Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 129


__ADS_3

Sisi hanya bisa menenangkan Bu Ira, dengan mengusap pelan kedua bahunya. Merasakan rasa sakit pada wanita tua itu karna ucapan Arsyla, yang begitu menyakitkan.


"Sudahlah, bu. Arsyla tidak pernah berubah dari dulu, dirinya tak pernah menerima apapun yang sudah terjadi. Dia terlalu engois," timpal Sisi. Membawa Bu Ira untuk menaiki mobil.


Suara kelakson berbunyi, terdengar begitu nyaring. Membuat Sisi membawa Bu Ira. Tanpa memperdulikan lagi Arsyla.


Bu Ira dan Sisi masuk ke dalam mobil, mereka sudah tak sabar ingin bertemu dengan Pak Ardan.


Apalagi dengan Arpan, lelaki yang mengira ayahnya sudah meninggal dunia.


Di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Bu Ira bertanya tentang ke adaan Ami istri Rudi.


"Gimana ke adaan Ami di sana, Si?" tanya Bu Ira, dengan melihat ke arah mobil yang melintas. Bersebrangan jalan.


"Keadaan Ami begitu kritis!" jawab Sisi. Melirik ke arah Bu Ira sekilas.


"Apa kamu, memberitahu pada Delia dan juga Alan?" tanya Bu Ira.


Sisi hampir melupakan, bagaimana kabar Alan dan Delia sekarang. Karna kesibukannya, ia hampir lupa dengan mereka.


"Sejauh ini, aku belum mengabarkan kepada Alan dan Delia. Nomor mereka tidak aktif!" jawab Sisi.


"Apa kamu yakin nomor mereka tidak aktif sampai sekarang?" tanya Arpan yang tengah menjalkan mobil.


"Sudah aku hubungi dari kemarin, tapi nomor mereka mendadak tidak aktif, jadi aku tidak tahu kabar mereka sekarang. Apalagi aku tidak sempat menjenguk mereka berdua dan tidak tahu perkembangan anak Delia dan Alan!" jawab Sisi.


"Ada apa dengan mereka, tumben sekali. Mereka seperti ini," ucap Arpan. Dalam sebuah pertanyaan yang membuat dirinya bertanya-tanya.


***********


Saat di dalam rumah, Arsyla hanya diam duduk tanpa melakukan apa-apa. Dia terus mencerna perkataan Sisi dan ibunya.


"Apa aku harus menyusul mereka berdua. Agar tahu keadaan Ayah Ardan, tapi mana mungkin. Aku masih kesal dengan dirinya. Walau dia ayahku."


Arsyla yang penasaran, langsung bersiap-siap untuk datang ke rumah sakit jiwa. Ia bergegas mengikuti ponsel sang ibu yang sudah terhubung dengan ponselnya.

__ADS_1


***********


Perjalanan Arpan dan Sisi sudah sampai di depan rumah sakit jiwa, mereka segera menginjakan kaki masuk ke dalam ruangan rumah sakit jiwa itu.


Para perawat yang sudah mengetahui Bu Ira, langsung mengijinkannya untuk menemui Pak Ardan.


Sesaat masuk ke ruangan di mana Pak Ardan tengah terdiam, memainkan jari tangannya pada tembok seperti orang yang tengah menulis sesuatu.


Arpan yang melihat sang ayah, menitihkan bulir bening perlahan demi perlahan.


Bu Ira memegang legan tangan Arpan, untuk segera menghampiri sang ayah.


" Temuilah ayahmu sekarang, nak. Mungkin dia rindu padamu."


Arpan menatap pada raut wajah sang ibu, dan mulai berjalan menuju sang ayah. Saat itu Arpan tidak perduli jika ayahnya mengenali dirinya atau tidak, yang ia inginkan sekarang membawa ayahnya pulang ke rumah. Untuk bisa berkumpul bersama-sama.


"Ayah," panggil Arpan. Membuat lelaki tua itu, membalikan wajahnya ke arah Arpan yang tengah berdiri. Ia mengkerutkan kedua alisnya seraya menatap tajam, siapa lelaki yang berani memanggil dirinya dengan sebutan ayah.


Arpan mulai mendekat duduk berdampingan dengan Sang Ayah dan bertanya?" Apa ayah masih mengigat anakmu ini."


Pak Ardan, menyampingkan wajahnya saat Arpan berkata seorang anak. Entah memang kebetulan atau tidaknya, Arpan melihat air mata berlinang keluar dari pelipis mata Pak Ardan.


"Ayah, tahu tidak. Arpan bersyukur sekali bisa bertemu dengan ayah di sini," ucap Arpan. Tidak ada perkataan yang terlontar dari mulut sang ayah, Pak Ardan hanya terdiam dan mulai mencerna perkataan Arpan pada otaknya.


Dari kejauhan Bu Ira masih dengan tatapan yang sama, masih memperhatikan Pak Ardan dengan memainkan jari jemarinya pada tembok tanpa memperdulikan perkataan Arpan.


Menutup mulut, sedih yang dirasakan Bu Ira saat ini.


Hatinya sakit sekali. Karna melihat orang yang di cintainya rela menderita sampai sekarang.


"Bu, kenapa ibu tidak menghampiri mereka berdua?" tanya Sisi. Memegang bahu wanita tua itu.


Bu Ira yang melipatkan kedua tangan berucap," biarkan mereka saling menyapa satu sama lain tanpa ada gangguan dari ibu."


Sisi mengerti apa yang dikatakan Bu Ira saat itu, sampai dia tidak berani lagi bertanya.

__ADS_1


Di saat itu, ternyata Arsyla datang mengintip dari kejauhan. Melihat Arpan sedang mendekat pada ayahnya.


Arsyla hanya bisa bersembunyi di balik tembok rumah sakit, mengintip perlahan agar orang tidak mengetahuinya.


Sisi mulai menyadari kedatangan Arsyla pada saat itu, ia meminta ijin pada Bu Ira untuk beralasan pergi ke toilet.


"Bu, aku ijin ketoilet sebentar, ya."


Setelah ijin pamit ke toilet. Sisi memutarkan jalan menuju ke toilet, padahal dirinya ingin menemui Arsyla yang tengah mengintip.


Sudah sampai di punggung belakang Arsyla, Sisi mulai menepuk bahu Arsyla dengan tangan kanannya. Membuat Arsyla seketika kaget dan berbalik arah kehadapan Sisi.


"Loh, Mba Sisi ada di sini?" tanya Arsyla. Salah tingkah.


"Mba di sinikan mau melihat ayah kamu! Sedangkan kamu ngapain ngintip-ngintip di sini ayo!?" jawaban Sisi membuat, Arsyla terdiam.


"Aku hanya ing-i-n ...," belum perkataan yang di ucapkan Arsyla terlontar semua. Sisi langsung menarik lengan tangan Arsyla, membawanya ke tempat di mana Bu Ira tengah memperhatiKan Arpan yang mengajak mengobrol pada ayahnya.


"Mba, jangan tarik-tarik lenganku sakit," rengek Arsyla. Menahan malu karna ketahuan mengintip.


"Jangan manja deh, Arsyla. Ayo kita temui papa kamu," sahut Sisi. Menarik lengan tangan Arsyla.


Setelah sampai di depan sang ibu, Sisi melepaskan lengan tangan Arsyla di hadapan sang ibu. Membuat wanita tua itu tertohok kaget, sembari menutup mulutnya yang tiba-tiba mengagah.


Sedangkan Arsyla yang sudah di hadapan sang ibu hanya menundukan pandangan karna rasa malu, atas dirinya yang datang dan mengintip.


"Arsyla sejak kapan kamu ada di sini?" tanya sang ibu. Masih tak percaya dengan anaknya yang sudah datang tak jauh beberapa lama.


Sisi angkat bicara dengan adanya Arsyla." Dari tadi, bu. Arsyla hanya mengintip di balik tembok di sana."


Sisi tak segan-segan menujuk, Arsyla yang mengintip dari kejauhan. Membuat Arsyla merasa malu sendiri.


"Apa setelah kamu ke sini, kamu tidak mau menghampiri ayahmu, seperti Arpan yang dari tadi mengobrol dengan ayahnya," ucap Bu Ira. Arsyla hanya melirik ke arah Arpan dan ayahnya yang tengah mengobrol.


"Nanti nyesel loh, setelah ini enggak ketemu ayah," sindir Sisi.

__ADS_1


Bu Ira memagang lengan tangan anaknya, menganggukan kepala dan berkata," temuilah."


Pada saat itu Arsyla menghempaskan tangan sang ibunya tiba-tiba sekali.


__ADS_2