
Rudi curiga dengan tingkah Sisi saat ini, dia terkesan lugu. Penampilanya pun tertutup.
Saat itu Luky, mengajak Rudi untuk makan.
Tok ... tok ...
"Masuk,"
"Hay brow," ucap Luky merangkul pundak Rudi.
Rudi menatap wajah Luky yang terseyum sambil mengedipkan kedua matanya.
"Jangan sentuh aku, aku jijik."
Luky langsung melepaskan pegangannya melihat temanya itu berkata sedemikian.
Rudi berdiri menunjuk raut wajah Luky yang ketakutan sembari tertawa.
"Gak lucu."
"Ya, siapa suruh main rangkul-rangkul."
"Iya, maaf, kita kantin."
"Oke."
Saat itu juga mereka memesan makanan hanya 2 porsi mie ayam saja yang mereka pesan.
Di tengah-tengah obrolan, Rudi dan Luky melirik Sisi yang duduk sendirian tanpa teman.
"Eh, loe nyadar enggak. Si Sisi berasa beda," ucap Luky sembari mengaduk-ngaduk mie ayam dalam mangkuk.
"Perasaan loe kali!" jawab Rudi sesekali menyuapkan mie ke dalam mulutnya.
"Rud, kapan si loe peka. Kayanya dia perustasi deh, soalnya loe sering nolak dia."
Tawa Luky menggema, membuat gendang telinga Rudi berdengung.
"Muncrat lu, tu mie ayam."
Seketika Luky mengelap bibirnya, dan berkata." Ah, engga juga."
Rudi tertawa terbahak-bahak melihat sahabatnya yang bertingkah konyol.
Saat itu Sinta menghampiri Luky.
"Eh, beb. Kamu di sini?" tanya Sinta pada Luky.
"Sori, Rud. Gue ada perlu sama Sinta sebentar."
Rudi mengangguk, saat itu juga Luky pergi bersama Sinta. Entah kenapa hati Rudi seakan curiga melihat Luky dan Sinta seakan di rendungi masalah besar.
Karna jam istirahat sudah selesai. Rudi bergegas pergi ke ruanganya. Menghiraukan Sisi yang termenung sendiri.
********
Saat pulang ke rumah Rudi melihat Ami menghampirinya dengan memakai tongkat terseyum menyambut kedatangan sang suami.
__ADS_1
"Mah, kenapa dengan bajumu bolong seperti ini?" Rudi melihat di daerah ketika baju yang di kenakan Ami pada bolong.
"Masa sih pah, ini yang milihin ibu loh. Mamah kira engga bolong. Pantas saja terasa angin seliwir kena ketiak mamah," ucap Ami bertingkah lugu.
"Mana ibu?" tanya Rudi mencari keberadaan ibu.
"Ibu lagi di dapur!"
Saat itu juga Rudi menghampiri ibu yang tengah mencuci piring dan gelas.
"Ibu," ucap Rudi sambil membawa Ami di hadapan wanita tua itu.
"Apa Rud, pulang-pulang marah-marah gitu?" Ibu langsung menghentikan aktivitas mencuci piringnya.
"Ibu engga liat," ucap Rudi sembari mengangkat tangan Ami ke atas.
Ya tuhan ini suamiku, aktingnya kebangetan, masa tanganku ke atasin supaya keliatan ketiaknya. Sudah tahu belum di cukur, bikin malu saja." gumam Ami mendelik kesal pada Rudi.
Rudi menahan tawa, pipinya memerah. Melihat bulu ketiak istrinya.
"Ya ampun, ibu engga tahu kalau bagian ketiaknya bolong," ucap wanita tua itu menunduk pandanganya, seakan ingin di kasihani.
"Ya, sudah nanti Rudi panggil lagi Bi Lasmi, kerjaan ibu engga beres semua."
"Rud. Sebaiknya jangan nanti ibu lebih teliti lagi. Setelah ini."
Terlihat dari raut wajah wanita itu tergurat kekesalan.
"Makan malam sudah siap bu?" tanya Rudi, ibunya langsung tercengang kaget.
"Ibu lupa, tadi sibuk ngurusin istrimu. Jadi engga sempat masak!"
"Kan kata Rudi juga apa, mending ibu istirahat saja di rumah. Ibu sudah tua, ngapain mau-mau mengurus Ami. Jadinya kan kerjaan engga beres. Ami engga ke urus."
"Sudah pah, jangan marahin ibu. Kasian ibu, mending sekarang kita ke kamar. Mamah mau ganti baju, tolongin mamah ya, pah."
"Tunggu."
Seketika wanita tua itu menghentikan langkah Rudi dan Ami.
"Ada apa bu?" tanya Ami.
"Biar ibu pilihkan baju untuk kalian, oh ya, bagaimana kalau malam ini kalian makan di luar," ucap ibu mertua Ami, keringatnya mulai bercucuran.
"Gimana, pah? tanya Ami pada sang suami.
"Ya, sudah sekarang papah ganti baju dulu. Ibu siap-siap dulu!"
"Eh, sebaiknya ibu engga ikut. Nitip makanan aja," ucap ibu dengan perasaan gugup.
"Loh, kenapa bu!"
"Gak papa, ibu siapkan dulu bajunya ya."
Ibu berlalu pergi, masuk ke dalam kamar. Membuka baju yang menumpuk. Langsung berhamburan keluar mengenai dirinya.
"Bodoh aku ini, kenapa tidak aku beresin dari tadi. Kalau Rudi sampe tau. Bisa-bisa Si Lasmi kerja lagi ke sini, dan aku bakal gagal untuk menyingkirkan Ami," ucap pelan wanita tua itu. Sembari memilih baju untuk Ami.
__ADS_1
Setelah memilih baju untuk Ami, ternyata Ami langsung setuju. Hati wanita tua itu sedikit lega. Karna Ami langsung menyukai baju yang ia pilih, Ami hanya mengandalkan tangannya untuk meraba setiap motip pakaian dan bahan.
Saat itu lah, Ami dan Rudi pergi.
Saat di dalam mobil.
"Kenapa manyun gitu?" tanya Rudi saat menyetir mobil.
"Sebel, siapa suruh tangan di angkat-angkat kan jadi malu sama ibu," ucap Ami bibirnya masih memoyong. Rudi yang melihatnya begitu suka.
"Ngambek nih."
Tawa Rudi begitu renyah, sesekali lelaki berbadan kekar itu mencuil hidung istrinya.
"Engga lucu," ucap Ami menghepaskan tangan Rudi.
"Ya, sudah nanti ke salon."
Seketika jiwa dalam diri Ami terpanggil saat sang suami mengajak dirinya pergi ke salon.
Saat mengendarai mobil, Rudi hampir saja menabrak salah satu wanita yang menyebrang.
Rudi dan Ami bergegas ke luar melihat keadaan orang itu.
Untung saja wanita itu hanya terjatuh.
"Tolong saya tuan dan nyoya," ucap wanita tua itu ketakutan, wajahnya begitu kotor. Dan lagi bajunya yang lusuh sekali.
Rudi dan Ami saling menatap.
Membantu wanita yang tidak sengaja Rudi tabrak.
"Bagaimana kalau ibu ikut kita ke dalam mobil," ucap Rudi mengajak wanita tua itu kedalam mobil.
"Maaf, ibu engga mau merepotkan kalian!"ucap wanita tua itu.
Rudi dan Ami tidak tega melihat wanita tua itu berjalan sendirian apalagi, saat keadaan malam seperti ini.
"Kalau boleh saya tau, ibu mau kemana?" tanya Rudi membuat wanita itu seketika menagis.
"Ibu ingin cari anak ibu!" jawaban wanita tua itu membuat Rudi dan Ami semakin tidak tega melihatnya.
"Kalau boleh saya tahu, siapa nama anak ibu?"
Wanita tua itu terdiam menyodorkan poto anak yang masih kecil.
Rudi langsung mengambil poto yang di sodorkan oleh wanita tua itu, melihat poto itu Rudi akan teringat pada masa kecilnya.
"Sekarang dia sudah dewasa, mungkin sudah menikah. Ibu sangat merindukan dia," ucap wanita tua itu.
"Memang anak ibu kemana, hilang apa di culik."
"Saudara ibu, yang mengambil anak ibu. Saat anak ibu berusia 3 taun."
"Pah, kasian ibu ini. Sepertinya dia sangat kehilangan anaknya," ucap Ami membisikan ketelinga suaminya.
"Saya akan bantu cari anak ibu, bagaimana kalau ibu ikut kita sekarang."
__ADS_1
Wanita itu menganguk setuju dengan ajakan Rudi.
Siapakah wanita tua itu?