
Dengan perlahan Arsyla mulai berkata dengan jujur," Aku telah diperkosa."
Seorang ibu mana yang akan tega mendengar anaknya di lecehkan, rasanya benar-benar sakit hati.
"Siapa yang tega melakukan semua itu?"
Tanya Bu Ira begitu serius. Arsyla hanya terdiam, tak menjawab pertanyaan ibunya.
"Ayolah, Arsyla jawab?"
Wanita berbulu mata letik berhidung mancung itu malah, menangis ia seakan enggan mengatakan semuanya.
"Ibu akan penjarakan, lelaki yang telah melecehkanmu itu."
Raut wajah Arsyla menundukan pandangan, ia tak sanggup berkata kejujuran.
Bu Ira langsung mengoyang-goyangkan badan anaknya dan berkata," kenapa kamu diam saja. Arsyla, ayo jawab."
Bagaimana bisa Arsyla hanya diam saja, sedangkan Bu Ira dan Sisi terus mendesak dirinya.
"Dia adalah sahabatku, Rafa."
Bu Ira menangis begitu terdengar keras oleh Arpan. Bagaimana bisa masa depan anaknya hancur hanya karna lelaki yang tega melakukan semua ini pada Arsyla.
"Lebih baik, aku yang mandikan kamu, ya. Arsyla."
Karna tak tega Sisi mengantikan peran Bu Ira. Memandikan Arsyla saat itu.
"Yang sabar, ya."
Tangisan Arsyla terhenti, saat ia sudah mengatakan semuanya. Rasanya lega, setelah mengatakan kejujuran walau mungkin itu menyakitkan.
********
Sisi mengusap pelan tubuh yang penuh luka pada area tubuh Arsyla. Betapa tega seorang pria melakukan perbuatan keji semacam ini.
"Apa dia kekasih kamu?" tanya Sisi. Dengan lembut sembari membilas sabun yang masih menempel pada tubuh Arsyla.
"Bukan!" jawab Arsyla pelan, ia menundukan pandangan. Malu dengan dirinya sendiri.
"Coba kamu melihat kearahku, Arsyla," ucap Sisi. Berharap Arsyla mau menatap kearah dirinya.
"Aku malu," ucap Arsyla. Tiba-tiba ia menangis, terisak-isak di hadapan Sisi.
"Kenapa kamu harus malu?" tanya Sisi. Dengan menyakini Arsyla agar percaya diri.
"Maafkan aku, Mba Sisi!"
Jawaban Arsyla membuat hati Sisi senang, rasanya seperti mimpi, saat Arsyla berkata seperti itu.
Sisi mulai meneteskan air matanya perlahan, membuat rasa hati tak tega dengan masa depan Arsyla saat ini.
"Kamu harus sabar, Arsyla. Bagaimanapun keadaanmu. Kamu harus kuat."
Kata semangat datang dari Sisi untuk Arsyla, Seyuman Arsyla, mulai terpancar dari bibirnya. Ia seakan senang dengan apa yang dikatakan Sisi.
Bu Ira berdiri, membantu Arsyla saat itu.
Wanita berbulu mata lentik itu mulai merangkul pundak Bu Ira dan Sisi.
__ADS_1
Wanita tua itu masih terdiam pilu menyaksikan Arsyla, dengan bekas cambukan di sekujur tubuhnya. Untuk. mengusap pelan tubuh anaknya, Bu Ira hanya memakai handuk kecil perlahan-lahan agar rasa sakit yang dirasakan Arsyla tidak terlalu parah.
"Maafkan, ibu ya. Sayang. Ibu gagal menjaga kamu," ucap Bu Ira yang duduk di samping anaknya.
"Ibu, tidak salah. Aku yang salah selama ini, tak pernah nurut perkataan, ibu," ucap Arsyla.
Sisi mendekat kearah mereka seraya berkata," ayo bu, kita pakaikan. Arsyla baju."
Seyuman pada gadis berbulu mata lentik itu, kini merekah. Beban yang dirasakan Arsyla sudah sedikit berkurang.
************
Arpan masih menunggu di ruang tengah dengan bulak balik kesana kemari, ia tampak resah. Belum melihat Arsyla keluar kamar.
Hingga suara ponsel bergetar.
Pesan dari Rudi datang.
[Aku sedang dalam perjalanan menuju kesana.]
[Oke. Aku sudah siapkan kamu kamar hotel untuk di tempati. ]
[Oke.]
Rudi sudah datang, Arpan berharap Rudi bisa membantu dirinya saat ini.
Sesaat menunggu di balik pintu kamar Arsyla, Sisi keluar dengan Bu Ira. Arpan yang panik lagsung menanyakan tentang keadaan Arsyla saat itu.
Bu Ira hanya menundukan pandangan dengan mata yang sudah memerah karna habis menangis, sedangkan Sisi menempelkan telunjuk jari tangannya pada Arpan agar tidak dulu bertanya.
Arpan langsung terdiam, Sisi langsung menarik lengan tangan suaminya untuk segera masuk ke dalam kamar.
"Sebenarnya Arsyla kenapa? Apa yang kita pikirkan tidak terjadikan dengan Arsyla.
Sisi menatap raut wajah suaminya seraya berkata," apa kamu akan tegar, mendengar apa yang akan aku katakan."
"Tentu."
"Arsyla diperkosa."
Deg .... Pernyataan Sisi membuat Arpan terhentak kaget, ia tak meyangka apa yang di pikirkannya di ruang tengah benar-benar terjadi oleh Arsyla.
"Apa kamu tidak sedang berbohong, Sisi?"
Arpan membalikan badan, ia masih ragu dengan ucapan istrinya.
"Arsyla mengakui semuanya!"
Kedua tangan Arpan mengepal begitu erat kesal dengan apa yang terjadi dengan Arsyla. Sejahat apapun Arsyla, Arpan tetep menyayanginya sebagai adik kandungnya sendiri.
Hati Arpan rasanya kian rapuh ia langsung bertanya pada Sisi saat itu," siapa orang yang sudah memperkosa Arsyla?"
"Dia adalah teman Arsyla yang sudah memberikan pinjaman uang untuk Arsyla!"
"Arsyla untuk apa dia memijam uang sampe puluhan juta dan ujung-ujungnya menderita."
Arpan mengusap kasar wajahnya. Seraya bertanya lagi pada istrinya.
"Siapa nama lelaki itu."
__ADS_1
"Rafa."
"Aku harus mencari tahu besok tentang lelaki bernama Rafa itu."
"Tapi, kamu harus hati-hati, ya. Sayang."
Arpan menganggukan kepala seraya menjawab," iya, sayang."
Mereka melanjutkan untuk tidur dan mengistirahatkan badan agar rileks.
************
Bu Ira, mengambil satu pisau yang berada di laci. Pisau yang sudah lama ia simpan.
"Rafa, anak itu. Aku kira dia adalah anak baik, tapi dia sudah melakukan hal yang tidak pantas pada anakku. Ini tidak boleh di biarkan."
Bu Ira, merencanakan mencari Rafa ke rumahnya sendirian, wanita tua itu sudah merencanakan pembunuhan untuk Rafa. Karna telah menghancurkan masa depan anaknya.
Disisi lain Arsyla yang tengah terbaring tak sadarkan diri tertidur dengan berguling ke sana ke mari.
"Jangan ... jangan."
Tiba-tiba Arsyla sudah berada di hutan dengan berjalan pelan, kakinya mengeluarkan darah. Karna ia menginjak ranting-ranting pohon yang tajam dan berserakan.
Dengan lolongan meminta tolong, Arsyla berharap ada yang menolongnya, tapi tidak ada orang sama sekali yang mau menolongnya saat itu.
"Hai, sayangku Arsyla."
Sosok berbadan kekar itu datang menampakan diri di depan Arsyla.
"Rafa. Mau apa lagi kamu."
Arsyla kaget dengan penampakan Rafa, lelaki yang sudah memperkosanya.
Lelaki berambut keriting itu tertawa terbahak-bahak, dengan membawa alat tajam. Yaitu pisau.
"Mau apa kamu."
Langkah kaki Arsyla menjauh dari hadapan Rafa. Melangkah mundur.
"Tentu saja aku ingin membunuhmu sayang?"
"Pergi dari sini!"
"Mendekatlah ke sini sayang?"
Arsyla membalikan badan berlari dengan cepat. Ia ketakutan karna Rafa terus mendekat ke arah dirinya.
"Pergi kamu, jangan mendekat."
Hingga saat Arsyla berlari, melihat sosok bayangan hitam datang menghampiri Rafa dengan membawa pisau, bayangan hitam itu menusukan pisau yang ia bawa pada dada bidang Rafa.
"Ah ...."
Bu Ira langsung menghampiri anaknya.
"Ada apa Arsyla?"
Arsyla menangis seraya berkata," aku bermimpi Rafa akan membunuhku, bu."
__ADS_1
"Kamu harus tenang, sayang. Tidak ada yang akan membunuhmu."