat ke arah sang suami. Kedua lutut Ami seakan lemas melihat Rudi yang tak terawat.


 


“Ya Tuhan, selama ini aku sudah membuat suamiku menderita.”


 


Ami terus saja menangis merasakan rasa bersalah pada dirinya.


“Papah, bangun. Pah.”


 


Tangan putih Ami mulai memegang kepala Rudi,  mengusap secara perlahan. Hatinya benar-benar hancur, bibir tipis Ami mulai mencium kening Rudi dan berkata.” Maafkan aku, pah.”


 


Rudi mulai membuka kedua matanya secara perlahan, melihat wanita di sampingnya menangis. Tangan kanannya  mulai bergerak menyentuh kepala Ami, mengusap perlahan.


 

__ADS_1


“Mamah.”


 


Panggilan Rudi membuat Ami bangkit, menatap sang suami dan berucap,” papah bangun.”


 


Pelukan erat kini Ami layangkan, tetasan air mata terus saja menetes pada kedua mata Rudi.


 


“Maafkan mamah, pah.”


 


Rudi tersenyum kecil, seraya berkata,” kenapa meminta maaf. Mamah tidak salah.”


 


Tangisan Ami mulai terdengar keras, membuat Rudi mengusap perlahan kepala Ami.


 


“Harusnya mamah tidak mengabaikan, papah. Gara-gara ....”


 


Belum ucapan Ami terlontar semuanya, Rudi langsung berucap dengan nada lembut.” Kamu tidak salah sayang.”


 


Rudi mulai menanyakan ponselnya, saat suster datang tiba-tiba.


 "Suster, ponsel saya di mana, ya?" tanya Rudi pada suster Amelia.


"Maaf Pak Rudi, ini ponselnya!" jawab suster Amelia. Menyodorkan ponsel Rudi pada saat itu juga.


Ami mulai melepaskan pelukannya dari Rudi, ia mulai bertanya," untuk apa, pah?"


"Papah, sudah punya bukti bahwa ...."


Belum perkataan Rudi terlontar, Ami langsung meraih ponsel Rudi dan berucap," lupakan tentang ucapan mamah, sekarang mamah tak peduli. Mamah ingin mengurus papah dengan baik."


Suster langsung berpamitan kepada Ami dan Rudi, merasa tak enak jika mendengar masalah pribadi mereka.


"Saya, permisi dulu."


Sang suster mulai menutup ruangan Ami pada saat itu, suster Amelia berjalan dengan cepat. Ia tak mau menganggu obrolan kedua insan di dalam ruangan.


Rudi tersenyum, ia mulai bangkit dari tidurnya.


"Papah jangan bergerak dulu."


Rudi memaksakan diri untuk duduk, meraih tangan Ami. Mendekatkan pada dada bidangnya.


Rudi menatap ke arah wajah sang istri dengan begitu tajam.


"Sekarang mamah percaya pada papah."


kedua mata Ami menunduk, membuat Rudi memegang dagu sang istri.


"Papah, tanya kembali. Apa mamah percaya akan perkataan papah?"


Ada rasa ragu dalam hati Ami, tapi Ami berusaha yakin dan percaya akan ucapan Rudi.


"Sayang, dengarkan dulu papah. papah tidak mau mamah mempercayai papah karna keterpaksaan, karna melihat keadaan papah yang seperti ini."


Ucapan Rudi membuat Ami menelan ludah, " sebenarnya ..."


"Sebenarnya kenapa?" tanya Rudi. Berharap Ami mengatakan semua yang ada pada hatinya, walau pun kekesalan yang terdengar oleh kedua telinga Rudi.


tangan kanan Rudi mulai memegang pinggang Ami membuat tubuh Ami semakin dekat, " ayo katakan."


"Emh."


" sebenarnya hati Mama masih kesal dengan video yang Sarah kirim kepada ponsel, papah. Mamah masih merasakan rasa sakit hati karna melihat wajah Papah yang terpasang dalam video itu. Mama berusaha menerima tapi hati tidak bisa dibohongi, rasanya sakit."


Ucapan Ami membuat Rudi tersenyum, saat itulah Rudi mulai mengambil ponsel yang berada pada tangan Ami.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2