Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 220 Gemercik sungai.


__ADS_3

Rasa cape mulai dirasakan Alan dan juga yang lain, karna dari semalam Alan belum beristirahat. Begitu pun dengan rasa haus yang tak tertahankan, membuat mereka duduk sejenak di pohon besar yang menjulang tinggi.


“Pak kita istirahat dulu di sini, bagaimana?” Tanya Alan pada Pak Tejo, yang tengah fokus menatap Riri. Dengan baju yang sedikit terbuka. Keringat terlihat bercucuran membuat pikiran yang kelelahan menjadi tak beraturan.


“Pak Tejo.” Alan mulai melambaikan tangan ke arah mata Pak Tejo yang membulat tanpa mengedip.


“Pak? Pak?”


Dina mulai mengerti, kenapa Pak Tejo seperti itu. Pada saat itulah ia menampar pipi Pak Tejo dengan keras.


Plak


Suara tamparan itu terdengar keras, membuat Dodi dan cucuk Pak Tejo tertawa terbahak-bahak.


Dina mulai berucap dengan lantang,” pagi buta begini bukannya sadar. Malah melamun, pak e pak e.”


Alan tersenyum tipis, membuat Dina yang melihat senyuman itu terpana. Begitu pun dengan Riri, kedua mata hati mereka seakan di kuasai dengan ketampanan dan kebaikan Alan.


Wanita mana yang tak akan luluh, dengan perlakuan Alan yang baik dan suka menolong.


Kini Dodi mulai menatap kedua wanita itu dengan penuh curiga, pada saat itulah Dodi bertanya pada Dina dan juga Riri.


“Tante, apa yang tengah kalian lihat sampai tersenyum senang seperti itu?”


Pertanyaan Dodi, membuat wajah Alan melirik ke arah Riri dan Dina. Saat itulah kedua wanita itu berpura-pura melihat ke kanan ke kiri, dengan kedua pipi yang memerah.


“Kalian suka sama Om Alan, ya?” tanya Dodi menyindir Dina dan Riri.


Mereka yang memang merasakan rasa suka pada Dodi, berpura-pura cuek dan menjawab,” suka mana mungkin.”


Dodi kini hanya mengelus dada dan berucap,” syukur deh, kalau tak suka sama Om Alan. Soalnya Om Alan sudah punya istri, cantik lagi. Enggak kaya kalian kumel.”


Tawa kini terdengar nyaring dari Pak Tejo, saat Dodi menyebut kedua wanita itu kumel.


Kini Dina dan Riri membulatkan kedua matanya menatap ke arah Pak Tejo, yang menertawakan mereka hingga terbahak-bahak.


Pak Tejo yang melihat tatapan penuh dengan amarah, kini mulai mencomot bibirnya sendiri dengan tangan kanan, dan menundukkan pandangan penuh rasa ketakutan.


Saat itulah Riri dan Dina mulai bertanya pada Alan,” Memang benar begitu, Al?”


“Menurut kalian!” jawab Alan.


Rasa kecewa kini di rasakan ke dua gadis itu, hati mereka seakan patah seketika.


Saat itulah Pak Tejo mulai mendekat kepada Riri dan Dina, sembari merangkul bahu kedua wanita itu.

__ADS_1


“Kalian jangan kuatir masih ada duda keren di sini.”


Riri dan Dina dengan spontan langsung melepaskan tangan lelaki tua itu dari bahu mereka.


“Ih menyingkir.”


Pak Tejo yang sudah Pede dari awal, kini seakan di anggap sampah oleh Riri dan Dina.


Lelaki tua itu tersungkur jatuh ke atas lantai, karna di dorong Riri dan Dina.


Membuat Alan tertawa lepas.


“Pak Tejo, pak Tejo. Ingat umur pak.”


Nasehat Alan terus terlontar, untuk Pak Tejo. Yang memang sudah berumur tua dan tak pantas merayu wanita.


Pak Tejo kini berbisik pada telinga Alan.” Eh tua-tua begini. Masih kuat kalau buat gadis. “


Kini Alan tertawa terbahak-bahak, ia seakan di beri rasa semangat lewat candaan Pak Tejo.


Saat itulah mereka mulai meneruskan perjalanan, mengikuti jejak mobil yang terlihat jelas.


Namun saat di dalam perjalanan, mereka mendengar gemercik air yang mengalir. Membuat tenggorokan yang kering seakan ingin menikmati air yang terdengar pada kedua telinga.


“Kalian dengar gemercik air mengalir tidak?” tanya Dina.


Saat itulah mereka mengikuti suara gemercik air itu, dan benar saja air sungai yang mengalir begitu deras membuat mereka tersenyum senang.


“Ada air.”


Berlarian, mereka mulai meminum air dalam sungai yang jernih itu.


“Segarnya.”


Alan mengusap pelan wajahnya dengan air itu, terlihat wajah putihnya kini berseri. Membuat Dina tak tahan dengan ketampanan Alan.


Alan apa benar kamu sudah mempunyai istri, kenapa istri kamu tidak ikut dalam pesawat? Gerutu hati Dina.


Pak Tejo yang sudah tak bisa menahan lapar, kini meninggalkan mereka di sungai untuk sekedar berburu. Keahlian lelaki tua itu dalam berburu sanggatlah hebat. Ia bisa dengan cepat membuat benda tajam. Dan menemukan hewan yang berada di hutan.


Karna dari masa mudanya Pak Tejo, adalah seorang lelaki gagah perkasa. Ia bisa melakukan segala hal, apalagi merayu wanita.


@@@@


Riri kini mulai mendekat ke arah sungai, ia melepaskan baju dengan hanya memakai bikini. Tak melihat situasi ke sana ke mari, karna rasa gerah pada tubuhnya. Membuat ia tak sabar ingin menikmati air dalam sungai.

__ADS_1


Perlahan ia masuk ke dalam air, untuk berenang. Membasuh seluruh badan yang terasa begitu lengket dari semalam.


Air mengalir begitu sejuk, Riri rasakan. Begitu menyenangkan bagi dirinya sendiri.


Sedangkan Pak Tejo kini berhasil menangkap satu ekor kelinci yang lumayan besar, kelici liar.


Betapa senangnya Pak Tejo saat itu, ia memanjat pohon kelapa. Memetik beberapa buah untuk di minum, saat Pak Tejo mulai membersihkan hasil buruan.


Lelaki tua itu melihat Riri tengah mandi, membuat Pak Tejo tak henti menatap gadis itu.


Tangannya kini bergetar, ia yang tadinya membasuh hasil buruan. Malah melihat pemandangan yang tak biasa, membuat gairah lelaki tua itu timbul.


Saat itulah Pak Tejo mulai membuka baju, dan yang tersisa hanya boker celananya saja.


Ia mendekat ke arah Riri yang tengah menutup mata, merasakan dingin air yang begitu sejuk.


Pak Tejo, mendekat. Memeluk tubuh Riri, gadis itu merasakan hal yang tak biasa. Ia berucap dengan nada lembutnya,” Alan apakah itu kamu?”


Pak Tejo tersenyum senang, ia mulai menjawab dengan nada lembut,” iya.”


Riri tersenyum senang, ia malah menikmati setiap sentuhan yang dilakukan Pak Tejo. Hingga di mana lelaki tua yang kelaparan itu batuk.


Membuat Riri membuka kedua matanya, ia seakan mengenal suara batuk itu.


Jantung Riri berdetak tak karuan.


Deg .... Deg ....


Perasaan Riri mulai terasa tak enak, ia membalikkan wajah ke arah belakang.


Dan Ahkkk.


Teriakan Riri mulai mengagetkan burung-burung yang berada di sana, membuat burung- burung yang tengah diam di atas pohon beterbangan.


Sedangkan Pak Tejo, dengan sigap menutup mulut Riri dan berbisik.


“Jangan teriak, kalau kamu teriak orang akan menanggap kita apa.”


Saat itu Riri pingsan, dan Pak Tejo membawa Riri ke luar dari dalam air.


“Ahkkk, si Riri ini ada-ada aja.”


@@@@


Teriakan Riri, membuat Dina yang tengah merayu Alan. Kaget, saat itulah mereka berlari mengikuti teriakan itu.

__ADS_1


Alan dan Dina berlari, hingga di mana mereka melihat ....


__ADS_2