
Setelah sampai di bandara selanjutnya, Rudi masih harus menempuh perjalanan beberpa jam lagi. Untuk sampai ke rumah sakit.
Rasa tak sabar melihat sang istri tercinta, membuat Rudi meneteskan air mata. Sudah lama Ami sakit menderita penyakit, apa kini waktunya Ami pulang pada sang maha kuasa. Tidak mudah menyembuhkan suatu penyakit kecuali atas kehedak sang ilahi robbi.
"Ami, aku akan menemuimu. Bertahanlah."
Rudi masih dalam perjalanan menuju pulang, sedangkan Dodi dan sang nenek. Tengah duduk menunggu di sisi ranjang tempat tidur Ami.
Di mana kedua mata Dodi terus menatap raut wajah sang ibu, yang terbaring lemah dengan bantuan infusan dan selang yang menempel pada tubuh Ibunda tercinta.
Dodi bertanya pada sang nenek yang dari tadi hanya menundukkan pandangan, tak menatap kearah cucunya.
"Nek, kenapa Mama tidak bangun-bangun dari
kemarin?"
Pertayaan Dodi, rasanya tak mampu di jawab oleh sang nenek. Karna jika dia menjawab kebenaran tentang penyakit Ami, apa anak kecil itu akan mengerti.
" Nek kok enggak jawab sih pertanyaan Dodi. Sebenarnya Mama itu kenapa?
Dodi mendesak jawaban dari wanita tua yang menjadi neneknya.
Air mata yang sudah lama ditahan oleh sang nenek, membuat air mata itu. Seketika mengalir, membasahi punggung tangan yang sudah nampak terlihat mengkerut.
Dodi yang melihat air mata itu jatuh pada punggung tangan nenek, langsung mengusap pelan punggung tangan itu dan berkata," lho nenek, kenapa menangis. kan Dodi hanya bertanya saja."
ucapan lembut dari seorang anak yang tampan itu sudah tak dijawab lagi oleh sang nenek, karena walaupun di jelaskan, dia belum mengerti tentang penyakit ibunya, tapi sang nenek takut, jika mendengar apa yang dikatakan dirinya akan membuat mental Dodi terganggu.
"Dodi sayang dengerin nenek, ya, sekarang kamu jangan mikirin kenapa Mama terbaring di atas ranjang rumah sakit ini."
Dodi langsung menatap ke arah raut wajah sang nenek dan berkata, " apa nek, tadi Dodi enggak ngerti apa yang di kataan nenek."
"Nah, sekarang Dodi dengerin nenek, ya. Kemarin waktu Mama nggak tidur mama bilang sama nenek. katanya Dodi jangan nakal loh, Dodi harus baik-baik, ya. Kalau misalkan Dodi nakal, nanti mama bakal ngerasa sakit."
Entah apa yang dikatakan sang nenek kepada Dodi, apakah akan membuat Dodi begitu tenang dan tidak bertanya lagi tentang keadaan Ami, ataukah malah Dodi terus menanyakan semua yang ia ingin tahu.
"kok mama bilangnya sama nenek aja, ya, padahal kan Dodi anaknya. Nenek kan cuman mamahnya. Harusnya kan mama itu bilangnya sama Dodi dulu, jadi Dodi nggak berharap."
__ADS_1
Wanita tua itu mengusap pelan rambut kepala Dodi dan berkata, "kan Ini udah dibilangin sama nenek, kalaupun Mamah belum ngomong sama Dodi dari awal, berarti Mamah lagi sibuk harusnya Dodi itu ngerti keadaan Mama, ya."
Dodi sedikit memajukan Bibir bawahnya, raut wajahnya terlihat murung saat sang nenek berkata seperti itu.
"Gimana Dodi udah ngerti kan perkataan apa yang dikatakan nenek?"
Dodi hanya menganggukkan kepalanya pelan, bukan itu yang ingin didengar Dodi, melainkan kenapa sang Mamah masih terbaring di ranjang rumah sakit sudah dua hari ini.
"Sekarang Dodi. Jangan sedih lagi, kan di sini ada nenek, jadi Dodi harus jadi anak pinter, anak baik harus rajin. ya, jangan nyusahin nenek."
Entah apa yang dipikirkan Dodi saat itu, anak kecil berhidung mancung itu, malah terdiam tak berkata apa-apa lagi
Sang nenek tahu apa yang di rasakan cucunya saat ini, dia tahu betapa sedihnya melihat sang ibu yang berhari-hari tertidur di atas ranjang tanpa makan minum dan berbicara.
Dodi, maafkan nenek yang terpaksa berbohong sama kamu. Kalau nenek enggak berbohong pasti kamu akan sedih. gumam hati Nenek tua itu.
Dodi hanya menyenderkan dagunya, pada telapak tangan hingga anak tampan itu tertidur.
Membuat sang nenek mengalihkan kepala Dodi pada pangkuannya.
Jam sudah menujukan pukul sebelas siang, Rudi tak kunjung pulang juga. Membuat rasa kuatir pada diri sang ibu yang menunggu.
Saat itu, pintu ruangan terbuka. Dimana Rudi datang dengan keringat dingin membuat bajunya terlihat basah.
"Ami."
Sang ibu menempelkan telunjuk jari tangannya pada bibir atas bawahnya dan berkata," pelankan suaramu Rudi tengah tertidur pulas."
Saat itulah Rudi menghampiri sang istri dan berkata." Aku sudah pulang istriku, bangunlah."
Tidak ada reaksi sama sekali, Ami masih tetap tertidur layaknya seorang yang tengah keristis.
Pengecekan datang, dimana sang dokter mengecek keadaan Ami. Rudi yang berdiri si sana bertanya." Gimana keadaan istri saya Ami dok?"
Dokter masih mengecek keadaan Ami istrinya, tanpa menjawab pertanyaan Rudi. Ada rasa takut jika terjadi apa-apa dengan istrinya.
"Apa yang terjadi dengan istri saya, dok."
__ADS_1
"Bapak harus sabar dulu, ya. Saya tengah mengecek keadaan istri bapak."
Rudi terus bersabar dari apa yang menimpa dirinya, ia belajar untuk kuat.
Rudi melihat jagoan kecilnya tertidur begitu nyeyak, tanpa Rudi sadari air mata anaknya mengalir mengenai pipi.
Hingga saat dimana Rudi mulai beranjak berdiri. Dan berkata," kenapa Ami tidak menelponku, padahal kemarin dia masih bisa bercanda. Namun sekarang kenapa Ami malah terbaring di ranjang rumah sakit."
Rudi seakan hilang kontrol, ia berkata tanpa jeda waktu.
"Jangan salahkan dirimu, semua sudah takdir."
Dimana wanita tua itu merogok isi dalam tas. Dan mengambil satu lembar surat yang di bungkus dengan amplop. Yang entah apa isi dari amplop itu.
Wanita tua itu, memberikan amplop berwarna putih itu ke Rudi. Agar Rudi membaca isi dari amplop yang diberikan oleh sang ibu.
"Ini apa, bu?" tanya Rudi kepada sang ibu, dan meraih amplop berwarna putih dari tangan mamahnya.
"Kamu simpan saja dulu!" jawab sang Ibu. Berharap Rudi membacanya di rumah saja. Karna tak enak di rumah sakit.
Setelah dokter selesai mengecek Ami, dimana obrolan itu terjadi.
"Istrimu begitu kuat, dia bisa melawan penyakit ganasnya bertahun-tahu. Tapi sekarang istrimun keadaannya melemah sekali."
Jawaban sang dokter membuat Sang Ibu terdiam.
Rudi hanya bisa menangis menerima yang sudah terjadi.
"Apa boleh buat, semua sudah terjadi. Diamana aku hanya bisa pasrah dan melerakan kepergian Ami. Jika memang semua sudah dasar kehendaknya. Aku sudah tak kuat ketika melihat dia menderita."
"Rud kenapa kamu berbicara seperti itu? Keajaiban pasti datang walau terlambat."
" Tapi bu, apa."
"Sudah, Ami istrimu akan sembuh. Percayalah pada Ibu."
Rudi hanya bisa berkata tapi tak bisa menahan rasa sedihnya.
__ADS_1
Tiba-tiba Dodi terbangun dan berkata." Papa sudah pulang ya.