Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 120


__ADS_3

Tangan kekar Rudi kian bergetar saat mendengar berita tentang istrinya yang masuk ke rumah sakit lagi, Rudi takut ini menjadi akhir cerita dirinya.


"Ami bertahanlah, aku akan pergi ke sana. Menemuimu sayang."


Rudi telah sampai di sebuah hotel yang ia tempati selama tiga hari ini, dengan mundar mandir ke sana kemari. Hanya untuk memesan tiket, tapi apa daya tiket yang di pesan Rudi telah habis.


Ada amarah yang membara pada hati lelaki berbadan kekar itu, ia malah menendang botol minum yang tergeletak di atas lantai.


"Sial, tidak biasanya. Tiket habis seperti ini, ahk. Apa yang terjadi."


Rudi hampir putus asa, ia mulai mencari ke bandara agar mendapatkan tiket dengan segera. Tapi itu tidak mudah harus ada pemesanan dari awal.


Jari kekarnya kian mengetik-ngetik tombol dalam ponsel, berharap ponsel Ami aktip kembali.


Tutt ....


Akhinya panggilan telepon pun di aktipkan, dimana suara Dodi terdengar nyaring.


"Papa."


Panggilan dari suara Dodi mampu membuat Rudi senang, ia dengan histerisnya bertanya pada sang anak.


"Hallo, Dodi. Kamu tidak kenapa-kenapa kan?"


"Iya pa, Dodi enggak kenapa-kenapa. Tapi mama, sudah dua hari tidur terus."


Ucapan seorang anak mampu membuat hati Rudi sedikit sakit, mendengar Dodi berkata bahwa mamanya tengah tertidur.


"Sekarang kamu dengan siapa, Dodi?"


Rudi begitu kuatir bertanya pada Rudi. Sekarang dia tengah bersama siapa di ruangan rumah sakit.


"Papa jangan kuatir, Dodi sama nenek di sini."


Ada rasa lega pada hati dan pikiran Rudi saat ini, setelah mendengar Dodi di temani sang nenek.


"Dodi baik-baik, di sana. Ya. Papa bentar lagi pulang ko."


"Iya pah."


Sambungan telepon pun di matikan sebelah pihak, dimana Rudi bersiap-siap untuk pergi ke bandara.


Dengan nekadnya tanpa mempunyai tiket.


**********


Setelah menenangkan Arsyla. Bu Ira tampak kuatir terhadap Rudi, dimana dia tidak mempunyai tiket dan berani untuk pulang.


"Arpan, kenapa kamu tidak cegah Rudi?" tanya Bu Ira.


Sisi yang merasakan apa yang di rasakan Bu Ira kini menelpon Rudi.


"Panggilan pada Rudi tidak aktip."


Begitu pun dengan Arpan. " Aku sudah mencegah dia bu. Tapi Rudi tetap keras kepala!"


"Mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa dengan Rudi."


"Iya Bu."


Obrolan tentang Rudi kini beralih pada Arsyla dan Rafa.


Bu Ira yang bingung di buat dengan Arsyla yang keras kepala.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti dengan Arsyla, dia yang sudah merelakan dirinya menikah dan sekarang malah menolak. Bagaimana jika Rafa tahu, bahwa Arsyla terpakas menikah dengan Rafa."


"Ibu tenang saja. Kita tidak usah membatalkan pernikahan Arsyla, kita teruskan saja. Mudah-mudah setelah menikah Arsyla berubah."


"Itu yang di harapkan Ibu sekarang juga, tapi bagaimana, jika ...."


Belum perkataan terlontar dari mulu Bu Ira, Sisi langsung menenangkan Bu Ira." Ibu jangan berpikir negatip, sekarang lebih baik kita bujuk lagi Arsyla. Agar hatinya luruh."


Dengan kata-kata lembut yang terlontar dari mulut Sisi. Kini Bu Ira sedikit tenang, untuk menghadapi sifat Arsyla yang plin plan.


Tok ... tok.


Ketukan pintu terdengar dari depan rumah, dimana Arpan langsung membuka pintu rumahnya.


Saat di lihat ternyata itu adalah, Rafa.


"Arsyla ada, ka Arpan."


"Ada."


Arpan menyuruh Rafa untuk masuk ke dalam rumah.


Bu Ira langsung tetohok kaget saat Rafa datang.


"Rafa ingin menjelaskan sesuatu pada kalian semua."


"Jelaskan apa Rafa."


"Tentang pernikahan saya bersama Arsyla."


Ternyata mereka saling berunding, membuat satu rencana besar, entah apa rencana itu hanya mereka yang tahu.


"Bagaimana?" Tanya Rafa pada keluarga yang berada di sana.


Di tengah kebingungan yang melanda Bu Ira tak menyangka jika Rafa lelaki yang baik dan bijak. dalam segala masalah.


"Maafkan ibu, yang awalnya menganggap kamu lelaki jahat Rafa," ucap Bu Ira. Terseyum kecil pada lelaki yang akan menjadi calon menantunya.


Bu Ira memegang punggung tangan Rafa, dengan lebut. Tangisan mulai pecah di kala itu.


Dimana Sisi berani berkata tentang Nama Ardan.


"Pernikahan Arsyla ketika di gelar nanti, apakah butuh seorang ayah."


Deg .... Bu Ira langsung berkata," maksud kamu Sisi."


"Arsyla bukannya masih mempunyai seorang ayah kan?"


"Ayah, Si. Ayah Arsyla sudah meninggal."


"Benarkah?"


"Iya!"


Bu Ira terdiam pilu, ia berguman dalam hati, kenapa perkataan Sisi seperti itu.


Tiba-tiba saja Rafa bergegas pamit untuk pergi. Karna banyak urusan di kantor.


"Bu saya pamit dulu ya."


Sisi terdiam tak bertanya lagi.


Namun, setelah kepergian Rafa, Sisi bertanya lagi.

__ADS_1


" Apa Bu Ira mengerti maksud perkataanku?"


Arpan yang mendengar Sisi terus bertanya membuat dirinya angkat bicara.


"Apa maksud yang kamu katakan, Sisi. Kenapa tidak langsung ke intinya saja?"


"Apa, kamu akan siap mendengar kenyataannya. Mas. Dari mulut orang lain, bukan dari mulut Bu Ira sendiri?"


Bu Ira menundukan pandangan, ia bingung dengan cara apa wanita tua bisa mengalihkan perkataan Sisi.


Sesaat, Bu Ira berpura-pura pingsan.


Sontak Sisi dan Arpan begitu kaget. Membuat mereka bergegas membantu Bu Ira.


Sisi menunggu Bu Ira bangun, dengan teletennya, Sisi melihat ke arah raut wajah Bu Ira.


"Sudahlah bu, jangan berpura-pura pingsan," ucap Sisi. Pada wanita tua yang terbaring di atas kasur.


"Tak usah, berpura-pura lagi. Sudah cukup pingsannya."


Bu Ira terbangun dan berkata," dari mana kamu mengetahui rahasia ibu."


Perkataan mulai tertuju pada inti permasalahannya.


"Dari mana aku mengetahuinya, itu tidak penting. Yang terpenting sekarang ibu berkata juju."


"Saya tidak mau."


"Ibu jangan engois, kalau ibu engois. Ibu sama saja menyakiti hati kedua anak-anak ibu."


"Saya tidak perduli."


"Saya hanya mengigatkan, selebinya biar ibu bisa berpikir dengan jerni. Mengedepankan perasaan dari pada rasa egois."


Bu Ira masih terdiam, saat itulah Sisi pamit untuk keluar dari dalam kamar.


**********


Rudi yang sudah sampai di bandara kini terdiam pilu, memikirkan cara untuk membeli tiket orang lain.


Namun, ternyata begitu susah, tidak ada yang mau membantunya.


Panggilan telepon dari Dodi anaknya.


"Papa, dimana sekarang?"


"Papa lagi di bandara sayang lagi nunggu pesawat!"


"Ya sudah papa hati-hati ya."


"Iya sayang."


Telepon pun di matikan sebelah pihak, hingga dimana ia duduk ada satu satpam datang menghampirinya.


Dia menyodorkan satu lembar tiket pada Rudi.


Betapa senangnya Rudi. Ia langsung melihat ke arah satpam itu dan berkata," ini untuk saya pak?"


Dengan gagahnya pak satpam memberikan tiket itu kepada Rudi.


Rasa bahagia tercampur aduk mejadi satu, dimana Rudi menangis meneteskan air mata rasa sykurnya.


"Kenapa bapak mau menolong saya?" tanya Rudi.

__ADS_1


__ADS_2