Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 258 Membusuknya sebuah Mayat


__ADS_3

Masa lalu Sarah 7


Tama mulai berjalan melewati Sarah, membuat Sarah melipatkan kedua tangannya dan tersenyum licik. Ia mengikuti langkah kaki Tama masuk ke dalam kamarnya.


Membuka pintu ruangan rahasia itu.


Saat pintu Ruangan Rahasia itu terbuka, bau menyengat tercium. Membuat Sarah menutup hidungnya. Bau itu tercium begitu menusuk, Ingin rasanya Sarah memuntahkan semua isi di dalam perutnya.


Namun ia berusaha menahan, karena ingin melihat reaksi wajah Tama. Yang sok akan melihat ibunya terkurung di dalam lemari itu.


Tama semakin melangkah mendekat ke arah lemari, perlahan Ia membuka pintu lemari itu. Betapa kagetnya, wajah Alda sudah membusuk. Digerumuti belatung dan hewan lainnya.


Sedangkan sang ibu yang berada di samping kiri Alda, terdiam wajahnya begitu pucat. Tubuhnya seakan tak bertenaga.


Tama yang menyaksikan sang ibu dengan keadaan seperti itu, kini melepaskan tali yang mengikat kedua tangan ibunya. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca, ia merasa menyesal karena salah memukul orang.


“Bu .... Ibu ....”


Sarah yang melihat pemandangan itu, hanya memajukan Bibir bawahnya dan berkata dalam hati.” Lebai nya.”


Kini sang ibu berada di pangkuan Tama, membuat Tama menggoyang-goyangkan tubuh Sang Ibu agar bangun. Saat itu Naina terbangun, menatap kearah orang yang memanggil-manggilnya.


“Tama.”


“Bu, ibu baik-baik saja kan? Tama akan bawa ibu ke rumah sakit sekarang.”


Naina seakan ingin memarahi anaknya, namun ia tak berdaya. Tubuhnya begitu lemas tak bertenaga, Iya seakan tak kuat lagi. Pada saat itulah Naina menghembuskan nafas terakhirnya, di mana Tama menyaksikan kematian sang ibunya sendiri.


“Tama, kamu ....”


“Ibu .... Ibu ....”


Tama mulai mengecek nafas sang ibu, dan ternyata Naina sudah tiada. Tama menangis, menyesali semua perbuatan sendiri. Pada saat itulah ia akan menguburkan jasad ibunya, tapi Sarah menghentikan semua itu.


“ Sudahlah tak perlu kamu capek capek mengubur jasad ibumu itu. Kalau kamu mengubur jasad Ibumu, kemungkinan Meri akan mencurigai kematian ibu mu. Dan ibu tiri mu itu akan melaporkan semua kejahatan yang kamu lakukan kepada Alda dan juga Pak Anton.”


Mendengar ucapan dari Sarah, kini Tama mulai berdiri menghampiri wanita itu. Kedua tangannya langsung mencekik leher Sarah,” kenapa .... Kenapa kamu tidak teliti? Apa ini semua rencana kamu?”


Tama begitu marah besar, Iya seakan hilang kendali.

__ADS_1


“Kamu ma-u ak-u ma-ti.”


Tama mulai sadar, saat Sarah meringis kesakitan. Hampir saja kedua tangannya membunuh Sarah pada saat itu.


“Ahgg .... Andai saja kamu itu bukan orang yang aku cintai, mungkin aku sudah membunuhmu sekarang juga.” Ucap Tama


Sarah menatap ke arah wajah Tama, yang begitu basah dengan air mata dan juga keringat dingin. Perlahan kakinya mulai menjauh dari hadapan Tama, Sarah sedikit ketakutan.


Tama mulai menyeret jasad ibunya, memasukkan kembali ke dalam lemari. Mengikatkan kedua tangan sang ibu, tangan kanannya memegang pipi sang ibu dan berkata,” Tenanglah dialam sana ibu, Maafkan aku yang sudah menjadi anak durhaka.”


Tama Pasrah akan ibunya yang digerogoti belatung seperti Alda ibu tirinya, dirinya tak mau mengakhiri hidupnya di dalam penjara. Pada saat itulah ia menuruti Apa perkataan Sarah, walau hatinya sangatlah terpaksa. Dirinya tak tahu jika Sarah lebih licik dari apa yang ia kira.


“Akhirnya si Tama itu menurut juga.” Gumam hati Sarah.


Lemari pun dikunci rapat rapat, oleh Tama. Dia berjalan keluar kamar. Saat ia keluar dari Kamar tidur Sarah, Tama melihat Meri berlari, menaiki mobil. Membuat sama sedikit curiga.


“Mau ke mana si Meri itu?” Gerutu Tama.


Meri begitu terburu-buru pergi, hingga ia tak sadar jika ponselnya terjatuh di atas lantai. Yang di mana ponsel itu Terinjak oleh kaki Tama.


Taman mulai membungkukkan badan, mengambil ponsel yang tak sengaja ia injak. “Ponsel?”


Tama bergegas berlari mengejar sang ibu tiri, yang mungkin sudah jauh.


“Sepertinya wanita itu mengintip. Aku harus bergegas menahan dia untuk tidak melaporkan semuanya kepada polisi.”


Menancapkan gas mobil, Tama mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ia tak mau jika ibu tirinya itu sampai melaporkan semuanya pada polisi, bisa-bisa Tama akan membusuk di dalam penjara.


@@@@@


Sedangkan Meri yang tengah mengendarai mobil, merasa hatinya tak karuan. Kedua tangannya bergetar hebat, Iya tak menyangka apa yang ia lihat begitu menyeramkan. Meri sangat ketakutan, Iya takut jika dirinya menjadi korban selanjutnya.


Maka dari itu Meri langsung bergegas, melaporkan semuanya ke kantor polisi. Sebelum dirinya mati sia-sia seperti Alda dan Naina.


“Aku harus cepat-cepat.”


Meri sempat lupa dengan ponselnya, ia mencari-cari kemana-mana ponselnya di dalam mobil. Namun naas ia tak menemukan juga ponselnya ada dimana.


“ di mana ponselku? Bukannya dari tadi aku mau bawa ponselku.”

__ADS_1


Meri mulai mengingat-ngingat, ponsel yang ia genggam dari tadi pagi. Sampai dimana ia ingat jika ponselnya terjatuh saat dirinya berlari,”gawat.”


Saat itulah suara klakson mobil terdengar, dimana Meri menatap pada kaca mobilnya.


“Tama?”


Meri tak menyangka jika Tama secepat itu mengejar dirinya, Meri dengan sigap menanjabkan gas mobil agar Tama tak bisa mengejarnya kembali.


"Hah, aku harus lebih duluan dari si Tama itu."


Tama yang mengejar Meri di belakang mobil, tersenyum kecil dan berkata," kamu mau lari ke mana pun. Aku pasti bisa mengejarmu ibu tiri."


Meri seakan kewalahan, ia tak sanggup lagi mengendarai mobil. Hatinya gelisah rasa takut mulai menyelimuti pikirannya.


Pada akhirnya Tama berhasil mengejar Meri, membuat Meri menghentikan mobilnya dengan mendadak.


"Sial, kenapa si Tama itu bisa mengejarku."


Tamq yang memberhentikan Mobilnya di depan mobil Sang ibu tiri, kini turun dan mendekat ke arah kaca mobil Meri.


ketukan kaca dilayangkan Tama beberapa kali, sedangkan Mary yang berada di dalam mobil mengabaikan ketukan kaca itu.


dirinya takut jika Tama, akan melukai dirinya.


" Aku lebih baik diam di dalam mobil, dari pada mati sia-sia di tangan anak itu." ucap hati Meri.


Tama yang kesal langsung membuka pintu mobil Meri, tapi ternyata dengan segaja Meri mengunci pintu mobilnya.


"Ibu tiriku. Ayolah buka pintunya, aku ingin berbicara empat mata dengan mu."


Meri benar-benar mengabaikan ucapan Tama.


"Ibu Meri, anakmu ini ingin mengobrol. Apa kamu tega mengabaikanku."


ketukan tangan Tama begitu kuat, membuat kaca mobil Meri sedikit bergetar.


"Ayolah buka atau aku akan hancurkan kaca mobilmu ini, ibu tiriku."


Meri mencoba tetap tenang, dan menjawab," menyingkirlah. Aku tidak mau berbicara denganmu, Tama."

__ADS_1


Tama malah tertawa, ia berucap," jadi kamu tidak mau bertemu denganku."


__ADS_2