
@@@
Akhirnya Rudi yang tak lengah, bisa mengejar Si mbok yang sudah masuk ke dalam mobil angkutan umum.
Si mbok duduk dengan tenang, sedangkan Rudi sudah menyusul dan duduk di hadapan si mbok.
“Apa kabar, mbok.”
Deg ....
Sapaan Rudi membuat Si mbok kaget bukan main, jantungnya terasa ingin copot.
“Ya tuhan, kenapa bisa laki- laki ini mengejarku dengan cepat.” Gumam Si mbok dalam hati.
Rudi tampak berkeringat, mengejar wanita tua yang begitu cepat berlari. Membuat ia mengusap perlahan keringatnya, dengan napas terengah-engah.
“Kenapa mbok, enggak jawab pertanyaan saya?” tanya Rudi tersenyum menatap ke arah wanita tua itu.
Si mbok hanya diam tak menjawab pertanyaan Rudi, ia memalingkan wajah ke arah samping, tak ingin berucap sepatah kata pun.
“Si mbok cantik, deh.” Ucap Rudi. Menyandarkan dagunya pada telapak tangan, sembari merayu wanita tua di hadapannya.
“Anak ini, bikin aku kesal saja.” Gerutu Si mbok dalam hati.
Kedua pipi wanita tua itu memerah, menahan kesal pada Rudi yang terus menguntil dirinya.
Si mbok menyuruh pak Sopir untuk menjalankan mobilnya, tanpa menatap ke arah depan. Rudi yang melihat semua itu hanya tertawa pelan.
Membuat Si mbok berucap,” kenapa kamu tertawa.”
Rudi mengusap pelan wajahnya, menyenderkan punggungnya. Dan berkata,” bagaimana mau jalan mobil ini, sopirnya pun tak ada di depan.”
Setelah mendengar ucapan Rudi yang seperti itu, Si mbok langsung menatap kearah depan, yang bener saja sang sopir tidak ada di kursinya.
Membuat si mbok sangatlah malu. Sopir itu ternyata berada di luar, tengah menunggu beberapa penumpang yang menaiki angkutan umumnya.
“Si mbok, kenapa? Pipinya kok merah begitu, malu ya.” Rayu Rudi.
Si mbok tak tahan dengan ucapan Rudi, iya mendengus kesal. Keluar dari dalam mobil, berjalan begitu cepat.
Begitupun dengan Rudi, iya juga turun mengikuti langkah Si mbok yang semakin cepat. Membuat wanita itu melihat ke arah sekilas ke arah belakang, yang di mana Rudi terus mengikuti dirimu.
Saat itulah si mbok, memberhentikan langkah kakinya, membalikkan badan ke arah Rudi. Membuat Rudi berhenti mendadak.
“Eh, si mbok. Ketemu lagi,” ucap Rudi tersenyum ramah.
Wanita tua itu melipat kan kedua tangannya, menatap tajam ke arah Rudi,” kenapa kamu terus mengikutiku?”
__ADS_1
Pertanyaan si mbok, membuat Rudi menjawab dengan begitu ramah. Rudi berpura-pura menggaruk belakang kepalanya yang mungkin tak terasa gatal, berusaha bersikap sedikit polos dihadapan wanita tua itu.
“ saya kan tadi bilang di dalam mobil, saya kangen sama si mbok yang sudah lama tidak bertemu. Semenjak Sarah berada di dalam penjara,” ucap Rudi. Merayu kembali wanita tua itu.
“ Hentikan omong kosongmu itu,” balas Si mbok bernada kesal.
“Walah, si mbok. Marah ya, saat saya mengucapkan rasa kangen saya kepada Si mbok,” ucap Rudi yang tak henti menggombali Si mbok.
“Sudah cukup, Rudi. Apa kemauanmu sekarang?” tanya Si mbok. Membuat suatu celah untuk Rudi agar mengetahui keberadaan Sarah saat ini.
“Simpel saja mbok, si mbok pasti menyembunyikan Sarah kan!” jawab Rudi.
Deg ....
Perasaan wanita tua itu seakan tak karuan, saat lelaki di hadapannya bertanya tentang sarah. Yang memang sengaja iya sembunyikan, agar sarah tidak menjadi tahanan kembali di dalam penjara.
“ Mbok? Mbok?”
Lambaian tangan Rudi, melambai ke arah wajah si mbok yang terdiam melamun.
Saat itulah, Rudi mulai memukul sedikit bahu si mbok, membuat wanita tua itu terkejut dan berkata,” aku tidak akan mengatakannya.”
Rudi langsung menempelkan tangannya pada pinggir telinga dan berkata,” si mbok ngomong apa?”
“ sudahlah saya tidak ada urusan dengan kamu, sebaiknya saya pulang memasak sayuran untuk keluarga saya di rumah, daripada harus meladeni kamu yang tak jelas,” gerutu Si mbok.
“Mbok, saya tahu apa yang sekarang si mbok sembunyikan,” ucap Rudi.
Si mbok menghentikan langkah kakinya dan berucap,” terserah.”
Rudi, tentu saja hanya tertawa pelan. Ia sudah menempelkan sebuah benda kecil pada baju si mbok, yang di mana ialah sebuah rekaman.
Si mbok berjalan kembali, mengabaikan Rudi dan pergi begitu saja. Tapi Rudi terus merayu wanita tua itu dan berkata,” mbok hati- hati di jalan.”
Saat itulah Rudi sempat ingat dengan Dodi yang sengaja ia tinggalkan, membuat dirinya panik berlari menghampiri mobil.
Rudi berlari menghampiri mobil yang ternyata Dodi tengah duduk di depan mobil dengan melempari batu kerikil pada jalanan.
Dengan nafas yang terengah-engah, membuat Rudi menepuk dada bidangnya karna terus berlarian.
“Dodi maaf in papah, ya.” Ucap Rudi. Membuat Dodi hanya menganggukkan kepala dan mengajak sang papah untuk pulang. Karna di kuatirkan waktu mulai sore.
Mereka berdua pun segera pulan ke rumah, untuk menemui Ami yang entah masih mengamuk atau sudah membaik.
Di dalam mobil Dodi menatap sang papah, dengan begitu serius dan berkata,” papah ada masalah ya. Sama mama?”
Deg ....
__ADS_1
Ucapan itu terlontar kembali dari mulut Dodi anaknya sendiri, sebenarnya Rudi ingin sekali mengatakan semuanya. Tapi Dodi hannyalah seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa.
“Enggak ada, nak. Perasaan Dodi kali!” jawab Rudi.
Jawaban sang papah selalu begitu membuat Dodi begitu penasaran sekali.
@@@
Sedangkan dengan si mbok yang baru saja pulang, ia langsung bergegas pergi ke dapur melewati jalan belakang rumah.
“Ha, lelahnya hari ini. Gara-gara bertemu lelaki bernama Rudi itu, coba kalau tadi aku tak bertemu dia mungkin sudah sampai di rumah menyiapkan makan malam.”
Si mbok langsung pergi ke kamar, untuk menyimpan dompet, saat membuka pintu tanpa mengetuk. Ia melihat suaminya tengah memegang tembok dengan senyum-senyum sendiri.
“Bapak.”
Panggilan Si mbok membuat lelaki tua itu terkejut, dan langsung menutup tembok dengan badanya sendiri.
“Bapak ngapain di tembok senyum-senyum sendiri ada apa?” tanya Si mbok yang penasaran pada suaminya.
“Apa sih Bu. Bapak hanya mengukur tembok ini untuk memasang hiasan ini!” jawab sang suami. Menujukan sebuah lukisan dari pinggir badannya.
Si mbok langsung mendelik delik lukisan itu dengan kedua mata yang menyipit, “ lukisan apa ini pak?” tanya Si mbok.
“lukisan kaya begini aja kamu enggak tahu! Sudahlah enggak usah tahu!” jawab lelaki tua itu langsung menempelkan lukisan pada tembok papan kamarnya.
Si mbok hanya memajukan kedua bibirnya, melipatkan kedua tangannya dan bergumam dalam hati,” dasar aki-aki peot.”
Lelaki tua itu mengusap pelan perutnya dan berucap pada istrinya,” aku lapar. Siapkan makanan.”
Si mbok yang baru saja sampai hanya menjawab,” belum masak pak. Tadi ....”
Lelaki tua itu jelas marah, dia malah mendorong tubuh istrinya begitu saja hingga tersungkur jatuh ke atas lantai.
“Dasar istri enggak berguna, jam segini saja belum masak.”
Si mbok hanya mendelik kesal, berdiri kembali. Ia sudah terbiasa dengan kelakuan kasar suaminya. Malas melawan kembali. Karna jika di lawan lelaki tua itu malah semakin kasar.
“Mbok.” Teriak Sarah.
Wanita tua itu langsung menghampiri Sarah dan bertanya?” ada apa, non?”
“Mbok saya pinjam handuk!” jawab Sarah.
Di mana suami si mbok yang berjalan ke arah pintu, melirik ke belakang, saat Sarah meminjam handuk pada istrinya.
Apa yang akan ia lakukan?
__ADS_1