
Satu minggu tak terasa, Ami tiba-tiba mual-mual. Ia seakan tak kuat menahan rasa mual itu. Membuat
Rudi tampak panik, dan bertanya," kenapa?"
"Entahlah, mas. Rasanya enek sekali!" jawab Ami. Ia mulai berlari, ke kamar mandi untuk memuntahkan semua isi dalam perutnya.
Rudi yang tak tega, menghampiri sang istri. Mengusap pelan pundaknya.
"Ya, sudah kita ke rumah sakit," ajak Rudi. Saat itulah Ami mulai menuruti ajakan suaminya, merangkul bahu Ami, untuk masuk ke dalam mobil.
Di dalam perjalanan, Ami terus merasakan mual, membuat Rudi tampak panik sekali," kamu sabar ya. Sayang."
Setelah sampai di rumah sakit, Ami mulai dibawa ke ruangan pengecekan. Sang dokter tersenyum dan berkata," selamat. Ya."
Rudi tampak bingung dan bertanya?" selamat untuk apa, dok."
"Istri bapak, hamil selama 1 minggu!" jawab sang dokter. Rudi langsung berteriak senang, memeluk sang istri dan berkata," kita akan mempunyai anak lagi."
Ami terdiam seketika bertanya," anak lagi. Bukannya anak kita baru ini, mas."
Rudi mengusap kasar wajahnya, ia lupa akan ingatan Ami." Hehe. Hanya salah ngomong saja."
"Kamu."
Mereka tak sabar ingin mengatakan, tentang kehamilan Ami pada Bu Sumyati." Kita ke rumah mama, yuk."
"Mama kamu kan sudah meninggal."
Rudi benar-benar terkecoh dengan ucapan sang istri, ia benar-benar lupa akan segala hal yang ia tutupi. Sampai membuat Ami curiga.
"Maksudnya ke rumah Bu Sumyati. Bu Sumyati kan sudah mas anggap ibu sendiri."
"Oh, ya sudah kalau begitu."
Setelah sampai di rumah Bu Sumyati, Ami tampak ragu, membuat dirinya ingin mencari tahu akan segala hal. Walau ia tak tahu bahwa mencari tahu akan suatu hal itu akan menyebabkan dirinya celaka.
Bu Sumyati, begitu senang dengan ke datangan Rudi dan Ami.
"Kalian datang ke sini? Tumben," ucap Bu Sumyati menampilkan seyuman penuh bahagia.
"Iya, bu. Kita ke sini, ingin mengabarkan bahwa, Ami hamil!" balas Rudi. Membuat Bu Sumyati senang, ia langsung memeluk Ami, namun Ami seakan risih dengan pelukan Bu Sumyati.
"Aduh, bu. Maaf ya. Enggak nyaman," ucap Ami.
Rudi berpura-pura batuk, saat Ami berkata seperti itu.
__ADS_1
"Ya, sudah ayo masuk."
Ami dan Rudi masuk ke dalam rumah, mereka langsung di sediakan makanan rigan dan minuman.
"Kamu kenapa dengan Bu Sumyati, bagaimana pun dia itu orang tua yang harus kamu hargai."
"Dia kan bukan ibu kamu!"
Rudi tampak kesal, ingatan Ami hilang, kebaikanya juga hilang. Ada apa yang terjadi?
Ami mulai berdiri, mencari tahu di rumah Bu Sumyati. Bisa saja ada petujuk untuk dirinya.
"Aku harus mencari tahu, bisa saja aku menemukan bukti." Gumam hati Ami.
Ami mulai mencari cara untuk berjalan-jalan di rumah Bu Sumyati, mencari sebuah petunjuk dengan beralasan pergi ke toilet.
"Mas, aku ingin ke toilet, ya."
"Baiklah."
Ami mulai berjalan mencari sebuah toilet.
Namun ternyata, ia malah pergi ke ruangan lain, mencari tahu tentang rasa curiga pada hatinya.
Saat berjalan beberapa langkah, Ami melihat sebuah kamar, di mana kamar itu terdapat gambar-gambar walfafer robot, dan ada poto anak kecil yang selalu membuat dirinya sakit kepala.
Ami mulai membuka perlahan poto yang terbalik itu, dan ia melihat dengan kedua matanya, ternyata itu adalah foto dirinya." fotoku, kenapa bisa ada di sini?"
Ami mulai mencari tahu lagi, melihat pada laci meja belajar Dodi, ia mencari sebuah bukti agar bisa memperkuat apa yang iya curigai selama ini.
Saat itulah Ami menemukan sebuah akte kelahiran Dodi, ia mulai mengambil perlahan akte itu, memasukkan ke dalam tas.
Sampai beberapa menit kemudian, ia takut sekali ketahuan oleh sang pemilik rumah, dengan tergesa-gesa ia pergi ke toilet, dan berpura-pura dengan membasuh wajahnya.
Dengan santainya Ami mulai berjalan duduk di sebelah sang suami," sudah ke toilet nya?"
" Sudah dong, Mas"
Bu Sumyati datang, dengan membawakan sebuah minuman yang selalu disukai Ami menantu kesayangannya.
" Wow Ibu tahu ya, minuman kesukaanku."
Rudi tersenyum kecil," mana mungkin Bu Sumyati lupa makanan kesukaan Ami." Gerutu hati Rudi.
"Ayo diminum, nak." ucap Bu Sumyati.
__ADS_1
Saat itulah Ami mulai meneguk minuman buatan Bu Sumiati," Ya Allah rasanya enak banget."
" Iya dong, itu kan bikinan ibuku, jadi bikinnya sepenuh hati," ucap Rudi.
Membuat Ami menjawab." Loh, bukannya Bu Sumyati Ibu angkat kamu."
Rudi mulai berucap, namun tertahan oleh Bu Sumyati," sudah sebaiknya kita makan dulu. Ibu sudah siapin beberapa makanan."
Ada rasa sakit yang menyentuh hati Bu Sumyati, ia harus menahan semuanya, karna ia tahu menantunya sedang sakit.
Ia terpaksa harus berbohong, demi kebaikan. walau sebenarnya hatinya merasakan sakit.
Di meja makan, Ami mulai menyantap setiap hidangan. Sesekali matanya menatap ke arah Bu Sumyati, ada banyangan dirinya tengah makan bersama, membuat bayangan itu menusuk pada hati Ami.
"Kenapa?" tanya Rudi.
"Enggak kenapa-kenapa ko! Hanya saja ada banyangan, dimana aku tengah duduk dengan Bu Sumayati!" jawab Ami.
Bu Sumyati yang ketakutan kini menentang ucapan Ami, ia takut Ami kenapa-napa. Karna rasa sayangnya yang begitu dalam.
"Sudah, lupakan. Mungkin itu hanya bayangan saja, tidak nyata."
Ami yang mendengar ucapan Bu Sumyati, melanjutkan acara makan-makan mereka.
Setelah acara selesai, saat itulah Bu Sumyati menarik tangan Rudi masuk ke dalam kamar tidur Dodi dan berkata.
"Apa kamu sudah memberi tahu Dodi, tetang kehamilan istrimu, Rudi?" tanya sang ibu, tampak cemas. Teringat pada sang cucu, karna pastinya, semakin ada anak semakin Dodi terbuang dan tidak ada kesempatan lagi untuk Dodi bersama kedua orang tuannya.
"Untuk memberi tahu, Dodi aku belum, bu. Karna sudah sebulan ini. Nomor Alan dan Delia tak aktip, makanya aku sedikit frustasi!" jawab Rudi.
"Rudi, kamu harus bisa. Menyembunyikan kehamilan istrimu. Agar Dodi tak sedih," ungkap sang ibu.
"Baik, bu," balas Rudi.
Ami yang mengintip dari tadi, membuka pintu kamar Dodi dan berkata," apa maksud dari ucapan kalian?"
Pertanyaan Ami membuat Rudi terdiam, ia kaget kenapa bisa Ami berada di abang pintu.
"Jawab, mas."
Rudi menghampiri Ami, menenangkan sang istri. Membawa Ami pergi dari hadapan Bu Sumyati.
"Mas, aku bukan ingin dibawa pergi. Hanya saja aku tanya sama kamu. Apa maksud semua perkataan kamu dengan Bu Sumyati?"
Rudi terdiam, membuat Ami geram.
__ADS_1
"Ayo jawab, mas."